
*Ibban Nizami
"Yo Abah dewe sakjane biyen rencana yo sewulan rong wulan bar Fakhar rabi, sampeyan nyusul. Tapi, koyone Niya abot. Abah mesakne, Zam. Mungkin pikire dekne iseh cilik kok wis dikon ndang rabi."
Terjemah: (Ya Abah sendiri sebetulnya dulu berencana ya sebulan dua bulan setelah Fakhar menikah, kamu menyusul. Tapi, kelihatannya Niya keberatan. Abah kasihan, Zam. Mungkin pikienya dia masih kecil kok sudah disuruh segera menikah)
Aku manggut-manggut.
"Jenenge wong rabi ki biasane ndang nduwe anak, Zam. Niya iseh wedi perkoro kui."
Terjemah: (Namanya orang menikah itu biasanya segera punya anak, Zam. Niya masih takut soal itu)
"Saya tidak masalah, Bah."
"Lho, tenan opo piye, Zam?" (Lho bener apa gimana, Zam?) Abah menertawakanku. Setengah tidak percaya.
Melihat air muka abah yang demikian, aku pun tidak bisa menahan senyum. "Nggeh insyaallah, Bah."
"Tenan?" (Bener?)
Tawaku lepas lagi. "Nggeh kalau ditahan bisa, Bah."
"Ngempet perkoro sing jelas halale rakyo angel to, Zam? Opo maneh perkoro kui ganjaran karo berkahe yo gede."
Terjemah: (Menahan sesuatu yang sudah jelas halalnya sulit, kan, Zam? Apalagi perkara itu punya pahala dan berkah yang besar)
Lama-lama aku ingin mengalihkan pembicaraan. Diuji abah dengan pertanyaan seperti itu membuatku canggung dan tidak yakin. Aku tidak bisa menahan tawa. Aku khawatir tawaku akan terlepas begitu saja.
"Bener opo ora, Zam?" (Betul atau tidak, Zam?)
"Duko, Bah."
"Kok ora eroh ki piye, Zam, Zam." (Kok tidak tahu itu bagaimana, Zam, Zam)
Kopinya datang. Diantar oleh orang yang kupesani tadi.
"Tadi sudah saya bayar, ya, Bu."
"Sudah, Mas."
"Nanti saya antarkan gelasnya."
Dia mengangguk. Pergi.
"Sampeyan ndak usah khawatir, Zam. Selagi uwong kui gelem taqwa marang Gustine, Gusti ora bakal lali karo makhluke."
Terjemah: (Kamu tidak usah khawatir, Zam. Selagi orang itu mau bertaqwa pada Tuhannya, Tuhan tidak akan lupa pada makhluknya)
Sepertinya itu jawaban abah yang tidak menghendaki aku mempercepat akad nikahnya.
"Enggeh, Bah."
"Niya ki opo ayu, Zam?" (Niya itu apa cantik, Zam?)
Pertanyaan apa lagi itu? Tawaku lepas lagi, lirih.
"Ojo koyo cah wedok. Yen ditakoni jawabane mung ngguyu-ngguyu. Mesam-mesem."
Terjemah: (Jangan seperti anak perempuan. Kalau ditanya jawabnya hanya tertawa. Senyum-senyum)
"Namanya perempuan pasti cantik, Bah."
"Ayu endi karo Ufi?" (Cantik mana dengan Ufi?)
__ADS_1
"Ning Niya." Aku benar-benar tidak bisa menahan senyum. Dari tadi sudut bibirku otomatis tertarik saat abah menyertai pertanyaannya dengan tatapan telisik penuh maksud. Juga sembari tersenyum tipis.
"Yowis ngene ae. Mengko Abah tak omong-omongan karo Niya."
Terjemah: (Ya sudah begini saja. Nanti Abah bicarakan dengan Niya)
"Nggeh, Bah."
"Sampeyan sing sabar. Ndak usah kesusu."
Terjemah: (Kamu yang sabar. Tidak perlu terburu-buru)
"Ya Allah, Bah." Aku masih dengan ekspresi sama.
Ba'da isya. Kegiatan santri putra setelahnya pun tetap sorogan Alquran. Setoran hafalan dan murajaah bagi yang baca Alqurannya sudah terbilang lancar. Tahsin bagi yang penguasaan baca Alquran belum lancar. Selesai pukul setengah sepuluh.
Aku tak jadi memanggil. Aku yang menghampirinya. Aku ingin membicarakan sesuatu dengan Fizah. Kutunggu bu nyai masuk ndalem.
"Ning Niya?"
Langkahnya terhenti. Menoleh.
"Iya?"
"Aku mau ngomong."
"Monggo. Ngomong saja, Pak."
"Di sini saja?"
"Iya." Nadanya masih terdengar dingin sekali pun aku sudah mengubah sikapku. Aku selalu menggunakan suara pelan dengan kata-kata pilihan.
Gelang. Aku perlu memastikan gelang apa yang dimaksud Yazeed. Kuperhatikan tangannya. Tapi, tak kudapati gelang apa pun. Lengan bajunya juga berkaret. Dia pun sadar aku sedang memperhatikan tangannya. Dia mendekap tangannya. Melemparkan tatapan aneh dan kikuk.
"Ning Niya?" celetuk Mbak Ufi di tengah pintu dapur.
"Oh, lagi seriuskah?"
"Nggak, Mbak Fi. Kenapa?" Dia menatap Mbak Ufi.
"Kalau lagi serius, mendingan aku pergi saja ndak apa-apa kok."
"Jangan. Kenapa, Mbak?"
"Mau aku ajakin masak nasgor. Pengen, Ning."
Fokusku tersita pada lengan kiri Mbak Ufi. Apa itu gelang yang dimaksud Yazeed?
"Bukannya gelang itu harusnya di Fizah?" Pertanyaanku lepas.
Keduanya menatapku serempak. Mimik mereka tak sama. Fizah antara kaget setengah tidak suka, sementara Mbak Ufi kaget setengah malu.
"Mbak Ufi buat dulu saja. Aku nyusul."
Dia kembali memandangku. "Dari mana Pak Nizam tahu soal itu?"
"Apa hubunganmu sudah sedekat itu dengan Yazeed?"
"Maaf Pak Nizam. Tapi, akan lebih baik kalau kita tidak melibatkan nama itu. Saya tidak ada apa-apa dengan dia."
"Bener?" Aku mengujinya.
"Yazeed sudah melamar Mbak Ufi."
__ADS_1
"Kapan?" Giliran aku yang terkejut. Kalau benar lamaran itu sudah dilaksanakan, seharusnya Yazeed tidak bersikap seperti itu kemarin. Tidak seharusnya dia mencemburui perempuan yang akan menikah, sementara dirinya sendiri pun hendak menikah.
"Waktu Mbak Ufi pamitan pulang."
Tapi, percuma aku memaksa Fizah jujur padaku. Mana mungkin dia mau. Kepadaku saja masih sering enggan. Seorang perempuan akan sulit jujur soal perasaannya. Aku menyudahinya.
"Oke. Ngapunten. Aku minta maaf banget. Kalau begitu aku akan membicarakan soal masa depan kita saja. Gimana?"
"Mau ngomong apa?"
"Kamu nyaman terus berdiri begini?"
"Kita duduk di sana saja." Dia menunjuk kursi depan dapur.
"Maaf kalau aku menyinggung, tapi aku tahu kamu sampai sekarang masih dalam keadaan terancam."
"Nggak kok. Aku tenang di sini."
"Nggak usah bohong."
"Pak, ini bukan soal njenengan. Katanya mau membicarakan pernikahan."
"Izinkan aku menikahimu. Aku siap menerima syaratmu waktu itu."
"Haaa?"
"Memang diperbolehkan?"
Aku harus mengiyakan dengan penuh keyakinan.
"Ya."
Wajahnya mendadak bingung. Tak ada kata yang terucap kemudian.
"Itu saja yang mau aku bicarakan. Nanti Abahmu akan membicarakan ini juga denganmu. Kamu bisa menjelaskan semuanya pada Abah. Tidak perlu langsung menjawab di depanku. Sudah malam. Cepet tidur, Ning."
Dia hanya menganggukinya. Lalu, mengucapkan salam. Suaranya melembut.
"Jika memang semua ini sudah menjadi jalan takdirku, lancarkanlah semuanya, Ya Allah. Lancarkanlah!" batinku.
📞"Assalamu'alaikum, Buk?"
📞"Wa'alaikumussalam."
📞"Ibuk kok belum tidur?"
📞"Ibuk baru saja teleponan sama Mbakmu, Le. Bagaimana perkembangannya?"
📞"Alhamdulillah. Semoga semuanya lancar. Doanya, ya, Buk."
📞"Aamiin. Seumpama tidak bisa dipercepat, ya ndak apa-apa. Yang penting, kan, pada akhirnya kamu yo tetep bakalan menikah dengan Ningmu itu."
📞"Iya."
📞"Ndak usah terburu-buru. Gusti Allah tidak pernah tidur. Susahmu, Gusti Allah mesti ngerti."
📞"Makasih, Buk. Ibuk jaga diri baik-baik, ya. Ibuk jangan sering masuk angin. Kalau masuk anginnya masih bisa enakan tanpa dikerok, tidak usah dikerok, Buk."
📞"Iya."
Ngapunten kemarin tidak bisa up. Tapi, terima kasih selalu setia menunggu. Doa-doa yang selalu diperuntukkan untuk saya dan karya ini. Semoga apa pun doa terbaiknya, semoga selalu kembali. 😃❤️🙏
Selamat membaca. Hayo siapa yang tebakannya selalu benar dari awal membaca cerita ini? Atau, yang sering benar? 😅😅🙏 Terima kasih atas antusiasnya.
__ADS_1