FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 47 "Tatapan Tak Biasa"


__ADS_3

*Rubia El-Hazimah


"Makannya apa ini, Mas Nizam? Menunya tetap sama seperti biasanya."


"Saya pecel." Lalu, menatapku, "Kamu apa?"


"Menunya apa saja, Bu?"


Tangan Bu Mini mengayun ke bawah. Membuka lembaran daun-daun pisang. Memperlihatkan mangkuk-mangkuk berisi makanan.


"Ada nasi ampok atau nasi jagung. Tiwul dan pecel. Ada juga ini cenil."


"Nggeh. Saya nasi jagung saja."


"Sebentar."


Aku memperhatikan Pak Ibban mencari mata perempuan berjilbab yang tengah bersembunyi dibalik tundukannya itu. Lalu, aku mendapati perempuan di sampingnya masih menatapku tidak suka. Dia mencuri pandangan ke arah Pak Ibban seraya memeras jeruk.


"Sebentar. Mbak Zahra ikut Bu Mini juga?"


Pertanyaan Pak Ibban aneh. Seharusnya dia tidak perlu heran seperti itu jika sudah terbiasa ke sini. Tandanya dia sudah sering bertemu dengan dua anak Bu Mini.


"Dia itu Fizah."


"Memangnya namanya siapa? Fizah atau Zahra?" batinku.


"Bukannya namamu Zahra? Zahratusy Syifa, kan?"


"Zahra dari mana? Ini anak Ibu yang itu lo. Mosok sampeyan lali (masak kamu lupa)?"


"Lalu, Rinai mana?" Pak Ibban menatap Fizah.


"Rinai siapa maksud Mas Nizam?"


"Temannya Fizah, Bu."


"Lha dalah. Namanya Ratna bukan Rinai." Sejurus menoleh, bertanya pada Fizah, "Iya bener Ratna to, Nak?"


Perempuan tidak berjilbab itu meletakkan dua gelas ni uma di hadapanku dan Pak Ibban. Sekali lagi dia mencuri pandang. Lalu, ke arah melempar tatapan yang masih membuatku bertanya. Aku melempar senyum, tetapi wajahnya masih masa saja.


Bu Mini memberikan sepincuk nasi pecelnya ke Pak Ibban. Lalu, berkata, "Mas Nizam kenapa tersenyum begitu?"


Mata Fizah dan perempuan tidak berjilbab itu memandang Pak Ibban bersamaan.


"Tidak, Bu. Ehm...bisa nanti kita bicara sebentar?"


"Kenapa tidak bicara di sini?"


"Tidak apa-apa, Bu."


"Tapi, Ibu lihat Mas Nizam masih senyum-senyum begitu kenapa?"


Pak Ibban tersenyum lebih lebar. Dia menoleh, menatap perempuan tidak berjilbab yang sedang bertanya kepadanya.

__ADS_1


"Minumannya kurang manis tidak, Kak?"


"Sebentar." Dia menyeruputnya sedikit. Lalu, mengangguk iya.


Ekspresi perempuan tidak berjilbab itu menjadi semringah.


"Yang satu namanya siapa, Bu Mini?"


"Anak saya?"


"Iya."


Bu Mini duduk. Menyentuh pundak Fizah. "Seperti kata Mas Nizam tadi. Dia namanya Fizah bukan Zahra. Anak Ibu yang pertama panggil saja Si Sulung. Bungsu masih disuruh angkat barang emboh ke mana tadi."


"Kenapa kerja, Bu? Kasihan mereka."


Bu Mini mengerutkan senyumannya. "Kami ini miskin, Mbak. Punya utang. Biaya makan ngepres. Kadang kurang. Ya syukur sayur yang dimasak tiap hari masih bisa metik dari kebun atau minta ke tetangga. Jadi, ya, kalau mikir sekolah masih kangelan (kesulitan). Si Bungsu itu anaknya ndablek (nakal). Sekolahnya hanya main-main. Masih untung dia mau disuruh kerja. Kalau Sulung, Mbak Rubia tanya sendiri itu kenapa. Padahal, itu.. anu... Mas Nizam sudah menawarkan kuliah."


"Kenapa, Sulung?"


"Nggak niat. Daripada mubadzir waktu. Mending ikut ibu tiap hari ke pasar."


"Peluang datangnya mungkin hanya sekali. Gimana?"


Pak Ibban ikut menambah, "Sulung, aku masih berharap kamu bersedia kuliah. Ingat kejadian kemarin."


"Ibu sangat malu. Kemarin Ibu dikasih tahu tetangga. Ada penagih utang datang ke rumah. Iyo to, Mas Nizam?"


Bibir sulung kontan melengkung ke bawah. Mungkin dia malu Bu Mini membicarakan dirinya di depan orang banyak.


"Ibu juga matur nuwun. Kalau Ibu ada uang, Ibu pasti akan ganti."


"Tidak usah, Bu. Saya tidak bilang seperti itu kemarin pada Sulung."


"Tidak, Mas Nizam. Ibu dan Sulung akan menggantinya."


"Nggeh pun (ya sudah)."


Aku mulai menyendok nasi jagung di pincuk. Tidak ada percakapan sampai aku berhasil memasukkan lima sendok ke dalam mulutku. Sesekali aku menoleh ke arah Pak Ibban yang serius menyendok lagi dan lagi. Dia menumpukan kaki kanannya ke atas kaki kiri. Terlihat sangat menikmati dan tidak ingin menyelanya dengan sekecap kata apa-apa. Tidak berselang lama, dia mengambil minum, menyisakan dua sendok di pincuk. Bersendawa dan mengucap hamdalah lirih. Aku sendiri ikut menyendok juga tatkala dia pun menyendok lagi. Lantas tidak sengaja aku memutar pandangan ke arah kiri, ada Fizah yang tengah memperhatikan Pak Ibban. Wajahnya biasa. Tetapi, wajah itu terlihat tidak sedang bahagia.


Pak Ibban bangkit. Membuang pincuk ke tempat sampah di belakang Bu Mini.


"Sudah?"


Aku mengangguk. Kuberikan bekas pincukku padanya. Dia membuangkannya.


"Mbak Rubia mengajar di mana?"


"Di MAN, Bu."


"MAN itu apa, Mbak? Ibu wong nggunung (orang pegunungan). Jadi tidak ngerti."


"Buahnya saya jualkan." Dia mengambil setumbu berisi jambu biji dan salak. Lalu, meletakkannya ke atas pundak kanannya.

__ADS_1


"Aku semakin kagum padamu," batinku mengiringi langkahnya menjauh dari kami.


"Buk, aku mau ikut Kak Nizam," seru sulung dengan gembira hati.


"Fizah?"


"Iya?"


"Sebelumnya kamu tidak pernah di rumah, ya?"


Dia menggeleng.


"Lalu di mana?"


"Bekerja."


Mendengarnya tidak begitu memberikan banyak jawaban, menurutku dia gadis pendiam. Dia juga cantik. Tapi, saat aku membandingkan dengan wajah sulung tadi, mereka kelihatannya tidak terlalu mirip. Meski wajah Fizah terlihat polos, natural tanpa make-up, tetapi dia memang terlihat lebih putih bersih ketimbang sulung yang wajahnya berkulit agak sawo matang. Aku diam beberapa detik untuk membandingkan wajah Fizah dengan Bu Mini yang juga tidak mirip.


"Oh, jadi kerja. Kerja di mana?"


"Mbak Rubi sudah lama di MAN?"


"Masih baru, Bu. Ini juga masih masa training dulu sampai tiga bulan. Perpindahan kami hampir barengan. Maksudnya saya dan Pak Ibban. Tapi, saya..ehmm..sempat tidak bekerja beberapa waktu karena menunggu lowongan itu. Ehmm...ngomong-ngomong Bapak bekerja di mana, Bu?"


"Bapak sudah meninggal. Halah lawong sudah lama sekali."


"Jadi Bu Mini menghidupi sendirian?"


"Ya beginilah. Semua anak Ibu harus kerja. Itu pun utang masih banyak. Ya syukur sekarang tetap bisa nyicil sedikit-sedikit."


"Fizah cantik sekali, ya, Bu."


Yang kupuji mendongakkan wajah. Melemparkan senyuman tipis.


"Ibu sayang banget. Dia pinter. Dia juga menghafalkan Alquran."


Kontan Bu Mini mendapat cubitan dari Fizah.


"Nggak apa-apa, Fizah. Kenapa lo?"


"Saya tidak hafalan kok, Mbak."


"Ah, masak? Itu tadi katanya iya."


"Ya pokoknya seperti itu."


Dia berbisik pada Bu Mini, "Buk, hafalanku masih sedikit jangan dikasih tahu ke orang lain. Malu aku."


Aku tersenyum mendengarnya.


"Mbak Rubi siapanya Pak Nizam?"


"Ehmm..." Aku mendadak bingung. "Ya teman aja. Dulu ngajar sekampus. Gitu aja, sih. Kaya orang kencan mungkin, ya. Hehe." Aku terangkan apa adanya. Aku juga tidak mau mengatakan hal lain karena pada kenyataannya memang hubungan ini masih sebatas teman.

__ADS_1


__ADS_2