FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 198 "Walimah Tiga"


__ADS_3

*Tsaniya Tabriz


Acara inti berlangsung khidmat. Dimulai dari pembacaan ayat suci Alquran oleh Al-Qoriah Ning Rabi'ah Al-Adawiyah. Dia membacakannya dengan irama yang indah, bernuansa puitis dan sendu berpadu dengan perasaanku. Belum lagi suara bassnya di saat mengambil nada rendah dan suara altonya ketika di nada tinggi. Aku berdecak kagum. Lalu, tadi Mas Nizam memberitahuku bahwa dialah perempuan yang pernah disukainya, tapi telanjur menikah dengan Gus Rayyan sebelum dipinang. Mereka juga pernah berjuang di medan perlombaan bulan November kemarin di Pamekasan. Menurutku wajar sekali jika penampilannya tadi membuat senyap kegaduhan malam. Pasrah pengantin, lalu nasihat pernikahan tak lebih dari setengah jam yang disampaikan oleh Kiai Dzul Ghofur berlalu tak lebih dari satu setengah jam.


Aku dan Mas Nizam turun guna mengganti baju.






Kami kembali setelah lima belas menit kemudian. Duduk.


Para tamu undangan masih menikmati sajian menu prasmanan di sebelah barat. Menunggu mereka selesai makan, pasti tak cukup menunggu waktu dua puluh menit. Mungkin bisa lebih dari setengah jam.


Lagu arab berjudul al-hubb fi shumti pun akhirnya setelah lagu arab sebelumnya.


اِنَّ فِی حُبِّك فَوْقَ مُسْتَوِی الْكَلَام


(Sesungguhnya cintaku kepadamu melebihi semua ucapan)


فَقَرَرْتُ لِسَانِيْ اَنْ اَسْكُتْ عَنِ الْكَلَامْ


(Maka aku putuskan untuk diam dari berbicara)


شَوْقِيْ اِلَيْكَ فَوْقَ مِنْ حِسيْهَا


(Rinduku kepadamu lebih dari perasaanku)


حَتَّی اَقْوٰی مِنْ اَلَمِ اَثَرِهَا


 (Bahkan lebih kuat dari rasa sakitnya)


بِالصُّمْتِ فِی ضِيْقِ الْعِبَارَة عَمَّا اَعَانِيْ


(Hanya diam saat tak ada ungkapan yang mampu gambarkan deritaku)


اِشْتِاق اِلَيْك بِفَرْدِ لِاَنَّك قَرِيْبًا مِنِّيْ


(Merindukanmu sendiri karena Kamu dekat denganku)


Sumber: Sonara.id


"Aku mau nyanyi. Kamu dengerin, ya."


Mas Nizam ikut menirukan lagu itu. Aku setengah mengingatnya, kapan aku pernah mendengarkan lagu itu.


"Njenengan suka sama lagu ini?"


"Iya. Kamu ngerti artinya?"


"Nggak. Apa?"


"Judulnya mencintai dalam diam."


"Romantis ya berarti."


"Makanya aku suka. Karena aku akan sering menyanyikannya, suatu saat kamu juga akan suka."

__ADS_1


"Masak?"


"Itu pasti."


Satu lagu selesai dinyanyikan. Mas Nizam bangkit. Meminta mikrofon kepada teman duetnya di panggung. Kebetulan grup gambus itu memang grup Mas Nizam sendiri. Dia duduk. Matanya pun terpejam. Menyenandungkan irama begitu pelan dan penuh perasaan.


Kenapa suaranya bisa selembut dan seindah itu? Aku tak berhenti memikirkan jawabannya. Berkali-kali desir getar merambat dalam sekejap ke seluruh tubuhku. Lahjah bahasa arabnya yang fasih, membuatku merasa dia memang bisa menirukan suara vokalis aslinya, tapi dengan ghoyah (cengkok) versi Mas Nizam sendiri. Aku turut memejamkan mata. Aku membiarkan seluruh suaranya masuk dengan leluasa, menyentuh kapas telinga, menggetarkan dada begitu hebat.


Uhibbuki mitsla maa anti Uhibbuki kaifa maa Kunti


(Aku mencintaimu apapun dirimu, Aku mencintaimu bagaimanapun keadaanmu)


Wa mahmaa kaana mahmaa shooro, Antii habiibatii anti


(Apapun yang terjadi dan kapanpun, Engkaulah cintaku)


Zaujatii, Antii habiibatii anti


(Duhai istriku, Engkaulah Kekasihku)


Mas Nizam pun sukses membuat tamu undangan diam menghayati. Kesibukan mereka terhenti untuk sementara. Riuh tepuk tangan tamu dan para santri mengakhiri satu dari lagu darinya. Santri-santri putra di masjid berteriak, "Tayyib, tayyib, masyaallah."


Malam semakin gelap. Tapi, acara masih berlangsung damai dan meriah. Terdengar lagi alunan musik yang masuk. Dari intronya aku bisa menebak lagu apa itu. Mas Nizam menatapku sembari tersenyum lebar. Dan, aku sendiri tersipu. Kututupi tawaku dengan telapak tangan. Aku tidak bisa mengendalikan sudut bibirku yang terus ingin tersenyum.


Tu hi toh jannat meri, Tu hi mera junoon


Lirik pertama dinyanyikan, semua orang tertawa penuh suka cita. Gemuruh tepuk tangan menyambut lirik berikutnya.


Tu hi to mannat meri, Tu hi rooh ka sukoon


Tu hi aakhion ki thandak, tu hi dil ki hai dastak


Aur kuch na janu mein, bas itna hi jaanu


Tujh mein rab dikhta hai


Yaara mein kya karu


Tujh mein rab dikhta hai


Yaara mein kya karu


Sajdhe sar jukhta hai


Yaara mein kya karu


Tujh mein rab dikhta hai


Yaara mein kya karu


Sumber: kompas.com


Setengah lagu selesai, disambung suara perempuan yang membuat semua orang mencari sumbernya dari mana. Ternyata Ning Alalah yang menyanyikan lirik selanjutnya, memakai lirik female version. Dia berdiri dari sisi kiriku berdiri. Dari kursi paling ujung, dia mendekatiku sembari menyanyikan. Dia menciptakan senyum untukku. Lantas memberikan mikrofonnya padaku.


"Haaa?" Aku tertawa. Aku menolaknya. Aku mengelak dengan dalih tak bisa bernyanyi. Tapi, dia terus menyodorkan mikrofonnya padaku. Dan, mau tak mau aku berusaha menyambungnya sebisaku. Aku mengulangi liriknya dari awal yang seharusnya sudah masuk lirik na kuch bola. Padahal, suaraku sebetulnya biasa saja. Aku tak bisa menirukan dengan cengkok yang bagus seperti yang Ning Ala contohkan. Tapi, aku berusaha agar suaraku tak terdengar sumbang. Aku memakai nada yang cenderung datar. Kugunakan perasaan untuk memperindah suaraku yang terlalu biasa ini.


Na Kuch Poocha


Na Kuch Maanga


Tune Dil Se Diya Jo Diya

__ADS_1


Na Kuch Bola


Na Kuch Tola


Muskuraake Diya Jo Diya


Semua orang terkesiap. Ning Ala di sampingku, menatapku.


Tujh mein rab dikhta hai


Yaara mein kya karu


Sajdhe sar jukhta hai


Yaara mein kya karu


Tujh mein rab dikhta hai


Yaara mein kya karu


Pada reff itu, Mas Nizam membarengi liriknya hingga tuntas. Dia mengambil nada yang lebih rendah dariku atau suaraku akan tenggelam dalam suaranya yang jauh lebih indah.


Belum selesai aku bernapas, riuh tepuk tangan juga belum selesai, musik dimainkan kembali. Kupukul lengan Mas Nizam. Sepertinya dia ingin mengerjaiku. Selanjutnya lagu dangdut yang dipopulerkan lesti.


(Mas Nizam)


Bismillah Dengan Menyebut Nama Allah


Izinkan Aku, Mencintaimu


Di Jalan Yang Di Ridhoi-Nya


(Aku)


Bismillah Dengan Menyebut Nama Allah


Ku Doakan Dirimu, Menjadi Jodoh Ku


Imam Pemimpin Dalam Hidupku


(Mas Nizam)


Insya Allah Ku Jaga Dirimu


Dengan Seluruh Cintaku


Hidup Dan Matiku


(Aku)


Insya Allah Ku Jaga Kehormatanku


Menjadi Pendamping Dalam Sebuah Takdir Cinta


Sumber: musixmatch


Mas Nizam merangkulku.


"Terima kasih telah mendengarkan persembahan lagu dari kami," katanya mengakhiri.


Acara ditutup dengan doa yang dilangitkan oleh Kiai Kariim dan Kiai Hafidz. Seluruh keluarga, nawaning, gawagis, kuyaha, para bu nyai, sahabat, para santri yang berkenan, tim gambus yang dipanggil dimohon agar tidak meninggalkan tempat karena masih ada sesi foto bersama. Usai pukul hampir jam sebelas malam.

__ADS_1


Penat. Gerah. Perut lapar.


Terima kasih. Acara Walimah sudah selesai, ya... Tinggal episode romantis selanjutnya.. 😁🤭 Makasih udah mau datang dan foto bersama.. 💋❤️❤️


__ADS_2