
⚠️ PART INI MENGANDUNG BANYAK KIASAN.
Kami serempak gelagapan berpapasan dengan mata di ambang pintu.
“Apa yang kalian lihat dan dengarkan barusan adalah pelajaran besar.” Pak Su memegang krah jaket kulitnya. Menarik topi di kursi. Mencolek Mas Hakim agar mengikutinya pergi.
Sudah dua puluh hari, tapi opini di kepalaku tidak lebih mengiris hati. Realita yang baru saja kulihat dan kudengar terlalu menyakitkan bagi seorang perempuan malang.
Kutatap lamat-lamat pintu yang tertutup itu. Apa yang terjadi selama lima belas menitnya?
Para pegawai malah bubar. Bukannya memastikan keadaan Ratna. Mereka sungguh tidak peduli lagi dengan orang lain. Mereka hanya berpikir bagaimana caranya mencari aman. Persis yang kupikirkan di awal-awal kedatanganku. Saat aku tidak peduli dengan sesiapa, keadaan Ratna membuatku terluka.
Begitu pintu kubuka, aku sudah melihat Ratna merentangkan kedua tangannya di atas onak pesakitan. Dia sudah seperti hewan yang telah disembelih, lalu dikuliti. Menggelepar tidak berdaya. Sayangnya tidak kutemukan helaian kain panjang di sana, selain sobekan kain yang Ratna kenakan tadi. Aku berjingkat-jingkat ke bilikku, lalu kuambil selimut tipisku. Kuseret cepat-cepat. Hatiku disayat-sayat melihat penampakan Ratna yang menyedihkan.
Aku menggelar selimut itu ke seluruh perhiasannya. Kududukkan Ratna. Kupeluk dia. Kudekap sebisaku. Aku dapat merasakan tubuhnya bergetar sangat hebat dan telapak tangannya yang dingin. Wajahnya sudah pucat seperti orang hendak menemui ajalnya.
“Ratna, aku di sini bersamamu.”
Dia ingin menjawab, tapi justru terisak dalam beku.
“Maafkan aku, Ratna. Aku tidak bisa menjangkau sepedih apa hatimu.”
Lama semakin lama tangannya mencengkram punggungku.
Ujung selimut tersingkap. Kutemukan bercak merah. Dan, artinya apa itu? Aku gagal paham. Aku yang pernah disebut perempuan telat dewasa, tidak mengerti kenapa ada darah segar di sana?
Kulepaskan pelukanku.
“Ratna, apakah Pak Su melukaimu? Dia menggunakan senjata tajam? Tapi, kulihat dia tidak membawa pisau atau apa pun, Ratna?”
“Aku gagal, Fizah. Gagal.”
__ADS_1
“Maksudnya gagal?”
“Perhiasanku dirampas.”
Deg!
Metafora itu menyulut amarahku. Ada hal-hal yang selama ini tidak pernah kuketahui. Tapi, sejak saat ini juga aku paham mengapa beberapa perempuan sepertiku sangat ketakut bila disuruh berjalan menyusuri oase.
“Jadi, selama ini kamu memang berusaha mati-mati mempertahankan semuanya?”
“Ya, Fizah.”
Aku memeluknya lagi.
“Ratna, ini bukan kemauanmu. Bukan.”
Sejak awal aku datang, sebetulnya Ratna satu-satunya perempuan yang menawarkan aku senyuman. Aku bisa membaca kebaikan di matanya. Kini pesonanya telah pudar direnggut kehendak otoriter. Perhiasannya telah binasa hanya dalam jangka yang tak lama.
Dada Ratna kembang kempis. Terbitlah rinai di penjuru matanya. Menetes perlahan-lahan. Sisanya menggelantung di bulu matanya yang lebat dan lentik. Ternyata cantik itu luka. Cantik bisa membawa petaka.
Masygul hatiku, melihatnya berdarah-darah di depan mataku. Lalu, warna merah di sprei cokelat susu bukti sebelumnya Ratna pernah selamat dari marabahaya. Bagiku, dia sudah berhasil memperjuangkannya. Meski, akhirnya dia kudu menerima luka yang lebih pahit daripada arti sebuah kehilangan manusia.
Bola mata cokelat itu akhirnya terbenam di antara kelopak mata. Dia terhuyung dalam dekapanku.
“Ratna, aku berjanji akan berusaha keluar dari sini bersamamu. Lalu, kita akan bersuci hingga hilang semua najis dan bau. Tuhan pasti tahu, Ratna. Pasti tahu,” batinku.
Lalu, malam berikutnya.
Aku ditugaskan untuk menemui pria berjenggot di ruang khusus. Ruangan dimana hanya akan dipertemukan dua orang, pembeli dan pegawai. Ruang dengan lampu temaram berwarna keemasan. Udara setengah busuk bercampur aroma terapi esensial mawar. Suatu ketika aku pernah diberitahu Ratna soal aroma terapi ini. Seorang pakar dari Chicago yang bernama Alan R. Hirsch mengatakan bahwa sensualitas atau kepekaan indera penciuman akan meningkat 84 persen setelah mencium aroma mawar. Untuk itulah kenapa ruang khusus ini selalu dihiasi dengan segala apa pun yang berkaitan dengan perjalanan menelusuri gurun.
Dan, ketika udara berembus menyisiri pipiku, penciumanku mengendus aroma musk dari arah depanku. Pria itu benar-benar sudah ahli sehingga bisa mengenali apa yang lebih menggugah naluri hewani seorang perempuan. Karena seingatku dulu ibu juga pernah berkata sangat menyukai aroma itu saat bapak memakainya di malam atau saat subuh hari. Terlebih ketika aku dan dua saudaraku berpamitan akan pergi ke rumah tetangga sampai larut malam, seketika bapak akan membalurkan aroma musk itu. Dengan alasan yang tidak aku mengerti.
__ADS_1
Kata Mas Hakim, pria itu sangat kehausan. Dia menawarkan gaji tinggi untuk pegawai. Saking tingginya, dia bebas memilih dan pilihan itu jatuh padaku. Entah aku benar dipilihnya atau ini hanya ulah kelicikan Mas Hakim belaka.
Dengan langkah kaki gamang, kudekati dia yang tengah duduk memperlihatkan kekuasaannya. Jaket ramones ori dibiarkan terbuka dan terlihat dasi hitam dipadukan dengan kemeja biru. Kedua tangannya membentang. Sepatu pantofel mengkilap diangkat tinggi-tinggi di atas tumpuan kaki. Tampak seperti pria yang tidak ingin dibilang tua.
Dia masih mengendus aroma menyengat dalam gelas sebelum menyadari kedatanganku. Satu dua langkah, dia menoleh saat bibirnya menyucup pinggiran gelas.
Kami berpapasan mata. Niscaya jika orang lain memandangnya, orang itu pun akan sepakat mengatakan dia pria berambisi. Pria jalang yang menukar
Bagaimana mungkin pria setua itu masih sangat kehausan? Apakah di rumahnya tidak ada air yang lebih murni? Daripada dia hanya akan minum sumber dari kolong sampah? Apakah dia pria yang telat puber kedua seperti aku yang telat menyadari kedewasaanku? Soal puber kedua ini baru kuketahui kemarin malam dari kawan pegawai.
“Apa kau tidak bisa mengganti pakaianmu?” Begitu katanya.
Sudah kuduga pria seperti dia pasti akan menguliti penampilanku. Mengomentari fashionku sesukanya. Paling dia sudah terbiasa bermain dengan perempuan yang tidak pernah memanjangkan kainnya hingga mata kaki. Dan, sebelum menaiki tangga tadi, kupakai jilbabku untuk menguji geloranya. Apakah nalurinya masih normal atau sudah rusak dibelenggu nafsu.
Aku merapalkan apa pun doa yang sanggup kurapalkan. Setidaknya petang tadi aku juga telah menunaikan kewajiban. Sudah kuulang-ulang hafalan dalam batin meski hasilnya masih seperti hari-hari sebelumnya. Tidak ada sehelai halaman pun yang lancar. Aku yakin ini karena di mana aku berada. Dan, tolonglah aku! Aku sungguh tidak pernah menginginkan ada di kolong sampah ini. Aku masih waras.
“Saya berhak memerintahkanmu. Kaulihat gaun merah di sana?” Matanya memandang lurus.
Aku mengikuti.
“Kau harus memakainya malam ini.”
Meski sejujurnya aku gemetaran, aku menahan ketakutan ini.
“Boleh aku duduk?”
Pria itu mempersilakan dengan matanya.
Kududuki kursi sofa jenis the classic round arm warna abu-abu. Kubiarkan kedua kakiku merapat. Kuletakkan kedua tanganku di atasnya. Sebetulnya aku tengah menunjukkan bahwa aku bukanlah pegawai yang sebenarnya. Aku perempuan baik-baik yang tersesat. Dia harus bisa membaca itu.
“Kauganti kainmu!” Dia mengulangi lagi.
__ADS_1