FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 200 "Seroja Cinta"


__ADS_3

*Tsaniya Tabriz


Kulipat mukenaku cepat-cepat. Ternyata dia melanjutkan doanya sendiri. Tangannya menengadah lama. Aku sudah sangat mengantuk. Kelopak mataku sudah berat sekali rasanya. Aku menguap lagi. Aku berbaring lebih dulu. Kubentangkan selimut tebal yang baru saja dikeluarkan dari lemari. Posisi tidurku agak menepi. Kulirik dia sebentar. Dia masih berdoa. Kira-kira apa yang dia doakan hingga bisa berlama-lama seperti itu? Apakah dia akan berdoa semoga aku bisa segera luluh padanya? Apakah dia mendoakanku agar hafalanku cepat selesai? Apakah dia meminta restu pada Allah agar aku diizinkan kuliah dan hafalan bersamaan. Aku menguap lagi.


Saat dia berdiri melipat sajadah dan meletakkan kopiahnya, lalu mengganti dengan baju tidurnya tanpa pergi ke kamar mandi, dadaku merenyut-renyut tak biasa. Kututupi wajahku dengan selimut. Aku bersembunyi di sana.


Aku miring ke kanan. Membelakangi posisi duduknya di tepi ranjang sekarang. Dia lekas berbaring sembari melepaskan desah yang melenguh panjang. Dia pun pasti sangat kelelahan. Aku juga mendengarnya dua kali menguap. Aku akan terus berposisi seperti ini karena aku khawatir jika miring ke kiri.


"Agak nengah sini nggak apa-apa. Aku nggak akan gigit kamu." Begitu katanya.


Tapi, debar-debar itu masih menguasai diriku.


"Aku mau ngomong sesuatu. Bentar saja." Dia memohon.


Aku membalikkan posisi tanpa bergeser. "Ngomong apa?"


Dia pun miring ke kanan. "Kamu sudah ngantuk?"


Aku mengangguk.


"Banget?"


Aku mengangguk lagi.


"Ya sudah tidur aja kalau begitu."


"Iya." Aku berbalik posisi lagi.


Setelah beberapa menit aku belum terpejam, kurasakan tubuhku menghangat. Dia berbisik di telingaku. Debar itu menjadi-jadi. Aku benar-benar tak nyaman. Kuremas-remas tanganku.


"Aku boleh jujur?"


Dengan diamku, kuharap dia mengerti.


"Sebetulnya aku berharap kita bisa melakukan sunnah pengantin baru walau tidak sekarang. Mungkin setelah beberapa hari kita pulang ke Banyuwangi."


Nyut! Getaran itu merambat cepat. Aku ketakutan. Tapi, tubuhku semakin menghangat. Terkunci.


"Aku cuma pengen ngomong itu. Ngomong-ngomong boleh nggak kalau aku lepas jilbabnya. Nanti kamu gerah kalau tidur pakai jilbab gini."


Aku ingin berkata tidak. Tapi, apa dayaku. Dia berkuasa melakukan apa pun terhadap diriku. Aku membiarkannya. Dia menyisiri rambutku yang tergerai ke mana-mana.


"Selamat tidur. Jangan lupa doa." Dia mencium kepalaku walau dari belakang.


"Hadap sini bentar!"

__ADS_1


"Apa?" Aku membalikkan posisi pelan-pelan. Menatapnya takut.


Dia meraih kepalaku. Menempelkan bibirnya pada keningku. Agak lama. Lalu, entah berdoa apa. Hanya terdengar desis tak begitu jelas. Dia melebarkan senyum sebelum menyuruhku berposisi seperti tadi. Perlakuannya yang terakhir tadi, aku merasa dia juga berusaha memperlakukanku seperti seorang adik. Mungkin lebih tepatnya perlakuan kepada perempuan yang masih belia. Aku bisa membedakan mana kasih yang berbau dengan nafsu atau dengan yang tidak.


Menjelang subuh. Aku bangun lebih dulu. Mungkin kurang sepuluh menit lagi azan berkumandang. Di luar kamar sudah terdengar mulai ramai. Aku memilih tak beranjak. Kubiarkan mataku mengerjap-ngerjap sampai pandanganku tak samar lagi. Sebetulnya aku masih mengantuk. Dan, aku baru sadar kalau ternyata posisiku berubah arah dan kini sudah menengah. Sedangkan dia tetap dengan antengnya masih berada di tepi. Tidur telentang dengan kepala agak miring ke kanan. Sampai kemudian azan terdengar, dia masih terjaga dalam mimpinya. Aku menatapnya lama. Kuputuskan berjamaah sendiri saja dengannya jika dia meminta. Aku ingin membangunkannya, tapi bingung dengan cara apa. Padahal, puji-pujian melenguh begitu keras. Tetap saja dia tidur seperti patung. Bahkan aku tak mendengar embusan napasnya.


Sepertinya kalau dibiarkan saja, kami bisa telat subuhan. Mungkin karena kami pengantin baru, tidak ada yang berani mengetuk pintu. Aku berpikir sejenak. Tak mungkin kalau aku menyentuhnya. Nanti malah dikiranya aku memberi kode. Kuambil gawaiku. Kumainkan lagu arab al-hubb fi shumti di yutub. Volume separuh. Kuletakkan gawaiku di antara kami. Anehnya dia tidak terbangun juga. Aku nyengir keheranan. Sampai habis satu lagu dengan volume lebih keras.


Kucari lagu lain. Ahaa! Aku mencari tilawah. Barangkali penampilannya di Pamekasan kemarin ada di yutub. Mungkin dia bisa bangun setelah mendengar suaranya sendiri. Dan, setelah lagu berputar ke nada tinggi, dahinya mulai bergerak. Dia menggeliat.


"Suara siapa ini kok jelek banget?" tanyanya setengah ngelantur.


Dia mengucek matanya. Mengusapkan kedua tangan.


"Suara siapa kok kaya kenal aku? Lihat!"


Kutarik gawaiku. Aku menertawakannya.


"Tumben pagi-pagi tilawahan?"


"Ya habis telinganya kaya jamur."


Dia menjitakku. "Lihat suaranya siapa tadi? Nggak asing."


"Suaranya orang paling jelek sedunia."


"Ini lo."


Dia pun tergelak-gelak. "Kamu ngefans suaraku?"


"Ih, mboten kok."


"Lha itu yang dipilih penampilanku di Pamekasan kemarin."


"Biar cepet bangun ini."


Dia tersenyum ganjil lagi. Senyumannya seperti mengancam dalam canda.


Kami jamaah subuh. Lalu, keluar kamar tanpa mandi. Kami sepakat mandi setelah sarapan nanti. Begitu kami keluar, keluarga berkumpul di ruang tengah.


"Eh, pengantin baru. Rambutnya kok nggak basah?" celetuk abang.


Kontan semuanya menoleh. Kutoleh ke arah para santri, mereka cekikikan sembari melemparkan pandangan padaku.


"Benar-benar ya Abang tu," batinku. Sebal jadinya.

__ADS_1


Aku kembali ke kamar, sedangkan Mas Nizam bergabung dengan mereka. Kupakai kerudung instanku. Aku kembali menghampiri.


Abang berbisik pada Mas Nizam, tapi sengaja mengeraskan suaranya. "Belum kamu apa-apain dia, Mas?"


Ummik dan ibuk menertawakan cukup keras. Mbak Sulung kebablasan sampai ngakak. Lalu, ibuk menepuk pahanya agar mengontrol suara.


Untungnya Mas Nizam hanya tersenyum. Aku jadi pengen menabok abangku yang nakal. Kulempar pandangan sebal ke arahnya. Biarkan saja orang lain menatapku kekanak-kanakan.


"Maklum. Tuju belas tahun kan ya kaya gitu. Ngalem," tambahnya lagi. Abang Fakhar yang sebenarnya dia orang yang sangat jail.


Mas Nizam melambai. Memberi isyarat agar aku duduk di sampingnya. Tapi, aku memilih duduk di sebelah abah. Aku khawatir abang akan menjailiku lebih parah. Aku menyadarkan kepala di bahu abah. Sembari memeluk juga.


"Iya kan ngaleman."


Aku menjulurkan lidah.


"Wis nduwe bojo kok sek nggubet Abahe," kata abah pelan.


Terjemah: (Sudah punya suami kok masih peluk Abah)


"Tidak apa-apa, Bah."


"Sing manut lo yo, Nduk Cah Ayu."


Terjemah: (Yang patuh lo ya, Nduk Cah Ayu)


Aku mengangguk.


Satu per satu mereka bangkit. Pamitan mandi, keluar mencari udara segar, jalan-jalan ke pondok putri, atau ngaji di masjid. Mas Nizam juga beranjak. Arahnya ke dapur. Dia kembali membawa satu piring dengan gundukan nasi dan lauk yang cukup banyak.


"Ini yang namanya kelaparan setelah semalam bertenaga," tuturnya lagi. Nyelonong pergi. Gara-gara kata-katanya yang sembarangan itu, aku malu menatap orang-orang. Apalagi, mbak-mbak santri pasti juga sedang menguping. Mereka juga ikut cekikikan setelah abang berkata.


Sound system dinyalakan lagi. Satu lagu diputar. Zaujati.


"Sambil dengerin zaujati, sini aku suapin." Dia bersila di depanku. Dia makan sesendok lebih dulu, lalu menyuapiku. Aku sebetulnya tak ingin membuka mulut, tapi abah memerintahkanku agar tak membiarkan Mas Nizam menggantung tangannya lama-lama.


Berhenti di tiga sendokan. Aku tak begitu berselera.


"Ya Asma', makan lagi ya? Aaaaak?" Panggilannya merayu.


Abah tersenyum. "Lek Asma' binti Yazid iku yo isinan, tapi ndak aleman," dhawuh abah.


Terjemah: (Kalau Asma' binti Yazid itu ya pemalu, tapi tidak manja)


"Tuh. Yok makan lagi."

__ADS_1


Akhirnya kami menghabiskan sarapan bersama-sama. Bahkan, dia juga mengambilkanku air minum.


Pagi, teman-teman. Sarapan yok. Masak apa? Sarapan Fizah ditambah sayurannya yang banyak biar sehat selalu. ❤️❤️😅🙏


__ADS_2