FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 139 "Ungkapan Hati"


__ADS_3

*Ranaa Hafizah


Kutunggu Yazeed berbicara. Aku tidak akan memaksanya. Aku tahu dia belum sanggup. Dia masih berjuang untuk membuka mulut.


"Eh, Kang, apa ada kertas sama pen?"


"Sebentar saya belikan dulu, Mbak."


"Oh, iya."


Seharusnya orang tuanya di sini. Kenapa aku tidak melihat mereka? Belum diberitahu atau masih ada keperluan? Kondisi Yazeed terlalu lemah untuk diabaikan.


Kang Toyo kembali. Menyodoriku buku tulis dan bolpoin.


"Kang, kenapa orang tuanya nggak ke sini?"


"Sudah ke sini. Tapi, mereka memang selalu sibuk. Ada banyak undangan ceramah. Mereka tidak punya badal. Dan tidak mungkin dibatalkan. Gus Yazeed sudah biasa sendiri. Seringnya saya yang menemani, Mbak. Hanya kali ini kamu ada di sini. Terima kasih sudah datang."


"Ya karena aku juga ingin membicarakan sesuatu. Tapi, nanti saja. Kang, tolong dibantu biar Yazeed bisa nulis. Barangkali mau nyampein sesuatu."


Kang Toyo mengangguk. Dia memegangkan bolpoin itu di jari Yazeed. Dengan gerak yang masih terbata-bata, dia menulis beberapa kata. Tepatnya dua kata. Kang Toyo tersenyum sembari melirikku.


"Apa, Kang?"


Kang Toyo menunjukkannya.


Aku mencintaimu.


Dalam batin, aku tersenyum. Tapi, aku tidak tahu apakah memang seharusnya aku bahagia karena ungkapan hati Yazeed atau aku menganggap itu hanya sebagai ujianku menghafalkan Alquran. Tapi, aku tetap berusaha menyambutnya dengan senyuman. Kupandangi Yazeed sembari berkata, "Ada lagi, Yaz?"


Dia mengedip.


Aku mengambilnya setelah beberapa menit. Tulisannya lebih panjang. Aku mengejanya.


Tapi, siapa kamu sebenarnya?


Aku tercengang. "Maksudnya, Yaz?"


Meski tertatih-tatih, dia sangat berusaha membalas pertanyaanku. Dia sangat antusias. Dia menulisnya agak lama. Coretannya lebih panjang dan semakin terlihat tidak beraturan. Aku membacanya pelan-pelan.


Siapa orang tuamu? Aku tidak bisa menikahimu tanpa wali.


Dia berpikir sejauh itu? Aku sendiri tidak kepikiran. Kupikir saudaraku laki-laki atau pamanku juga sudah cukup menjadi pilihan siapa yang akan menjadi wali nikahku nanti. Apakah maksudnya dia sudah mengetahui huru-hara yang terjadi di ndalem Kiai Bahar? Apa mungkin Gus Fakhar memberitahunya soal tes DNA itu? Gus Fakhar menganggap Yazeed laki-laki yang harus tahu karena Yazeed pernah melamarku?


"Yaz, jadi kamu menganggap aku bukan anak kandung ibuku?"

__ADS_1


Yazeed hanya menatapku.


Aku ingin menceritakan semua yang telah terjadi. Tapi, bagaimana jika itu membebani pikirannya? Dia sudah terluka karena membantuku menangkap Pak Su.


"Aku minta maaf, Yaz. Gara-gara aku kamu jadi begini. Kalau sampai begini jadinya, mending serahkan semuanya pada polisi saja, Yaz."


Aku ingin mendengarkannya membalas semua perkataanku. Aku ingin kami berbincang-bincang leluasa seperti sedia kala.


"Mbak, selama ini kamu diintai orang itu. Dia tahu keberadaanmu," kata Kang Toyo.


Aku menghela napas.


"Gus Yazeed menduga mereka tidak hanya ingin mencarimu karena satu hal. Pasti ada sesuatu yang lain. Tempat itu sudah dibubarkan, Mbak. Tidak mungkin kamu dicari karena akan dipaksa menjadi pesuruhnya lagi."


Kang Toyo ada benarnya.


"Tapi, aku benar-benar nggak habis pikir, Kang. Aku nggak pernah ada masalah sebelumnya."


"Kamu kabur, Mbak. Bagi mereka itu masalah besar."


"Mereka takut aku mengadukan ke polisi?"


"Sepertinya bukan itu. Kan, dia sekarang sudah jadi buronan."


"Iya juga. Buntu, Kang. Aku nggak paham. Sebetulnya mudah saja aku melaporkannya ke polisi. Tapi, sekali pun nantinya aku tercatat sebagai korban penipuan, tapi aku merasa seperti telah membuka aib sendiri. Nggak mungkin Pak Su mikir aku akan melaporkannya. Dia tahu aku nggak akan berani melakukannya. Dan, ternyata ada jalan lain. Tanpa aku melaporkan dan menyeret nama baikku sendiri, sekarang dia jadi buronan. Sekali lagi aku nggak tahu kenapa. Apa untungnya juga jika dia mendapatkanku?"


Aku mengangguk pelan.


Ada yang mengetuk pintu. Masuk tanpa salam. Aku menoleh. Gus Fakhar datang membawakan parsel buah.


"Sudah malam. Kita pulang sekarang," katanya kemudian. Dia memberikan parsel itu pada Kang Toyo.


"Sebentar, Gus."


"Kang, Ratna tidak ke sini?"


"Belum ada yang tahu. Biar saja. Mereka tidak perlu tahu, Mbak. Oh, iya. Tadi dia ditemui dua orang laki-laki."


"Apa salah satunya mirip Yazeed?"


"Kurang tahu. Aku hanya menerima laporan."


Mungkin Pak Nizam dan kawannya. Entah apa tujuannya datang ke Magetan lagi. Tadi aku tidak menemuinya. Tapi, Mbak Ufi menceritakan semua yang sempat mereka bicarakan di ruang tamu.


Aku pamit pulang. Tapi, dari pandangan Yazeed, dia seperti melarangku jangan pergi. Aku sudah cukup senang mengetahui ungkapan hatinya. Sebetulnya masih ada yang ingin aku pertanyakan selanjutnya, apakah itu artinya dia siap menungguku, tapi dia masih ragu statusku yang sebenarnya? Jika benar, itu hanya soal waktu. Lusa hasil tesnya keluar. Kemarin dokter menyarankan agar tes dilakukan dengan menggunakan darah. Darah akan menjadi sampel terbaik dalam uji forensik. DNA dalam darah sangatlah banyak. Karena itulah tak perlu menunggu waktu lama untuk melihat hasilnya.

__ADS_1


"Syafakallah, Mas. Aku dan Iza pamit," kata Gus Fakhar.


Aku bangkit. Aku mendekatkan mulutku ke telinganya. "Yaz, cepat sembuh. Terima kasih atas kejujuranmu. Makasih kamu begitu percaya padaku. Tidak meragukanku sama sekali."


Orang dewasa itu kutatap seolah-olah seperti anak kecil. Dan, dia membalas tatapan itu dengan pendar mata yang kembali menyala. Pandangannya terasa hangat.


"Iz?" Gus Fakhar yang sudah keluar ruangan, melongokkan kepalanya.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam." Kang Toyo yang menjawab.


"Oh, hmm...itu, Kang. Saya nitip Ratna, ya. Tolong dijaga baik-baik. Dia sahabatku. Titip salam, Kang."


"Insyaallah aku sampaikan."


"Suwun, Kang."


Di mobil.


"Iz, kamu harus siap, ya."


"Siap apa, Gus?"


"Hasil tes lusa."


"Saya mengkhawatirkan Bu Nyai. Harapan Bu Nyai pasti sangat besar."


"Apa harapanmu untuk berkumpul dengan keluargamu yang sebenarnya nggak sebesar harapan Ummik, Iz?"


"Saya bingung, Gus. Banyak yang saya pikirkan. Jika hasil tes mengatakan saya bukan adik njenengan, tolong jangan patah semangat, nggeh.


"Iz, aku tu heran sama kamu. Ketika aku sudah memperlakukanmu seperti ini, kamu lihat Ummik dekat denganmu, kamu masih belum merasakan kehangatan kasih sayang Ummik ke kamu? Kamu juga masih belum bisa terbuka dengan dirimu sendiri? Aku berani memelukmu karena apa, Iz?"


Aku menggeleng.


"Ya Allah." Gus Fakhar tersenyum. Juga setengah kesal. Mungkin dikiranya aku tidak peka.


"Aku tadi menarikmu paksa dadi dapur agar santri-santri juga terbiasa nantinya melihat pemandangan itu. Perasaan yang sudah kuberikan padamu, aku sendiri salah mengartikannya, Iz. Apa aku juga harus mulai membiasakan diri memanggilmu Tsaniya?"


"Tidak usah, Gus. Karena semuanya masih ambigu. Saya sangat menghargai kebaikan njenengan. Perlakuan njenengan kepada saya yang memang saya sadari itu berbeda."


"Nah, itu kamu juga paham."


"Tapi, Gus, bagaimana perasaan Ibuku?"

__ADS_1


"Ibumu bisa tinggal di sini."


"Kampung Ibuku di Tulungagung, Gus. Kasihan Ibuku jika harus meninggalkan semua dunianya. Saya tidak bisa memberikan jaminan apa-apa untuk membuat Ibuku bahagia setelah semuanya terungkap."


__ADS_2