
Ibuku memanggilku ketika masih di luar rumah. Langsung turun dari bentor, mencariku ada di mana. Aku melongokkan kepalaku dari sisi bingkai pintu sebelah kiri, menyambut ibuku dengan tatapan terheran-heran. Aku sedang menyapu. Tadi aku dan mbak pulang dulu karena ibuku pamitan akan membelikan sesuatu untuk Ratna.
"Ibu sudah dapat makanannya?"
Ibuku memberikannya padaku.
Tiba-tiba Ratna tadi pagi sebelum aku berangkat berpesan padaku, dia ingin makan soto. Dia sedang ngidam. Meskipun ibuku belum tahu soal kehamilannya, tetapi ibuku berkata akan membelikan jika sudah pulang dari pasar.
Aku mengambil alih dua bungkus soto.
Lalu, ibuku menunjukkan sesuatu yang lain. Ada lembaran uang merah di tangan ibuku. Jumlahnya tiga ratus ribu.
"Uang dari mana, Buk?"
"Tadi ada orang baik tiba-tiba memberikan ini pada Ibuk." Ibuku langsung memelukku.
"Sejak sampeyan ada di kehidupan Ibumu ini, Ibu merasa hidup Ibu merasa terus berkah. Kadang Ibu mendapatkan pertolongan yang datangnya tidak disangka-sangka," kata ibuku.
Bungsu menyahut. "Iya. Dari dulu sampek sekarang, nih, Ibu melulu gitu."
"Harusnya awakmu syukur, Bungsu."
Bungsu mencebik.
Aku paham. Dua saudaraku tidak ada yang suka ketika ibuku memuji diriku. Entahlah apa yang membuat ibuku menspesialkan diriku. Padahal, selama ini aku merasa biasa saja.
Ibuku menarik tanganku. Menyuruhku menggenggam uang itu.
"Ini rejeki sampeyan. Sampeyan harus berangkat ke pondok, Nak. Nilai agamamu dulu selalu bagus."
"Terima kasih, Buk. Aku akan membujuk Ratna lagi."
Esok hari.
Aku benar-benar heran. Masih terbengong-bengong Mas Hakim berani pulang ke desanya. Untung saja Mas Hakim dan Pak Su belum sempat melihatku dan Ratna yang langsung terbirit-birit menjauh, balik arah.
Aku kembali ke rumah. Masuk kamar dan menutup pintunya rapat-rapat.
"Bagaimana, Ratna?"
Aku bisa melihat kekecauan di wajah itu. Ratna sedang tidak tenang.
"Aku akan berusaha mempercayainya. Aku percaya padamu."
Aku senang mendengar Ratna saguh ke pondok."
Tak berselang lama, aku mendengar seseorang mengetuk pintu depan. Dan, aku bisa mengenal persis suara itu milik siapa.
"Siapa?"
Mbak yang keluar menyapa.
"Ngapain lo?"
"Adikmu ada?"
__ADS_1
"Nggak bosen apa dari dulu apel mulu. Ada, tuh, di kamar."
Mbak memandang sinis wajah Pak Su di belakang.
"Siapa dia?"
"Nggak penting. Suruh Fizah keluar."
"Biasa dong kalau nyuruh. Nggak usah kaya orang malak gitu. Bentar!" Mbak lebih nyolot.
"Ratna, kamu masuk duluan ke kolong. Cepat. Aku nggak mau ketemu dengan dia."
Kami terpaksa bersembunyi. Aku tidak sudi melihat wajahnya lagi. Dia sudah merusak masa depanku. Membuatku dikelilingi oleh rasa ketakutan. Apalagi bagi Ratna? Ratna sudah sangat membenci Pak Su. Aku tidak akan membiarkan mereka bisa melihat kami lagi.
"Pak Nizam kapan datang lagi ke sini?" batinku.
"Zah?" Mbak membuka pintu.
"Kok nggak ada?" gumamnya kemudian.
"Nggak ada orangnya," teriaknya kemudian.
"Kamu salah ngajak aku pulang ke rumahmu, Fizah. Nyatanya Hakim pulang dengan pria itu," ujar Ratna sebal.
"Lalu, gimana caranya kamu menyuruh Pak Nizam supaya cepat ke sini?"
Tidak ada yang punya alat komunikasi di rumah ini. Pak Nizam juga tidak meninggalkan nomor yang bisa dihubungi.
"Kita tanya ibuku. Kalau Ibu tahu alamatnya, kita bisa ke sana sama Bungsu."
"Iya. Kita usahakan dulu. Tapi, kita harus pamit dulu sama Ibuku. Ibuku bisa dipercaya."
Kudengar tidak ada suara mereka lagi di depan. Mbak berdendang ke arah luar rumah. Mungkin keluar. Aku membuka pintu pelan-pelan. Memastikan keadaan. Mereka benar-benar sudah pergi. Aku menyuruh Ratna tetap di kamar. Lalu, aku ke dapur menemui ibuku. Ternyata ibuku sedang memanen buah salak di belakang.
"Buk, Ibuk?"
"Apa, Nak? Kenapa? Ibuk di sini."
Tubuh ibuku terhalang pohon salak yang cukup rimbun dan memanjang daunnya.
"Buk, ini mendadak sekali. Tapi, aku mohon Ibuk mengizinkan kami berangkat ke pondok dari ini juga."
Gerak tangan ibuku seketika berhenti. Ibuku berdiri.
"Kenapa terburu-buru?"
"Ibuk, aku mohon. Ibuk tahu di mana rumah Pak Nizam?"
"Ibuk hanya tahunya dia tinggal di Karangrejo."
"Nggak jauh berarti," batinku.
"Buk, di mana Bungsu?"
"Dia ke rumah Bara paling."
__ADS_1
"Gawat. Gimana kalau dia ketemu Pak Su dan Mas Hakim, lalu Bungsu cerita banyak? Aku harus cepat-cepat pergi dari sini," batinku.
"Aku mau pergi dengan Bungsu. Tapi, karena dia nggak ada, aku izin pamit sekarang, Buk. Habis beres-beres baju, aku segera berangkat nyari rumahnya Pak Nizam."
"Sampeyan tidak mau cerita ke Ibuk yo?"
"Ini masalahnya Ratna, Buk. Ngapuntene, Buk."
"Apa pun masalahmu, hadapi dengan berani, Nak. Sampeyan ki istimewa banget bagi Ibuk."
"Buk, tapi aku harap hanya Ibuk yang tahu aku dan Ratna pergi ke pesantren."
Aku mencium tangan ibuk segera. Lalu, kembali ke kamar.
"Ratna, aku pamit. Insyaallah ibuku bisa jaga rahasia."
Ratna sudah mengemasi bajuku. Dia sudah siap. Kami membawa dua tas itu.
"Kita harus jalan jauh?"
"Enggak. Kita tunggu ada mobil yang lewat. Kita numpang kaya kemarin."
Setiba di pinggir jalan, aku mengatakan sesuatu, "Ratna, kamu harus tahu kondisi kamu sebenarnya?"
"Maksudmu?"
"Tapi, kamu harus janji tidak akan berbuat nekat setelah ini."
Dia menatapku aneh. Sedangkan, tangannya posisi memegangi perut.
"Sory sebelumnya. Maaf banget. Kencengnya perut kamu itu karena kamu.. Maaf, Ratna. Itu karena kamu sedang...sedang. Maaf banget. Kamu lagi hamil."
"Jangan bohong kamu, Zah." Matanya menusuk tajam ke arahku. Maju selangkah.
"Jujur aja kalau kamu cuman bohong, Fizah."
"Coba kamu ingat kapan terakhir kamu menstruasi?"
Ratna diam. Tatapannya yang berubah kemudian menunjukkan dia baru menyadari sesuatu. Kepalanya geleng-geleng kemudian. Tangannya lantas mencengkram kuat kedua tanganku. Dia berkata, "Terus ini gimana, Fizah? Gimana?" Suaranya tertahan. Wajahnya merah. Matanya melotot.
Aku hanya bisa bungkam. Aku juga bisa apa.
"Aku nggak mau anak ini, Fizah." Matanya yang melotot pun menjadi berair. "Aku saja benci banget dengan Pak Su. Sumpah demi apa pun, aku ingin marah. Aku ingin teriak yang kenceng. Kenapa Tuhan begini sama aku, Fi-zah." Pelan-pelan tubuhnya Ratna jatuh. Dia tetap memegangi tanganku.
"Kenapa, Zah? Aku salah apa, Tuhan? Kasih tahu aku salah apa? Bahkan, aku tidak pernah ingin berada di tempat terkutuk itu. Aku hanya korban kerakusan orang. Aku amnesia, lalu dimanfaatkan. Aku harus gimana sekarang? Nggak mungkin kita pergi, Fizah." Dia tergugu.
Aku segera menunduk. Berbisik supaya Ratna berdiri. Satu orang yang lewat menoleh ke arah kami.
"Kita bicarakan nanti. Kita harus pergi sekarang. Please, dengarkan aku!" Aku membentaknya dengan suara tertahan.
Matanya seketika mengarah padaku. Tak berkedip. Dia menghapus air matanya, lalu bangkit.
Aku mengajaknya berjalan. Tidak ada mobil pick up yang lewat. Lantas di tengah perjalanan sekitar seratus meter, Ratna mengeluh kelelahan. Peluhnya sudah menggelinding ke pipinya.
Ada motor yang kemudian memencet tombol klakson. Menyuruh kami minggir. Tapi, setelah dua meter dia mendahului posisi kami, motor itu berhenti. Dia membuka kaca helmnya. Menoleh ke arah kami yang berupaya jalan kembali.
__ADS_1