FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 79 "Serba Tiba-tiba"


__ADS_3

*Ranaa Hafizah


Ratna menyelesaikan makannya dengan sangat cepat. Baru kali ini aku melihatnya ingin mengejar seseorang yang tidak dikenalnya. Ada apa dengan Ratna? Aku memperhatikan antusiasnya. Kulihat bibirnya menyuruhku cepat tanpa ada perubahan ritme pada suaranya. Perulangan dan tinggi rendah suaranya tetap beraturan sejak awal. Aku menurut.


Sebelum melewati garis pintu, aku menahan langkah.


"Jangan tergesa-gesa, Ratna!"


Aku sendiri juga harus membawa dua tas di pundak kanan kiriku.


Aku keluar lebih dulu. Tengok kanan kiri. Kulempar pandanganku sampai dua ratus meter ke sembarang arah. Aku menatap Ratna, mengangguk. Kutarik lengan Ratna. Aku mengajak Ratna berjalan menepi sampai dua ratus meter kemudian. Langkah kami masih aman. Kami dapat berjalan lebih pelan. Tapi, sayangnya aku sudah tidak mendapati Yazeed. Dia sungguh meninggalkan kami begitu aku tak mengiyakan tawarannya. Aku mencoba untuk tetap memberanikan diri. Kupikir ya sudahlah. Belum rejekinya aku bertemu dengan seseorang yang mengantarkanku sampai pada tempat yang aman.


"Ratna, kita doa terus, ya."


"Jika saja kamu tadi menerimanya?" Langkahnya terhenti.


"Jujur aku belum bisa percaya."


"Aku percaya, Zah."


"Tapi, mengandalkan feeling itu tidak cukup."


"Kamu biasanya begitu, Zah."


"Bagaimana jika...jika dia tak ada bedanya dengan orang-orang di sana? Kita nggak tahu apa motif dia yang sebenarnya."


"Zah, kali ini aku yakin. Percayai aku, Zah."


Aku menatap welas wajahnya. Kedua alisku menyatu.


"Oke. Oke. Kamu mau kita ke mana?"


"Kita cari Yazeed sampai dapat."


Karena dia hamil, aku menuruti kemauannya. Sekarang kita ada di pinggiran jalan raya yang tidak terlalu ramai. Sebetulnya aku cukup was-was. Juga bingung mau pergi ke arah mana.


"Tanya orang dulu."


Ada seseorang yang lewat.


"Maaf, kalau boleh tahu di mana kita bisa naik angkutan umum?"


"Mbaknya mau ke mana?"


"Kita mau ke Magetan!"


"Tunggu aja bus lewat di halte sana, Mbak. Nggo saya antar kalau bingung arahnya." Menunjuk arah selatan.

__ADS_1


"Njenengan orang sini?"


"Nggeh, Mbak. Saya habis nyari pakan kambing saya di rumah." Pria yang umurnya berkisar di bawah tiga puluh lima itu menuntun sepedanya.


Benar juga. Ada satu karung penuh rumput di boncengan sepedanya.


Ratna berbisik, "Gimana kalau mereka malah menghadang kita di sana?"


Kupikir Ratna ada benarnya. Aku menoleh ke belakang. Diam-diam mereka berdua entah dari mana asalnya, aku jingkat, aku menarik paksa lengan Ratna sampai pria tadi tidak menyadari bahwa kami sudah tidak ada di belakangnya. Napasku seketika tersengal. Aku berharap mereka berdua tidak menyadari gerak langkahku pergi dari pengawasannya. Mereka berdua sudah seperti jailangkung. Datang tak diundang pulang tak diantar. Ratna yang kupegangi tangannya meracau bertanya ada apa. Dia menengok ke belakangnya tidak ada siapa pun. Akhirnya, dia melepas paksa tangannya. Aku menariknya lagi meskipun dia sebal.


"Ada Pak Su. Mereka mengikuti kita."


Aku berdecak kemudian. Tahu-tahu posisi mereka sudah pindah di arah depanku. Agak jauh dari posisiku kami. Sedang mengerlingkan tatapan ke sembarang arah. Dengan sigap aku menarik tangan Ratna, bersembunyi di balik tembok sebuah rumah makan lesehan yang masih sepi. Kulihat di sana, hanya ada dua orang pria bersarang dan berkopiah makan dengan santainya. Jika aku masuk ke tempat makan itu, Pak Su dan Mas Hakim pasti akan tahu karena warung itu bisa dijangkau dengan sekali menatap. Aku menoleh samping kiriku. Ada mobil pick up yang sedang membawa muatan barang. Aku tidak tahu, tapi kelihatannya tidak begitu banyak muatannya.


"Ratna, ada mobil."


Ratna mengikuti arah telunjukku. Lalu, dia menatapku. Mengangguk. Dia paham yang kumaksud.


"Aku berharap dengan kami bersembunyi di pick up ini, aku dan Ratna bisa pergi jauh. Pak Su dan Mas Hakim pasti selalu berpikir kami akan melarikan diri dengan bus," batinku.


Tak berselang lama, ada dua pria yang kedengaran sedang mengobrolkan sesuatu di dekat mobil. Bahasan mereka seperti orang pesantren.


📞"Gus, stok kitab sudah kami beli. Sedanten sampun lengkap. Wonten titipan maleh mboten?"


Terjemah: (Gus, stok kitab sudah kami beli. Semuanya sudah lengkap. Ada titipan lagi tidak?)


Pintu mobil ditutup.


"Mas, tahu dua perempuan ini tidak?" Sekonyong-konyong ada yang bertanya. Itu sudah jelas suaranya Pak Su.


"Mana?"


"Dua perempuan ini. Tapi, dia memakai jilbab."


"Ngapunten. Kok saya tidak lihat, Pak."


Tidak ada kelanjutan suaranya.


Aku merasa lega setelah mobil pun berjalan pelan. Putar balik. Ratna membuka terpalnya sedikit. Memastikan keberadaan Pak Su dan Mas Hakim di luar. Mereka berdua belum pergi. Ratna buru-buru menutupnya.


"Kenapa?"


"Sepertinya tadi dia melihat mobil ini."


"Yakin kamu?"


Ratna mengangguk. Dadaku seperti dihantam sesuatu. Terpacu lebih cepat.

__ADS_1


"Mereka orang jahat. Jika mereka benar tahu atau mencurigai mobil ini, aku khawatir mereka akan mengikuti kita, lalu menghadang mobil ini, Ratna."


Ratna berkeringat dingin. Aku memegang telapak tangannya yang sudah basah. Dia sangat ketakutan.


"Setidaknya kita bersama dua orang pria. Kita harus tenang, Ratna."


Perjalanan telah menembus waktu kira-kira setengah jam. Aku tidak tahu kita ada di mana. Tidak ada tanda-tanda buruk seperti yang kukhawatirkan tadi. Aku membuka sedikit terpalnya. Ada beberapa kendaraan mobil yang berderet-deret di belakang. Sepeda motor menyalip cepat dari arah kanan. Aku tergagap meskipun ternyata bukan Pak Su dan Mas Hakim. Aku menjadi parno.


Ratna ketiduran. Melihatnya terlelap, aku menjadi ngantuk.


Beberapa jam kemudian. Aku gelagapan mendengar suara pintu ditutup. Mobilnya sudah berhenti. Aku langsung membuka terpalnya sedikit. Dan, alangkah terkejutnya aku yang seketika berhadapan dengan wajah dua pria yang seingatku tadi makan di warung tadi. Aku hafal warna kopiah dan bajunya. Malu sekali rasanya. Aku tidak berkutik. Mulutku senyap. Aku membangunkan Ratna dengan sentuhan tanganku pelan.


Pria itu menyedekapkan tangan. Menatapku heran. Begitu juga pria di sampingnya. Dia berbisik, lalu pergi. Aku dan dia sama-sama bungkam. Tapi, tatapannya menyelidiki. Jelas dia merasa aneh kenapa bisa tiba-tiba dua manusia asing numpang di pick upnya.


Pria yang pergi tadi kembali bersama pria tak berkopiah. Rambut lurusnya berkibar.


"Suruh santri-santri lainnya masuk. Jangan sampai ada hura."


Yang disuruh langsung mengangguk mengerti.


"Keluarlah!" suruhnya lembut.


Benar-benar malu. Ratna mencubiti badanku.


Pria itu mengeluarkan dua tasku.


"Kalian mau ke mana? Keluarlah!"


Aku masih enggan menjawab.


"Silakan keluar! Barang muatannya akan dikeluarkan."


Aku dan Ratna menuruni mobilnya pelan-pelan. Langsung kutengok sekeliling. Meski jujur aku sangat malu dipergoki oleh tiga pria sekaligus, tapi aku pun sangat bahagia mendapati keberadaanku sekarang. Aku yakin sedang berada di pesantren. Entah di mana tempatnya.


"Gus, bisa kita bicara sebentar!" Suara itu muncul dari arah kiriku. Aku menoleh. Haaa?


Pria itu tersenyum tipis.


"Loh, apa ini pondokan yang dia maksud?" batinku.


"Itu Yazeed, kan?" tanya Ratna.


"Iya. Aku heran. Semuanya serba tiba-tiba dan tidak dinyana, Ratna. Bagaimana kalau benar ini pondokan yang dia maksud?"


"Kali ini feeelingku benar, Zah."


Yazeed dan pria yang dipanggil gus itu menghampiri.

__ADS_1


Maaf baru bisa up. Kemarin ngetik 2k kata hilang. Jadi, harusnya hari ini up 5k kata, tapi hanya bisa 3k saja. Semoga ttp sabar menunggu. Jazakumullah khairan.. 🌹🌹🌹🌹


__ADS_2