
*Rubia El-Hazimah
Refleks menimbulkan tanyaku, “Apa Pak Ibban sudah siap menikah, ya?” Bibirku pun tertarik lebar.
“Bu Bia berdiri jangan di tengah jalan, Bu,” ucap Pak Iman. Namanya Sulaiman Ad-Dhafaa’
“Oh, maaf maaf, Pak.”
“Maaf diterima,” jawabnya sembari nyelonong. Sengaja menyenggol pundakku. Lalu, menolehku sembari tertawa gembira.
“Pak Iman.” Kulirik kesal.
Dia duduk. Memakai kaca matanya. Memperhatiku sebentar, lalu menceletukkan kata,
“Bu, kenapa lihat-lihat mejanya Pak Ibban? Mau pinjam kitabnya itu?” Pertanyaannya seperti memojokkanku.
“Kemarin saya lihat tidak ada kitabnya di meja. Paling njenengan yang pinjam to, Pak. Ngaku saja njenengan.”
“Memang saya yang pinjam.”
Sesama dosen yang belum menikah, kadang saling mengejek status jomblo itu biasa.
“Awas lo, Pak.”
“Awas??” Mencebik.
“Bu Bia kalau suka dengan Pak Ibban bilang saja. Apa perlu saya yang nyombangin? Pak Ibban orangnya tidak pekaan itu. Gimana, Bu?” Semakin memojokkanku. Aku jadi malu sendiri.
Tahu-tahu Pak Ibban nongol di pintu. Melepaskan ransel, lalu duduk. Menghela napas sembari mengucap hamdalah lirih.
“Semoga saja Pak Ibban tidak dengar kata-kata Pak Iman tadi,” batinku.
“Pak Ibban?” panggil Pak Iman.
Aku memelototinya langsung. Pak Iman yang sadar aku melarangnya bicara, malah mengejekku dengan senyuman. Dan, Pak Ibban pun mengikuti arah pandangan Pak Iman. Mereka berdua menatapku. Aku menatap mereka bergantian.
“Tidak kok, Pak Ibban,” kataku biasa. Aku kembali duduk.
“Pak, Bu Bia mau ngasih njenengan makan siang lagi.”
Seketika aku menunjukkan sederet gigi karena langsung ditatap Pak Ibban.
Di rumah tadi.
Aku segera menyusul mama di dapur setelah bangun, salat, dan ngaji beberapa halaman.
“Ma, hari ini aku saja yang masak.”
“Tumen nawar?”
Aku mengambil alih kelapa yang akan diparut mama.
“Papamu hari ini pengen dimasakin urap dan mangut lele. Bisa?”
“Bisa kok.”
Mama keheranan. Aku yang jarang sekali di dapur kok tiba-tiba mengambil alih pekerjaan. Mama masih memperhatikanku. Menelisik gelagatku—bertanya kenapa.
“Mama tahu. Karena Pak Dosen itu?”
__ADS_1
“Loh, kapan Mama tahu soal Pak Dosen?”
“Eh.” Aku keceplosan.
“Papamulah. Kamu nggak cerita ke Mamah lho.” Mama manyun. Merajuk manja pada anak pertamanya ini.
“Kapan-kapan diajak ke sini, Bia.”
Gerak tangan memarut kelapa terhenti.
“Haaa? Tidak berani, Ma. Pak Ibban itu orangnya bikin aku sungkan.”
“Kata Papamu kamu sudah akrab? Masih sungkan juga?”
“Iya. Apa, ya, Ma? Ehm...Pak Ibban itu orangnya ya gitu, deh.”
“Pas Mama denger, Mama langsung penasaran. Kan, kamu selama ini tidak pernah pacaran, tidak pernah cerita soal ajnabi, tiba-tiba diumur segini kamu cerita. Mama kira itu kode. Kode, kan, Bia?”
Aku cekikikan setelahnya. Kutatap mama.
“Ma, kode apa, sih?”
“Kamu belum merasa tua, Bia?”
“Itu adik cowokmu sudah merencanakan pernikahan.”
Adikku laki-laki yang saat ini usianya masih dua puluh empat. Jarak setahun denganku. Akibat kebobolan, lahirlah dia. Laki-laki yang sejak awal dia lahir, dia selalu mendahuluiku dalam banyak hal. Akhirnya, aku pun memang kalah langkah dalam percintaan. Apalagi, tiga tahun di pesantren membuatku ingin fokus pada ilmu. Kepikiran menikah justru ada setelah aku masuk s2. Tapi, kala itu belum ada pandangan yang cocok. Setelah, belajar mengajar menjadi dosen, barulah aku bertemu dengan Pak Ibban yang menurutku dia figur istimewa.
“Kalau kamu mau bikin makanan spesial buat Pak Dosen itu, mendingan Mama saja. Ya Mama, sih, tidak meragukan kamu, Bia. Tapi, Mama tidak menjamin rasanya enak.”
“Mama, Mama. Lihat saja nanti, Ma. Mama lupa aku pernah nyantri dan pernah di asrama berapa tahun. Akan aku keluarkan jurusnya hari ini, Ma. Sudah Mama istirahat saja.”
“Baiklah. Mama tunggu hasilnya. Kita buat kesepakatan gimana, Sayang?”
“Apa, Ma?”
“Kalau masakannya gagal, kamu harus mengajak Pak Dosen itu ke rumah.”
“Oke, Ma.” Kujawab dengan mudah. Aku yakin hasilnya akan sangat enak. Mama pun akan kaget nanti setelah mencicipi masakanku. Jika sampai gagal, akan sangat sulit mengajak Pak Ibban. Kemungkinannya Pak Ibban bersedia itu sangat kecil.
Satu setengah jam kemudian. Tanpa campur tangan mama. Dan, benar adanya. Papa, mama, adikku Salman manggut-manggut puas di cicipan pertama. Ya walaupun mama justru kecewa karena perjanjiannya batal dan Salma jaim memuji masakan mbaknya.
Dan, sekarang aku memang ingin memberikan makanan itu pada Pak Ibban. Untuk makan siang nanti supaya Pak Ibban tidak perlu membeli. Seingatku Pak Ibban hari ini mengajar sampai sore. Kadang-kadang aku juga melihatnya membeli nasi bungkus atau ngandok di kantin kampus sekaligus bercengkrama dengan mahasiswa-mahasiswa senior.
Makanan itu sekarang ada di tas selempangku. Semoga saja tidak tumpah. Tidak ada yang spesial dengan makananannya. Plating juga biasa saja karena kupikir Pak Ibban akan merasa aneh jika tampilannya dihias unik. Tapi, rasanya yang kuharapkan semoga cocok di lidah Pak Ibban yang notabene santri yang kemungkinan besarnya akan suka dengan makanan apa pun.
“Bu, cepat kasih Pak Ibban sana,” kata Pak Iman lagi.
Pak Ibban hanya senyum-senyum. Entah yang disenyuminya itu tingkahku atau dia sendiri menginginkan aku memberikannya segera.
“Bu Bia?”
“Iya, Pak Ibban?”
Pak Ibban menyangga dagunya dengan tangan. Menatapku. “Sebetulnya Pak Iman itu juga sangat ingin dikasih. Pernah dia cerita ke saya, ketika saya makan bekal dari Bu Bia, dia bilang katanya enak. Pengenlah sekali-kali dikasih juga.”
Pak Iman di sana. Tergelak. Geleng-geleng.
Aku juga ikut tertawa lirih. Aku tidak yakin yang dikatakan Pak Ibban itu benar.
__ADS_1
“Pak Ibban, Bu Bia, Pak Iman wis pasti di ruangan suka membuat keramaian,” kata dosen lainnya.
Dosen lainnya ikut berceletuk, “Biasa mereka masih jomblo semua, kan, Bu.”
Dosen senior, sudah lumayan sepuh berkata, “Bu Bia sudah waktunya menikah. Ada dua pria jomblo sedang merebutkan bola. Barang siapa yang berhasil mengambil bola, lalu memasukkannya ke gawang, dialah yang menang. Saya tunggu hasilnya segera, Bu.”
Bengek rasanya. Kenapa ruangan ini setiap hari rasanya seperti ruangan drama ludruk. Aku ingin melepaskan tawa, tapi ngempet.
Selesai mengajar. Aku baru masuk ke kelas mahasiswa semester empat jurusan pendidikan agama islam. Kumasuki ruangan yang sudah kosong. Waktunya beraksi sebelum Pak Ibban kembali. Kuambil cepat-cepat tempat makan warna hijau mint bergambar kepala beruang. Kuletakkan di mejanya pelan-pelan.
Beberapa menit aku duduk, lalu Pak Ibban sendirian masuk ke ruangan. Tahu di meja ada makanan, dia langsung menatapku saat aku pura-pura serius menatap layar laptop.
“Terima kasih, Bu.” Dia tersenyum padaku.
“Enggeh. Sama-sama, Pak Ibban.”
“Tapi, bukannya biasanya Bu Bia lebih suka memberikannya langsung ke saya?”
Dan, aku baru kepikiran itu. Kenapa saat yang kuberikan adalah masakanku sendiri, aku justru malu-malu dan tidak percaya diri. Harusnya terbalik.
“Ah, tidak apa-apa, Pak. Silakan Pak Ibban icip. Apa yang kurang enak, nanti Pak Ibban bilang ke saya.”
Pak Ibban menggerakkan bibirnya. Manggut-manggut kemudian.
“Pak Ibban sudah khatam ngaji kitab itu?”
“Kitab ini?”
“Itu Fathul Izar, kan, Pak?”
“Iya. Sudah khatam alhamdulillah. Dari SMA malah.”
“Malahan?” batinku.
Aku memperhatikannya makan di sendokan pertama. Aku yakin dia suka.
Pak Ibban langsung berseru, “Masyaallah. Enak juga. Sama enaknya dengan yang kemarin-kemarin. Atau, ini beda masakan, ya? Iya gitu?”
“Wah, ada yang baru nih?” celetuk Pak Iman.
Dia langsung merebut sendok Pak Ibban. Menyendok dua kali sambil manggut-manggut juga sendokan pertamanya. Di sendokan kedua dia menatapku sembari mengangkat jempol.
“Buka katering, Bu?” tanya Pak Iman.
“Mboten, Pak.”
“Ya kalau buka, saya pengen pesan buat acara pengajian di rumah.”
“Ehm....”
“Bisa, kan, Bu menerima katering dadakan?” Dia kelihatan serius.
“Njenengan serius to, Pak?”
Pak Ibban menertawakan mimikku dan Pak Iman.
“Iya. Serius. Rumah njenengan dekat dengan saya, Bu.”
“Nanti saya tanyakan ke Mama, Pak.”
__ADS_1
“Siap.”
Pak Ibban meneruskan makannya dengan lahap.