FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 75 "Pondokan di Magetan"


__ADS_3

*Yazeed Akiki Mubarak


Mereka perempuan yang berlatarbelakang sama. Menjalani kehidupan yang sangat keras. Pernah menilik hidup yang tak senonoh di kolong comberan. Demi Tuhan, aku hanya menjalankan tugasku sebagai manusia yang ingin menjaga hubungan dengan Tuhan (hablun minallah) melalui hubungan dengan manusia (hablun minan nas). Lihatlah dulu Khalifah Abu Bakar pernah memerdekakan budak bernama Bilal bin Rabbah yang ketika itu telah mengikrarkan kalimat syahadat. Bahwa tidak sedikit perempuan seperti mereka adalah mereka yang menjalani hidup di kolong comberan atas dasar keterpaksaan. Aku menjalankan amanah dengan membebaskan mereka dari tempat itu. Dan, hanya kepada mereka yang terpilihlah aku mau membawa mereka ke tempatku, sebuah pondokan yang kebanyakan dihuni oleh kaum perempuan yang dianggap najis. Tetapi, setelah melalui waktu yang cukup panjang dalam hitungan tahunan, mereka kini tak ada bedanya dengan muslimah yang baik. Mereka dapat hidup bermasyarakat guyub rukun di wilayah pondokan yang memang tempatnya sangat luas.


Sebagian dari mereka ada yang sudah hidup bahagia dengan anak mereka. Sama seperti perempuan bernama Ratna. Dia harus tinggal di sini dalam keadaan masih hamil tiga bulan. Aku membawanya ke sini atas persetujuan dirinya sendiri yang mengaku ingin hidup aman. Ketika itu, dia tidaklah memohon, tapi aku mengerti apa yang sebetulnya dia inginkan. Sekarang dia sedang menyendiri di biliknya. Masih enggan bercengkrama dengan perempuan lainnya.


"Gus, ada yang kumat," kata Kang Jeprak. Dia dulunya mantan preman. Mabuk, lalu pulang tengah malam. Jarang bekerja dan hanya menghabiskan uang di meja judi. Bahkan, dia satu-satunya pria yang paling hafal nama-nama minuman beralkohol. Saking seringnya minum. Lima tahun di sini, dia benar-benar telah menemukan titik terang kehidupannya yang gulita. Dalam masa karantinanya, dia meninggalkan anak istri. Saat ia telah sembuh, anak istrinya justru telah tiada. Dua tahun lalu, dia nyaris kembali menjadi partikelir, kabur bergabung dengan firqahnya yang dulu. Tapi, hanya berselang tujuh hari dia kembali dalam keadaan selamat meski beberapa tubuhnya terluka.


Aku menahan diri melangkah ke arah Ratna. Aku menemui pria yang dimaksud Kang Jeprak.


"Kenapa dia?"


"Biasa, Gus. Dia mabuk."


"Sial. Baru kemarin dia berjanji padaku tidak meminum lagi," kataku.


"Harusnya njenengan membuang minuman itu," kata Kang Jeprak.


"Jika aku membuang begitu saja, aku tidak akan tahu seberapa amanahnya dia menepati janji diri sendiri."


Dadi sini, kelihatan Kang Diga di pelataran seperti orang kesurupan. Aku maklumi karena dia di sini masih sebulan.


"Perketat keamanan. Jangan sampai ada penyambang yang datang tanpa sepengetahuan. Lagipula ke mana yang jaga? Tidak boleh ada masa lalu kalian di tempat ini. Kang, aku pasrah padamu. Gerakkan anak buahmu, Kang-kang yang saat ini kaubawahi. Seberapa jauh peningkatan mereka?"


"Ilmu beladiri mereka semakin bagus, Gus."


"Oke. Bagus." Aku mengangguk.


Kudekati Kang Diga.


"Assalamu'alaikum? Shallu 'ala nabi?"


"Wa'alaikumussalam. Allahumma shalli 'alaih."


Aku bercangkung di depannya. Kusentuh pundaknya. Kupukul-pukul pundaknya supaya dia memuntahkan apa yang telah dia minum.


"Shallu 'ala nabi?" bisikku padanya.


Yang lainnya menyahut.


"Jawab dalam hati saja," kataku seraya mengangkat tangan.


"Cepat!"


Dia muntah-muntah.


"Kang Gio mana?" Aku mengedarkan pandangan.


Yang lainnya diam.


"Di mana dia?" Nadaku meninggi.


Terdengar suara orang berlari. Beberapa orang berdiri melonggarkan kerumunan.


"Dari mana kau?"


"Hajat, Gus."


"Urus dia. Ajak dia baca ayat kursi di ruangan sana. Meditasi satu jam!"

__ADS_1


Aku berbisik pada Kang Diga, "Good job. Kau harus bisa melawan ***** yang tanpa kausadari itu telah mengikis imanmu. Jangan jadi bedebah. Ingat shallu 'alan nabi, shallu 'alan nabi."


Kang Diga menyahut lirih. Merangsek orang-orang yang berusaha memeganginya.


Dia mengejarku. Memegang pundakku kasar.


"Kenapa?"


"Siapa Ratna? Jangan pernah bohong sama gua."


"Kenapa? Kaumasalah jika dia di sini?" Kugerakkan dagu. Sekali.


"Kau akan bermasalah jika menyembunyikan Ratna di sini."


"Asu?"


"Ya. Asu akan datang ke sini."


"Tidak masalah. Bila perlu, aku akan menjamunya. Atau, jangan-jangan sebenarnya kau sedang menunjukkan ketakutanmu?"


Mimiknya berubah. Satu langkah mendekat. Dia mencekal krah jaketku.


"Gus, jangan pernah kaubiarkan Asu menerobos gerbang pondokan ini. Gua dan orang-orang yang pernah bersamalah dengannya menggunakan tempat ini sebagai perlindungan."


"Allah. Bukan aku."


"Terserah katamu. Sudah berapa kali kaudatang ke klubnya?"


Tangannya dilepaskan. "Dua kali. Satu malam gua pernah merayakannya dengan Ratna. Dia mungkin lupa, tapi gua nggak. Dia pegawai yang punya harga sangat mahal. Cantik luar biasa."


"Aku antar."


"Ke mana?"


"Enggak."


"Kau harus melihatnya. Ikut aku!"


Dia mengekori langkahku.


"Dia di sana."


"Dia menjadi seperti itu?"


"Dia amnesia. Tidak punya keluarga. Sekarang, dia sedang dikejar oleh Asu dan Hakim. Perbuatan mereka di luar nalar. ***** merenggut kemanusiaannya. Dia hamil dalam keadaan tidak bersuami."


"Itu salahnya. Kenapa dia ada di sana."


"Karena orang-orang sepertimu."


"Gua?" Wajahnya menyeringai.


"Pergilah minta maaf padanya! Dia wanita baik. Pertemuanmu dengannya adalah kesengajaan yang sebetulnya tidak pernah diinginkannya. Buktikan pada Allah bila kau memang berniat taubat. Kau masih punya anak istri. Semakin cepat kauperbaiki diri, aku akan mengantarkanmu pulang."


Aku mengajaknya mendekat. Seketika Ratna terkaget-kaget. Setengah gelagapan. Dia seperti orang ketakutan.


Aku bercangkung di depannya.


"Kauingat dia?"

__ADS_1


Bibir sebelahnya terangkat. Tersenyum sebal.


"Aku tidak pernah lupa pada siapa pun yang pernah bersamaku. Kamu tidak ada bedanya dengan Pak Su. Serakah!" Ratna mengumpat.


"Posisi kita sama. Gua pernah berhutang padanya tiga puluh juta. Harusnya kau mendapatkan uangmu jika waktu itu aku membayarmu. Kali ke dua, aku datang bermalam dengan perempuan sama cantiknya denganmu. Tapi, aku tidak bisa menyentuhnya."


Ratna tersenyum sinis lagi. "Rupanya kau jadi pria ke sekian kalinya yang gagal bermalam dengan kawanku."


"Fizah maksudmu?" tanyaku.


"Ya."


"Kita lupakan soal itu."


"Brengsek kau!" Ratna beranjak. Tangannya melayang ke pipi orang di depannya.


"Bisa-bisanya. Mulutmu ringan sekali!" Bola mata itu hampir keluar dari kelopaknya. Kemarahannya mendidih.


"Pergi dari sini! Aku membenci orang sepertimu." Ratna membuang muka.


Aku memberi isyarat supaya dia lekas pergi.


"Dia sudah pergi."


"Maaf aku berlaku kasar."


"Nggak masalah. Kau pasti sangat tidak menyukai mereka."


"Tapi, sebetulnya siapa kamu? Kenapa wajahmu mirip dengan seseorang yang kukenal?"


"Aku mirip dengan seseorang? Siapa?"


"Namanya Pak Nizam. Dia dosen di Tulungagung. Awalnya dia ingin menolongku dan Fizah. Tapi, justru dia meninggalkan kami luntang-luntung."


"Kulihat kau lebih leluasa bicara padaku. Apa itu tandanya kau sudah percaya padaku?"


"Sepertinya kamu berbeda dengan mereka. Entah tempat apa ini. Kadang aku merasa sedang di tempat yang tidak beda jauh dengan kehidupan yang keras. Tapi, di waktu yang lain aku merasa ada banyak cahaya di sekitar ini. Terlebih saat kamu mengajak mereka bersalawat ria. Mengajak mereka beribadah. Tempat yang aneh."


"Tinggallah di sini sampai kapan pun kaumau. Bahkan, jika kauingin terus menunggu seseorang yang akan datang melengkapi hidupmu."


"Bersikaplah biasa. Ubah caramu bicara. Aku tidak akan tertarik meski kamu melembutkannya. Anggap saja aku ini pria. Kamu di sini dipanggil gus?"


"Terserah mereka. Kaupunya panggilan lain untukku? Katakan!"


"Tidak, Yazeed."


"Itu panggilan baru. Thank's."


Wajahnya bertanya.


"Kau satu-satunya yang langsung memanggilku nama."


"Orang tuamu?"


"Mereka punya panggilan sendiri. Jangan tinggalkan Allah. Simpan terus nama-Nya di dalam hatimu. Itu akan menjadi kekuatan. Membuatmu semakin tangguh dan berani. Kelak lahirkanlah anakmu dengan selamat. Assalamu'alaikum?"


Aku tidak mendengarnya menjawab salam. Aku menoleh lagi.


"Jawab salamku!"

__ADS_1


"Kujawab dalam hati."


"Oh, ya. Aku tidak tahu siapa laki-laki yang kumaksud tadi. Mungkin ini cara Allah supaya aku bisa banyak berkomunikasi denganmu. Kau pasti hanya akan sedikit banyak bicara pada orang yang kaukenal saja."


__ADS_2