FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 66 "Pria yang Sama"


__ADS_3

*Ranaa Hafizah


Aku langsung mengajak Ratna pergi begitu tahu ada Pak Nizam di seberang menuju musala. Aku mencari arah yang berbeda. Beberapa langkah kami menjauh, aku menoleh dan tidak melihatnya membuntutiku. Kupikir dia tidak menyadari ada aku dan Ratna di musala tadi. Aku abai. Yang penting aku harus segera mencari tempat yang lain.


Keesokan harinya setelah kami bermalam semalam di masjid besar, sekitar pukul enam pagi, kami pergi mencari halte terdekat. Kami terus ke arah selatan. Kami dapat tumpangan mobil pick up. Sopirnya berbaik hati tiba-tiba menawari saat kami menyusuri pinggiran jalan. Kami akan diantarkan ke halte depan kantor polisi. Entah ke mana aku akan pergi. Kami akhirnya diturunkan. Sopir berkopiah putih itu menolak kuberi uang. Malah mendoakan kami supaya sampai ke tujuan dengan selamat.


Ratna duduk di sampingku. Aku tetap berdiri menoleh ke arah timur. Bus akan muncul dari sana, jurusan trenggalek. Tidak banyak orang yang ikut menunggu bus. Sekitar lima belas menit aku menunggu, bus itu datang dengan kecepatan tinggi, lalu menjadi agak pelan ketika tangan kondekturnya mengajak calon penumpang segera naik.


"Yok, Mbak!" Kondekturnya membawakan barang-barang kami.


Ada kursi kosong di pojokan. Sayangnya, kursi yang hendak kami duduki tiba-tiba diduduki pria yang sedang membantu duduk istrinya yang sedang hamil. Penumpangnya sudah penuh. Ada yang sampai berdiri.


Dan...


Alangkah terkejutnya aku.


Tiba-tiba.


Aku hanya bisa menanap.


Aku mendadak gupuh. Kupegangi tangan Ratna supaya dia tidak berlari saat menyadari ada Pak Su dan Mas Hakim di bus ini. Dia kusembunyikan di belakangku. Yang benar saja. Pak Su dan Mas Hakim pun akhirnya menyadari keberadaanku meskipun aku sudah berupa menundukkan wajah. Aku melirik dan mereka berdua tersenyum jahat kepadaku. Pelan-pelan dia menggeser langkah. Menyibak orang di depannya supaya bisa lebih dekat dengan posisiku. Aku sendiri menyuruh Ratna supaya lebih mundur. Ratna akhirnya juga menyadari. Dia mencubit lenganku seketika sampai aku menggigit bibirku sendiri.


Tetapi, ada yang lebih membuatku terkejut lagi. Pria di depan Pak Su dan Mas Hakim yang tiba-tiba menoleh ke arahku. Tepat sasaran menatap mataku. Aku terbengong-bengong.


"Kenapa bisa ada Pak Nizam di bis ini juga?" Kutatap dia tanpa berkedip.


Dia menahan diri di tempatnya. Menghalangi jalan Pak Su dan Mas Hakim.


Tetapi, setelah aku memperhatikannya dengan amat sadar, orang itu bukan Pak Nizam. Pakaiannya saja seperti preman. Dia hanya menggunakan kaus oblong tanpa lengan. Dia lebih tinggi dan kekar. Lagi-lagi dia menahan Pak Su dan Mas Hakim. Lalu, aku mendengar dia berkata, "Tolong jaga kenyamanan penumpang lain." Menatap garang (mode gahar).


Beberapa orang sontak menoleh ke arah mereka berdua. Memberi peringatan lewat mata.

__ADS_1


Mereka bertiga bertukar pandang. Kemudian, pria itu membuang pandangan ke arah lain. Setidaknya pria itu membantuku tanpa sengaja.


"Zah, kenapa mereka berdua bisa di sini, Fizah?" Ratna mencicit. Mencengkram tanganku.


"Mungkin mereka sudah tahu kita pasti akan naik bis," kataku turut mencicit.


"Mereka memang licik." Mata Ratna sedang bersumpah serapah. Kebencian itu bersemayam jelas di matanya. Andai dia punya kuasa dan tenaga, dia pasti akan membalas perbuatan Pak Su padanya.


Bus terus melaju cepat. Menyalip dari arah kanan mobil yang melaju berderet-deret. Klakson terus dibunyikan demi mengejar setoran.


Pak Su dan Mas Hakim tetap mengawasiku. Maka, dengan berani aku membalas tatapan itu tanpa kedipan. Bibir yang mulanya tersenyum, pelan-pelan menjadi datar. Berubah mengancam. Aku terus menatap mereka meskipun gemuruh tabuh di dadaku lebih kencang daripada laju bus ini.


"Ya Allah, bantu kami. Allahumma shalli 'ala sayyidina muhammad."


"Ratna, salawat, Na," bisikku.


Aku berharap ada orang yang tiba-tiba datang menolongku.


Aku menggeleng. Tetapi, pria itu mencari pembenarannya sendiri dengan menatapku lebih dekat. Menyuruhku untuk tidak membelakangi dirinya. Aku meliriknya sebentar. Dan, aku bisa memastikan pria itu memang mirip dengan Pak Nizam. Siapa dia? Aku baru sadar dialah yang kutemui di masjid. Aku ingat pakaiannya masih sama seperti yang dipakai kemarin sore.


Pria itu punya beberapa tahi lalat di pipi, sedangkan seingatku Pak Nizam tidak punya. Alis pria itu tidak setebal milik Pak Nizam. Rambutnya agak keriting, sedangkan lurus milik Pak Nizam. Warna kulitnya lebih kuning. Selanjutnya, aku tidak tahu. Aku tidak berani mata elang itu menghunus mataku. Dia kelihatan sangat dingin. Dia akhirnya tetap berdiri di sampingku. Ketika aku melirik Pak Su dan Mas Hakim, mereka tampak kesal.


Bus berhenti. Beberapa penumpang turun. Aku dan Ratna harus turun dari pintu belakang. Kubawa tasku secepatnya. Pria itu ternyata juga turun lewat pintu yang sama. Aku mengabaikannya. Aku dan Ratna segera berlari sebisa mungkin.


"Jangan lari," teriak pria itu.


Aku terengah-engah. Berhenti.


"Di keramaian seperti ini, tidak ada yang berani berbuat macam-macam. Tenanglah! Orang-orang akan menganggapmu aneh jika kalian kelihatan berlarian." Dia mengingatkan.


"Aku akan mengawalmu. Jika memang kalian punya urusan dengan mereka, mereka tidak akan berani."

__ADS_1


Aku menelan ludah. Kutatap sekali lagi wajah itu. Satu pertanyaanku tetaplah menanyakan dia siapa. Kenapa dia mirip sekali dengan Pak Nizam?


"Jalan!" perintahnya.


Pak Su dan Mas Hakim tetap mengikuti kami bertiga. Langkah mereka biasa supaya tidak menimbulkan kecurigaan. Sesekali aku menatap ke belakang bukan untuk memastikan mereka berdua. Tapi, pria yang tiba-tiba menjadi body guardku. Aku khawatir dia hanya pria modus karena penampilan sangat mencurigakan juga.


Dia menerima panggilan telepon.


📞"Den, Aynur mencari njenengan. Dia memaksa."


📞"Saya ada urusan penting. Tidak bisa diganggu. Katakan saja begitu."


📞"Tadi Abi juga menanyakan di mana njenengan sekarang."


📞"Jawab sebisamu, Kang. Kerjaanku tetap seperti biasanya."


📞"Sekarang njenengan naik apa?"


📞"Ojek. Barusan ngebis."


📞"Njenengan shareloc, Den. Saya kirimkan kang untuk menjemput."


📞"Nggak usah."


Dia langsung menutupnya.


Aku bertambah penasaran. Dia siapa?


Kami tetap berjalan lurus. Mereka berdua senantiasa membuntut ke mana pun kami belok. Tetapi, aku sangat bersyukur ada pria tidak dikenal itu menjadi lantaran pertolongan Allah padaku. Walaupun, aku sendiri masih bingung, penasaran, dan khawatir. Perasaan itu menjadi satu.


Paham, nggeh? Siapa pria yang kumaksud itu? Jadi, yang ketemu Fizah di masjid bukan Pak Nizam.

__ADS_1


Episode "Dalam Perjalanan" itu kejadian flashback setelah Fizah dan Ratna baru saja memutuskan pergi dari warung itu. Sedangkan, setelah itu Pak Nizam malah pulang. Dan, baru mencari ketika mau berangkat ke rumah Mbak Rubia. Maaf, sudah mengecoh😁🤭🤭😋


__ADS_2