FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 5 “Menjelma Bidadari”


__ADS_3

*Ibban Nizami


Di Singolatren.


Sebuah pesantren salaf kecil dengan santri tidak mencapai lima puluh. Tempatnya ada di pinggiran jalan aspal. Tiga ratus meter dari sana. Agak masuk ke dalam melewati jalan berdebu.


Depan pesantren hanya dipasang plakat Pesantren Darul Falah, pesantren tahfiz khusus santri putri dan beberapa santri putra yang mengabdi di ndalem kesepuhan dan ndalem Ummik Nur. Kegiatan tilawah dan ngaji kitab kuning hanya berfungsi sebagai kegiatan ekstrakurikuler.


Begitu aku datang, gerbang depan setinggi satu meter setengah masih ditutup. Aku menggoyang-goyangkannya supaya lekas dibuka. Sejurus ada perempuan yang baru membenarkan jilbab memencet bel kegiatan. Kelihatan dari separuh gerbang tinggi dua meter yang dibuka. Dia memberikan aba-aba kepada perempuan di belakangnya untuk menggerakkan seluruh santri. Perempuan yang di dalam keluar, sedangkan perempuan yang memencet bel—bernama Mbak Ala—menghampiriku dengan menunduk-nunduk.


Aku tidak jadi bicara.


“Ngapunten, Tad. Kita baru ada tawasulan dengan Ummik. Mendadak. Tapi, Mbak Ulih Nuha sudah ke aula. Matur (bilang) ke Ummik kalau panjenengan sudah datang, Tad.” Dia lebih dulu menjelaskan sebelum aku bertanya.


“Ya, Mbak. Saya tunggu di musala.”


“Ngapunten, Tad.”


“Iya.”


Musala di samping kananku tidak begitu besar—berdampingan dengan ndalem Ummik Nur yang berlantai dua. Aku masuk langsung mengambil tempat yang telah disiapkan—meja kecil dan alas sajadah di atas karpet. Bersamaan dengan tatapanku yang mengarah keluar, muncul di sana Mbak Ala dengan membawa nampan. Kedua lututnya pelan-pelan menyentuh lantai saat sudah dua meter di depanku.


Kusentuh mikrofon di depanku. “Mbak, mikrofonnya bisa apa tidak ini?”


Dia menoleh ke samping kanannya. “Oh, itu belum dinyalakan, Tad.” Lalu, meletakkan dua gelas, air putih dan teh hangat. Santri pengurus itu pasti tidak akan lupa menyuguh guru-gurunya dengan cara seperti itu.


“Matur suwun, Mbak Ala. Iya, Mbak Ala, kan?”


Dia menunduk dengan sedikit tersenyum. “Inggih, Tad.”


Aku menyeruput tehnya. Pagi-pagi seperti ini memang paling enak minum yang hangat. Apalagi, yang menyuguh juga santri yang anggun seperti Mbak Ala.


Mbak Ala berdiri sesampainya di bingkai pintu. Seketika dia bertubrukan dengan santri-santri yang berjubelan ingin masuk musala. Satu per satu mereka masuk menghadap bangku-bangku panjang sampai penuh. Alquran yang tengah didekap pun diletakkan.


Aku memulainya dengan salam, tawasulan kepada para alim ulama dan guru-guru yang telah berpulang ke Rahmatullah, dan nyanyian bait nazam kalamun qadimun.


“Kemarin maqra’ sudah khatam. Sekarang ganti surat Al-Kahfi halaman terakhir. Atau, ada yang usul maqra’ lain tidak apa-apa. Seperti biasanya Mbak-Mbak bisa request.”


Santri yang kebetulan berpapasan mata denganku malah tersenyum simpul malu-malu. Dia berbisik kepada santri sebelahnya.


“Monggo!”


Aku mengerlingi wajah itu satu demi satu. Tetapi, mereka bungkam. Pada akhirnya mereka akan selalu nyumanggaaken atau nderek (mempersilakan atau manut) gurunya.


“Mbak Ala ada usul?”


Mbak Ala, santri yang kemampuannya paling mendominasi. Dia yang terlihat lebih mumpuni ketimbangan santri-santri lainnya. Maklum. Dia sudah sering menjuarai tilawah dewasa kabupaten. Setidaknya untuk maqra’ buka baca pasti langsung bisa. (Maksudnya maqra’ buka baca adalah surat yang akan dibaca tanpa ada persiapan. Pada musabaqah tilawatil qur’an cabang tilawah remaja diberikan waktu 24 jam untuk mempersiapkan surat yang akan dilombakan, sedangkan cabang tilawah dewasa hanya diberikan persiapan sepuluh menit sebelum naik ke panggung perlombaan)


“Manut panjenengan saja.”


“Nggeh. Dibuka Al-Kahfi saja.”


Gerakan serempak membuka lembaran Alquran. Lalu, menatapku serius. Pandangan mereka tegak lurus.


“Siapa ratu lagu bangsa arab?”


Yang kutatap tersenyum lagi. Begitu juga Mbak Ala yang kelihatannya juga tidak tahu jawabannya.

__ADS_1


“Ummi Kalsum mungkin,” celetuk santri dekat jendela. Dia menutup mulutnya ketika aku berusaha mencari matanya.


“Siapa, Mbak?”


“Um-mi Kalsum.” Dia menjadi ragu.


“Iya benar. Dia terkenal dengan sebutan Sayyidatul Qhina’ Al-Araby. Dia bukan qari’ah. Tapi, penyanyi qasidah legendaris Mesir yang ketika itu lagu-lagunya kaya akan variasi lagu-lagu versi tilawah Alquran. Sebetulnya tujuh nagham bayyati, shaba, hijaz, rast, sika, jiharka, nahawand, juga dapat diterapkan dalam lagu-lagu gambus, qasidah, nasyid. Hanya saja apabila tidak diperhatikan jeli, variasi nagham itu tidak akan kelihatan.”


Sedikit penjelasan itu mengawali pertemuan pagi ini. Pada lagu bayyati jawab, aku menunjuk beberapa santri termasuk Mbak Ala untuk menirukan. Nada tingkatan sedang itu mendarat dengan sempurna. Tapi, karena Mbak Ala sudah mempunya kekhasan variasi sendiri, variasi di tengah ayat berubah menjadi variasinya sendiri.


Sisa waktu lima puluh menit hanya cukup sampai pada lagu bayyati suri. Kami mengakhirinya dengan membaca bersama-sama bait salatullahi wa salam ‘ala man uhiyal qur’an.


Mbak Ala dan dua temannya masih tinggal di musala.


“Mbak, kamu tahun ini berangkat lomba ke Provinsi, ya?”


“Doakan, ya. Insyallah bulan Oktober ini di Madura.”


“Sebentar lagi dong.”


“Iya.”


“Pantesan kamu rajin latihan ba’da subuh.”


Derap langkahku terhenti.


“Mbak Ala?”


Lehernya terangkat.


Mendekatiku. “Iya, Tadz? Ada perlu apa, nggih?”


“Ehm...Insyaallah.”


“Cabang tilawah dewasa?”


“Insyaallah begitu. Ustadz ikut cabang qira’at sab’ah kalau tidak salah.”


“Iya. Ternyata kamu juga ikut. Kemarin sepertinya bukan kamu yang dikirim?”


“Bukan. Saya STQ memang juara dua, Tadz. Tapi, karena juara pertama tidak memungkinkan dikirim, maka saya yang dikirim. Saya tahunya juga masih sebulan lalu.”


“Latihan terus, ya. Banyak minum air embun.”


“Insyaallah saya juga rutin minum kuning telur dan madu.”


“Malah bagus itu. Power suara supaya tambah kuat. Asal tidak ada keluhan kolesterol.”


Dia tersenyum. “Alhamdulillah tidak ada.”


Rabi’ah Aladawiyah namanya. Santri yang sudah bertemu denganku sejak pertama aku dipasrah Ummik Nur Fatimah itu, kadang kelihatan mempesona karena bakat yang dia punya. Tapi, sebatas kelebihan itu yang aku ketahui. Kemampuannya di madrasah diniyah, ketawaaduannya sebagai santri, dan seberapa besar kemauannya mengabdi pada bu nyai belum ada yang aku ketahui juga.


Aku melenggang pergi. Mbak Ala dan kawan-kawannya masih melanjutkan obrolan di dalam musala. Kebetulan Ummik Nur ada di depan teras menggandeng Gus Alif yang masih berumur empat tahun. Aku pergi menyapa beliau.


“Assalamu’alaikum, Ummik?”


“Wa’alaikumsalam, Kang.”

__ADS_1


“Mau ke mana, Mik?”


“Beli mainannya Dek Alif ini lo.”


Ummik Nur Fatimah masih muda. Mungkin masih berusia empat puluh lima lebih sedikit.


Ummik berjalan ke musala.


Meski belum dipanggil, Mbak Ala buru-buru keluar. Duduk di bawah menghadap Ummik Nur.


“Mbak Ala, jemurannya Ummik tolong diangkat. Yang kering sampeyan taruh di keranjang. Keranjangnya di kamar.”


“Inggeh, Mik.” Lalu, menyucup tangan Ummik Nur.


Ummik naik motor bersama Gus Alif. Memberiku senyum sebelum helmnya ditutup. Laju motor menjauh.


Mbak Ala beringsut ke ndalem.


“Diutus, Mbak?”


“Diutus mengangkat jemuran kemarin siang, Tadz. Ngapunten.” Dia menunduk.


Aku minggir memberinya jalan.


Dua santri keluar gerbang akan membeli sarapan tepat di samping pondok. Warung langganan santri jika para santri malas makan yang dimasak mbak-mbak yang berjadwal piket masak. Mereka membicarakan sesuatu. Sembari lewat di samping mereka, aku sempat mendengarkan mereka bicara apa.


“Abahnya Mbak Ala itu donatur tetap pondok. Aku dengar itu dari pengurus. Bagian bendahara. Makanya, jatah beras yang harus dibawa tiap kita sambangan jadi berkurang takarannya.”


“Cuma berkurang setengah kilo.”


“Lumayanlah.”


“Donasinya bahan pokok?”


Di pembicaraan selanjutnya semakin tidak terdengar. Jarak kami sudah terlalu jauh.


⚠️⚠️


Kisah ini campuran. Tidak pure seperti Telapak Tangan Ranaa. Latar belakang masih menyeluruh. Tidak terfokus pada pesantrennya saja. InsyaAllah kepesantrenan akan dibahas detail lagi di bab 50 ke atas.


Tokoh masih Diperankan sama.


-Hibban Al-Asyam


-Rana Hafizah


-Nawi Muhammad Badrus Salih


-'Indadzil 'Arsyi Makin


-Ratna Jamilah


-Wardah adiknya Kang Nawi


-Salma Rubia Salim


-Bu Nyai Hindun

__ADS_1


-Arash Ilhami Hakeem


Namun, dengan status yang berbeda dan hubungan yang berbeda lagi. Sebagai tokoh dihilangkan dan akan dimunculkan karakter/ sifat lain yang tidak saya munculkan dalam kisah TTR. Jadi, selamat menikmati.


__ADS_2