
*Ratna
Wajah di depanku tak berhenti membuatku berpikir ulang. Pikiranku menerawang. Apakah setelah beberapa waktu aku tidak tinggal di sini, ada nama Ratna yang lain? Apa aku juga telah dilupakan? Aku tidak mengenal orang itu. Apakah itu tandanya dia warga baru? Aku nyaris tidak mengharapkan wanita itu mengenalku. Aku tidak dapat mengartikan apa-apa ekspresi wajahnya kini.
Sebelum wanita itu memutuskan pergi, dia sempat memperhatikan wajahku. Kukira ada sesuatu yang aneh dengan wajahku. Aku malah mendadak gusar. Mengira wanita itu curiga aku pernah menjadi perempuan malam. Dan, jika itu benar, tamatlah sudah riwayatku. Pak Su mungkin sudah berusaha mati-matian untuk membalaskan dendamnya padaku. Tapi, wanita itu pergi tanpa meninggalkan sepatah kata usai tahu namaku.
"Kejar, Ratna."
"Orang-orang menjadi aneh. Ibu itu juga, Zah."
Lalu, Fizahlah yang memburu. Dia melambaiku. Aku dan wanita itu berpapasan mata. Bagaimana jika wanita itu pergi karena tahu apa yang kulakukan selama ini? Lalu, dia tidak mau berurusan denganku. Fizah menyuruhku bertanya dengan tatapan matanya.
"Ibu warga baru, ya?" tanyaku setengah ragu.
"Ibu warga lama," jawabnya pun sama. Tidak begitu tegas.
"Jadi, Ibu kenal saya?"
"Setahuku..."
Dadaku mendesir perlahan. Satu dua tiga aku menghitung dalam hati wanita itu akan segera menanyakan sesuatu yang ingin aku hindari. Aku memohon-mohon dalam batin. Cukuplah aku, Fizah, dan Tuhan yang tahu sebenar-benarnya perkara ini.
Aku memandang ke belakang. Maksudnya agar wanita itu mengurungkan niatnya untuk bertanya. Aku mengalihkan pembicaraan.
"Ini rumah saya lo, Bu. Tapi, kenapa jadi gini rumahnya? Papa dan Mama saya di mana?"
"Kamu beneran anaknya Pak Eko?" Tidak begitu terkejut. Tapi, mimik keheranan itu lumayan terlihat.
"Iya, Bu. Beneran. Ratna di desa ini hanya satu. Apakah wajah saya berubah, Bu?" Kupegang tangan wanita itu.
Dia melepaskan tanganku. Tidak suka kupegangi tangannya.
"Kenapa Ibu takut? Saya manusia. Bukan hantu."
Wanita itu membiarkan waktu berlalu beberapa detik. Sengaja mengulur waktu. Aku di sini penasaran menunggu.
Kepingan ingatan menyusup kemudian. Dimana yang terlintas ialah suara sepi di keheningan malam. Sebuah mobil melaju cepat. Penumpangnya sudah terlelap kecuali sopir yang berusaha menahan kantuk. Aku bisa mengenali siapa mereka.
"Pak Eko dan istrinya sudah meninggal. Sudah lama sekali."
Aku mendadak beku. Mulutku terbungkam rapat. Tidak ada sepatah kata selain hanya diam. Mulutku menganga beberapa saat.
"Bagaimana kejadiannya?" tanya Fizah.
__ADS_1
"Ibu tidak tahu gimana kejadian persisnya. Mereka meninggal karena kecelakaan. Mobil mereka masuk jurang. Jenazah mereka ditemukan pada hari yang sama. Kalau tidak salah, kejadiannya pagi. Jenazahnya baru ditemukan setelah isya."
"Arrrgggghhh." Kepalaku mendadak pusing. Selembar demi selembar ingatanku kembali.
Tubuhku nyaris goyah. Melayang sekejap. Wanita itu membantuku duduk di teras rumah seseorang yang pemiliknya juga sedang bepergian.
"Ratna, kamu baik-baik saja, kan?"
"Aku pusing."
"Mbak, Ibu masih bingung kenapa Mbak Ratna ini masih hidup?"
Aku mengerutkan dahi. "Maksudnya bagaimana, Bu?"
"Mbak Ratna, Papa, dan Mama Mbak Ratna dikabarkan meninggal."
Aku mengaduh lagi. Bayang sekelebat mungapung lagi. Sahutan teriakan dua orang perempuan yang mendadak kaget ketika mobil mulai berputar seratus delapan puluh derajat menghindari pembatas jalan. Bayang itu muncul lagi dan lagi. Bersamaan dengan itu kurasakan kepalaku nyeri tidak tertahankan. Aku tidak kuat menahan. Aku pun berakhir pingsan.
"Mbak Ratna?"
*Ranaa Hafizah
Aku dan ibu itu terkejut seketika. Gupuh. Beliau pergi memanggil seseorang untuk menggotong Ratna.
Aku pun teringat ibu. Saat ibu pulang dari pasar berjualan sayur-sayuran, aku sering dimintai memijati tangan dan kakinya. Sejak bapakku tiada, semua beban itu ditanggung pundak ibu. Dua saudaraku yang lainnya tidak bisa terlalu diandalkan sehingga akulah yang lebih dipercaya membantu dan mengurusi pekerjaan rumah selama ibu ke pasar.
"Itu itu di sana," teriak ibu tadi. Beliau kembali bersama dua orang laki-laki.
Aku menoleh. Lamunanku buyar.
Perintah ibu itu menggerakkan kaki dua pria itu menjadi lebih cepat. Sekilas wajah pria salah satunya mengingatkanku pada Pak Su. Mungkin saja Pak Su dan Mas Hakim sedang mencari senjata untuk melawanku dan mengajakku kembali ke sana. Namun, selagi aku masih hidup, aku tidak akan pernah mau datang lagi. Kini, aku lebih memilih menjadi Sumayyah binti Khayyat kedua dalam peradaban yang berbeda.
"Pak, Le, bantu Mbak Ratna?"
Kontan kaki yang dipanggil bapak seketika terhenti.
"Ratna siapa maksudmu?" Menatap lawan bicara.
"Anaknya Pak Eko, Pak. Sudahlah nanti kita bicarakan lagi, Pak."
"Ayo, Le!"
Pria yang lebih tua adalah suaminya. Sedangkan, yang lebih tinggi dan masih muda adalah putranya. Jadi, kupikir mereka orang baik-baik.
__ADS_1
Ratna pun digotong ke rumah ibu itu. Tidak jauh dari tempat tadi. Diiringi langkah tergesa-gesa, kami segera belok ke rumah yang suasananya teduh dengan tanaman-tanaman hias menggantung, termasuk tanaman suruh yang akar-akarnya panjang dibentuk menyerupai kepangan rambut manusia.
"Di sini saja, Buk," kataku.
Mereka meletakkan Ratna di ruang tamu lesehan. Ibu itu pamit mengambilkan bantal. Kuangkat kepala Ratna supaya menggunakan pahaku untuk sementara.
"Terima kasih, Pak."
Suami ibu itu duduk bersila di depan kami. Mata beliau memandang lekat-lekat ke wajah Ratna. Aku yakin dugaanku benar. Ratna sepertinya sudah dianggap tiada. Gelagat orang-orang sejak kami datang tadi, menandakan mereka takut menemui seseorang yang dianggap mirip Ratna. Yang ternyata itu benar-benar Ratna asli yang masih hidup.
"Dia mirip Ratna anaknya Pak Eko. Mereka keluarga yang tertutup, tapi warga sini tahu Ratna anak yang berprestasi. Ayahnya dulu pernah menjadi dosen."
"Nggeh, Pak. Saya baru kenal Ratna belum lama."
"Kenal di mana?" tanya ibu itu.
Beliau meletakkan bantalnya. Mengangkat kepala Ratna, lalu menyuruhku menyisih agar posisi Ratna merebah lebih nyaman.
"Jadi, selama ini kalian pernah bertemu dari mana? Tadi belum kenalan, to, Mbak. Ibu namanya Malikah. Suami Ibu namanya Pak Abad."
"Salam kenal, Pak, Buk. Saya Ranaa Hafizah."
"Mbak Ranaa kenalnya di mana kalau boleh tahu?"
Pertanyaan inilah yang tidak bisa aku jawab. Dan, tidak mungkin aku membohongi.
Ratna meringih kemudian. Aku selamat dari pertanyaan itu. Dia mengerjapkan matanya. Bola matanya mencari sekeliling.
Dia langsung mengutarakan sesuatu, "Saya meninggal? Tapi, saya masih hidup lo, Bu. Ibu lihat saya sekarang! Saya manusia. Mungkin saja selama ini saya amnesia jika kabarnya saya sudah meninggal dalam kecelakaan."
"Ya dulu itu, jenazah yang tidak ditemukan ya Mbak Ratna ini. Dan, rupanya Mbak Ratna masih hidup. Ibu turut prihatin, Mbak. Tapi, ke mana Mbak Ratna selama ini?
"Ya Tuhan." Ratna masih mengeluh pusing.
Aku memijati tangannya.
"Jujur Ibu kaget. Awalnya tidak percaya. Jangan-jangan hanya karena mirip. Tapi, setelah Ibu perhatikan dari tadi, memang sudah sangat mirip. Ke mana Mbak Ratna selama ini? Sejak kabar itu didengar warga, warga sudah percaya bahwa Mbak Ratna tidak mungkin kembali. Mbak Ratna dipercaya sudah meninggal meskipun jenazah tidak ditemukan."
Ratna menghela napas.
"Kenyataan ini jauh dari dugaanku. Kubayangkan wajah papa yang akan menginterogasiku. Lalu, mama yang akan menyayangkan beberapa event perlombaan yang telah kutinggalkan."
Jadi, siapakah putri yang hilang pada episode sebelumnya? šš
__ADS_1