
*Ibban Nizami
“Pindahmu kok ya jauh sekali to, Zam. Dulu pas kamu daftar, kamu tidak membicarakan ini dulu dengan Ibuk. Jika kamu diterima di sana, Ibuk akan sendirian di sini.”
“Sejauh apa pun aku pergi, Ibuk satu-satunya yang ada di hati Nizam.” Orang tua tunggal yang peluhnya seperti mutiara.
Ingin sekalian memberitahukan soal perceraian Mas Bayu, tapi aku menangguhkan itu. Ibuk pasti belum tahu dan akan kelabakan sendiri. Belum lagi ada Nurin sedang asyik melahap telur balado kesukaannya. Sejauh ini Nurin juga sudah cukup mengerti bahwa kedua orang tuanya kurang harmonis.
“Ibuk akan merestui. Dengan syarat kamu bisa menunjukkan calon istrimu sebelum kamu berangkat ke sana.”
Kontan sendok yang hendak sayang angkat kembali mengenai piring.
“Buuuk?” Aku memanggil pelan.
“Paklek, Mbak Wardah itu cantik, ya?” celetuk Nurin tiba-tiba.
Aku dan ibuk sepakat menoleh.
“Siapa Wardah, Dek?”
“Itu lo Mbak yang cantik. Jilbabnya selalu yang bunga-bunga. Anaknya Mbok Mujiati.” Mengingat sekenanya.
Saking seringnya Nurin di desa ini, dia sudah hafal dengan dua nama yang malah belum kukenal.
“Memang siapa mereka, Buk?”
“Zam, kamu jangan pura-pura lupa dengan gadis cantik desa ini. Dia penari.”
Aku tiba-tiba ingat. Apa itu saking tidak pedulinya aku dengan perempuan-perempuan di desa ini. Perempuan satu desa yang sudah tersohor saja aku lupa mengenalinya. Dua tahun setelah pulang dari Universitas Gajah Mada menempuh pendidikan strata satu dan strata dua, aku tidak banyak memperhatikan dengan jeli perempuan yang ada di organisasi PAC IPPNU. Apalagi, Mustika yang tidak bergabung di dalamnya.
“Tapi, seingatku dia tidak berjilbab.”
“Itu dulu. Sekarang dia sudah seperti santri. Kalau soal perangainya, dari dulu sudah santun. Semenjak istiqamah memakai kerudung, dia kelihatan lebih santun.”
Dari caranya ibuk bicara, sepertinya ibuk sedang berusaha membuat aku tergugah untuk merespons lebih lanjut.
“Seingatku namanya juga bukan Wardah, tapi Mustika Rahayu.” Satu pernyataan lolos untuk menyenangkan ibuk.
“Nama depannya, ya, Wardah itu. Kalau belum kenal, kenalan, gih. Ibuk seneng banget jika kamu mau kenalan, Le.” Ibuk kembali menyendok makanannya.
Aku masih berusaha menghadirkan memori masa lalu. Seberapa tenarnya Mustika di masa aku masih sekolah menengah pertama, seberapa pandainya dia sampai dia dulu digandrungi para pemuda kecuali aku. Secantik apa pun dia, kenyataannya dia belum menikah sampai sekarang. Padahal, dia hanya terpaut tiga tahun lebih muda daripada aku.
__ADS_1
“Ibuk tahu kamu levelnya pasti yang pintar ngaji, Zam. Iya, kan?”
“Ibuk tahu dari mana memangnya?”
“Kamu pernah bilang pada Ibuk akan mencari perempuan yang sekufu. Lupa?”
Bibir ini otomatis tertarik.
“Jadi, kadang Ibuk itu mimpinya ketinggian, Zam. Ibuk akan punya menantu yang pandai tilawah.Qurannya bagus pokoke. Cantik setinggi kamu, Le. Atau, jangan-jangan kamu akan dimantu Yai, Zam.” Ibuk berseru di kalimat terakhir. Bagaimana bisa ibuk tiba-tiba kepikiran itu. Sementara, aku sama sekali tidak pernah menulis kriteria calon permaisuri dari trah pesantren.
Tapi, pernah suatu ketika aku memintakan satu harapan pada Allah. Barangkali suatu saat aku akan dipertemukan dengan seorang penghafal Alquran yang hafalannya mutqin.
“Zam, menurut Ibuk kamu juga pantes kok, Le, jadi menantu Bu Nyai dan Pak Yai. Bagaimana menurutmu, Le?”
Tidak terasa nasi di piring pun habis.
“Ibuk nasinya dihabiskan dulu. Bicaranya dilanjut nanti.” Aku menggeser gelas ke depan ibuk.
“Nurin lahap banget?” Aku dekati wajah seriusnya. Dari tadi mulutnya bungkam.
Dia menganguk-angguk saja. Tangannya belepotan. Jari-jarinya masuk mulut. Sisa bumbu balado masih mengotori tangannya. Dia menunjukkan sederetan giginya. Turun dari kursi, berlarian ke dapur. Terdengar suara air mengucur kemudian.
Ibuk menumpuk piring kami. Lalu, meneguk air putih di gelas. Mengucapkan hamdalan bersamaan dengan keluarnya sendawa.
“Lha katanya Ibuk ingin aku dijadikan mantu Pak Yai, kok, mengundang Mustika segala buat apa?”
“Jodoh tidak ada yang tahu. Wardah memang penari, tapi dia sedikit-sedikit juga bisa mengaji.”
“Ibuk sudah pernah dengar?”
“Belum.”
“Hmmm.”
“Tapi, Zam, wajar Wardah tidak pandai ngaji. Bapaknya saja dalang wayang. Mereka mengutamakan budaya leluhur daripada mengurusi anak-anaknya bisa ngaji atau tidak. Sudah syukur Wardah sekarang istiqamah menutup aurat.”
“Dia masih sering dapat tanggapan?”
“Masih. Tiap kali Bapaknya dimintai ndalang, Wardah yang menjadi penari atau sindennya.”
Aku mengangguki antusias ibuk menjawab setiap pertanyaan aku.
__ADS_1
Masih ditemani setumpuk buku. Sudah tiga hari ini, aku berniat mengkhatamkan risalah yang membahas Sayyidati Khadijah r.a, satu-satunya istri baginda yang mendapatkan kesempurnaan cinta Baginda Nabi. Sebab, Sayyidati Khadijah r.a menjadi satu-satunya perempuan yang menemani baginda memperjuangkan dakwah islam sebelum menikahi Sayyidatina Aisyah. Barulah sepeninggal Sayyidati Khadijah r.a, Baginda Nabi menikahi Sayyidati Aisyah yang ketika itu belum masak kurmanya. Adakah kamu yang menyerupai Sayyidati Khadijah r.a? Wanita yang rela memberikan segala keduniaannya untuk lelaki yang dicintai.
“Dasar jomblo.” Aku tersenyum mendengarkan bisikan itu.
Temaram senja mengurungkan ujung jari untuk membuka lembar selanjutnya. Masih dalam keadaan punya wudu. Kuambil Alquran di rak yang menempel pada dinding tepat di depanku. Meski sesibuk apa pun, meluangkan waktu untuk membaca Alquran adalah kewajiban.
Satu maqra’ QS. Al-Kahfi setengah halaman terakhirnya selesai kubuka baca dalam waktu sebelas menit. Besok ba’da subuh, aku harus mruput (pagi-pagi sekali) ke pesantren salaf kecil yang bersebelahan dengan desa untuk mengajarkan maqra’ itu kepada santri-santri putri di sana. Sudah waktunya pergantian maqra’ setelah kemarin rampung di maqra’ surat ar-rum.
Santri-santri putri yang berjumlah sekitar empat puluhan itu rata-rata sudah mahir membaca Alquran sehingga tidak menyulitkanku untuk mengajarkan maqra’ dengan tingkatan variasi nada yang sedikit sulit atau dengan tangga nada yang tinggi-tinggi. Kemarin itu hanya butuh waktu tiga bulan dengan pertemuan rutin seminggu sekali pada hari Ahad.
“Paklik Nizam, ayo ke masjid!” Nurin melongokkan kepalanya di sela pintu yang terbuka.
“Kok kamu sudah siap, Dek?”
“Aku rajin, Paklik.”
Aku memberinya senyum. Aku bangkit seraya menarik kopiah di meja.
“Paklek sudah wudu?”
Aku mengangguk.
“Semoga Paklik nanti bertemu dengan Mbak Wardah yang cantik jelita.”
Kugamit tubuh kecilnya.
“Cantiknya seperti siapa, Rin?”
“Seperti aku dong, Paklek.”
Kucubit pipi gembulnya.
Dan, yang benar saja. Di pertigaan menuju masjid, dia berjalan sendirian ke sana. Menawarkan lengkungan senyum untuk Nurin yang menyerunya terlebih dahulu. Tangan Nurin otomatis menarik lenganku. Ibuk yang sudah berjalan di depan menoleh sembari cekikikan.
“Mbak Wardah sudah kenal dengan Paklek Nizam, kan?”
Mustika menatapku sebentar. Lalu, mengangguk dengan memandang wajan Nurin yang penasaran. Melihat Nurin yang bahagia, aku tidak tega melarangnya bertindak semaunya.
“Kamu kenapa sendirian, Tik? Mana Bapakmu?”
Mustika hanya tersenyum tipis. Mengangguk sebelum permisi menyisih.
__ADS_1
Aku mengerutkan alis—apa ada yang salah dengan pertanyaanku?