FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 43 "Pengirim Surat"


__ADS_3

Sebetulnya aku masih belum paham apa yang dibicarakan Mbah Sinem. Kronologisnya belum jelas.


Aku kembali fokus menatap Ratna. Dia memintaku membantu duduk. Dari matanya, aku tahu Ratna pasti menyesalkan kenapa Mbah Sinem ada di sini.


"Mbah Sinem datang karena kamu pingsan, Ratna."


Tangan Mbah Sinem hendak mengelus perutnya, tetapi Ratna sigap menepis. Pandangannya berubah tajam. Aku mengelus pundaknya. Menyuruh Ratna tenang.


"Apa hati kecilmu merasa?" batinku.


Suasana hati Ratna sedang tidak baik. Dia tidak berani bicara, tetapi terus menunjukkan ekspresi tidak sukanya pada Mbah Sinem. Sementara, Mbah Sinem berusaha memberinya senyum.


Aku berdiri mengajak Mbah Sinem keluar.


"Mbah, matur sembah nuwun. Seperti yang saya bilang tadi, nggeh. Njenengan rahasiakan. Ini menyangkut masalah pribadi teman saya, Mbah Sinem." Aku mengambil tangan Mbah Sinem seraya kusematkan uang seratus ribu itu.


Sekarang aku tidak punya uang lagi selain beberapa lembar uang haram di tasku.


Mbah Sinem menyanggupi. Lalu, pamit pulang dengan pula mengucapkan terima kasih.


Kuajak Ratna pindah ke kamarku. Dia memintaku untuk tidak membantunya. Dia bisa berjalan sendirian. Lalu, aku menutup pintunya setelah Ratna duduk di pinggir tempat tidurku.


"Apa maksud Mbah tadi, Zah?"


"Sudahlah. Kamu nggak kenal dengan Mas Hakim. Jadi, nggak usah kamu pikirkan." Aku ikut duduk.


"Zah, aku tahu kita sudah dicurigai."


"Kamu masih aman."


"Fizah, jika kamu tidak aman, yang jelas aku juga tidak aman. Gimana bisa kamu bilang begitu."


Aku bergeming. Mencari kata-kata yang dapat menenangkan perempuan di depanku, yang wajahnya telah tergores luka batin dan kecemasan mendalam. Matanya sama sekali tidak dapat berpendar.


"Gimana, Zah? Posisi kita nggak aman di sini. Ayo kita pergi dari sini."


Aku bisa mengukur seberapa takutnya Ratna. Cengkraman tangannya di lenganku meninggalkan bekas merah. Padahal, dia belum kuberitahu soal kehamilannya. Sungguh aku tidak tega.


"Percaya sama aku. Tidak ada yang boleh tahu kita pernah di tempat seperti apa." Aku menatapnya tegas.


"Nggak semudah itu kamu bisa membujukku. Jelas-jelas Mbah tadi bilang begitu. Kita harus siaga, Zah. Bawa aku pergi dari sini sebelum mereka datang membawa kemungkinan yang akan membuatku tidak bisa tenteram."


"Apa aku harus minta tolong pada Pak Nizam, ya?" Tiba-tiba terlintas.


Kedua tangan Ratna memegang tangan kananku. "Aku hanya percaya kamu, Fizah."


"Apakah orang seperti Pak Nizam bisa dipercaya?" tanyaku sekali lagi pada diriku sendiri.


"Ratna, menurutmu Pak Nizam itu bagaimana?"

__ADS_1


Ratna tak langsung menjawab.


"Mungkin dia orang baik." Sayangnya itu tidak terdengar mantap. Tidak ada alasan yang kuat bagi Ratna untuk mempercayai orang asing seperti Pak Nizam.


"Aku yakin dia orang baik, Ratna."


"Aku tahu, Zah. Tapi, jangan terlalu mempercayai."


"Ratna, kamu marah jika aku usul meminta bantuan padanya?"


Ratna kembali bergeming. Terkesiap.


"Tidak, Fizah. Hanya kita yang boleh tahu. Bahkan, aku tidak setuju misalnya kamu memberitahukan ini pada Ibumu."


"Tapi, gimana caranya aku menjawab semua pertanyaan Ibu yang pasti berkaitan dengan itu, Ratna? Aku nggak bisa bohong."


Terdengar suara berisik. Piring pecah di dapur. Aku dan Ratna kontan terdiam. Cekcok mbak dan adikku menggaduhkan pagi. Aku bangkit untuk memastikan dulu.


"Mbak, ada apa?"


"Nggak," jawabnya ketus.


Dia lalu ke ruang tamu membawa sepiring nasi dengan sepotong paha ayam yang kulihat tadi tinggal satu-satunya. Lalu, adikku terlihat melas seraya menaruh dua potong tempe goreng yang baru digoreng ibu sebelum aku datang tadi. Pasti mereka sedang rebutan lauk. Adikku pun pergi ke belakang rumah. Abai dengan pecahan piring yang hampir saja diinjaknya. Akhirnya, akulah yang memunguti pecahan itu. Kubersihkan sampai tidak bersisa.


"Zah?"


"Hah?" Aku menoleh.


"Efek masuk angin itu. Ya..ehmm karena masuk angin aja itu."


"Ooh. Perlu aku bantu."


"Nggak nggak. Nggak perlu. Aku bisa sendiri. Kamu kembali aja. Istirahat." Aku tersenyum padanya.


Malam harinya.


Semua orang sudah tidur kecuali aku dan ibuku. Aku menunggu Ratna dan kedua saudaraku tidur demi menanyakan surat yang pengirimnya masih membuatku penasaran. Ibuku masih di dapur padahal hari telah larut malam. Kuperhatikan ibuku mengerjakan kerjaannya sendirian, menumbuk jagung. Tidak mau dibantu karena bisa mengerjakannya sendiri, katanya. Kugenggam surat itu di tanganku.


"Pa itu?"


"Hem.. Anu ini su..surat, Buk."


"Surat dari siapa?"


"Nggak tahu, Buk. Belum tahu maksudku."


"Masih tujuh belas tahu kamu, Nak. Surat cinta atau surat pekerjaan itu?" Ibu mengusap peluhnya.


"Surat cinta," jawabku ragu. Aku takut ibuku marah.

__ADS_1


"Coba ibu lihat!"


Aku memberikannya ragu. Telapak ibu sudah menggantung di depanku.


Ibuku tersenyum mengakhiri membaca surat yang kemudian dilipatnya kembali.


"Nak?" Ibuku tersenyum.


"Ibu kenapa begitu?"


"Kamu tahu siapa yang mengirim surat itu?"


"Tidak tahu, Bu."


"Kamu mungkin akan menyukainya jika tahu siapa orangnya."


"Ibu yakin kenal siapa pengirimnya."


"Ya sebetulnya ibu tidak tahu pasti. Tapi, Ibu sering menceritakanmu pada seorang laki-laki. Dari gelagatnya kayanya dia menyukaimu. Dia pernah meminta alamat kerjamu, tapi Ibu tidak tahu, Nak. Ibu pergi mencari bantuan supaya surat ini sampai ke kamu. Ibu bertanya pada orang tuanya Hakim. Jadi, ya yang ngirim surate itu mamaknya.


"Bagaimana bisa lo, Buk?" Kedengaran masih teka-teki.


"Ya begitulah."


"Tapi, bagaimana Ibu bisa mengenali suratnya?"


"Ibu kenal tulisannya."


Aku semakin penasaran.


"Besok ikut Ibu ke pasar."


"Iya, Buk. Tapi, Buk, aku masih penasaran."


"Siapa tahu dia besok datang ke pasar."


"Dia langganan Ibuk?"


"Iya. Dia pria yang baik, Nak."


"Namanya siapa, Buk?"


"Sudahlah. Tidur sana!"


"Ibuuuk?" Aku merajuk. Tetapi, ibu malah mendiamkanku. Sikap ibu memantik rasa penasaranku.


Aku kembali ke kamar. Kupandangi wajah Ratna yang tidak nyenyak tidur karena saking khawatirnya. Rautnya seperti tengah memimpikan sesuatu yang buruk. Mungkin dia memang sedang bermimpi. Aku sendiri belum mengantuk. Belum ada tanda-tanda akan segera tidur.


Aku membuka surat itu lagi. Entah sudah berapa kali aku membaca surat itu. Kalimatnya pun hampir dapat kuhafalkan. Aku menghela napas.

__ADS_1


"Bisa-bisanya ada orang suka sama aku. Padahal, kenal aja belum." Aku mengendalikan agar tidak terlalu penasaran. Bagiku, kurang masuk akal. Aku tidak mau jatuh pada perasaan yang ambigu.


Kurapalkan beberapa ayat yang masih kuingat cukup baik. Masih ada kewajiban yang lebih penting daripada memikirkan surat itu. Satu jam kemudian, tak terasa aku menguap dengan sendirinya.


__ADS_2