FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 92 "Mirip"


__ADS_3

*Ibban Nizami


Aku duduk di depan ndalem seraya memainkan ponsel. Menjawab pertanyaan mahasiswa dan mahasiswiku di chat.


Sembari memandang lurus ke depan, aku berpikir. Sikap Fizah padaku semakin dingin. Namun, saat tadi aku tidak sengaja lewat di depan dapur, ada dua orang yang terlihat sangat akrab. Kukira Mbak Ufi dan Gus Fakhar. Ternyata perempuan yang berdiri mencuci piring di wastafel itu Fizah. Dia dan Gus Fakhar sedang membersihkan peralatan kotor yang baru mereka gunakan untuk memasak.


Lantas keluarlah seorang perempuan memakai sandal jepit kuning. Dia membenahi ujung kerudung seraya menampakkan raut wajah masam. Ada yang berkilau di jari manis kirinya. Tampaknya itu cincin tunangan. Aku tidak kenal dia siapa. Tetapi, perkiraanku dia juga abdi ndalem. Dia bertabrakan dengan Mbak Ufi yang sedang membawa piring dan gelas bersih.


Dadi tempatku duduk, aku bisa mendengar percakapan mereka. Tapi, mungkin mereka tidak sadar aku sudah duduk dari tadi di sini.


"Mbak Ulya kenapa, Mbak?"


Wajah Mbak Ulya agak menunduk. Dia ingin menghindari pertanyaan Mbak Ufi, tapi Mbak Ufi menghadang.


"Mbak Ulya kenapa lo?"


"Aku tanya sesuatu, tapi kamu jawab jujur, ya."


"Enggeh, Mbak. Apa? Aku penasaran kok Mbak Ulya kayak kesel gitu."


Dia menyisih, lalu berbicara lirih, "Mbak, sejak kapan Gus Fakhar dekat dengan Iza?"


"Waduh. Kalau itu saya kurang tahu, Mbak. Beneran." Dia mengangkat kedua jarinya.


"Lihat saja mereka berdua di dalam?"


Aku menoleh ke belakang. Mbak Ufi memastikan yang dikata Mbak Ulya. Beberapa langkah dia kembali mendekati Mbak Ulya.


"Yang aku tahu, Mbak Ul. Yang bikin ide lomba masak ini emang Gus Fakhar. Tapi, awalnya cuma berdua dengan Iza. Bu Nyailah yang nyuruh Mbak Ulya supaya ikut. Tadi pagi pas Iza ngepel, Gus Fakhar bantuin dia. Maaf banget, Mbak Ul, aku cuman menjawab pertanyaan Mbak Ulya. Itu kata Iza sendiri. Punteeeen."


"Kira-kira maksud Gus Fakhar apa?"


"Kenapa tidak Mbak Ulya tanyakan langsung ke Gusnya?"


"Aku sungkan, Mbak."


"Tadinya saya dan Nuansa mikirnya, sih, beda. Secara Gus Fakhar itu nggak pernah bantuin saya beres-beres. Giliran Iza yang baru sebentar di sini, dia sekarang cukup dekat dengan Gusnya. Tapi, sikap Iza biasa kok, Mbak. Tetap kayak biasanya. Apa Mbak Ulya tanyakan ke Ummik saja gimana?"


Mbak Ulya menghela napas.


"Kalau ada sesuatu yang kamu tahu, kamu beritahu aku, Mbak Fi."


"Nggeh. Insyaallah. Aku ke dalam dulu. Mau naruh piring yang dipakai ibunya Iza."


"Memangnya kapan tamunya pulang?"


"Setelah magrib katanya, Mbak."


Aku bangkit. Memasukkan handphone ke saku. Lalu, Mbak Ulya menanyaiku, "Siapa kamu?"


Aku menoleh. "Tamu, Mbak."


Mbak Ufi berbisik, "Dia itu Pak Dosen, Mbak. Yang datang bersama Ibunya Iza. Yang kemarin melamar Iza."

__ADS_1


"Dilamar? Kok aku nggak tahu?" Agak melotot ke arah Mbak Ufi.


"Mbak Ulya pulang," balas berbisik.


"Ngapunten. Kamu siapanya Gus Fakhar?"


Yang kutanyai justru diam. Mbak Ufi yang menjawab, "Calon istrinya Gus Fakhar, Pak."


*Yazeed Akiki Mubarak


Perjalanan ke pesantren Gus Fakhar.


"Ada acara apa, Gus? Kok njenengan ke sana lagi?" tanya Kang Kartoyo.


"Ada panggilan."


"Begitu?"


"Iya. Ada perkembangan nggak dua orang yang baru masuk kemarin?"


"Proses, Gus. Masih suka ngamuk. Ngajak berkelahi orang sekamar. Pas njenengan ke Banyuwangi, pondok hampir geger karena dia hampir diamuk penghuni lainnya. Ada alkohol masuk. Pembawanya justru penghuni lama. Tapi, njenengan tenang saja, Gus. Dia sudah kena sanksinya."


"Apa ada orang masuk lagi?"


"Tidak ada, Gus. Penjagaan setiap hari sudah ketat. Njenengan tahu sendiri juga. Guide andalan kita, lima orang selalu siap siaga. Urusan di Banyuwangi gimana, Gus?"


"Pak Su dan Hakim sengaja melarikan diri sebelum aku datang."


"Kenapa nggak? Dia itu hanya dimanfaatkan Bapaknya yang gendeng itu."


"Yazeed, tapi aku nggak mau ketemu Hakim lagi. Dia itu pria yang tidak baik. Pemaksa. Sama seperti Pak Su. Mereka tidak waras hatinya," jelas Ratna.


"Dengar aku! Hakim hanya dimanfaatkan. Aku jamin itu. Dia bisa menjadi orang yang lebih baik. Kautahu di pondokanku menjadi menjadi tempatnya orang-orang seperti Hakim. Jika Pak Su tidak bisa dilemahkan, Hakim harus dibebaskan. Kau tidak pernah tahu dia sebenarnya seperti apa."


"Sudah kubilang, kan? Hakim bukan pria baik-baik." Nadanya mulai kesal. Dia tidak terima aku berkata demikian.


"Aku dan Fizah jauh lebih kenal dia daripada kamu. Bahkan, aku lebih paham daripada Fizah. Yazeed, kamu nggak tahu apa yang telah dia lakukan padaku. Dia sangat jahat."


"Shallu 'alan nabi. Shallu 'alan nabi."


Ratna tak jadi bicara lagi.


"Mbak Ratna yang tenang. Gus Yazeed benar, Mbak. Siapa pun dia, dia bisa berubah." Kang Kartoyo membelaku.


"Laki-laki emang sama saja. Brengsek."


"Tuhan akan menjamin keamananmu. Apa yang kamu ragukan lagi? Percayalah! Selagi kau ada di pondokan, kamu akan tetap aman. Sekali pun jika Hakim nantinya berhasil kutaklukkan. Guide siap menjadi garda terdepan. Mereka dibekali beladiri dan keimanan. Itu akan menjadi benteng terbesar. Begitu pun kamu, Ratna. Jangan mudah goyah. Kendalikan emosimu. Emosi yang berapi-api tidak baik untuk jiwamu. Kaubutuh ketenangan. Shallu 'alan nabi. Bangunlah kepercayaan dirimu."


Dia menghela napas sebal.


"Susumu sudah habis?" Aku menyelimur.


"Masih." Jutek.

__ADS_1


"Oke. Kalau keperluanmu habis, kamu bisa bilang ke Aynur. Dia kukasih tugas menampung daftar kebutuhan seluruh penghuni. Cobalah kau komunikasi dengan dia. Aynur pegawai aktif. Kaubisa mengorek perjalanan hidupnya sampai di titik ini. Kautanya sudah berapa pria yang dia temani."


"Apa dia akan jujur?"


"Mungkin saja. Sesama perempuan dia akan lebih terbuka. Tapi, aku sudah tahu."


Tak terasa laju kendaraan menjadi lirih. Mobil jeep pelan-pelan memasuki halaman pesantren. Seperti biasanya, Kang Kartoyo menolak diajak masuk. Dia sudah bersiap merogoh rokok di kantung kemejanya.


"Tumben kamu berpakaian begitu, Yaz?"


"Apa pun pakaiannya, aku akan memakainya sesuka hatiku. Jangan tanya alasannya. Tebak saja sejauh kaumampu."


Aku mendahului langkah.


Tepat di depanku, aku bertatapan dengan pria yang sedang menerima panggilan di telepon. Aku menatapnya tanpa menyapa. Dia juga kelihatan fokus dengan pembicaraannya. Abai dengan siapa yang lewat. Dan, sejurus Ratna mensejajari langkahku.


"Kaukenal dia?"


"Ya. Dia pria yang pernah kubilang berwajah sama denganmu. Apa kamu tidak sadar itu, Yaz?"


Aku memikirkannya sejenak. Tapi, aku tidak mau ambil pusing. Pasti hanya kebetulan kami punya wajah yang agak mirip. Atau, Ratna hanya kurang teliti mencari perbedaannya.


"Ratna?" Laki-laki itu memanggil.


Aku dan Ratna menoleh. Aku melihatnya tertegun. Bukan Ratna yang ditatap, tapi aku. Lalu, dia berjalan mendekati kami. Mengulurkan tangan.


"Assalamu'alaikum?"


Aku memberinya senyum tipis. Kujabat tangannya langsung. "Wa'alaikumussalam. Anda siapanya Ratna? Suami?"


Aku melihatnya memandangi perut Ratna yang sudah membuncit. Meskipun bajunya longgar, bentuk tubuhnya yang turut membesar tak bisa membohongi. Semua orang pasti sudah bisa menebak dia sedang hamil.


"Aku suaminya." Aku menegaskan. Sudah bisa ditebak dia sedang mencurigai.


Dia pun menatapku. Begitu juga Ratna yang kaget dengan jawabanku.


"Kamu rupanya sudah menikah? Hamil berapa bulan?"


"Empat," jawab Ratna.


"Kautamu di sini?"


"Iya."


"Kalau begitu, mari masuk! Saya dan Ratna ke sini diminta Fizah."


"Anda kenal Fizah juga?"


"Mana mungkin aku nggak kenal. Dia teman baik Ratna. Anda sendiri bagaimana?"


"Yaz, ayo ke dalam saja!" pinta Ratna.


"Oke."

__ADS_1


__ADS_2