FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 8 “Suara Burung Rek”


__ADS_3

⚠️ PART INI MENGANDUNG BANYAK KIASAN.


Tak akan mungkin aku mendadak menjadi bodoh dengan menuruti wewenangnya yang hanya akan berlaku semalam ini. Susah payah aku sekolah dan berjuang mendapatkan nilai sempurna materi agama.


“Semoga kamu akan selamat dari kematian.” Kalimat itu terdorong keluar.


“Apa maksudmu?” Temaram lampu masih bisa memperjelas mimiknya yang mendadak kaget aku berkata begitu. Seketika tumpuan kakinya diturunkan.


“Kudengar jika ada gagak bertengger di atas gubuk ini, akan ada salah satu penghuninya yang mati. Mati mengenaskan.” Aku mengupayakan ekspresi seserius mungkin.


Dia langsung memasang telinga. Ya memang ada suara burung sebagai pertanda kematian, katanya. Aku hanya tiba-tiba ingin mengarang cerita untuk mengelabuinya.


“Bapak masih punya keluarga?”


“Tidak penting. Kau masih saja percaya pada mitos.”


“Dan, saat orang itu sudah mati, dia hanya akan dipocongi, Pak. Jika tidak akan keluarga yang mendoakannya, sedangkan selama di dunia dia berbuat dosa, dia akan selamanya tersiksa dalam kubur. Mengertikan sekali, ya,” kataku kemudian. Lebih serius.


“Cepat ganti pakaianmu! Aku sudah membayar tinggi untuk malam ini.”


Aku agak mendekatkan wajah. Aku berkata setengah mendesis, “Pak, jika kamu mati malam ini, saya mengucapkan bela sungkawa, Pak. Karena saya mencium aroma kematian dari ruangan ini. Kupikir itu Bapak.” Semakin mengarang tidak jelas.


Semakin aku serius bicara, mimik pria itu berubah mengkerut. Jika dia masih takut mati, alamiahnya dia tidak akan datang ke kolong sampah ini.


“Apa kau seorang cenayang?”


“Ya. Dulunya aku cenayang. Aku pernah tersohor pada masanya. Lalu, aku berhijrah.” Agaknya aku sedikit ingin tertawa. Kenapa juga aku bisa membual di tengah rasa takutku.


“Tapi, kau masih muda.”


“Bagaimana kalau sebetulnya aku adalah perempuan yang punya kekal kecantikan? Apa itu bisa dipercaya?” Bualanku semakin ada-ada saja.


“Hidup ini sudah terlalu modern untuk dijejali bualan tidak masuk akal.” Dia memangkas kekhawatirannya.


Lantas dia menggeser posisi. Dia mendekatkan wajahnya. Dari situ, aku dapat mengedus bau alkohol menyengat bercampur aroma musk dari badannya. Aku berdebar ketakutan.


“Kita lakukan perjalanan malam ini. Gurun pasir itu sudah pasti panas. Akan membuat kita kelelahan. Aku akan menawarkan minuman untukmu.”


Tubuhku bergetar. Perlahan-lahan kujauhkan kepala untuk melawan arus di depanku. Sekonyong-konyong dia menubruk lantai. Tubuhnya mengejang. Dia terkena serangan jantung mendadak atau apa aku juga tidak mengerti. Aku meninggalkannya begitu saja. Yang jelas kemungkinannya dia tidak akan meninggal. Aku segera kembali ke bilikku. Terbirit-birit menghindari lalu lalang yang padat di tengah alunan musik mengadu.


Setelah dari sana, aku menuju kamar mandi. Tempat pertama yang akan selalu kudahui. Aku mandi. Kadang saat aku membau tubuhku sendiri, aku mengedus aroma tidak sedap dari badanku. Bahkan, setelah aku menggosok-gosokkan sabun ke seluruhnya, itu tetap saja tidak mampu menetralkan aromanya. Ada apa ini? Aku beroncet-roncet mengguyur semuanya dengan cepat. Aku tidak akan lama-lama atau pegawai lain akan berteriak marah-marah.


Seperti biasa, aku akan selalu memakai kain panjang. Seluruh perhiasanku terlalu berharga untuk direnggut begitu saja. Kuhampiri Ratna yang tengah mojok seperti orang tidak waras. Aku masih punya jatah makan untuk nanti malam, sedangkan aku tidak lapar. Aku membawanya untuk Ratna.


Aku duduk bersila di depannya. “Ratna, aku akan menceritakanmu sesuatu. Aku merasa aneh, Ratna.” Seraya kubuka nasi bungkus di tanganku.


Aku akan menyuapi Ratna yang tidak mau makan selama berhari-hari.


“Ratna, sambil makan, dengarkan aku bicara, Ratna!” Aku memberinya aba-aba untuk mendongak, lalu membuka mulutnya.

__ADS_1


Tapi, Ratna menggelengkan kepalanya.


“Lihatlah tubuhmu yang kurus! Kamu makhluk paling cantik yang pernah kutemui di dunia nyata.” Aku sebetulnya tidak yakin. Dengan rayuanku ini, dia bisa tersenyum.


“Justru jika aku sakit-sakitan, aku tidak akan lagi dibutuhkan di sini. Aku akan ditendang. Itu yang kumau, Fizah.”


“Itu dzalim, Ratna. Ada cara selain itu. Aku tidak mau kamu menyakiti diri sendiri.”


Dia mendongak. Memperlihatkan matanya yang merah. Tidak ada lagi mata bening. Sekali lagi cantik itu membuka luka.


“Tetaplah makan. Setelah itu, berpura-puralah sakit.”


Dia membuka perlahan. Satu sendok tak penuh masuk ke lubang mulutnya. Gigi kelincinya terbenam di antara kedua lapisan merah di bibirnya. Dia mengunyah dengan sangat hati-hati.


“Tadi aku berhasil. Tidak ada perjalanan menelusuri gurun. Tadi, aku meninggalkannya dalam keadaan sekarat. Mungkin serangan jantung setelah aku menakut-nakutinya kalau dia akan segera mati.”


“Lalu?” Ratna antusias. Gerakan mengunyahya mendadak cepat.


“Aku tidak tahu.”


“Fizah, aku bisa melihat sesuatu yang berbeda dalam dirimu.”


“Maksudmu kamu percaya aku bisa meramal seseorang?”


“Bukan. Lihatlah dirimu sekarang, Fizah!”


“Kenapa?”


“Apanya yang spesial?”


“Aku juga pernah meminta tetap memakai kain panjang. Tapi, kamu lihat bagaimana aku sekarang, kan? Kamu diperbolehkan. Saranku, kamu harus lebih berhati-hati padanya. Aku takut dia lebih brutal daripada Pak Su.”


Dia memegang tanganku yang menggantung di depan mulutnya.


“Kamu harus berjanji demi aku.”


Aku terus menatapnya.


“Hanya jodohmu yang berhak memiliki semua perhiasanmu. Jaga baik-baik. Jangan bodoh sepertiku. Tapi, aku tidak yakin di luar sana masih ada laki-laki yang baik. Setelah setahun di sini, aku nyaris tidak punya kepercayaan pada semua laki-laki.”


Kadang aku berpikir senada. Namun, aku belum memikirkan soal pendamping hidup. Sejauh ini aku fokus memikirkan cara untuk menghindari malam-malamku dan cara untuk melarikan dari sini, tanpa meninggalkan konsekuensi terburuk yaitu dikenal orang sebagai kupu-kupu.


“Fizah, aku sekarang sudah tidak peduli lagi bagaimana orang akan mencercaku. Kenyataannya aku sudah melakukan perbuatan paling terlarang.”


Kupegang kedua pundaknya. “Kamu tidak pernah menginginkan itu. Rahmat Allah itu lebih luas daripada lautan kesalahan manusia.”


“Aku tidak seperti kamu, Zah. Aku sudah sangat mengerikan. Kamu tahu sendiri, kan, bagaimana keadaanku kemarin. Keruntungan perempuan yang ada di sini adalah jika mereka tidak pernah masuk ke dalam ruangan itu. Hanya orang yang paling tidak disukai yang akan mendapatkan balasan Pak Su.”


“Kenapa cantikmu malang sekali, Ratna?” batinku.

__ADS_1


“Bagaimana caranya kamu menghidar, Ratna? Bukannya ini sudah termasuk lama? Dan, kamu perempuan yang paling cantik di sini.”


“Aku...”


Aku memandangnya serius.


“Aku selalu membangkang.”


“Semudah itu? Kupikir dengan membangkang malah akan membuat mereka menjadi-jadi.”


Dia membelakangiku. Menyuruhku untuk menyibakkan rambutnya yang berantakan. Menyuruhku membuka kainnya hingga dapat kulihat bekas-bekas luka yang telah pudar. Lagi-lagi realita ini menyayat ulu hatiku.


“Begitulah kenyataannya.” Dia kembali menghadapku.


“Ini bukan luka senjata tajam.”


“Tapi?”


Kami membeku. Kupandang mata itu sedang berbicara. Aku ingat manusia ulat bulu dan manusia pematuk itu.


“Kamu dipaksa?”


“Pasti selalu seperti itu.”


“Aku tidak habis pikir, Ratna. Mereka jahat sekali padamu.”


“Benar katamu. Cantik itu luka. Aku pernah ditawar dengan harga sangat tinggi, tapi aku tidak pernah sudi. Aku tahu persis tempat ini sudah sangat terkutuk.” Dia seperti sedang menyumpahi.


“Ikuti caraku dengan berpura-pura sakit-sakitan jika ingin segera keluar dari sini.”


“Aku memang sudah janji pada diriku sendiri. Suatu saat aku akan membawamu keluar, Ratna. Lalu, kamu bisa pulang membawa rindu untuk keluargamu.”


“Aku ini dipungut dari jembatan. Entah bagaimana rupa kedua orang tuaku. Aku pernah berpikir, mungkin aku terlahir dari sebuah kesalahan.”


“Kamu jangan berpikir seperti itu, Ratna.”


“Aku dipungut sepasang suami istri. Mereka menganggap aku perempuan yang sangat cantik. Mereka sangat memanjakanku. Aku harus bisa ini itu. Memasak, menyanyi, bermain piano, juga menari.”


“Kamu bisa semuanya?”


“Ya.”


“Beberapa hari yang lalu, aku juga sempat dipaksa menyanyi. Hanya itu yang kulakukan semalaman.”


“Itu lebih baik daripada kamu bersedia menjadi penawar dahaga orang yang kehausan. Perjalanan ke gurun sangat melelahkan, menguras semua energi positifmu. Jiwa dan ragamu bisa sakit jika kamu tidak benar-benar rela. Setelah itu, kamu hanya akan merasa seperti anai-anai. Terombang-ambing jika diembus angin.” Dia sedang menganalogi dirinya sendiri.


“Lalu, kenapa kamu bisa dipungut di jembatan?”


“Aku sudah lupa semuanya. Seolah-olah aku mendadak hidup di suatu zaman. Begitu aku sudah sadar, aku tidur di ruang ini. Sebatas itu yang kuingat.”

__ADS_1


Hari demi hari berlalu. Berjumpa dengan awal bulan September.


__ADS_2