FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
Extra Part (Hehehe )


__ADS_3

Jika tiga eps EMAS dan BERLIAN yang terakhir belum up, tunggu itu up dulu, nggeh. Hehe. 😁✌️


*Tsaniya Tabriz


Rasanya sudah seperti orang kehilangan. Berhari-hari aku melihati keranjang bayi milik anakku. Jantung hatiku yang kini tak ada lagi di dekapanku. Walaupun sebetulnya aku bersusah hati, tapi Mas Nizam meyakinkanku bahwa menolong seseorang yang sangat membutuhkan akan menjadi buah kebaikan yang berlipat ganda.


Awalnya aku meminta agar setelah tiga bulan setidaknya, tapi nyatanya aku sendiri juga merasa belas kepada Gus Omar dan istrinya. Atas persetujuan semua keluarga, jantung hati keduaku yang baru kulahirkan seminggu harus berpindah tangan.


"Mas, aku kangen Fathima."


"Kapan-kapan kita ke sana."


"Harusnya mereka yang ke sini karena kita orang tua kandungnya, Mas."


"Yang ikhlas. Masih ada Kiya di kita."


"Kalau seandainya anak kedua kita cowok, mungkin aku nggak akan rela, Mas. Ya berhubung dia nggak minum ASI dan cewek, aku masih bisa belajar ikhlas."


"Husssh kita itu bantu orang. Mereka hampir delapan tahun nggak punya anak. Mereka pasti rindu sekali. Sedangkan kita, kita pasangan yang subur. Kamu wanita yang sehat jasmani rohani."


Ketika Kiya belum genap berusia satu tahun, aku tiba-tiba kaget karena dipastikan positif hamil. Tapi, aku bersyukur karena abah dan ummi adalah orang pertama yang sangat memperhatikan kesehatanku sejak awal, lalu Mas Nizamlah mendukung mentalku.


"Sayang, itu ada tamu."


"Mana?"


"Sebentar aku tengok dulu. Mas Nizam yang rapi kalau menemui tamu."


"Assalamualaikum, Ning Niya."


"Mbak Kala? Silakan masuk. Ya Allah, maafkan aku tadi aku dengan Mas Nizam baru ngomongin kamu dan suami. Jujur aku kangen banget Fathimah. Boleh aku gendong?" Tsaniya memperlihatkan ketidaksabarannya.

__ADS_1


Kala pun duduk. Meletakkan tas kecil berisi keperluan Amra.


"Kamu sendirian?"


"Siapa, Sayang?" tanya Mas Nizam.


"Mbak Kala, Mas."


"Ooo kamu. Sendirian saja?"


"Dengan mbak. Dia minta di luar. Maafkan karena Gus Omar harus mengisi kajian di kampus. Jadi, tidak bisa datang. Maaf, ya, Ning Niya? Gus Nizam?"


Aku sampai tak mendengarkan apa yang diucapkan Mbak Kala. Karena saking senangnya dia datang ke rumah di saat waktu yang tepat. Tumpahlah semua rindu itu. Aku tak berhenti mencubiti pipi merah jantung hatiku, lalu menciuminya berulang kali.


"Gimana minum susunya hari ini?"


"Insyaallah selalu aman. Apa perlu dicarikan ibu susu?"


"Sebetulnya yang penting jelas orangnya. Tapi benar juga, kalau kenal dengan orangnya lebih enak juga. Dan diutamakan dari mereka yang berakhlakul karimah."


"Sebelumnya makasih sudah ke sini."


"Aku, Ning, yang benar-benar makasih. Intinya menaikan Ning Niya dan Gus Omar tidak akan pernah aku lupakan."


"Yang penting Fathima disayang sepenuh hati, Mbak."


"Kalau itu sudah pasti kok, Ning. Kami akan memberikan yang terbaik. Karena Amra lahir dari Ibu dan Ayah yang masyaallah luar biasa, jadi pasti nanti Amra akan menjadi anak yang salihah."


***


Mobil berderet-deret di depan gerbang. Semua barang bawaan telah diserahkan. Semua keluarga masuk ke ruang tamu yang telah ditata sedemikian rapi dan cantiknya.

__ADS_1


Dunia seperti tiba-tiba berjalan begitu cepat. Walaupun aku tak pernah melihat bagaimana kesehariannya, tapi melihatnya sudah tumbuh dewasa, lalu akhirnya resmi mendapatkan cincin peningset dari pria yang dia pilih menjadi bakal suami, aku turut bahagia. Sebagai ibu kandungnya, aku tak pernah lupa mendoakannya. Aku hanya berdoa semoga di tangan Hisyam, putra pertama Bu Nyai Ranaa, anakku kelak bisa mencapai surga bersamanya.


Acara sudah usai. Kulihat Fathimah memperhatikan jari manisnya. Semringah air mukanya. Lebar senyumannya. Berpendar-pendar bola matanya. Aku tahu dia pun sangat bahagia. Dia, putriku, terlihat cantik sempurna mengenakan gamis berwarna salem, senada dengan pakaian Hisyam.


Kemudian, aku melihatnya dia bersimpuh di depan Bu Nyai Ranaa. Mendengarkan nasihat demi nasihat yang dituturkan. Aku melihatnya menguraikan air mata. Begitupun aku yang sangat tersentuh melihat pemandangan berharga ini. Aku ikut menangis. Entah sampai kapan putriku akan menganggapku hanya sebagai saudara. Namun, itu juga karena permintaanku sendiri.


Tiba-tiba aku melihatnya mendekat ke arahku. Dia menawarkan tatapan yang berbeda. Pandangannya membuatku tak kuasa. Tetap kutawarkan senyuman meski getar menahan.


"Selamat, Nduk Cantik. Barakallah hidupmu. Bahagialah."


"Dulu Abi pernah mengatakan bahwa aku harus berwudu lagi bila menyentuhnya. Sedangkan, aku tahu bahwa seharusnya anak kepada bapaknya, dia tak akan membatalkannya. Itu ketika aku masih usia sebelas tahun. Lalu, semakin aku remaja aku semakin ingin tahu. Aku bertanya dan Abi pun mengatakan bahwa aku bukanlah anak kandung Abi dan Bunda Kala. Sedih luar biasa. Aku sempat marah, tapi aku sadar bahwa tak seharusnya aku marah kepada mereka setelah tahu cerita yang sebenarnya. Hidupku tak kurang dari suatu apa pun. Aku kembali bertanya, tapi Abi justru berkata suatu saat nanti aku pasti akan mengetahui."


Dadaku bergetar hebat. Kedua tanganku sudah tak sabar ingin merentang dan mengayunkan badannya ke dalam dekapanku.


"Tepat di hari Abi merestui hubunganku dengan Abang Hisyam, Abi akhirnya memberitahu bahwa panjenenganlah ibu kandungku. Bu, izinkan Fathimah Amra memelukmu."


Dan, akhirnya aku bisa memeluknya seperti ketika pertama aku melihatnya dia lahir ke dunia.


"Kamu tumbuh dengan baik di tangan orang yang tepat. Ibu minta tolong nggak usah menyesali apa pun. Di tangan Ibu ataupun Bundamu, kamu akan tetap menjadi wanita yang seperti sekarang ini." Aku melepaskan dekapannya.


"Ndukku yang cantik, usiamu sembilan belas tahun. Kamu mesti sudah ngerti semuanya."


"Bu, Ibu benar-benar merestui aku dengan Abang Hisyam, kan?" Suaranya memelas.


"Pasti. Kenapa tidak? Hisyam putra Bu Nyai Ranaa itu pria yang baik dan cerdas. Walaupun dia bukan hafidz pun nggak masalah. Kamu jelas layak bersanding dengan dia. Dan dia pasti beruntung mendapatkan wanita seperti kamu, Ndukku."


"Jazakillah, Ummi. Amra sayang banget. Amra rindu."


Bahagialah mereka berdua. Tepat di akhir tahun nanti, Fathima dan Hisyam akan melangsungkan pernikahan. Di sini, aku tetap memastikan bahwa senyumannya akan tetap lebar seperti sedia kala.


🖊️ Alhamdulillah extra partnya sudah terpenuhi. Tapi, ngapunten hanya pendek seperti biasanya. Semoga suka. 😁🤭🤗🌺🌷✌️✌️✌️

__ADS_1


__ADS_2