
*Tsaniya Tabriz
Abang berbisik, "Seharusnya kita menelepon polisi tadi, Dek."
"Abang bener, tapi sekarang udah nggak bisa." Aku berbisik lebih lirih.
Aku kembali menatapnya.
"Kita bicarakan baik-baik atau sebaliknya kamu akan celaka seperti malam itu." Sebetulnya aku tidak yakin dengan apa yang aku katakan. Aku sendiri tidak tahu kenapa peristiwa janggal terjadi malam itu.
Abang menatapku tak mengerti. Wajahnya menelisik.
"Jangan banyak bicara! Aku tidak menyukai orang munafik sepertimu. Habisi mereka berdua!"
Seketika abang mendorongku agar aku tersisih. Aku tersungkur. Tanganku yang masih terluka pun terasa nyeri karena telapakku menghantam lantai. Aku bingung harus berbuat apa. Abang harus berjuang sendirian melawan enam orang itu.
__ADS_1
"Abang harus tangguh. Abang harus bisa." Kurapalkan dalam hati.
Aku kembali menatap Pak Nizam. Aku tak ingin abang bernasib sama. Aku harus pulang bersama mereka berdua. Aku juga berharap Pak Nizam masih baik-baik saja. Dia terus saja diam. Tak ada tanda-tanda kehidupan. Sakit sekali rasanya. Dadaku sesak. Genderam perang pun dimulai. Aku tidak kuat berdiri. Kekuatanku seperti telah tersadap bersamaan dengan langkah Pak Su mendekatiku. Dia membawa keris sembari menyunggingkan senyum kelicikannya. Aku berusaha berdiri.
"Dek?" teriak abang.
Aku menoleh cepet. Abang melemparkan gawainya. Mendarat setengah meter jauh dari dari sisiku. Aku tahu apa yang akan aku lakukan. Aku berusaha berdiri susah payah. Ketakutan melemaskan seluruh sendi-sendiku. Aku meraih gawai abang. Aku berhasil. Aku beranjak dengan ucapan bismillah. Lalu, aku menjauh dan berlari secepat yang aku bisa. Tapi, Pak Su di belakangku seperti hendak memangsaku. Aku tak akan menoleh ke belakang. Aku fokus membuka gawai abang yang tidak bersandi. Tanganku yang bergetar membuat hape abang hampir saja terjatuh. Aku ingin menelepon polisi setempat. Kucari-cari nomor itu sambil terus berlari cepat. Aku menoleh ke belakang sekejap. Ternyata Pak Su tak bisa berjalan dengan baik. Jalannya pincang. Kakinya diseret. Kutatap kembali layar gawai abang. Karena gupuh, aku tidak menemukannya. Aku memfokuskan sekali lagi. Telapak tanganku dingin. Napasku tersengal. Peluh terasa mengalir dadu dahi. Jantungku bekerja dua kali lebih cepat. Bertabuh menggelegarkan rongga dada.
Panggil.
"Kau tidak akan bisa lari," katanya menggertak.
"Jangan macam-macam kamu."
Di sana abang entah bagaimana. Aku tidak berani menatap mereka. Aku hanya bisa mendengar suara dengusan, desisan, teriakan, hantaman, dan kata-kata kasar. Berkali-kali aku mendengar ada yang terjatuh, tapi aku tidak tahu siapa yang berhasil dilumpuhkan. Aku menunggu panggilan terjawab. Tapi, tiba-tiba tangan kananku ditarik. Aku terkejut. Jantungku melompat. Gawai abang terlempar tidak sengaja. Kuambil jarum pentul di kerudungku. Kutusuk lengan Pak Su dengan jarum itu. Dia berlari saat dia berteriak murka dan mengaduh.
__ADS_1
Aku menoleh. Sepertinya abang berusaha memancing agar perkelahian itu bisa berada di luar ruangan. Abang berlari melewati pintu sebelah kanan. Dan, abang sempat menunjuk pintu sebelah kiri. Dia menyuruhku lewat dari arah yang terpisah saja. Nelangsa. Wajah abang babak belur. Lengan kemeja abang terkena darah. Mungkin untuk menyeka darah yang keluar dari pelipis dan bibirnya. Abang sudah berhasil keluar, sedangkan aku masih susah payah berlari dengan kaki lemas dan bergetar. Bayang-bayang ambigu, antara hidup dan mati, berputar-putar di kepalaku. La haula wala quwwata illa billah. Kutambahkan dua kalimat syahadat.
Sayangnya aku tak sempat mengambil gawai abang. Gawai itu terlempar cukup jauh. Berjarak tiga meter dariku. Harusnya aku bisa mengabarkan kejadian ini polisi agar hari ini juga Pak Su dan komplotannya tidak lagi mampu menghindar dari pihak berwajib.
"Pak Nizam, kamu harus baik-baik di sana," batinku. Aku hampir saja menjangkau pintu ruangan yang terlalu luas ini.
Dadaku semakin sesak. Aku terengah-engah. Pak Su melemparkan sesuatu di kepalaku sampai aku mengadu sangat keras. Kuraba jilbabku. Aku masih beruntung. Benda yang dilemparkan tadi tidak melukaiku. Hanya sedikit membuatku pusing. Lagi-lagi Pak Su meraih tanganku kuat-kuat. Dan seketika kulemparkan tamparan tangan kiriku ke wajahnya.
Splassssh!
Aku berlari mundur. Menurutku itu cukup keras sehingga membuat Pak Su langsung menodongkan kerisnya. Tapi, entah apa yang terjadi kemudian dia justru meraung-raung persis seperti orang kesurupan. Dia terjatuh. Berpolah tidak normal. Matanya membuas. Dia berteriak-teriak tidak jelas. Meracau ke mana-mana. Aku memanfaatkan itu dengan berlari secepat mungkin. Tiga meter kemudian aku berhasil menjangkau gagang pintu. Aku memastikan Pak Su dari balik pintu. Tanpa aku sadari rupanya Pak Nizam justru menghilang. Dia sudah tidak lagi berada di kursi tadi. Aku kalang kabut. Sementara, abang masih mampu bertahan dengan sisa tenaganya. Tapi, aku sudah bisa melihat kemampuan abang sudah tidak sekuat tadi. Dia bisa bertahan dari serangan enam orang. Abang tersungkur. Tubuhnya yang kini tengah tengkurap berdiam seperti patung. Aku menangis seketika itu juga. Pak Nizam menghilang, abang kalah, dan Pak Su menjadi-jadi. Aku harus bagaimana? Kuhantam dadaku dengan kepalan tangan kananku.
Gawai abang? Tapi, gawai itu berada jarak dua meter dari Pak Su. Mana mungkin aku mengambilnya. Jika aku pergi mencari bantuan, dengan kecepatan lariku yang tidak seberapa, aku justru akan meninggalkan abang yang sudah benar-benar terluka parah. Aku tidak berani masuk lagi ke ruangan itu.
Pak Su mengamuk. Dia memainkan kerisnya sembari menatap garang ke arahku. Aku bergegas menjauh dari pintu. Tapi, sejurus dia berteriak lagi. Langkahku terhenti. Kulihat dengan jelas dia seperti tengah bergulat dengan keris itu. Kenapa bisa demikian? Keris itu seperti malah ingin melukai pemiliknya. Ini janggal. Tidak bisa dinalar. Begitu juga dengan menghilangnya Pak Nizam. Di mana dia? Pikiranku buntu untuk menjangkau hal-hal di luar kapasitas kemampuanku.
__ADS_1
Lalu, datang entah dari mana Hakim. Dia mulai mengarahkan tendangan kakinya ke arah salah satu suruhan Pak Su. Abang yang tadinya seperti sudah kehilangan nyawanya berusaha bangkit lagi untuk melawan. Hakim memancing agar enam beberapa orang melawan dirinya. Empat orang mengejar Hakim, lalu berkelahi di tempat lain. Sisa dua orang suruhan Pak Su kembali meladeni abang. Begitukah cara Hakim meyakinkanku bahwa sebenarnya dia juga waktu itu tidak benar-benar menipuku? Dia membuktikan itu semua dengan menolongku di saat waktu yang tepat seperti ini. Apa arti semua ini, Ya Allah? Pusing. Mual-mual. Badanku sudah lemas tak ada daya.
Aku akan mencoba mencari Pak Nizam di sekitaran tempat ini. Barangkali dia melarikan diri. Setidaknya abang sudah terbantu dengan kehadian Hakim.