FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 31 "Cincin Lawas"


__ADS_3

*Fakharuddin Akhyar Al-Ameen


Satu per satu santri putri disuruh ke ndalem menemuiku dan ummi di ruang tamu. Sebelum ummi menyuruh santri masuk, ummi memperlihatkanku kotak kecil yang tidak kuketahui apa isinya.


"Apa itu, Mi?"


Ummi pun membukanya. Menatapku. Memberikannya isi kotak itu ke telapak tanganku.


"Jaman semono Abahmu sing maringi Ummi."


Terjemah: (Dulu Abahmu yang memberikan ini pada Ummi)


"Mahar?"


"Bukan, Le. Hadiah kerono Ummi biyen wis kasel ngandhut Adimu."


Terjemah: (Bukan, Le. Hadiah karena Ummi dulu sudah berhasil hamil Adikmu)


"Lalu untuk apa Ummi memberikannya padaku? Lebih baik Ummi simpan saja. Ini kenangan untuk Tsaniya." Kukembalikan.


Ummi menolak sembari membalas, "Fakhar, paringno iki nang bocah wadon sing kok tresnani."


Terjemah: (Fakhar, berikan ini kepada perempuan yang kamu cintai)


"Fakhar belum menyukai siapa pun, Mi. Saestu (sungguh)."


"Ummi tahu. Makane, iki dino Ummi ngaturi Mbak Mbak mrene."


Terjemah: (Ummi tahu. Makanya, hari ini Ummi menyuruh Mbak Mbak ke sini)


"Mbak, mlebuo kabeh, Mbak!"


Terjemah : (Mbak, masuklah semua, Mbak!)


"Ummi tidak harus secepat ini, Mi."


"Mung dinggo pandangan. Kapan-kapan iso langsung ditembung lek awakmu cocok. Ndak cocok yo ndak masalah. Penting dicobo disek."


Terjemah: (Hanya untuk pandangan. Kapan-kapan bisa langsung dilamar jika kamu cocok. Tidak cocok ya tidak masalah. Penting dicoba dulu)


Aku mengalah. Kuperhatikan satu per satu wajah santri putri yang bergiliran masuk ke ruang tamu, duduk di bawah seraya menunduk-nunduk. Mataku menghitung mereka yang berjumlah sembilan orang. Sebegini niatnya ummi menawarkan padaku santri-santri pilihannya. Dari ratusan santri putri yang ada, berarti merekalah yang paling istimewa di hati ummi meski tidak semua dari mereka berparas cantik.


"Mbak, cobo sampeyan iki apalan rong rai ae, Mbak. Sembarang sing menurut sampeyan lanyah. Giliran saking Mbak Ulya)


Terjemah: (Mbak, coba kalian lalar hafalan dua kaca saja, Mbak. Terserah yang menurut kalian lancar. Giliran dari Mbak Ulya)

__ADS_1


"Ayok, Mbak! Monggo!" kataku.


Santri-santri itu saling memandang. Kawan yang berdekatan dengan Mbak Ulya menyenggol lengan Mbak Ulya supaya lekas memulai. Santri lainnya berusaha memilah dan memilih hafalan yang akan mereka persembahkan. Padahal, mereka juga tidak tahu apa maksud dan tujuan mereka dipanggil ke sini.


Satu demi satu meloloskan hafalan dua kaca itu dengan baik. Nyaris sama baiknya. Tidak ada celah bagiku untuk memilih karena mereka memang santri yang hafalannya mutqin dengan bacaan yang sudah fashih.


Setelah itu, ummi diam sebentar. Menurutku, ummi juga sepemikian denganku. Lalu, ummi melontarkan pertanyaan pribadi mengenai jumlah saudara dan pekerjaan orang tua. Pertanyaan itu dijawab tuntas. Ummi masih mengangguk-angguk ragu. Kelihatan masih ada yang hendak ditanyakan.


"Siapa di sini yang punya cita-cita kuliah?" Aku mendahului tanya. Aku menanyakan itu karena aku bercita-cita menikah dengan aktivis kampus. Bukan santri pun tidak masalah. Tapi, entah ummi setuju atau tidak. Aku belum pernah membicarakan ini pada keluarga mengingat ini masih wacana awal saja.


Mbak Ulya dan Mbak Amirah mengacungkan tangan.


Ummi masih diam. Tapi, tak lama kemudian menyuruh mereka pergi. Ummi mengucapkan matur nuwun sembari menawarkan punggung tangan.


"Piye?" (Bagaimana?)


"Semuanya bagus. Fakhar tidak meragukan santri-santri pilihan Ummi."


"Ummi sing milihne?"


Terjemah: (Ummi yang memilihkan?)


"Begini, Mi. Fakhar pengen cerita. Cita-cita Fakhar adalah menikah dengan gadis kampus. Tidak harus santri kok. Penting punya iman dan bisa ngaji. Sudah itu cukup."


"Nyapo kudu sing ngono kui?"


"Tidak harus. Tapi, Fakhar mengutamakan perempuan yang seperti itu."


"Menurut Ummi kurang sekufu, Le."


"Fakhar sudah cukup dengan semua ini. Tidak perlu memandang perempuan yang sama denganku. Justru bersama dengan perempuan seperti itu lebih asik. Mereka bisa lebih terbuka, Mi. Tidak hanya manut karena menganggapku sebagai gurunya. Fakhar janji akan memilih perempuan yang sekiranya pantas menjadi menantu Ummi."


"Ummi ragu awakmu duweni pilihan ngono kui." Ummi kecewa.


Terjemah : (Ummi ragu kamu punya pilihan seperti itu) Ummi kecewa.


"Ummi percayakan saja pada Fakhar."


"Gek adus kono, Le."


Terjemah: (Cepat mandi sana, Le)


Aku bengong mendengar tanggapan ummi. Namun, aku tidak menyuruh ummi untuk kembali menanggapi. Wajah dan perkataan ummi kontras. Aku tidak mendapati maksud yang pasti.


*Ranaa Hafizah

__ADS_1


Oktober.


Seperti yang pernah kujanjikan kala itu, bersuci dan salat taubat menjadi syarat bagi kami jika ingin kembali menjadi manusia seperti pada umumnya. Dengan jalan mendekatkan diri kepada Tuhan, itu akan memberikan rasa terlindungi. Karena terkadang setiap kali melihat tatapan manusia, aku merasa sedang dihakimi. Aku merasa ditelanjangi mentah-mentah. Dan, perasaan-perasaan itu tidak kutunjukkan kepada Ratna. Aku tidak ingin Ratna menjadi cemas berlebihan dan menjadi trauma bertemu dengan orang asing.


Rampung melakukan dua ritual itu, aku mengajak Ratna mencari makan. Aku pun lapar. Kami melipir di trotoar sembari melihat warung yang pembelinya ramai. Aku menahan langkahnya Ratna yang mendahului. Aku menoleh ke warung itu.


"Kamu mau ngapain?"


"Kita masuk ke sana."


"Aku tidak mau. Tidak, Zah. Jika kamu memaksa, lebih baik aku pergi sendiri. Jangan memaksa kali ini. Di dalam terlalu ramai."


"Siapa tahu kita bisa membantu penjualanya, lalu kita diberikan sepiring nasi. Kamu tetap tidak mau, Ratna?" Kurasakan getar dalam perutku.


Mata Ratna menatap bawah ke arahku.


"Kamu laper banget?"


"Kamu juga, kan?"


Dia mengangguk. Tapi, kecemasan menghentikan keinginannya.


"Ya sudah. Aku ke dalam dulu. Kamu tunggu di luar saja. Kalau nanti aku dapat makan, aku akan membawanya keluar."


Dia mengiyakan kalimatku.


"Jangan ke mana-mana, ya."


Aku berjalan pelan dengan menyingkirkan keraguan yang menggangguku. Aku mencoba tidak menghiraukan pandangan yang tiba-tiba langsung mengarah pada mataku, seperti sedang menerka-nerka. Kuharap itu hanya ilusiku. Aku tidak berani berlama-lama mengedarkan pandangan. Tapi, sebelum aku mendekati penjualnya yang sibuk, hampir tidak kelihatan karena dirubung pemesan makanan, aku melihat pria yang menolongku di salah satu meja. Ah, tapi sudahlah itu tidak penting. Aku tidak usahlah basa-basi dengan menyapanya.


"Maaf permisi." Aku berjinjit-jinjit mencoba berbicara pada penjualnya.


"Permisi." Sayangnya, suaraku yang lirih tenggelam oleh keramaian warung makan.


Inginku menyibak tubuh yang menghalangi pandanganku, tapi terkesan tidak sopan. Perutku bergetar lagi. Aku menghela napas. Balik badan.


Dan....


Aku menubruk tubuh seseorang. Otomatis dia menjauhkan jaraknya. Mata kami berpapasan. Lantas, dia menyapaku lebih dulu dengan seruan biasa. Tidak kaget. Wajahnya datar.


"Maaf, maaf."


Aku beringsut cepat-cepat.


"Kamu mau makan?"

__ADS_1


Aku mendiamkannya sejenak. Ingin kutolak saja. Tapi, jika aku memilih gengsiku, Ratna juga akan kelaparan. Aku menganggukkan kepala. Dia menyuruhku duduk dengan tatapannya. Sepintas aku berpikir, kenapa dia kelihatan sangat dingin? Lebih dingin ketimbang sikapnya di rumah. Ketika pria-pria yang datang ke kolong sampah itu kehausan dan meminta jatah minum sebanyak-banyaknya, dia justru sudah sudah merasa cukup dengan segelas air di tangan.


__ADS_2