FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 96 "Di Dapur"


__ADS_3

*Ranaa Hafizah


Kulihat Gus Fakhar sangat lahap memakan nasi gorengku.


"Makan ditemenin kamu enak kali, Iz. Duduk gih!" celetuknya. Kontan aku disenggol Mbak Ufi.


"Sikapnya Gus Fakhar itu aneh tahu nggak," bisiknya.


"Oh, iya, kenapa Ning Ulya dua hari tidak ke sini?"


"Emboh, sih. Cemburu paling. Masih kesel sama kamu."


Aku pun menoleh ke samping. "Eh, beneran begitu, ya?"


"Kira-kira. Pengen tahu jelasnya mending samperin ke kamarnya aja langsung. Aku kebanyakan tanya ke Mbak Ulya juga sungkan. Dia kan anak kiai. Jaga sopan santun juga, kan."


Aku kembali memperhatikan Gus Fakhar.


Gus Fakhar menatapku. "Iz, duduk sini!" Mulutnya masih mengunyah.


Kukira Gus Fakhar bercanda. Ternyata tidak. Beliau menepuk kursi. Isyarat.


"Mbak Fi, makan juga sana!" katanya lagi.


"Makano, Mbak Fi. Tadi katanya minta bagian. Kiai dan Bu Nyai sudah sarapan tadi. Tapi, sedikit. Itu masih sisa banyak."


"Iz, aku nambah lagi." Sampai harus pamitan juga. Aku geleng-geleng menyaksikan tingkah makan Gus Fakhar yang amat kelihatan menikmati. Wibawanya beliau hilang seketika.


"Nggak usah heran, Iz. Gusnya emang begitu cara makannya kalau beneran suka. Kalau cocok sama masakanku atau masakan Ummik, sampai nambah sampai tiga kali itu."


"Yakin gitu?"


"Yakinlah. Masak enggak."


"Aku tahu kalian bisik-bisik ngomongin aku," celetuknya.


Aku dan Mbak Ufi langsung terkesiap.


"Ayo makan bareng-bareng, Mbak! Atau, ini aku habiskan semuanya lo."


"Eh, jangan, Gus. Saya tadi sudah pesen sama Iza kok. Tak suruh nyisain setelah njenengan selesai makan." Mbak Ufi menyahut seketika.


Aku dan Mbak Ufi tetap saja tidak mau mendengarkan perintah Gus Fakhar. Secara masak mbak ndalem makan bersama di meja makan bersamaan dengan Gus Fakhar. Dan, melihat makannya beliau yang lahap itu menyenangkan.


Tibalah malam. Bulan tak sedang bercahaya terang. Aku duduk di depan pintu samping. Depan dapur. Pintu masih kubiarkan terbuka. Melihat langit seraya mendengarkan lantunan diba' dan barzanji. Pelantunnya pun bersuara indah. Semakin menentramkan hatiku. Apalagi, ketika ya nabi salam dilantunkan dengan nada sangat semangat. Akhirnya, aku memang sudah sampai pada titik ini. Berada di tempat yang membawa kedamaian hidup. Walaupun masih ada rasa takut jika suatu waktu aku tak berada di sini, aku masih akan berurusan dengan Pak Su dan Mas Hakim. Semoga saja Yazeed bisa menaklukkan Mas Hakim yang menurut Yazeed hanya dimanfaatkan Pak Su.


Aku melihat Gus Fakhar muncul dari gerbang. Menggandeng Kang Bimo, sopir Kiai Bahar. Motor diparkir di bawah kanopi. Kang Bimo menenteng dua kresek yang isinya seperti berkat (makanan).


"Iz, ayo masuk!" pinta Gus Fakhar setelah berjalan mendahului Kang Bimo. Beliau masuk ndalem lewat pintu depan. Membawa satu kresek entah apa isinya.


"Dari mana, Kang?"


Wajahnya agak gugup. Kang Bimo menjawab pertanyaanku dengan suara agak getar, "Slametan di rumah warga. Badali (menggantikan) Kiai, Mbak."


"Ini satunya njenengan bawa ke dapur, Mbak!"


"Punya Gus Fakhar?"


"Nggeh. Suruh memberikan ke njenengan saja katanya."


"Terima kasih."


Kang Bimo ke kamarnya. Membawa berkat miliknya sendiri.

__ADS_1


Aku masuk lewat pintu samping. Kulihat di meja sudah ada bungkusan kertas minyak. Kelihatan tusukan bambu dari luar.


Gus Fakhar keluar dari kamar mandi. Menyipratkan air di tangannya ke arahku. Lalu, tertawa.


"Kamu makan. Itu hadiahnya. Sate. Sate ayam. Kesukaan kamu, kan?"


"Njenengan tahu dari mana?"


"Tinggal makan saja kok pakek nanya."


Aku diam.


Mbak Ufi baru salat isya sendirian.


"Mbak Fi, ada sate sama berkat. Agih dipurak (cepetan dimakan)."


"Lha njenengan sudah makan, Gus?" tanya Mbak Ufi.


"Sudah. Kenyang banget."


"Tapi, berkatan kok dapat sate dua bungkus juga, Gus?"


"Kamu makan saja. Aku duduk di sini, ya." Gus Fakhar menggeser kursi.


Aku dan Mbak Ufi duduk bersebelahan. Dia yang membuka satenya. Aku yang membuka berkatnya.


"Paling enak dimakan di nampan itu langsung pakek tangan," kata Gus Fakhar.


"Njenengan bener." Mbak Ufi bangkit mencari nampan kecil di rak.


"Iz, kamu pengen kuliah, ya?"


"Sebetulnya begitu, Gus. Tapi, SMA saja tidak rampung."


"Di Belanda."


"Belanda?"


"Hehe." Aku malu beliau kedengaran kaget mendengar jawabanku.


Mbak Ufi menumpahkan makanan di nampannya.


"Keren juga kamu. Kenapa tidak ke Mesir, Turki, atau ke Tarim saja mendingan?"


"Dulu di SMA ada kelas bahasa. Yang dipelajari bahasa Belanda, Gus. Kok setelah sedikit-sedikit belajar bahasa Belanda, saya pengen."


"Salawatin saja. Kalaupun ndak sampai keturutan, tapi aku saranin hafalan Alqurannya harus terealisasi, ya."


"Njenengan apa tanya ke Ibuk?"


"Gus, Mbak Iza itu punya tanda lahir di ketiak lo, Gus," celetuk Mbak Ufi. Langsung kucubit lahannya. Bicaranya itu membuatku malu.


"Tanda lahir apa?"


"Seperti yang di fotonya Adik njenengan, Gus."


Aku mencicit di telinga Mbak Ufi. "Udahan, Mbak. Ndak enak didengarkan."


"Serius kamu?" Gus Fakhar beralih menatapku.


"Bener begitu, Za?"


"Dia mengarang, Gus."

__ADS_1


"Yang jujur."


"Mbak Iza malu, Gus. Tapi, Ummik sudah tahu."


"Ummik malah sudah tahu? Kamu sendiri yang ngasih tahu, Iz?"


Aku hanya bisa tersenyum garing.


"Tapi, kata Mbak Iza tanda lahirnya agak beda."


"Di ketiak kanan?"


Mbak Ufi mengangguk.


"Satenya saya makan, Gus," kataku.


Gus Fakhar menyangga dagunya dengan tangan.


"Iz, kamu bisa nulis ngede (pakai tangan kiri)?"


"Bisa, Gus."


Aku dan Mbak Ufi sungkan makan karena Gus Fakhar ada di samping kami hanya menyaksikan kami menyantap.


"Njenengan jadi nyebar lagi?"


"Jadi. Ikhtiar lagi kan nggak ada salahnya. Walaupun kemungkinannya kecil."


"Jujur saya itu penasaran banget sama Adiknya njenengan, Gus."


"Yang merindukan nggak hanya kamu, Mbak. Semuanya pasti rindu. Apalagi, Ummik. Tahu, kan, tirakatannya Ummik."


"Enggeh, Gus."


"Tapi, sekarang Ummik mboten nate (tidak pernah) daud lagi, Gus?"


"Abah melarang. Daripada Ummik sakit lagi."


"Gus, ngapunten."


"Hmm.. Napa, Mbak?"


"Cobi kedap mawon (coba sekedap saja). Njenengan lihat saya. Mbak Iza juga."


Mbak Iza memperhatikan wajah kami dengan saksama.


"Sudah?" tanya Gus Fakhar.


"Sudah, Gus."


"Kenapa?"


"Tidak kenapa-napa, Gus. Hehe. Ngapunten."


"Iza, tapi bener kamu punya tanda yang hampir sama dengan milik Tsaniya?" tanyanya penuh harap.


"Hehe. Tapi tidak sama kok, Gus. Hanya kebetulan letaknya sama."


"Coba kamu pastikan sekali lagi, ya."


"Ehmm...eng-geh, Gus."


Maaf, nggeh kalau upnya sering bikin terasa kurang. Sengaja sy batasi 1 eps hanya 1k kata. Di luar sana memang banyak cerita yg 1 eps bisa sampai 2k kata. Tapi, saya belum sanggup. Dan, ini juga likenya masih sangat sedikit. Jadi, memang sudah saya sengaja hanya 1k kata saja. Dan, sy itu nulis belum bisa cepat. Karena sebetulnya nulis ini hanya sampingan sy. šŸ˜…šŸ˜…šŸ™ Terima kasih selalu mengikuti cerita ini dan selalu mendukung cerita yg masih banyak perbaikan ini.

__ADS_1


__ADS_2