FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 44 "Seumpama Berlian"


__ADS_3

*Ranaa Hafizah


Sebelum berangkat ke pasar Ratna masih mengeluh sama. Perutnya terasa kencang. Pagi ini dia harus mandi menggunakan air hangat. Ibuku yang menyiapkannya di tungku sebelum subuh tadi. Hari ini dia kularang pergi ke mana-mana. Jika dia kutawari pergi ke pasar, dia pasti tidak akan mau. Setelah mandi, dia kusuruh berjemur di depan. Itu pun dia tidak bersedia. Dia sama sekali tidak ingin dipertanyakan orang setelah pembicaraan dengan Mbah Sinem kemarin.


Sementara, aku dan ibuku masih di dapur menyiapkan keperluan ibu. Sebentar lagi aku dan adikku berangkat.


"Kalau sudah aku bawa dulu ke pasar, Buk."


"Ratna tidak diajak?"


"Dia malu ketemu banyak orang, Buk. Perutnya juga masih sakit."


"Dia kenapa to?" tanya ibuku seraya meletakkan tumbu ke pinggulnya. Nanti akan diletakkan di sepeda motor butut peninggalan ayah yang telah dimodifikasi menjadi motor becak. Satu-satunya kendaraan yang menyelamatkan kaki ibu dari rasa pegal-pegal setelah berjalan jauh.


"Kecapean saja, Buk."


Aku pun melakukan sama. Kubawa rinjing berisi buah jambu. Aku yang membawa buah yang dipanen ibuku kemarin lusa dari kebun belakang rumah. Meski tanahnya tidak cukup luas, tapi ada beberapa tanaman yang buahnya bisa berbuah setiap waktu. Ada juga salak, jambu biji, pisang kepok, dan pepaya. Lalu, di depan rumah ada satu pohon alpokat yang sudah tumbuh besar, tetapi belum pernah berbuah.


Tanaman itu memang ditanam di tanah milik sendiri. Walaupun kami miskin, setidaknya dulu bapak telah memperjuangkan tanah ini untuk bekal masa depan anak-anaknya jika menikah nanti, katanya. Sebelum nantinya dijual, tanah dimanfaatkan dengan ditanami buah buah yang sekiranya dapat dijual sesering mungkin. Lumayan untuk tambahan rizki.


Ibuku selesai menata barang bawaan ke motor.

__ADS_1


Adikku keluar rumah. Masih berusaha memakai kaus oblongnya.


"Sudah selesai, Buk?" tanyanya dengan nada kasar. Begitulah dia. Aslinya dia anak yang nakal. Masih ingin bermain-main dengan anak-anak lainnya. Tetapi, ya siapa lagi yang akan mengantarkan dan menemani ibuku kalau bukan dia. Dia kepepet keadaan. Memang benar dia kehilangan masa bermainnya, tetapi itu bisa membuatnya menjadi semakin lebih mengerti.


Sebetulnya aku bisa menggandeng ibuku dengan motor itu. Tetapi, aku pun juga sengaja menyerahkan tanggung jawab itu kepada adikku. Aku tidak ingin dia nakal seperti dulu. Masih mending sekarang dia bisa diajak bicara, disuruh juga. Dulu dia sering membuat masalah dengan kawan-kawannya, entah berkelahi atau pergi tidak pulang-pulang. Dan, kalau sudah keenakan tidur, dia bisa menikmati tidur itu hingga sepanjang hari lamanya.


Karena adikku sudah putus sekolah, tidak mau sekolah lagi, dia setiap memang harus pergi ke pasar. Berangkat dan pulang bersama ibuku, lalu selama


"Sudah." Ibuku menatapku. "Nanti kamu nyusul, yo, Nak. Ibu berangkat dulu. Sepedanya ada di belakang rumah. Kalau sudah bersih-bersih, nanti kamu berangkat dengan Mbakmu yo."


Yang dimaksud ibuku ialah sepeda yang kugunakan dulu sewaktu masih duduk di bangku sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Sepeda masih layak pakai meskipun lebih reyot daripada milik mbakku yang aslinya itu malah milikku. Sepeda baru yang pernah mendiang bapak belikan ketika aku juara kelas diambil alih oleh mbak. Bergantilah kepemilikan itu sampai sekarang. Aku dan mbak nanti akan ke pasar naik sepeda itu.


Adikku menyalakan bentornya. Aku pergi setelah mereka menghilang dari pandanganku.


Aku masuk.


"Mbak?" Kudengar masih ada orang menumpahkan air dari gayung. Berarti mbak masih mandi. Aku sendiri sudah mandi setelah Ratna tadi.


Kubuka pintu kamarku. "Ratna, kamu nggak apa-apa, kan, kalau di rumah sendirian?"


Yang kutanyai masih melamun. Memeluk bantal yang dipakai tidur tadi malam. Pelan-pelan rembesan air dari sudut matanya menjadi deras. Tetapi, pandangannya masih lurus sama.

__ADS_1


Aku menutup pintu, lalu membelakanginya. Aku menyandarkan punggung ke tembok. Memejamkan mata. Aku tidak tahu bagaimana caranya memberitahu Ratna. Tetapi, lambat laun bayi di kandungannya akan terus membesar. Dan, dia pasti akan tahu itu. Saat ini, dia belum menyadari bahwa berhentinya siklus menstruasinya adalah karena dirinya tengah mengandung. Ya, aku mengerti itu ketika ada salah seorang pegawai kolong sampah yang terpaksa menggugurkan kandungannya setelah dia menyadari keterlambatan siklus datang bulannya.


Ketika suatu hari nanti Ratna tahu dirinya hamil, apakah dia juga akan menggugurkan kandungannya? Dan, jika kandungan itu telah berusia 120 hari, bukannya janin itu telah ditiupkan ruhnya? Artinya, itu sama saja dengan membunuh kehidupan manusia yang tidak bersalah. Aku harus mencegah itu sebelum terjadi. Aku harus mengatur cara untuk segera memberitahukannya pada Ratna. Lamunanku buyar.


"Zah, aku berangkat nanti aja. Kamu ke pasar aja dulu. Kali aja Kak Dosen ke sini." Dia ngacir ke kamarnya sambil mengoyak rambutnya yang basah. Bersiul-siul kemudian.


*Ratna


Fizah pamitan padaku. Dia menutup lagi pintunya sebelum aku membuka mulutku untuk merespons. Salamnya kujawab dalam hati. Aku bangkit untuk mengunci pintunya.


Tak lama kemudian, aku dengar seseorang berteriak seperti orang kesetanan. Kupikir mereka siapa juga datang ke rumah orang sambil mengacau begitu. Aku tidak jadi duduk. Aku membuka pintunya sedikit.


Di seberang pintu, ada orang-orang seperti preman menggedor-gedor pintu. Denyut jantungku bertabuh kencang. Pintu segera kututup rapat-rapat. Aku menguncinya. Aku menubruk bantal.


Aku mendengar suara di luar semakin kacau. Setelah ditanggapi saudaranya Fizah, preman-preman itu malah seakan disulut api. Ternyata mereka itu penagih utang. Entah siapa yang berutang. Tetapi, saudaranya Fizah hanya menjawab tidak punya uang. Dia belum bisa membayar dan akan berjanji membayarnya setelah punya uang nanti. Daun pintu digedor. Aku menutup telingaku. Aku juga tidak tahu sudah berapa lama utang itu ditunggak sampai-sampai mereka mengancam akan membawa salah satu barang berharga di rumah ini. Saudara Fizah pun berteriak histeris. Entah apa yang dibawa mereka kemudian. Dia mengaduh kesakitan. Keluarlah kata-kata kotor dari mulutnya. Tetapi, kedengarannya dia sudah tidak melawan.


Tiba-tiba ada suara pria yang menyambung. Suara itu masih belum jelas di telingaku. Aku bangkit untuk menguping. Dan, aku seperti mengenal suara itu.


Mereka terlibat pembicaran. Sepertinya pria itu membayar utangnya saudara Fizah. Televisi itu dikembalikan. Dia membawa saudara Fizah ke dalam. Kubuka pintunya. Kubungkam mulutku karena yang datang adalah Pak Nizam. Dia sedang berpelukan dengan saudaranya Fizah.


"Ada hubungan apa mereka?" batinku.

__ADS_1


Saudara Fizah mengaku tidak akan mengulangi lagi kesalahannya. Dia tampak diperhatikan oleh Pak Nizam. Dia diantarkan ke poskesdes karena tubuhnya ada yang terluka. Kedatangan Pak Nizam tepat waktu sekali saat ada kekacauan seperti ini. Aku curiga mereka punya hubungan spesial. Saudara Fizah ditawari kuliah. Hanya saja dia enggan dan malah membahas perlakuan ibunya yang membedakan dirinya dan Fizah.


__ADS_2