FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 174 "Mosaik 2"


__ADS_3

*Ibban Nizami


Aku segera pamit setelah Gus Fakhar pulang. Ba'da magrib aku langsung meluncur ke Banyuwangi. Seperti yang diminta Fizah tadi siang, aku harus segera pulang dan mengembalikan patrem itu kepada Mustika. Sebetulnya aku tidak begitu yakin dengan kembalinya patrem itu, masalah akan selesai begitu saja. Aku bersiap diri. Apa pun yang terjadi. Amanat kedua dari abah aku harus senantiasa memperbanyak salawat. Kuperbanyak salawat nariyah dan munjiyat. Iramanya mengalun pelan di sepanjang perjalanan. Silit berganti dengan lagu al-hubbu fi shumti (mencintai dalam diam).


Usai delapan jam perjalanan bebas macet, aku beristirahat di warung makanan yang sudah buka sejak pukul dua pagi. Pijar lampu warung menyita perhatianku yang memang sedang mencari tempat makan. Aku sangat lapar dan lelah sekali rasanya. Akhir-akhir ini aku cukup sering melakukan perjalanan jauh dalam kondisi tubuh yang kurang fit. Seperti hari ini. Saat lambungku belum sepenuhnya pulih, aku memaksakan diri pulang. Karena setelah kejadian kemarin, aku merasa semakin terdesak untuk segera mengembalikan. Kupikir bukan Mustika yang mencari patremnya, tapi Ki Dalang yang mungkin sebetulnya tidak menghendaki itu.


Sembari beristirahat sejenak, kubuka gawaiku. Tidak ada notif panggilan atau pesan masuk dari ibuk. Biasanya ibuk akan meneleponku barang sekali jika seharusnya aku sudah datang, tapi aku belum sampai di rumah.


Kuletakkan patrem itu di meja. Aku memperhatikannya dalam beberapa menit. Benda yang diyakini sebagian orang masih kental dengan kepercayaan mistis. Punya kekuatan gaib. Tapi, di tanganku benda ini sama sekali tidak membahayakanku sama sekali. Entah kenapa tiba-tiba aku begitu penasaran dengan asal-usul patrem ini. Memang benar, tidaklah seharusnya patrem ini berada di tangan sembarang orang. Bukan apa-apa. Tapi, semakin ke sini aku merasa semakin janggal. Juga tingkah laku Hakim yang tiba-tiba datang menyampaikan pesan penting. Dia datang sendirian menyampaikan maksud baik. Aku harus segera menemui Mustika. Aku akan membuktikannya lagi bahwa patrem itu diberikan padaku bukan karena maksud tertentu, seperti balas dendam karena aku telah menolak cintanya.


Kejanggalan itu berputar-putar di kepalaku. Kupegang patrem Nyai Sekar Wangi itu. Sayangnya aku sendiri tak pernah mau tahu soal benda-benda pusaka seperti ini. Aku tidak pernah tertarik. Tapi, kali ini rasa penasaranku bermunculan.


"Mas, sampeyan kok punya keris seperti itu, Mas?"


Kukira dia berbicara dengan siapa. Ternyata denganku. Aku menoleh.


"Oh, ini, Pak. Iya."


Pria yang sudah bisa disebut bapak itu menggeser kursinya setelah menghabiskan makanan dan rokok. Dia membuang puntungnya di asbak yang ada di mejaku.


Aku meletakkan keris itu.


"Boleh aku lihat, Mas?"


"Monggo!"


Pandangannya menganalisis. Alisnya menyatu. Dia manggut-manggut.

__ADS_1


"Lha ini kok bisa ada di tanganmu ngopo (kenapa), Mas?"


Aku cukup terkejut. Pertanyaan itu tepat sasaran. Tapi, aku tidak langsung menjawabnya. Sepertinya dia masih ingin melanjutkan bicaranya.


"Perempuan mana yang memberikan keris istimewa seperti ini?"


Lagi-lagi tepat sasaran. Dia menelisik dengan benar. Berarti kemungkinannya memang aku yang terlalu awam pengetahuan babagan keris. Nyatanya ada orang yang hanya dengan sekali melihatnya bisa menceletukkan dua pertanyaan yang cukup mengherankanku.


"Patrem. Keris khusus yang diperuntukkan pada para wanita. Patrem itu singkatan, Mas. Dari bahasa jawa. Patrem yang berarti panggane ingkang damel tentrem. Ya maksudnya biar membuat hati tenteram bagi pemiliknya atau bagi siapa saja yang membawanya."


Aku yang tidak tahu pun sejurus menyimak penyampaiannya.


"Perhatikan ricikannya! Ini keris luk 3." Dengan caranya dia menunjukkan, aku bisa mengerti ricikan yang dimaksud adalah anatomi pada keris tersebut.


"Bilahnya nglimpa. Gandiknya polos. Dan, sampeyan lihat hulunya!" Dia memegang pegangan keris itu."


"Ukir ulir kembang. Sama seperti warangkanya ini." Lantas membuka sarung keris tersebut. Model ukiran sarung keris atau yang disebut warangka tadi dan hulu kerisnya diukir kembang. Selaras dengan namanya, Nyai Sekar Wangi. Sekar yang berarti kembang.


"Bener, Pak. Ada yang sudah memberi saya keris kecil ini. Dia penari."


"Penari? Siapa dia? Apa masih belia?"


Dengan aku menyebut pemiliknya ialah seorang penari, kelihatannya dia sudah mulai berangan-rangan akan menebak Mustikalah pemiliknya. Mustika sendiri sebagai anak seorang dalang, dia sudah jelas dikenal oleh sebagian besar masyarakat Banyuwangi. Mustika ialah penari muda yang dikenal sangat piawai menari dan memahami kebudayaan. Hanya saja dia bukan wanita modern yang seharusnya menjadi duta anak muda yang menggalakkan budaya-budaya Banyuwangi ke kancah yang lebih luas.


"Siapa penari itu?" Pertanyaan mulai menelisik. Air mukanya menjadi serius.


"Ah, bukan siapa-siapa, Pak. Dia hanya..."

__ADS_1


"Dia calon istrimu?"


"Oh, bukan bukan. Hanya sebatas teman baik."


"Keris seistimewa ini pasti membawa maksud tertentu jika sudah diberikan pada pria seperti sampeyan. Aku lihat-lihat sampeyan ini kelihatan orang alim. Santri, Mas? Iya pernah nyantri?"


Apa karena kopiah putih di kepalaku ini yang membuatnya menebak aku seorang santri?


"Pernah, Pak."


"Aku ini sebetulnya hanya seorang kolektor. Jadi, ya ngerti sedikitlah kalau soal keris. Gimana kalau keris ini aku beli, Mas? Aku berani bayar mahal lo."


Keris itu kupegang seketika.


"Ini akan saya kembalikan pada pemiliknya, Pak. Mohon maaf. Jadi, saya nggak bisa menjualnya."


"Oh, begitu. Sayang sekali. Aku penasaran siapa penari yang memberimu keris itu."


Aku ingin mengalihkan pembicaraan, tapi pria itu terus mengulang dan membujuk agar aku mengatakan. Ingin aku tinggalkan warung, tapi aku sudah memesan makanan.


Hapeku berdering. Syukurlah ibuk menelepon. Aku bisa memperlama waktunya. Barangkali pria itu tidak saber, lalu meninggalkan warung ini.


📞"Nggeh, Buk. Aku masih di warung. Lapar, Buk."


📞"Ibuk baru solat, Zam. Batin Ibuk kok durung (belum) pulang. Ya sudah kalau kamu di warung. Nanti minta dimasakin apa?"


📞"Terserah Ibuk saja."

__ADS_1


📞"Ojo terserah."


📞"Seperti biasa, Buk."


__ADS_2