FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 24 “Pertemuan Tidak Sengaja”


__ADS_3

*Ibban Nizami


Nurin sudah tidur. Ibuk dan Mas Bayu masih bicara di ruang tamu. Mereka membicarakan perceraian dan sebagiannya soal yang ditawarkan Mas Bayu kemarin padaku. Kudengarkan mereka bicara banyak kata. Di tengah-tengah antusiasnya ibuk mendengar kesempatan bagiku untuk mendapatkan calon, suara ibuk kadang berubah agak parau saat kembali mengurai masalah demi masalah yang Mas Bayu hadapi dengan mbak.


Tidak ada orang ketiga katanya. Ibuk menyuruh Mas Bayu jujur sejujur-jujurnya. Dan, Mas Bayu tetap menjawab tidak. Ibuk menghela napas dan mencoba percaya. Aku juga tidak sampai berpikir ke arah sana. Aku ingat betul berapa lama mereka dulu menjalin hubungan dan dulu Mas Bayu yang sangat ingin memperjuangkan mbak. Maka, setelah itu Mas Bayu menyinggung mertuanya.


Mas Bayu mengaku sudah cukup bersabar menjadi pemimpin keluarga yang kurang dihargai dan terlalu diatur. Dan, itu benar sekali. Dia tipikal pria yang sejatinya ingin selalu tidak terikat dengan banyak hal. Dan, saat dia sudah mengambil keputusan, orang lain akan sedikit sulit mengubah pilihannya. Aku dan ibuk tidak bisa berbuat apa-apa.


Kudengarkan ibuk menasihati Mas Bayu panjang kali lebar. Mengingatkan kembali tanggung jawab yang pernah dicontohkan ayah selama masih hidup. Meminta Mas Bayu meraba-raba momentum belajar bersama ayah setiap akhir pekan. Berulang kali ibuk menerangkan perilaku sabar ayah menghadapi sikapnya yang sering emosional dan egois. Di situlah seharusnya kedua putra lelaki ayah belajar memahami. Urusan tanggung jawab di dunia akan dibawa sampai mati, kata ibuk. Lalu, ibuk menegaskan kembali bahwa suatu saat Mas Bayu harus siap dengan semua risikonya baik di dunia maupun di akhirat.


Beberapa detik senyap. Mas Bayu mengganti topik, kembali pada bahasan tawarannya tadi. Apa pun yang dia ketahui bagaimana perempuan yang dimaksud tadi, dia menceritakan semuanya pada ibuk. Dia juga membujuk ibuk supaya aku mau menerima. Dia mengalah pada kata tidak sanggup membujukku, jika dia yang meminta, maka aku pasti tidak akan mau menerima katanya.


Baik Mustika atau perempuan lainnya, ibuk menyambut dengan tangan terbuka. Tidak ada perempuan yang ibuk khususkan. Ibuk mencoba mengerti aku adalah seorang pria yang lebih pandai menentukan pasangan hidup. Alasan terkuat ibuk kemudian ialah ibuk percaya aku akan memilihkan calon menantu yang dapat membahagiakan ibuk di masa senjanya. Namun, ibuk mempersilakan lebih dulu bila perempuan itu ingin dikenalkan padaku. Boleh sekalian dibawa ke rumah sekadar silaturahmi dan basa-basi.


Sepulang dari kampus keesokan harinya, aku menjemput Mas Bayu di pabrik. Hari ini dia hanya shift pagi sampai siang. Kami berangkat ke suatu tempat dengan mengandalkan maps. Mas Bayu yang nyetir motorku. Tadi pagi sudah janjian dan dia mengatakan akan mengajakku ke rumah perempuan itu. Demi permintaan ibuk, aku menuruti sekali pun tidak ada tanda-tanda aku akan tertarik padanya. Dari awal aku mendengar ceritanya saja, aku tidak tertarik. Tapi, apa salahnya menyenangkan orang lain. Toh, mencoba juga tidak berdosa.


Motor melaju kencang. Sudah jelas ugal-ugalan jika Mas Bayu yang menyetir. Ukuran normal orang akan melaju 60-70 kilometer/ jam di jalan raya besar, maka dia terbiasa 80-90 kilometer/ jam. Seperti dikepung waktu. Aku sudah bilang padanya, nanti sore aku ada rembukan hajatan desa dengan Pak Jatmiko. Sampai satu jam kemudian, belum ada tanda-tanda akan belok ke jalan raya perumahan.


“Mas, sebentar lagi ada belokan jalan. Ke kiri,” kataku.


“Ya.”


“Nggak usah ngebut.”


“Iyo.”


Kurang sepuluh menit setelah belok ke kiri. Lurus sejauh satu kilometer melewati jalan rindang dengan sisi kanan dan kiri hamparan persawahan. Mendongak ke atas terdapat tulisan masuk wilayah desa yang kami tuju. Mas Bayu mengendorkan tarikan gas. Hanya tinggal beberapa belokan lagi. Beberapa motor melaju mendahului. Tiga setelah ada yang menyalip, satu setelahnya menyita perhatianku. Dari plat motornya, aku ingat itu milik siapa.


Kubuka pesan.


^^^“Habis dari mana?” Centang satu.


^^^


Belok kanan di pertigaan. Perempatan kecil terus, kemudian berhenti di belokan depan pos ronda.


“Mana rumahnya?”

__ADS_1


Aku turun. Mencoba bertanya pada pria yang baru keluar dari toko kecil sebelah kananku.


“Ngapunten sebelumnya. Di sini pengusaha konveksi mana, Pak?”


“Kalau konveksinya tidak di sini. Pertigaan sebelum perempatan tadi, harusnya sampeyan belok ke kiri. Ada perlu dengan bosnya, Mas?”


“Inggeh, Pak.”


“Kalau rumah bosnya, rumah kedua sebelah kirinya rumah depan pos ronda itu. Ada satu mobil sedan hitam diparkir.” Sembari menunjuk.


Aku mengikuti.


“Yang ada perempuan belok itu lo, Mas.”


.


“Oooh. Nggeh. Terima kasih banyak, Pak.”


“Sami-sami.”


Aku kembali naik. Kupukul pundak Mas Bayu—jalan!


“Nggak nggak kalau lama,” kata Mas Bayu kemudian.


Perempuan itu muncul di ambang pintu langsung membelakangi kami. Dia memakai masker. Hendak keluar lagi tapi tanpa membawa tas ranselnya tadi. Dia mendekati, lalu terlihat kelopak matanya bergerak menjadi lebih lebar. Kontan dia membuka masker. Tidak jadi memakai sandal.


“Pak Ibban?”


Aku pun refleks tersenyum.


“Sudah kenal?” tanya Mas Bayu.


“Sudah.”


“Jodoh ini. Pasti jodoh.” Berceletuk agak keras.


“Hustttt,” kataku.

__ADS_1


“Silakan masuk!” Mbak Rubia menyambutku dengan senang gembira.


Aku mengiringi langkahnya.


“Sebentar sebentar. Apa ini rumah Mbak Rubia? Kayaknya bukan.”


“Rumahnya Pakde kok, Pak.”


“Tumben, Pak, ke sini? Pasti mau pesan seragam, ya?” Lalu, mempersilakan kami duduk.


“Kok sepi?” tanyaku.


“Jelas. Yang ada hanya baby sister dan anak perempuannya Pakde. Nah, saya ke sini nemenin mereka, Pak. Pak Ibban sendiri mau pesan seragam atau apa?”


Aku dan Mas Bayu bertatapan. Kikuk. Aneh. Tiba-tiba bertemu dengan Mbak Rubia di sini. Yang kupertanyakan apa informasinya Mas Bayu itu benar atau tidak. Malu dipergoki Mbak Rubia dengan tatapan menunggu jawaban.


Aku tersenyum, Mbak Rubia pun ikut tersenyum. Sekali lagi matanya menanti.


“Sebetulnya begini.....”


Mas Bayu tidak sabaran, lalu akhirnya menyahut kata-kataku, “Gini lo, Mbak Rubia. Saya kemarin diberitahu teman di pabrik. Dia punya teman yang katanya ingin menikah, tapi jodohnya belum dapet. Alamatnya sini. Anak pengusaha konveksi. Perempuan itu dulunya pernah nyantri. Tapi, nggak dikasih tahu dimana mondoknya.”


“Begitu. Insyaallah yang panjenengan maksud itu anaknya Pakde yang ketiga. Mbak Nasmah. Dia keluar sebentar tadi. Jalan kaki. Monggo ditungguin aja. Nggak lama kok.” Tersenyum di akhir.


Namun, aku justru merasa semakin aneh. Dan, ternyata setelah beberapa detik aku berpikir, keputusanku menuruti permintaan ibuk dan Mas Bayu itu terlalu tergesa-gesa. Mbak Rubia pun rupanya adalah saudara dekatnya Nasmah. Dunia terlalu sempit.


“Silakan diminum lo, Pak Ibban.”


Air mineral di depanku kuambil satu.


“Usia Nasmah itu berapa tahun, ya?” tanya Mas Bayu.


“Baru bulan kemarin ulang tahun. Sekarang, ya, sudah dua puluh satu. Njenengan sekilas cocok dengan Nasmah.” Mbak Rubia terang-terangan menggombali.


Mas Bayu menertawakan.


“Untuk dia.”

__ADS_1


Mimik keriangan itu meredup. Mbak Rubia memandangku sekaligus mencari pembenaran.


__ADS_2