FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 60 "Dalam Perjalanan"


__ADS_3

Awalnya Fizah masih pengen saya sembunyiin. Tapi, gpp, deh, munculin bentaran aja. Nanti aku sembunyiin lagi. 🤭🤭😁


*Ranaa Hafizah


Aku masih bingung mau ke mana. Kulihat Pak Nizam melaju mendahului jalanku. Sementara, kulihat Ratna semakin payah. Aku kasihan memikirkan kandungannya.


"Kita mau ke mana?"


"Kita ke terminal saja gimana?"


"Tapi, aku takut pingsan, Fizah."


"Uangnya cuman tiga ratus. Semoga masih cukup untuk bertahan."


"Kalau nanti belum nemuin pesantren, kita makannya tirakat aja, ya. Kita beli roti tawar. Tapi, sekarang kamu harus periksa dulu. Di depan sana ada bidan."


Ratna menolak dengan ekspresi.


"Ayolah! Kamu nggak boleh nolak. Kamu harus minum obat dulu kalau mau melarikan diri. Di perutmu itu ada manusia."


Pada akhirnya aku tetap berkuasa mengendalikan Ratna. Dia tidak bisa tetap merajuk mempertahankan ketakutannya. Sementara, rasa takut itu sebetulnya menyuruhnya untuk berlari sejauh mungkin.


Kami berjalan sekitar empat ratus meter. Praktiknya hampir saja tutup. Tapi, aku menahan dengan ucapan salamku. Bidan itu memperhatikan kami sekilas, lalu mempersilakan kami masuk. Mungkin bidan itu iba memandang wajah kami yang melas.


"Mbak, siapa yang mau periksa kandungan."


"Teman saya, Bu Bidan."


Bu Bidan bangkit. Mengarahkan Ratna supaya berbaring. Ratna meletakkan tas di pangkuannya. Pelan-pelan berbaring di tempat tidur.


"Suaminya ke mana?"


"Su...suami..ssss-saya sudah meninggal."


"Dia ditinggal mati orang tua dan suaminya." Aku terpaksa berbohong.


"Ya Allah, lalu mertua?"


"Kita perjalanan ke sana. Ya kita mau ke sana, Bu," jawab Ratna.


"Kita mau ke terminal dulu, Bu Bidan," kataku menambah.


"Padahal lagi hamil. Sudah berapa bulan?"


"Belum tahu."


"Belum pernah periksa sebelumnya?"


Ratna menggeleng.


"Tapi, sudah pernah dicek pakai test pack?"


Ratna menggeleng lagi.

__ADS_1


"Apa saya benar hamil?"


Bu bidan menyentuh perut Ratna beberapa detik.


"Iya benar. Mbak sedang hamil."


"Terakhir menstruasi kapan?"


"Sudah lama sekali, Bu. Saya lupa."


"Sebetulnya bisa dicek pakai USG. Apa dicek?"


"Tidak usah, Bu Bidan." Aku menyahut.


"Ya sudah. Perkiraan ini sudah masuk usia kehamilan tiga bulan. Minggu ke berapa, saya tidak bisa memastikan."


Terdengar isak. Pasti pedih sekali bagi Ratna. Dia merasa terhina atas tindakan Pak Su.


"Tapi, Ratna, bagiku kamu tetap berharga," batinku melihat air di sudut matanya jatuh ke bantal.


"Keluhannya apa?"


"Saya lemas, dehidrasi."


"Mbak harus banyak istirahat."


"Bu Bidan bisa memberikannya vitamin atau obat?"


"Sebetulnya tidak diobati pun bisa asalkan istirahatnya cukup. Jaga emosi. Kontrol perasaan karena itu juga baik untuk perkembangan janin."


"Ya sudah. Sebentar."


Bu bidan akhirnya memberikan dua macam vitamin.


Ratna kembali duduk di sampingku.


"Ingat. Tetap istirahat. Jaga kesehatan. Trimester pertama itu rawan. Ini kehamilan pertama, kan?"


"Iya," jawab Ratna.


Kami pamit melanjutkan perjalanan.


"Kita ke masjid dulu, ya. Tapi, kita cari roti dan air mineral dulu buat makan. Kita nyari ojek kalau sudah salat."


"Apa aku merepotkan kamu, Fizah?"


"Nggak usah mikir itu dulu. Kita sama-sama susah sekarang."


Aku menarik tas yang dipegang Ratna.


"Nggak apa-apa, Zah. Aku bisa bawa."


"Walaubagaimanapun juga kamu dapat amanah menjaga titipan Allah."

__ADS_1


"Tapi, Zah, aku nggak pernah menginginkan anak ini. Kenapa takdirku begini? Kamu tahu jawabannya, kan, Zah?"


"Aku nggak tahu," jawabku cuek. Aku mendahului jalannya.


"Fizah, jawab aku dulu."


"Gimana aku bisa jawab, Ratna. Emang aku nggak tahu. Sudah cukup. Udahan mikir beratnya. Kalau kamu mikir terlalu keras, kita nggak bisa kabur." Aku geram. Pusing. Perutku keroncongan karena di warung tadi aku belum sempat makan makanan yang dipesankan Pak Nizam.


"Lalu, kenapa Pak Nizam membiarkan kita pergi sendirian, Zah? Katamu dia orang baik. Mana buktinya?"


Aku bergeming. Aku menggigit bibirku. Ratna menggoyangkan lenganku, menyuruhku menjawab. Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Kita bisa pergi tanpa dia. Kamu paham itu?" Kutahan getar dalam suaraku. Aku segera mengusap air mataku supaya tidak jatuh.


"Dah. Kita cari roti untuk makan dan kamu minum obat."


Ratna diam saja.


*Ratna


Sejauh ini, aku hanya masih mempercayai diriku memang bernama Ratna. Justru yang tidak aku percayai adalah takdir yang menimpaku. Terbayang masa depan yang suram. Jangankan abu-abu, aku sudah tak punya lagi cahaya. Aku hanya sedikit punya harapan dengan bisa tinggal di pesantren secepatnya.


Saat Fizah mengabaikanku, aku takut. Aku bisa melihat ada sesuatu yang berbeda dari matanya. Kenapa dia bisa membuatku sesaat begitu tunduk? Aku tidak bisa apa-apa ketika dia mulai meninggikan suara. Selain aku hanya ingin tetap pergi bersamanya, aku merasa ada hal lain yang yang tidak dapat aku pahami. Kembali kuingat saat dia mencoba melawan Pak Su, tapi pada akhirnya Pak Su menggelepar tidak berdaya. Tidak ada yang tahu apa penyebabnya.


Fizah pun mengajakku ke market. Hanya beberapa langkah dari praktik bidan tadi. Aku ikut masuk. Aku takut sendirian di luar. Pak Su dan Mas Hakim pasti masih ada di Tulungagung. Terbayang-bayang kemunculannya yang tiba-tiba. Karena sebelumnya aku tidak menyangka dia akan menemuiku di rumahnya Fizah.


"Roti ini aja, ya. Murah."


Aku mengangguk saja.


Fizah membawa satu bungkus roti dan dua sachet susu cokelat, juga satu botol besar air mineral. Di kasir, dia mengeluarkan selembar uang lima puluh ribu dari saku roknya.


Kemudian, kami pergi mencari musala terdekat.


"Tempat terbaik saat kita susah adalah rumah Allah, Ratna." Begitu katanya. Dia pun kelihatan susah lelah.


Kami masuk ke wilayah kampung. Masuk gang. Siapa tahu ada musala warga. Tak lama kemudian, kami melihat ada orang memakai peci masuk ke masjid. Kami pun segera melaksanakan kewajiban sebelum rembulan menggantikan fase.


"Belum ada mega. Kita bisa salat. Cepetan!" kata Fizah.


Tapi, ternyata setelah di ke kamar mandi. Dia bilang sedang uzur. Dialah yang kemudian berjaga di teras musala. Aku mencoba berani menuju ke kamar mandi. Kata Fizah di rumah Allah pasti aman.


"Ya Tuhan, dosaku seluas samudra, tapi luas angkasa adalah perempuan kasih-Mu. Ampun semua dosa-dosaku, Tuhan. Aku malu. Malu." Aku membatinkan itu berulang-ulang sampai kudengar kemudian Fizah berbisik dari pintu, menyuruhku cepat-cepat melipat mukena. Spontan aku berdiri.


"Kita pergi dari sini, Ratna."


Kuletekkan mukena ke tempatnya tadi.


"Kenapa, Zah? Apa ada mereka berdua?" Aku mulai gupuh. Kuambil tas dan roti tadi.


Fizah memegang lenganku.


Aku mencoba mencari di mana Pak Su dan Hakim, tapi yang kutemukan justru bukan mereka.


"Aku tidak mau bertemu dengannya, Ratna. Ayo kita pergi dari sini."

__ADS_1


Aku bisa menangkap kekesalan itu. Tapi, kenapa Fizah bisa sampai demikian?


__ADS_2