
*Ranaa Hafizah
Aku dan Ratna masih berdiam diri di belakangnya. Begitu ditatap, kami segera mengalihkan pandangan. Kami memang barusan mendengarkan percakapannya dengan ibunya.
"Kenapa tidak langsung ke sana saja?"
Kaki bingung menjawab. Justru aku pun berpikir iya kenapa, ya, kok nungguin dia juga. Mungkin Ratna sependapat denganku.
Dua langkah kami terhenti ketika dia mengajukan pertanyaan, "Apa kalian ada waktu sebentar saja?"
"Kami?" tanya kami bersamaan.
"Iya."
"Ada," jawab Ratna mewakili.
"Jadi gini, Mbak Zahra, Mbak Rinai. Aku minta bantuan kalian. Setelah salat, kalian ikut aku ke toko baju. Bisa, kan?"
"I-ya. In-syaallah bisa." Aku kembali meyakinkan diriku bahwa dia memang orang baik. Sejujurnya aku masih was-was. Tapi, naluriku memberitahu dia tidak sama dengan pria yang pernah kutemui sebelum-sebelumnya.
"Bener bisa? Mbak Rinai keberatan?"
"Saya ikut Fizah saja. Yang penting kami aman."
Dia tersenyum tipis.
"Memangnya kalian pikir aku akan berbuat apa?"
"Maaf," kataku.
"Ya ya. Hanya ke toko. Setelah itu kalian bisa melanjutkan perjalanan."
***
Aku dan Ratna lebih dulu selesai salat magrib. Kami menunggu di serambi masjid. Menepi di bingkai pintu dekat pot tanaman pucuk merah. Ratna menoleh ke belakang.
"Belum keluar kayaknya."
"Ditunggu ajalah."
"Zah, emang kamu yakin dia orang baik?"
"Menurutmu gimana?"
"Dari sikapnya aku nggak begitu gimana-gimana. Beda dengan Kakaknya kemarin."
"Semoga saja dugaanmu benar. Doa yang banyak. Allah pasti melindungi kita."
"Ayo!" Tahu-tahu dia sudah muncul di depan kami. Berceletuk.
Kami bangkit mengekorinya menuju parkiran mobil. Dia memberikan uang lima ribu kepada tukang parkirnya. Meskipun seharusnya yang dibayarkan hanya dua ribu rupiah saja, dia tidak mau menerima uang kembalian. Isyarat tangannya menolak. Lantas, dia membukakan pintu belakang untuk kami.
Di dalam mobil. Masih beberapa meter keluar dari parkiran. Nada dering ponselnya menarik pandanganku ke arah spion. Dia juga barusan menatap ke arahku. Lalu, dia mengangkat panggilannya.
"Wa'alaikumussalam."
"Saya di alun-alun."
"Nggak bisa, Pak. Ini saya mau ke toko dulu. Langsung ketemuan di tempat saja bagaimana?"
"Nggak di shareloc?"
"Kalau gitu saya tunggu di depan toko baju sekitaran alun-alun."
"Nanti saya kasih tahu. Belum tahu mau ke toko yang mana ini."
Dia tertawa.
"Bukan. Ibuk nitip sesuatu."
__ADS_1
"Wa'alaikumussalam warahmatullah."
Tidak ada kata-kata sekecap pun yang berani terlontar. Musik yang kemudian dinyalakan itu mengganti suara sepi di telingaku. Lagu sendu berlirik arab, berjudul entah apa. Yang kuherankan adalah suaranya yang dapat menirukan dengan kelembutan yang sama. Suara bass yang mampu menyentuh perasaan. Sementara vokal penyanyinya adalah perempuan. Aku meralat pendapatku sebelumnya. Dia tidak sedingin itu rupanya.
*Ratna
Tibalah di depan toko baju. Mobil melaju pelan-pelan sesuai dengan panduan tukang parkirnya. Pria itu keluar lebih dulu, lalu membuka pintu mobilnya. Sejauh ini dia bersikap cukup baik. Aku tidak melihat tanda-tanda perubahan sikap. Ramah mendominasi sikapnya.
"Monggo!"
"Pak, lagi ada diskon nggak?" Dia sedang bertanya pada tukang parkir yang menyambutnya dengan keramahan.
"Ada, Mas. Ada. Silakan masuk saja langsung. Hari ini ramai karena banyak yg berburu diskonan. Monggo!"
Pria itu tersenyum. Menoleh padaku dan Fizah. Mengangguk kemudian.
"Istrinya dua, ya?"
Kontan kami bertiga bertukar pandang. Sepakat memandang tukang parkir itu.
Tukang parkir mendekati pria itu. Tersenyum. Berbisik, "Kok bisa akur begitu apa resepnya, Mas?"
Pria itu tidak merespons kecuali dengan senyum tipis dan gelengan kepala.
Kami bertiga masuk ke dalam toko. Padat lalu lalang pembeli. Embel-embel diskon 70-90 persen mampu menyita masyarakat dalam sekejap. Aku sampai harus memegangi tangan Fizah. Aku mencengkram lengannya. Dadaku berdebar-debar. Serangan panik tiba-tiba melanda.
"Fizah, ini rame banget. Aku di luar aja, Zah." Bayang-bayang ketakutan membuntuti langkahku.
"Oh, iya, kamu nggak bisa ke tempat yang rame begini. Sebentar aku nyoba bilang ke dia. Kamu menepi saja dulu."
Aku kembali ke pintu. Aku menyisih di sana. Tukang parkir yang tadi memperhatikanku. Dia baru saja membantu parkir mobil warna merah parkir.
Pemiliknya keluar menyapa. Menyandarkan punggung di badan mobilnya. Tangannya memegang ponsel yang baru dia rogoh dari saku. Lalu, melepas kaca mata hitamnya. Aku hanya memandangnya sekilas, lalu mendekap diriku sendiri.
"Istrinya Mas yang tadi, kan?" tanya tukang parkir itu.
"Pergi kau!" kataku pelan.
"Biarkan aku sendiri. Tolong!"
Tukang parkir itu menyisih sembari menahan tanya. Wajahnya masih menghadapku seiring kakinya menjauh pergi.
"Eh, aduh aduh." Dia menubruk seseorang. Setelah ditatap, pria berkacamata tadi orangnya.
"Maaf, Mas. Maaf."
"Ada apa ini?"
"Itu. Perempuan yang di sana tiba-tiba menyuruh saya pergi."
"Memangnya ada masalah apa?"
"Dia yang bermasalah kali, Mas."
"Jika tidak mengganggu biarkan sajalah, Pak." Dia menoleh ke sebelah kanannya. Menunjuk mobil yang dipakai pria penolong.
"Ada apa, Mas?" Tukang parkir memperhatikan yang ditunjuk pria di depannya.
"Mobil teman saya."
"Pemilik mobil itu istrinya dua, Mas. Satunya yang saya maksud tadi."
"Beristri dua?" Melotot.
"Dua, Mas." Mengangkat dua jarinya.
"Mana mungkin. Bapak salah paham itu. Saya teman dekatnya, Pak."
"Pas saya tanya, lawong saya disenyumin kok, Mas."
__ADS_1
"Saya tetap tidak percaya."
"Mau ke mana, Mas?"
"Menemui perempuan itu di sana!" jawabnya sembari berlalu.
Tak berselang lama, Fizah dan pria itu keluar. Fizah langsung menghampiriku.
"Pak Nizam, apa kabar?" Menyongsong dengan rangkulan.
Mereka menautkan kedua telapak tangan. Salam persahabatan.
"Kawan spesial. Jauh-jauh datang dari Banyuwangi."
Dia berbisik, "Saya yang minta diundang."
"Mosok? Ada udang dibalik batu kayaknya."
Kawan Pak Nizam melepas tawa.
"Mereka berdua beneran istrimu?"
"Istri dari mana? Baru juga pindah belum genap tiga bulan."
"Owalah jadi bukan istrinya to. Maaf kalau gitu, Mas," ucap tukang parkir.
"Enggeh, Pak."
"Terus ini tadi habis ngapain?" Menatap Pak Nizam dan Fizah bergantian.
"Beli titipan Ibuk, tapi tidak jadi. Mau pindah toko."
"Tidak ada yang cocok?"
"Perempuan itu sedang sakit."
Dia berbisik lagi, "Mereka siapa?"
"Tetangga desa yang rumahnya sekitar sini," jawab Pak Nizam sembarangan.
"Kalau kalian ada keperluan yang lain, bisa segera pulang. Kawan saya sudah datang. Makasih untuk bantuannya."
"Iya. Sama-sama, Pak," jawab Fizah.
"Masih kelas berapa, Mbak?" tanya kawan Pak Nizam.
"Saya masih tujuh belas tahun."
"Pantesan. Kelihatan belia banget. Terus sekolah di mana sekarang? Ada rencana kuliah?"
"Kami putus sekolah."
"Kenapa?" Nadanya sedikit meninggi.
"Karena sesuatu hal."
"Sayang sekali. Anak seusia kalian harusnya menikmati pendidikan sebaik mungkin. Masa depan kalian masih panjang." Dia malah memberikan kami berdua nasihat.
"Pangestune." (Mohon doa restunya)
"Kamu bener masih tujuh belas tahun?"
Fizah mengangguk.
"Rinai?"
Kami bungkam.
"Maaf kami harus segera pergi, Pak. Assalamualaikum."
__ADS_1
Mereka bertiga menjawabnya.