
*Ibban Nizami
Aku memperlama percakapanku. Aku mengulurnya sampai sepuluh menit. Saat ibuk pamit akan menutup telepon, aku mengajukan tema lain. Termasuk rencana booking wedding organizer. Kulirik pria itu seperti sebal. Lalu, tak lama kemudian dia ke penjual membayar makanan dan minumannya. Sekali lagi dia menatapku. Masih berharap aku menyudahi dan berbincang-bincang lagi dengannya. Dia pergi. Aku pun menutup teleponku.
Pemilik warung mendekatiku sembari mengangsurkan piring.
"Dia langganan sini, Pak. Dia kolektor. Saya lihat tadi dia pegang-pegang keris itu, ya?" Dia menatap keris yang kupegang dengan tangan kiri.
Aku memasukkannya ke saku celana.
"Iya, Pak. Kenapa ya?"
Penjual malah duduk. Terlihat akan menyampaikan beberapa hal yang agak panjang. Aku mengikutinya.
"Tadi kebetulan dia ngobrol sama saya. Dia bilang Dalang Jatmiko sedang mencari keris. Ya entah diberitahu atau dia tahu karena mencari tahu, Pak."
"Ada sayembara atau gimana?"
"Kurang tahu ya kalau itu. Tadi tidak ngomong."
"Kalau menurut saya ya karena Dalang Jatmiko kan tersohor. Jadi, kalau ada berita kecil soal Ki Dalang itu, banyak yang tahu. Kalau keris itu sampai dicari-cari, itu artinya keris yang penting. Keris sakral. Bagi kolektor, itu bisa jadi barang berharga yang nilainya fantastis."
"Masuk akal. Terima kasih atas infonya, Pak."
"Ya, Pak. Silakan dimakan!"
Aku mengangguk.
Sekarang aku harus segera menemukan cara. Bagaimana aku bisa menemui Mustika tanpa harus melibatkan bapaknya. Akan sangat lebih baik jika aku mengembalikan keris itu tanpa sepengetahuan siapa pun. Hanya dua orang yang semula terlibat, aku dan Mustika. Maka, hanya kamilah yang harus menyelesaikannya. Aku khawatir masalah akan berbuntut panjang jika bapaknya mengetahui akulah yang membawa. Tapi, jika Mustika sudah telanjur menceritakannya, sudah jelas selama ini Ki Dalang berusaha mengambil keris itu dariku.
Aku tersadar sesuatu. Lalu, apa mungkin seseorang yang mencelakakan Fizah pagi itu adalah tanda peringatan untukku? Bahwa aku diperintahkan agar segera mengembalikan keris itu? Ini cukup masuk akal apabila Ki Dalang tahu Fizah sudah menjadi calon istriku. Dia menggertakku melalui orang di sekitarku.
Tiba di rumah.
Gemericik air pancuran kolam meningkahi semilirnya udara pagi. Melantanglah suara dari arah selatan, bakul sayur keliling yang memecah keheningan telingaku. Lalu, menyusul teriakan ibuk dari pintu garasi mobil dan sepeda. Ibuk berlarian seraya menyuruh bakul itu berhenti. Sekilas aku kepikiran konsep pernikahan yang akan kugelar di halaman rumah ini. Tepat di posisi bakul itu berhenti, aku mencoba memperkirakan di situlah nantinya pintu masuk para undangan. Pintu dari selatan, lalu dekorasi menghadap ke barat. Melintaslah anak kecil di depan pagar rumahku. Kontan aku memanggilnya. Aku kepikiran sesuatu.
__ADS_1
Anak kecil itu menghadapku sembari minum saridele di plastik. Aku bercongkang di depannya. Kurogohkan uang dari saku celanaku. Kebetulan nylempit uang sepuluh ribu satu lembar. Kuberikan pada dia. Mukanya berubah riang. Aku menghalaunya saat dia langsung hendak pergi setelah mengantongi uang itu tanpa berterima kasih.
"Kakak minta tolong bentar aja."
"Apa?" tanyanya jutek.
"Temui Mbak Wardah, ya. Temui di rumahnya. Kamu bilang kalau ada yang ingin bertemu dia di angkringan dekat jalan raya. Tapi, kamu nggak usah ngasih tahu kalau Kak Nizam yang nyuruh. Paham, kan?"
"He.em."
"Ingat, ya. Jangan bilang lo, ya. Beneran?"
"Bener."
"Bilang ke Mbak Wardah ketemunya habis angkringan buka. Makasih, ya, Comel."
"He.em, Kak." Dia pergi.
Semoga saja dia bisa melipir tanpa ada yang tahu. Biarlah aku diam-diam menemui wanita yang sudah bersuami. Lagipula ini masalahnya sangat mendesak. Hanya dengan dialah aku harus menuntaskannya.
*Wardah Mustika Rahayu
Dian menyuruhku mendekatinya. Aku beranjak. Dia memintaku mendekatkan telinga. Dia berbisik, "Ada itu... ada yang mau ketemu Mbak Wardah."
"Siapa? Ketemu di mana, Di?"
"Angkringan."
"Angkringan pinggir jalan?"
"He.em."
Dia pun berlari menjauh. Padahal, aku belum sempat tahu siapa yang menyuruhnya menyampaikan ini. Siapa, ya? Dia juga tidak mengatakan jam berapa aku harus menemui orang itu. Aku kembali menyelesaikan cucianku yang tinggal pembilasan saja.
Aku memutuskan segera berangkat. Mumpung rumah sedang sepi. Perkiraan bapak dan Kang Darya pulang agak lama. Ibu mungkin sebentar lagi. Aku menitipkan pesan di selembar kertas yang kutempelkan di atas kulkas. Rumah kututup semua, kecuali jendela. Kutaruh kunci di bawah keset seperti biasanya. Aku segera pergi. Aku sengaja memilih jalan kaki agar tidak dikira sedang pergi jauh. Kalau pun aku harus beralasan nantinya, akan kukatakan aku baru keluar membeli susu. Kebetulan susuku memang sedang habis.
__ADS_1
Aku menghela napas. Dimana posisiku sekarang menjadi lebih sulit. Setelah perang panas waktu itu, beberapa hari setelahnya aku dan bapak harus berperang dingin. Saling mengabaikan. Baru tiga hari inilah kami mulai terbiasa berbicara lebih santai. Tapi, setelah bapak murka karena keris itu tidak berada di tanganku, bapak sepertinya sedang merencanakan sesuatu seperti yang bapak katakan sebelumnya.
Aku akan berjalan sekitar satu kilo menuju angkringan. Untungnya aku sudah terbiasa berjalan jauh. Meski gerak-gerikku sekarang terbatas mengingat kehamilan mudaku ini, aku tidak berani berjalan jauh jika lebih dari itu. Aku berjalan santai dengan sangat hati-hati. Begitu aku sampai di sana, sudah jelas angkringannya belum buka. Masih setengah jam lagi. Terpaksa aku harus menunggu di salah satu dari belasan kursi yang tidak pernah diringkasi meski angkringannya tutup.
Pintu harmonika warung dibuka separuh. Aku menoleh ke belakang. Dan, tak lama kemudian aku mendengar ada orang uluk salam dari arah depanku. Aku menoleh padanya.
"Ya waalaikumsalam. Mas Nizam to yang mau ngajakin aku ketemuan? Atau, kebetulan aja ini?"
"Iya. Sory bikin kamu penasaran. Ini penting, Tik."
"Gak papa, Mas. Penting gimana, ya, maksudnya?"
"Gak enak ngomongnya di sini."
"Tapi, belum buka itu. Di sini gak apa-apa kali, Mas."
"Nggak bisa, Tik. Ini privasi banget. Hanya kamu dan aku yang tahu."
"Lha kenapa cari tempat yang ramai?"
"Kamu sudah bersuami."
"Wooo ya ya."
"Sebentar."
Kuikuti langkahnya pergi. Dia meminta izin supaya diperbolehkan masuk ke angkringannya dulu. Awalnya permintaannya ditolak, tapi dia memohon agar diperkenankan. Kami pun bisa masuk sebelum warung dibuka. Sebenarnya hanya kurang beberapa menit.
"Mau bicara apa, Mas?"
"Aku minta kamu jawab dengan jujur."
"Ya. Ya aku pasti akan jawab jujur kok. Kenapa? Ada apa?"
"Apa alasan kamu yang sebenarnya saat kamu ngasih aku patrem ini?" Seraya kuletakkan patrem itu di meja.
__ADS_1
"Mas Nizam orang baik. Itu hadiah buat Mas Nizam."
"Oke. Aku anggap ini emang jujur..."