FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 74 "Mawar dan Melati"


__ADS_3

*Ibban Nizami


Kupandangi batu kubur itu dalam-dalam. Tak kusangka nama orang yang mulai kucintai telah tertulis di sana.


Rubia,


Takdirmu dan takdirku berbeda, ya


Kau pergi ke arah dimana orang tak akan lagi menemukan pelukmu


Kamu yang kini sebatas bayangan


Tak lebih dari kenangan yang terpatri dalam ingatan


Tapi, aku masih di sini menghirup aroma mawar dan melati di tanah kuburmu


Aku menaburkan lagi bunga-bunga di genggamanku seraya merapalkan doa sebagai hadiah terindah untuknya. Semoga tasbih tak akan putus sampai mawar melati itu mengering.


Aku memegang nisan itu. "Ternyata cintamu memang luar biasa. Aku tidak habis pikir, apa yang kamu sukai dariku. Saat cinta itu telah terbalas, hadirmu tak lagi ada di mataku. Maafkan aku, Sayang. Kamu tidak sempat mendengar kalimat cinta itu dariku. Tapi, sambutlah doa-doa yang akan senantiasa kuhadirkan untukmu di sujudku," batinku. Lalu, aku mencium nisannya lama. Selamat tinggal, Kasihku.


Giliran ibuk yang mencium itu. Mengelus-elusnya sebelum bangkit.


"Kami permisi pulang dulu," ucap ibuk kepada orang tua Mbak Rubia.


"Minta doanya untuk Rubia, ya."


"Insyaallah. Saya dan Nizam akan doakan Mbak Rubia, Bu Nasti."


Mata Tante Nasti berkaca-kaca. Menatap haru. Lalu, memandangku sembari berkata, "Mas Nizam jangan lupa tetap silaturahmi ke rumah Om dan Tante. Jika Mas Nizam menikah, Tante pesan diundang, ya."


"Insyaallah, Tante."


"Mas Iman juga begitu. Meskipun rumahnya Banyuwangi, jangan sungkan-sungkan ngundang. Kami juga masih akan sering ke sana sambang saudara."


Mas Iman mengangguk.


Kami pulang.


"Zam, sayurmu tadi habis. Beli sayur dulu, nanti Ibuk masakkan makanan kesukaan kamu."


"Beli sajalah, Buk," kataku tidak bersemangat.


"Mas Iman pengen makan apa?"


Mas Iman menoleh sedikit. "Apa, ya, Bu? Saya ngikut saja. Semua suka."


Kuambil keris itu dari saku celana. Aku memandanginya. Membuka sarung kerisnya. Kepada siapa keris ini aku kuberikan? Siapa yang paling pantas menyimpannya?

__ADS_1


Ibuk melirik keris di tanganku. Berkata, "Keris opo (apa), Zam? Dari siapa?"


Aku menatap ibuk. "Patrem dari Mustika, Buk."


"Loh, kapan ketemu Wardah?"


"Beberapa hari yang lalu dia ke sini. Pagi-pagi dia datang."


"Ada perlu apa, Le? Gimana caranya kok bisa sampai ke Tulungagung? Mbah Dalang kalau sampai tahu Wardah baru menemui kamu, bisa gawat, Le."


"Tidak ada perlu apa-apa, Buk. Cuma ngasih keris ini. Tapi, sejauh ini tidak ada masalah, kan, Buk?"


"Tidak ada, Zam. Oh, iya, Ibuk suruh menyampaikan sesuatu ke kamu. Anak-anak yang ngaji di TPQ kembali rame. Jadwal sudah diganti sesuatu perintahmu, Le. Anak-anak desa kini punya kegiatan karawitan dan ngaji tiap hari."


"Alhamdulillah, Buk. Arek-arek sudah amanah dipasrah. Le, tapi mbesok (kelak) kamu pulang ke rumah, kan?"


"Pripun (bagaimana)?"


"Kalau kamu sudah menikah, Zam."


"Aku dan Mbak Rubia pernah berencana mendirikan bimbel dan rumah tilawah, Buk. Rencana awal aku memang pengen tinggal di Tulungagung saja, tapi aku sekarang belum tahu."


"Ibuk ndak bisa jauh dari kamu, Le." Ibuk mengelusi pundakku.


"Zam, kalau hatimu sudah lebih baik, cepatlah cari pengganti, Le! Supaya Mbak Rubia lekas tenang di sana."


Wajah ibuk memelas. Telapaknya menggosok-gosok punggungku. "Ibuk tahu kamu sekarang masih sangat terpukul. Dulu kamu Ibuk suruh kenalan dengan Mbak Ala, lha ternyata Mbak Ala sudah dikhitbah. Mustika? Kamu juga kurang suka. Apa kamu tidak punya kenalan lain, Zam?"


Mas Iman melirik dari kaca.


"Sudahlah, Buk. Jangan bicarakan ini dulu. Ngapuntene (maaf)."


"Bukannya tidak ada, Bu. Tapi, Mas Nizam itu orangnya tidak akan sembarang membuka hati," ujar Mas Iman.


"Paling Mas Iman juga begitu. Iya to?" Ibuk balas menimpali.


Mas Iman hanya tersenyum.


Ibuk menghela napas. "Ya sudah."


"Mas Iman, berhenti di supermarket, ya. Tapi kalau ada tukang sayur di jalan berhenti saja."


"Iya, Bu."


Dua jam kemudian.


"Thank's, Mas." Mas Iman berjalan melewati pintu. Menepuk pundakku.

__ADS_1


"Oke."


"Nasib kita sama."


"Kamu benar."


"Sibukkan saja dengan kerjaan. Jadi ke Pamekasan, Mas?"


"Jadi. Minggu depan. November akhir. Apa kamu mau ikut? Nontonlah sekalian ke Ampel atau ke Tuban ziarah."


"Gitu, ya? Hmm...belum kepikiran." Dia menyentuh punggungku lagi. "Saya cuman mau bilang. Jalanmu menuju pernikahan itu sebetulnya cukup terbentang luas. Tunggul dulu! Dia buru-buru menukas saat tahu aku akan segera menyahut kalimatnya.


"Kamu bilang pernah nyantri, kan, Mas? Ya kenapa tidak saja sowan ke sana? Sungkem minta dicarikan gadis yang cocok. Peluangmu mendapatkan calon istri yang lebih baik dari Mbak Rubia sangat besar. Sejalurlah dengan ightanim khamsan qabla khamsin."


"Shallu 'alan nabi, " gumamku spontan. Aku melupakan kiai dalam masalah sesakral ini. Harusnya aku melibatkan mereka.


"Sory, Mas. Tapi, Tuhan lebih tahu kenapa kita ditinggalkan Mbak Rubia. Kamu tanyakan itu pada dirimu sendiri. Oke. Aku pamit. Sekali lagi thank's jamuannya."


Aku mengangguk.


Kami beradu kepal tangan. Mas Iman menggunakan tangan kirinya.


"Assalamu'alaikum? إلى اللقاء"


"Wa'alaikumussalam warahmatullah."


"Kamu married, aku diundang, Mas. Paling nggak, jika kamu berhasil cari pengganti, kabari aku secepatnya."


"Yook. Insyaallah."


Mobilnya melenggang pergi.


Aku khawatir ini balasan Allah karena aku telah meninggalkan Ratna dan Fizah yang waktu itu sedang kesusahan. Sekarang di mana mereka? Allahumma salli 'ala sayyidina muhammad. Aku mengusapkan telapak tanganku ke wajah. Menghela napas.


Aku beringsut menemui ibuk yang sedang salat hajat di kamarku. Aku hanya mendengar dari depan pintu ibuk yang masih berdoa. Yang pada intinya doa itu dikhususkan kepadaku, doa supaya segala jalan dibentangkan saat aku menuju proses mencari pendamping hidup. Ibuk juga menyebut nama ayah. Menyampaikan permintaan maaf sebab telah melangkahi wasiat. Ibuk berkata bahwa aku sudah sangat layak menjadi seorang pemimpin keluarga sehingga aku telah gugur kewajiban dalam mempertahankan wasiat ayah. Uwais Al-Qarni begitu menjunjung adab birrul walidain dengan berjalan kaki menggendong ibunya menuju Makkah Al-Mukarramah. Tingginya adab Uwais kepada ibundanya pun tidak terlepas dari luasnya kasih dan cinta ibundanya sendiri. Ibuk tahu jika suatu saat nanti aku akan meninggalkannya di masa tua, yang artinya aku akan hidup terpisah dengannya. Tetapi, ibuk jugalah yang paling menginginkan aku bersegera menunaikan sunah. Aku menghayati doa ibuk sampai kedua telapak tangan itu mengusap wajah. Lalu, ibuk menoleh dan memberiku senyuman.


"Le, kapan-kapan ajak Ibuk sowan ke pesantrenmu dulu to, Zam. Ibuk tiba-tiba pengen banget."


"Dalam rangka apa, Buk?"


"Piye to?" (Bagaimana, sih?) "


"Maksudnya Ibuk tumben banget. Tiba-tiba juga." Masih dengan posisiku berdiri.


Aku menjatuhkan diri ke kursi sofa depan televisi. Menyalakan televisinya.


"Silaturahmi. Opo maneh (apa lagi)?"

__ADS_1


(Maaf tanggal pelaksanaan MTQ Pamekasan yang sebenarnya dilaksanakan pada tanggal 3-13 November jika tidak ada pengunduran jadwal yang telah ditetapkan oleh Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur'an (LPTQ). Hanya demi kenyamanan cerita, author mengganti semua yang berhubungan dengan pagelaran MTQ tersebut tanpa maksud selain itu)


__ADS_2