FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 78 "Terungkapnya Kisah"


__ADS_3

*Ranaa Hafizah


"Jalan saja biasa. Ini tempat ramai!" perintah Yazeed.


Pagi itu kami benar-benar menuruti semua kata-kata Yazeed. Dia bilang kami akan aman jika bersamanya dan tidak berusaha melepaskan diri. Ketika turun dari bus, aku dan Ratna ragu bagaimana jika dia orang yang hanya berpura-pura baik? Aku melihat pakaiannya yang tak ubahnya seorang preman. Celana jeans warna pudar, gelang kaoka tujuh buah di tangan kanan, cincin besar permata di jari kelingking tangan kiri dan cincin kaukah polos di kelingking tangan kanan. Atasannya hanya berupa kaus oblong. Tapi, Yazeed memperingatkan jika kami tidak manut, Pak Su dan Mas Hakim akan terus membuntutinya. Di situlah aku mulai berpikir, dia ada benarnya juga. Entahlah aku hanya memanfaatkan kesempatan. Yang penting aku dan Ratna bisa aman dari langkah Pak Su dan Mas Hakim yang masih terus mengikuti. Mereka pun bersikap seperti orang yang tidak sedang membuntuti.


Kami mengatur siasat. Yazeed mengajak kami masuk ke warung makan yang sangat ramai demi mengecoh pergerakan. Kami memilih tempat yang paling ke dalam. Aku menoleh ke kanan kiri, kulihat di seberapa pintu, mereka berdua ada di sana. Tampak bingung. Dan, akhirnya mereka menghilang dari sana. Tapi, aku masih cemas. Mungkin saja mereka malah stay menunggu di luar.


Yazeed menatap Ratna.


"Kau hamil?"


Aku menanapnya. Aku tidak bisa berkata apa-apa. Ratna apalagi. Dia senyap. Tebakan Yazeed amat tepat sasaran. Dan, itu membuatku bertambah yakin bahwa sebetulnya Yazeed itu bukan sekadar preman. Atau, dia memang mengenal Pak Su dan Hakim.


Ratna menundukkan wajahnya.


"Bersikaplah biasa. Aku sudah sering menemui orang seperti kalian. Siapa yang melakukannya padamu?"


Kami diam.


"Pak Su?"


Tetap diam.


"Sudah kuduga. Aku kenal Pak Su. Dia dipanggil asu. Tiga tahun lalu, dia ada di pondokan milik orang tuaku. Meditasi satu bulan. Dia sempat berhasil taubat. Tapi, rupanya itu caranya supaya kami percaya dan terlena. Karena siapa pun yang sudah ada di sana, sebelum dia berhasil menjadi orang baik, dia tidak akan diperkenankan keluar menemui keluarganya. Lalu, malah kabur. Sekitar satu bulan kami mencari, dia gagal ditemukan orang-orangku. Aku lama tidak bertemu mereka setelah memutuskan membiarkannya pergi. Hari ini, aku malah dipertemukannya tidak sengaja di terminal. Lalu, justru bertemu dengan kalian berdua. Sebelumnya aku sudah mendengar dia punya klub di Banyuwangi. Dan, kalian rupanya yang sudah menjadi korbannya."


"Kamu beneran kenal dia?" tanyaku.


"Yes. Setiap orang yang pernah masuk ke pondokanku, aku pasti kenal baik dengan mereka. Aku juga tahu latar belakang kehidupannya. Singkat cerita, dia dan seorang perempuan pernah menjalin cinta setelah pertemuan di sebuah tempat malam. Perempuan itu nggak beda jauh dengan kalian. Hanya saja perempuan itu bekerja karena hidup miskin. Dulunya Pak Su orang kaya. Cukup mapanlah. Berkali-kali putus cinta, malah akhirnya jatuh ke tempat seperti itu. Dia sudah mencandui. Malam demi malam, mereka akhirnya jatuh cinta dan akhirnya perempuan itu keadaannya sama sepertimu, Ratna."


"Pak Su tidak bertanggung jawab?"


"Jelas. Laki-laki yang bersamanya tadi, mungkin anak laki-lakinya. Sebelum dia kabur, dia sempat cerita akan menemui anaknya. Dia pikir anaknya sudah dewasa. Kausadar mereka punya hubungan sedekat itu?"


Aku tidak sadar. Setelah kuingat baik-baik, banyak kemiripan di wajah mereka berdua.


"Kau pasti tidak sadar. Apa yang kauketahui selama ini?"


Berhubung dia kelihatan sangat serius membicarakan Pak Su dan Mas Hakim, aku menjadi sedikit antusias untuk menanggapi.


"Setahuku Mas Hakim anak yatim."


"Ibunya?"


"Ibunya perempuan baik-baik."

__ADS_1


"Dia sudah cukup malu menghadapi kenyataan hidupnya sendiri. Kalian tahu betul bagaimana rasanya. Diskriminasi sosial seumur hidup."


"Tidak ada warga yang tahu bagaimana kisah itu sebenarnya. Aku baru tahu," kataku.


"Ada yang tahu. Tapi, sepertinya mereka tutup mulut."


"Pertanyaanku sekarang, apa Mas Hakim benar-benar telah mengikuti jejak Pak Su?"


"Menurutmu?"


"Dia pernah menyangkal kutuduh menipuku. Berangkat mengajakku bekerja, tapi nyatanya dia tidak pernah memberiku pekerjaan. Dia pun pernah melindungiku saat Pak Su dan berbuat buruk padaku. Tapi, sikapnya tidak beda jauh dengan Bapaknya."


"Dia harus jadi mangsaku selanjutnya."


"Mangsa apa?"


"Kalian butuh tempat yang aman, kan?" Dia mengalihkan pembicaraan. Memandangku dan Ratna bergantian.


Dari pertanyaan itu, aku mendadak was-was.


Yazeed tersenyum. "Aku akan mengantarkanmu jika kalian tidak percaya. Aku tidak akan memaksa. Tapi, aku sudah bicara apa adanya. Mereka masih di luar mengintai pergerakan kita. Selagi kalian bersamaku, percayalah kalian akan aman."


"Sebegitu yakinkah dia?" batinku. Batinku melarang untuk tidak menerima. Aku kembali diingatkan pada cara Mas Hakim dulu ketika membujukku supaya mau bekerja dengannya. Sudah cukup dia yang menipuku. Mungkin Yazeed memang membawa berita kebenaran. Tak kusangka Pak Su dan Mas Hakim ternyata adalah seorang bapak dan anak. Tapi, bukan berarti itu tidak memungkinkan Yazeed akan memanfaatkan kondisi ini. Aku tetap berjaga-jaga dan tetap menahan banyak bicara.


"Ada satu hal yang ingin kutanyakan."


"Siapa kamu? Apa untungnya kamu menolongku?"


Wajahnya mendekat, berkata sedikit lirih, "Kalian cantik."


Deg!


"Apa?"


"Dari sekian banyak orang yang ada di sini, siapa yang akan menjamin kalian akan selamat?"


"Tuhan." Aku menegaskan.


Dia tersenyum.


"Pergilah kalian! Tuhan pasti akan langsung menolong kalian nanti. Pergilah!"


"Ratna, ayok!" Kupegang tangannya.


Ratna menahan kakinya. Dia memandangku. Aku menghela napas. Wajahnya membuatku sangat iba. Pasti dia sedang kelaparan.

__ADS_1


"Tunggu makanannya datang. Kalian buruh tenaga ekstra supaya bisa menghadapi mereka berdua."


Aku kembali duduk.


Makanan datang.


"Makan! Aku juga lapar. Lapar membuat kepalan tanganku lemes. Gimana aku bisa berkelahi kalau begini caranya," ujarnya seraya memegang sendok. Kedengaran hanya seperti orang bercanda.


Dia mengucap bismillah lirih sebelum satu sendok masuk ke mulutnya. Justru karena melihatnya, aku menjadi ingat. Aku hampir lupa tidak berdoa. Aku menatapnya makan.


Dia mendongak. "Makan jika kauingin pergi tanpaku. Aku tidak memaksa." Dia melahap lagi.


"Pakaianmu kenapa begitu?"


"Lalu, kamu sendiri kenapa berpakaian begitu?"


"Aku perempuan."


"Begitu sebaliknya."


"You can judge me from the cover. You look me now! Maybe this looks weird. So, what ever you."


Terjemah: (Kamu bisa menilaiku dari luar. Kaulihat aku sekarang! Mungkin ini terlihat aneh. Jadi, terserah kau)


Yazeed menghabiskan makanannya. Bangkit. Pergi tanpa salam dan tanpa menunggu kami selesai makan. Dia tak gamang menuju ambang pintu. Napasku melenguh panjang.


"Ratna, habiskan makanannya. Habis itu kita pergi."


"Aku khawatir mereka masih di luar, Zah. Sampai kapan kita jadi buronan?" jawabnya sembari mengorak-arik makanannya.


"Entahlah."


"Aku masih penasaran kenapa dia bisa begitu mirip dengan Pak Nizam? Tapi, gaya bicara dan kehidupannya mungkin sangat kontras," ucap Ratna lemah.


"Entahlah."


"Aku pun penasaran pondokan apa yang Yazeed katakan tadi? Mungkinkah kita akan aman di sana?" Ratna bertanya lagi.


"Sebagian cerita Yazeed mungkin bisa dibenarkan. Kita bisa percaya. Tapi, tidak sepenuhnya."


Dia menatapku. "Sepertinya kita salah tidak menerima tawarannya, Zah. Tiba-tiba aku mikir gitu."


"Kamu percaya dengannya?"


"Feelingku mengatakan dia pria jujur. Ayo kita cari dia, Zah. Dia belum jauh dari sini."

__ADS_1


Aku gamang. Giliran Ratna yang mendadak percaya. Dia mempercayakan ketakutannya pada pria yang tak dikenal.


__ADS_2