FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 162 "Empat Mata"


__ADS_3

*Ibban Nizami


Begitu aku sampai di sana, kulihat ada mobil yang sudah terparkir. Sepertinya sudah sejak tadi. Tapi, tidak ada siapa pun yang duduk di gubuk depan. Dan, aku baru menyadari aku mengenali mobil itu. Tapi, di mana dia?


Seperti biasa Darul Amin akan selalu menjadi padepokan yang sedikit terkesan mengerikan. Selalu ada penjaga bertubuh kekar mengenakan baju hitam, tiga di antaranya memakai blangkon. Gerbang juga selalu tertutup. Seperti tempat yang sengaja mengasingkan diri dan terasingkan. Tapi, jika kuingat tempat ini juga digunakan untuk pengajian kitab seperti yang kulihat sebelumnya, tempat ini juga bisa disebut pesantren. Pemiliknya saja bernama Kiai Abad. Tapi, sesungguhnya aku belum benar-benar tahu tempat apa ini. Aku belum mengerti kenapa tempat ini tidak seperti padepokan lainnya? Jika orang yang kukenal saja mungkin sekarang ada di dalam, seharusnya aku pun bisa masuk ke sana tanpa syarat.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


"Saya belum kontak Gus Yazeed. Tapi, saya minta bertemu. Ada keperluan yang sangat penting. Bisa langsung masuk? Saya pastikan saya bukan orang yang sedang mengintai siapa pun di sini. Saya hanya ingin berbicara empat mata dengan dia."


"Baik."


Untuk yang pertama kalinya aku masuk ke Darul Amin. Tak kusangka ternyata tempatnya begitu luas. Seolah-olah aku sedang disuguhi sebuah desa kecil atau kampung yang terasingkan. Rindang dan menenangkan. Pantas saja Ratna semakin membaik setelah berada di sini. Fokus mataku langsung tersita ke arah bangunan paling tinggi di atas sana. Yang dipagari oleh tralis besi bertuliskan Darul Amin. Mungkin itu kediaman Yazeed beserta Kiai Abad.


"Gus Yazeed ada di dalam. Silakan tunggu di gazebo."


"Di sana?" Kutunjuk kediaman itu dengan daguku.


Pintu rumah itu terbuka. Yazeed menuruni anak tangga. Sembari merokok, dia berjalan melewati lalu lalang para perempuan. Kadang menganggukkan kepala karena para perempuan itu bergiliran memanggil, bermaksud menyapa. Malah ada beberapa perempuan yang mendekatinya, lalu memaksanya membuka mulut. Dia disuruh mencicipi makanan. Dia pemimpin yang mengayomi. Ikatan sosial di tempat ini bisa dikatakan terjalin dengan baik. Dia kembali berjalan ke padaku setelah memberi isyarah sudah kenyang.


"Bisa tinggalkan kami?" pintaku.


Mata Yazeed memberikan isyarat. Body guard itu menyisih.


Aku mengajaknya bersalaman. "Apa kabar?"

__ADS_1


"Ada perlu apa?"


"Mas Iman ke sini?"


"Dia sedang menemui Ratna. Kau juga ingin menemui mereka?"


"Oh, nggak. Aku ke sini ingin membicarakan soal Fizah."


"Oh, jadi sekarang kau jadi lebih peduli dengannya? Karena kau sudah resmi jadi calon suaminya?"


"Lupakan itu! Aku hanya ingin membahas teror yang sudah dikirim seseorang pada Fizah. Kupikir kamu tahu siapa orangnya."


"Namanya Sumarjo dan Hakim. Mereka bapak dan anak. Kenapa kau baru menyadari itu semua? Dari dulu keadaan Fizah tidak aman. Baru sadar? Kau merasa perlu ikut menuntaskan masalah ini setelah Kiai menjadikanmu menantu?"


Aku menangkap nada ketidaksukaan di sini. Pertanyaan itu lebih kepada pengungkapan kecemburuan. Bukan karena kritik atas apa yang telah kulakukan. Terlepas itu salah atau benar.


Dia berbicara usia menyemburkan asap rokoknya. "Dunia terlalu sempit jika perempuan seperti mereka kaupandang sebagai wanita rendahan. Di luar perempuan yang sudah melepaskan harga dirinya, ada perempuan seperti Fizah, Ratna, dan Aynur. Mereka hanya korban kerusakan moral manusia. Di pesantren itu, asal kautahu, dia hanya benar-benar mencari perlindungan. Tapi, sampai sekarang aku tahu keadaannya masih tidak aman." Dia buang puntung rokok itu sembarangan.


"Aku ke sini tidak ingin mencari masalah apa pun. Justru aku hanya ingin menuntaskan semua pertanyaanku. Kamu nggak perlu mencari kesalahan orang. Biarlah kesalahan itu, cukup menjadi masalahku dan Fizah. Apa kamu nggak pernah melakukan kesalahan apa pun di masa lalumu? Yang kadang masih membuatmu merasa menyesal sampai sekarang. Tanyakan itu pada dirimu sendiri! Sekali lagi aku ke sini tidak ingin mencari gara-gara denganmu. Kalau memungkinkan aku bisa segera menikahi Fizah, aku akan menikahinya. Dan, setelah itu dia akan sepenuhnya menjadi tanggung jawabku."


Yazeed berdecak. Wajahnya masih masam. Air mukanya menyepelekan. Pandangannya mencari perhatian ke tempat lain. Napasnya melenguh panjang.


"Andai saja aku yang menikahinya, aku jauh lebih mampu. Aku lebih tahu apa yang Fizah butuhkan dan khawatirkan." Pada kalimat keduanya, dia menatapku lagi.


Benar dugaanku. Dia mengatakan itu karena cemburu. Kuredam emosiku. Kulenturkan kembali suaraku yang sebelumnya sedikit menegang.


"Aku minta tolong beritahu aku sesuatu."

__ADS_1


"Tanyakan dulu pada dia soal gelang yang dia pakai."


Cukup susah berbicara dengannya. Tak segampang yang aku pikirkan. Tak mudah dibujuk. Dia cukup keras dan tegas. Kuperhatikan dia justru sedang memperpanjang masalah. Mengulurnya menjadi lebih lama dengan perihal gelang yang tidak kumengerti. Apa hubungannya?


"Yang jelas orang itu telah mengancam. Fizah hanya tinggal menunggu waktu. Aku permisi dulu. Assalamualaikum." Aku bangkit. Hampir lupa. "Terima kasih telah meluangkan waktunya."


Aku tidak mendapatkan apa-apa. Seharusnya jika dia pun mencintai Fizah, dia tidak akan bersikap seperti tadi. Dia merasa hanya dirinyalah yang mampu melindungi. Sementara, dia tidak punya wewenang itu. Aku pun demikian, tidak berani melakukan banyak hal sebelum ikatan suci pernikahan telah kuikrarkan.


Kembali ke Al-Furqan.


Kang Bimo di halaman sembari bersenandung lirih. Dia mencuci motor Gus Fakhar.


"Gimana, Mas?" Dia berdiri.


"Nihil. Tapi, aku tetap butuh bicara empat mata dengan beliau."


"Abah lagi di toko kitab, Mas. Monggo saya temani!


"Teruskan saja kerjaanmu, Kang."


"Nggak. Dari tadi aku penasaran. Teror apa?"


"Ada yang sering mengawasi pesantren ini. Tolong kamu beritahu aku, misal kamu mencurigai sesuatu."


Kususul abah ke toko. Kebetulan abah ada di depan, leyeh-leyeh di kursi.


Maaf nggeh atas keterlambatannya. 🙏🙏 Selamat membaca. Terima kasih atas kesabaran dan prasangka baiknya, serta doa-doanya.

__ADS_1


__ADS_2