FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 204 "Keping Cinta"


__ADS_3

*Tsaniya Tabriz


Setelah merenungi perkataan tiga tamu yang menyinggung rumah tangga tadi, aku pun kepikiran kehidupanku selanjutnya. Terutama sebulan lagi. Berapa banyak orang yang akan bahagia dan orang yang justru akan menyayangkan keadaannya? Jika Mas Nizam ternyata melanggar janjinya, apakah sebetulnya dia juga menginginkan segera berputra? Alquran yang kupegang belum juga kubuka.


Sejurus kudengar Mas Nizam memanggil. Denyar-denyar itu kembali muncul ketika dia memanggilku. Atau, saat dia mendekatiku seperti ini. Aku tak bisa mengatakan kalau sebenarnya aku memang sedang merenungkan perkataan Bu Katmi, Bu Marni, Bu Situn. Degup jantungku pasti akan mengencang dengan sendirinya. Bulu kudukku berdiri. Perasaan semacam ini kerap kali terjadi setelah malam kedua itu. Di malam keenam ini, entah apa yang akan terjadi.


Tiba-tiba dia berdiri di tengah pintu tanpa mengucap salam. Nyut! Jantungku melompat. Aku refleks mengucap istigfar lirih. Segini takutnya saat aku berada satu kamar dengan suamiku sendiri. Apa yang ada di pikiranku? Aku menggeser posisi duduk sampai ke pojokan kasur. Kebetulan kasurnya tidak beranjang. Ini pun juga hanya kasur kapuk yang tidak terlalu tebal. Dia melirikku sembari tersenyum. Lalu, duduk bersila di depanku.


"Mas?"


Dia meraih Alquranku sebelum aku memberikannya.


"Iya, Tuan Putri?"


"Aku boleh nanya?"


"Sebentar. Kenapa kamu jadi takut denganku? Kelihatannya kamu nggak nyaman gitu. Hmm?"


"Mas, aku cuman mau nanya."


"Oke oke. Nopo, Ning?"


"Apa Mas Nizam sebetulnya ingin segera punya anak?"


"Oh, itu...emmm..." Dia tersenyum.


Dia meletakkan Alquranku di bantal di sampingnya. Dia meraih kedua tanganku. Nyut! Getarannya merambat hebat. Aku menunduk segera. Aku tidak berani menatapnya.


"Nggak apa-apa, kan, aku pegang begini. Nanti aku wudu lagi aja. Coba lihat aku!" Dia menyentuh daguku. Mendongakkanku pelan-pelan.


"Ning, aku minta maaf. Tapi, kalau aku boleh jujur, aku selalu terpesona. Apa yang pernah aku katakan dulu untuk merendahkanmu, semuanya menyadarkan aku. Kenyataannya tidak seperti itu."


"Lalu? Yang tadi, Mas?"


"Ya itu alasannya. Karena kamu cantik." Dia tersenyum kikuk. Melepaskan tanganku.


"Jadi, bukan karena Mas Nizam pengen cepat punya momongan?"


"Aku terserah kamu. Tapi, Mas minta tolong, ya. Jika bulan depan ternyata memang positif, kamu nggak marah kan? Bisa legowo? Apa aku perlu hafalan juga? Nanti kita insyaallah kuliah bareng. Kamu jadi mahasiswi, aku dosennya. Ngurus anak dan rumah bareng-bareng. Kalau belum, ya berarti sesuai harapan kamu. Kita juga masih bisa pacaran. Ada Mbak ndalem juga. Sudah nggak usah dipikir berat-berat. Dibikin enjoy aja. Biar nggak cepet tua."

__ADS_1


Bising suara jantungku memelan perlahan. Dia berhasil membuatku menjadi setenang mungkin. Mas Nizam mulai mendekatiku. Menepi di pojok hingga begitu dekat denganku. Dia merebah begitu saja di pahaku.


"Bentar, Mas."


"Kenapa?" Dia mengangkat kepalanya.


Kuselonjorkan kakiku.


"Oh." Dia kembali mencari posisi paling nyaman. Telentang berbantalkan pahaku.


Tapi, aku tak bisa bergerak leluasa. Bingung harus meletakkan kedua tanganku di mana. Dia menyahut tangan kananku. Menautkan sepuluh jarinya ke jariku. Diletakkan di dadanya. Berdendanglah dia. Katanya, lagu itu berjudul nasamatu hawak.


نَسَماتُ هَواكَ لهَا أَرَجُ ... تحَيا وتعِيشُ بِها المُهَج


Semerbak wangi hembusan cinta kasihmu (Nabi Muhammad), membangkitkan hati dan menghidupkan jiwa.


ما الناسُ سِوى قَومٍ عَرَفُوك ... وغَيرُهُمُ هَمَجٌ هَمَجُ


Sekelompok manusia ada yang selalu mengingatmu (Nabi Muhammad), sebagian yang lain hina dina sebab berpaling darimu.


Allah, Allah, Ya Allah


Manusia datang ke dunia dalam keadaan fakir miskin, Begitupun saat pergi meninggalkan dunia juga dalam keadaan fakir miskin.


"Ini lagu kesukaan Ibuk. Ibuk itu suaranya bagus. Di jamaah yasin tahlil, Ibuk selalu jadi bilalnya."


"Sebagus apa? Dulu juga qori'ah seperti Mas Nizamkah?"


"Ooo nggak. Ibuk dulu nggak ngerti musabaqah. Kemampuan seni suara ibuk terbengkalai. Maklumlah orang dulu nggak ngerti bagaimana caranya mendukung bakat anak. Tahu anaknya bisa ngaji dan masak itu sudah cukup bagi anak perempuan."


"Tapi, akhirnya kemampuan itu menitis pada anak laki-lakinya."


"Nanti akan menitis pada keturunan kita juga."


Aku tersenyum getir. "Apa pun keburukan kita berdua semoga tidak akan pernah menitis pada anak kita nanti," batinku.


"Kamu jangan takut, ya, sama aku. Oh iya wajahnya jangan dibikin cantik gitu dong. Nanti aku kepincut lagi gimana?" Dia melirik ke atas.


Nyut! Pipiku terasa hangat. "Sudah dari sononya, Mas."

__ADS_1


"Karena kalau kamu cantik terus..."


Dia duduk. Mendekatkan wajahnya. Aku ingin memejamkan mata dan memalingkan wajah. Cup! Bunyi yang menggetarkan seluruh tubuhku. Dia berhasil memagut pipiku. Tubuhku tak berdaya dalam sekejap. Aku segera tersadar. Aku masih tidak berani membalas tatapannya. Aku khawatir tidak bisa mengendalikan diri.


"Pipinya merah gini?" Dia menertawakanku.


"Nggak nggak. Aku nggak akan ngapa-ngapain."


Pagi-pagi sekali aku harus bangun untuk melakukan kewajiban sebelum salat subuh. Tak terasa sudah dua malam aku ada di sini. Kamar mandi terpisah dengan kamar. Aku keluar sembari berjalan mengendap-ngendap. Malu jika sampai dipergoki ibuk mertua setelah mandi sepagi ini dalam keadaan rambut basah. Ternyata ibuk mertua masih berzikir di ruang salat yang ada di belakang. Berjejeran dengan kamar mandi, satu tempat dengan dapur.


Kusempatkan menyapa ibuk setelah salat jamaah subuh dengan Mas Nizam. Aku ingin membantunya, tapi ibuk mertua justru tak enak hati mempekerjakanku di dapur yang katanya kotor dan berantakan. Padahal, itu hanya alasan ibuk mertua saja.


"Ibuk ndak enak hati, Nduk. Kamu kan anak orang terhormat. Lebih baik selama di sini, kamu yang rajin-rajin ngaji. Woh iya, Nduk, pagi-pagi begini enaknya jalan-jalan ke pasar. Monggo kalau kamu pengen ke sana sama Nizam. Nizam pasti mau."


"Waduh, Ibuk jangan begitu, Buk. Saya kan juga menantunya Ibuk."


"Sudah, Nduk. Jangan melakukan pekerjaan apa pun. Di sini, kamu hanya boleh cuci piring saja. Yang ringan-ringan. Ndak boleh masak."


Begitu kulihat wastafel, tak ada piring kotor. Dapurnya juga sudah tampak bersih.


"Ibuk setelah tahajudan tadi langsung bersih-bersih dapur?"


Ibuk mertua tersenyum. "Sudah biasa hidup sendirian ditinggal Nizam ya beginilah kehidupan Ibuk. Daripada nganggur. Sedih. Mending bersih-bersih rumah."


"Maaf, Buk, karena permintaan Abah Mas Nizam jadi harus ikut di pesantren."


"Takdirnya Nizam. Harapan Ibuk, semoga hidupnya akan terus berkah karena berdampingan dengan ulama. Dengan orang-orang soleh."


"Matur nuwun, nggeh, Buk."


"Nggeh sama-sama, Nduk. Sudah jangan di sini. Nanti kalau makanannya sudah matang Ibuk panggil kalian."


"Makanan sisa acara sudah habis?"


"Banyak yang dikasihkan ke tetangga-tetangga. Masih sisa sebaskom, tapi sudah basi. Tadi malam Ibuk lupa menghangatkan."


Aku merasa bersalah. Seharusnya tugas kecil yang ibuk mertua lupakan adalah bagianku. Di sisi lain, aku bersyukur dipertemukan dengan takdir yang seperti ini. Tak ada lagi yang berbuat jahat padaku. Tersisalah mereka yang ingin berbuat kebaikan pada diriku yang hina ini.


Bagaimana kabarnya? Sehat terus ya. Selamat membaca 2 eps pengantin baru. Juga selamat hari ibu untuk semua ibu yang ada di sini. ❤️❤️😊🙏

__ADS_1


__ADS_2