FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 35 "Dibohongi"


__ADS_3

*Ibban Nizami


Menjelang perpindahan.


"Mbak Ala, minta waktunya sebentar. Saya rasa saya harus bicara dengan Mbak Ala sebelum saya pindah. Untuk badal saya alhamdulillah sudah ada." Aku berharap Mbak Ala tidak kaget jika aku menanyakan ini padanya.


Mbak Ala menghentikan langkah.


Kami duduk di teras, berjauhan.


"Mbak, sebelumnya saya minta maaf. Saya hanya ingin tanya. Apa Mbak Ala punya calon suami?"


Kuperhatikan ekspresinya tidak banyak berubah.


"Saya pun minta maaf, Tad. Memange wonten nopo (ada apa)?"


"Kalau memang kamu mau, saya ingin taarufan."


"Mungkin orang lain lebih cocok untuk Ustad Nizam."


"Kenapa begitu yakin?"


"Karena....." Mbak Ala memainkan jari-jarinya.


"Karena saya ingin fokus dengan hafalan sampai mutqin. Ya, saya ingin fokus, Tad. Hafalan saya belum mutqin kok."


"Begitu rupanya."


"Enggeh. Jadi, saya belum kepikiran mencari calon suami."


"Ya sudah. Memang lebih baik kamu fokus dulu. Impianmu utama. Kamu harus mengejarnya sampai dapat. Itu lebih baik. Setelah itu baru kamu menikah. Begitu, kan, Mbak?"


"Insyaallah, Tad." Mbak Ala menjawab lirih.


"Saya dengar kamu itu sebenarnya ning, ya?"


Matanya yang agak menghindari tatapan kembali menatapku. Dia menjawab, "Saya perempuan biasa, Tad."


"Ummik Nur yang bilang ke saya. Iya bener?"


Dia pun mengangguk pelan. Hanya sekali.


"Pantesan dia beda dari yang lain. Dia diperlakukan beda oleh beberapa teman-temannya," batinku.


"Bulan November sebentar lagi. Latihannya yang maksimal. Semoga kelak membuahkan hasil. Kamu jadi juaranya."


"Pangestune, Tad. Terima kasih banyak."


Aku mengangguk.


"Alhamdulillah tiap dua malam sekali saya ajak Mbak-Mbak latihan."


"Ya ya. Makasih juga soal itu. Makasih bantuannya. Karena memang perpindahan saya sebentar lagi."


"Ke Tulungagung, nggeh?"


"Iya, Ning."


Seketika dia menyahut, "Jangan dipanggil seperti itu, Tad. Saestu (beneran)." Wajahnya memohon.

__ADS_1


"Ada masalah, ya?"


"Tidak enak dengan teman-teman, Tad. Banyak yang tidak tahu. Yang tahu hanya pengurus saja."


"Mereka itu harusnya tahu. Supaya mereka bisa memperlakukanmu semestinya."


"Mereka baik semua sama saya. Sopan-sopan."


"Kalau gitu, kapan-kapan titip salam ke Abah dan Umimu, Mbak."


"Insyaallah saya sampaikan."


"Oh, iya, pas saya telfon malam itu pas lagi ada acara apa?"


"Itu.. ehmm... keluarga besar mau membangun butik. Punya konveksi sendiri, Tad. Jadi, nanti bisa produksi seragam-seragam santri sendiri. Program tahun depan insyaallah ada ekstra menjahit untuk santri putri."


"Bagus. Kamu dilibatkan sebagai apa?"


Dia mendahului dengan senyuman.


"Wah, itu saya hanya bagian usul saja, Tad. Saya suka fashion, tapi kurang paham detailnya bagaimana."


"Kamu fokus saja ke hafalan."


"Enggeh, Tad."


Kudengar santri-santri ada yang berkerumun di belakang. Aku dan Mbak menoleh. Lima santri kasak-kusuk entah membicarakan apa sambil menghadap ke kami.


"Ya sudah. Dilihatin santri. Saya pamit dulu, Mbak. Assalamualaikum."


"Wa'alaikumussalam warahmatullah." Mengangguk padaku.


Mbak Ala segera menyisih ke kerumunan teman-temannya. Kata cie berulang-ulang digunakan untuk menjailinya. Tetapi, dia hanya menyuruh teman-temannya agar segera bubar.


"Buk, aku berangkat ke kampus dulu."


"Zam, ini bekal nasinya."


"Kok sekarang Ibuk membawakan bekal. Ada apa?"


"Ibuk ingin lebih sering memperhatikan kamu, Zam. Kan sebentar lagi kamu jauh dari Ibuk. Kita bakal jarang ketemu to, Le."


Kuterima kotak makan dari ibuk. Sudah dibungkus kresek hitam. Lalu, kujawab, "Ibuk wanita pertama yang ada di hati Nizam, Buk. Sudahlah. Ibuk jangan seperti tinggalkan jauh ke luar negeri."


"Ibuk itu ya seperti ini, Zam. Kamu tahu to Ibuk lebih nyaman ditemani kamu daripada sendiri.""


"Sebentar lagi Mas Bayu pulang. Dia akan lebih sering menjaga Ibuk setiap hari. Ke puncak paling hanya tiga harian."


Aku tahu sejujurnya ibuk kurang begitu suka. Sikap dingin Mas Bayu dan lebih peduli dengan dirinya sendiri membuat ibuk sekarang sudah tidak banyak memaksakan atau mengurusi semua urusan Mas Bayu. Meskipun aku dan Mas Bayu sedang di rumah, ibuk lebih sering meminta bantuanku.


Ibuk memelukku. "Kamu biasanya makan siang di mana, Zam, kalau pas tidak Ibuk bawakan bekal?"


"Mbak Rubia biasanya yang ngasih, Buk."


Ibuk melepaskan. "Mbak Rubia kok sepertinya perhatian banget ke kamu. Dia menyukaimu? Ingat pesan Ibuk tempo hari. Calon menantu untuk Ibuk sebelum kamu pindah."


"Yuk duduk dulu kalau gitu." Aku menarik badan ibuk pelan-pelan supaya duduk di kursi. Aku bercangkung di depannya.


"Aku pasti selalu ingat. Meskipun kenyataannya sekarang aku belum memberikan kabar bahagia untuk Ibuk, tapi bukan berarti aku tidak berusaha. Nizam dengarkan nasihat Ibuk baik-baik."

__ADS_1


"Terus, Le?"


"Seperti yang Ibuk katakan kemarin malam, tadi aku sudah berbicara empat mata dengan Mbak Ala. Dia benar memang seorang ning. Dia perempuan yang rendah hati dan berprestasi. Besok bulan November dia juga ikut MTQ Jatim di Madura."


"Terus?"


"Dan, soal yang Ibuk mau, ternyata Mbak Ala masih ingin fokus ke hafalannya dulu. Dia belum punya calon suami."


"Le, kamu bilang ke dia tidak kalau kamu siap menunggu?"


"Ya mbotenlah, Buk. Sungkan. Apalagi setelah aku tahu dia memang ning. Jika aku mengatakan akan menunggunya itu seakan-akan menyuruhnya tergesa-gesa. Kasihan Alqurannya, Buk."


"Benar juga kamu, Le. Tapi, tadi setelah tahajud, Ibuk istikharah, Ibuk jadi mikir, Zam. Kok sepertinya Ibuk rakus sekali ingin punya menantu orang seperti Mbak Ala. Dari keturunan pesantren. Kita ini, kan, hanya kalangan biasa. Ibuk jadi kurang enak dengan pandangan masyarakat. Orang biasa, tapi nyari besan yang tidak sederajat. Orang seperti Mbak Ala mungkin cocoknya memang dengan yang sebanding, Le."


"Nizam tidak mempersalahkan Ibuk. Kepada siapa Ibuk berharap. Ibuk juga tidak perlu berkecil hati soal derajat. Ya kalau memang jodohku kelak seorang ning juga hanya Allah yang tahu. Tapi, yang jelas aku sudah manut Ibuk dan hasilnya seperti itu. Ibuk sudah marem apa belum?"


"Yawislah, Zam. Memang belum waktunya kamu bertemu jodohmu."


"Iya, Buk."


"Apa jangan-jangan jodohmu orang Tulungagung to, Le?"


"Nah, itu Nizam juga tidak tahu."


"Benar juga kamu."


Kami saling menatap. Kucium punggung tangan ibuk. "Aku berangkat, ya."


"Iya. Hati-hati."


Aku bangkit.


"Le, kunci mobilmu."


Aku menoleh. "Pakai motor saja, Buk. Kuncinya njenengan sisihkan di kamar, nggeh. Minta tolong, Buk."


Ada telepon masuk.


"Halo?"


"Iya, Pak. Assalamu'alaikum?"


"Wa'alaikumussalam. Kenapa, Mbak?"


"Nanti setelah jam mengajar bisa tidak makan bareng dengan saya?"


"Di mana, Mbak?"


"*Request***nya Pak Iman di tongkrongan arek-arek kampus**."


"Kafe shop?"


"Iya paling, Pak. Saya tidak enak makan berdua dengan Pak Iman. Pak Ibban mau, kan?"


"Iya bisa. Tapi, saya tidak mau dijadikan obat nyamuk."


"Mboten, Pak." Dia terkekeh.


"Saya tunggu jam empat habis asaran, Pak. Thank's."

__ADS_1


"Iya sama-sama."


Mbak Rubia menutup teleponnya lebih dulu.


__ADS_2