FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 171 "Buntalan Kresek"


__ADS_3

*Ibban Nizami


Perutku sedikit terasa mulas lagi. Juga masih sedikit perih. Napasku pun terasa berat. Biasanya aku minum obat resep dari dokter. Kadang sebagian obatnya yang bisa ditebus di apotek, aku langsung beli sendiri tanpa konsultasi lagi. Tapi, aku belum membelinya dari siang tadi. Kutahan ekspresiku. Jangan sampai perut mulasku membuat mereka menunda perencanaan ini. Setidaknya jangan sampai aku tidak sengaja melepas kentut.


"Ummik pingine endak mung akad thok. Senajan iki dadakan. Yo senajan endak mewah, tapi yen undangane akeh, sing dongakne tambah akeh."


Terjemah: (Ummik inginnya tidak hanya akad saja. Meskipun ini mendadak. Ya meskipun tidak mewah, tapi jika undangannya banyak, yang mendoakan tambah banyak)


Fizah mengangguk.


"Lek sampeyan iyo, iki tanggale Abah duwe rencana tanggal pitulas rejeb. Berarti kui tanggal umume...yo tanggal iki...sek..." Diam sejenak.


Terjemah: (Kalau kamu iya, ini tanggalnya Abah punya rencana tanggal tujuh belas rajab. Berarti itu tanggal umumnya...ya tanggal ini...sebentar...)


"Tanggal 18 Februari. Iyo, Zam?"


Aku sedang memastikannya. Aku pun tidak hafal. Sejurus aku mengiyakan.


"Sampeyan piye, Zam?"


"Enggeh, Bah."


"Sampeyan keberatan opo endak misale direjakne walimahan pisan? Lek penjaluke sampeyan wingi kae mung akad wae. Sederhana. Ngono to?"


Terjemah: (Kamu keberatan apa tidak misalnya diramaikan dengan walimahan sekalian? Kalau permintaan kamu waktu itu hanya akad saja. Sederhana. Begitu, kan?)


"Nggo jogo-jogo penampane masyarakat," tambah bu nyai.


Terjemah: (Buat jaga-jaga pandangan masyarakat)


"Tapi, begini, Bah. Ngapunten, Ibuk nggeh ingin nanti unduh mantu di Banyuwangi. Sekalian nanti Ibuk bisa serumah dengan menantunya. Seminggu dua minggu. Ibuk saya sering sendirian di rumah."


"Yo ndak opo-opo." Abah tidak mempermasalahkan.


Perencanaan awal sudah clear.

__ADS_1


"Soal mahar...hmm...Ning Niya ngersakne nopo (ingin apa)?" Aku bertanya dengan setengah menahan kentut. Bahaya sekali kalau tiba-tiba suaranya mengganggu percakapan penting seperti ini. Kentut itu akhirnya pelan-pelan kembali masuk. Seperti kepala siput yang hendak disentuh.


Abah dan bu nyai serempak menatap Fizah.


Dia sedang memikirkannya.


"Monggo. Terserah Pak Nizam saja."


Kucermati dengan baik. Perempuan dengan kata terserahnya. Menurutku cukup sulit untuk mendefinisikan itu. Menerjemahkannya saja agak ambigu. Kadang ekspresi, kata hati, dan percakapannya bisa jadi tidak sama. Tapi, aku berusaha memahami sekali lagi. Tak lama kemudian, dia berpaling. Kami juga tidak berani lama saling menatap. Tidak baik untuk kesehatan jantung kaum jomblo sepertiku.


"Mahare, Niya gak nuntut, Mas. Sak kersane sampeyan pengen paring opo." Begitu jelas bu nyai.


Terjemah: (Maharnya, Niya tidak menuntut, Mas. Terserah kamu ingin memberikan apa)


Setidaknya kalimat penyampaian itu sharih. Jadi, aku akan memberikannya sesuatu dengan kemampuanku.


*Tsaniya Tabriz


Permintaanku hanya satu. Tapi, aku tidak menjawabnya di depan abah dan ummik. Aku tak ingin mempertanyakan alasanku memberikan jawaban itu. Aku tak menuntut mahar apa pun. Aku tak tergiur dengan emas atau pun berlian. Rumah, apalagi kendaraan. Hanya satu pintaku kepadamu, Pak. Unek-unek lantas kusampaikan setelah abah dan ummik pamit istirahat.


Dia berbicara dengan Kang Bimo. Kang Bimo seperti sedang memberinya sesuatu. Aku menjangkah dua langkah ke depan. Kupegang kayu penyangga. Aku memperhatikan apa yang dibawa Pak Nizam. Posisi Pak Nizam semakin merunduk. Lalu, dia berlari seperti dikejar orang.


"Kang, Kang?"


Kang Bimo masih menatap Pak Nizam.


"Kang Bimo?" Kukeraskan suaraku.


"Hehhh..." Dia terkejut. "Oh, iya, Ning." Dia mendekat.


"Kang, dia kenapa?"


"Ning Niya tadi ngasih nasi goreng spesial?"


"Kok tahu, Kang?"

__ADS_1


"Nggeh gara-garane itu, Ning."


"Masak?"


"Pantesan mukanya agak gimana tadi itu. Terus?"


"Ya terus dari tadi bolak-balik ke wece. Habis saya belikan obat juga, Ning. Diare sama obat lambung."


"Lambung juga?" Tanpa sadar aku meninggikan suaraku.


"Enggeh. Efek makanan pedas, Ning."


"Suaranya bermasalah juga?"


"Kalau itu...Insyaallah kok ndak."


"Syukur deh. Kang, minta tolong berikan ini pada dia, ya. Tidak usah bilang dari saya. Dia pasti tahu."


Dia mengangguk. Mengambil kertas itu dari sela jemariku.


Aku tidak boleh merasa bersalah. Pasti nanti juga sembuh sendiri. Saat melihatnya lahap makan nasi gorengku tadi, sepertinya dia memang sengaja menghabiskannya karena suka. Jadi, kalau dia suka dengan masakanku, itu tandanya bukan aku yang salah. Jika dia tahu makanan pedas bisa membuat perut, lambung, dan suaranya bermasalah, seharusnya tidak dimakan. Oke fix itu salahnya sendiri. Aku menghela napas.


Aku terduduk di kursi teras. Bayang-bayang kekhawatiran itu kadangkala masih mengusik sepiku. Sepi ialah keramaian yang sesungguhnya. Apa yang tidak muncul sebelumnya, terpanggil tiba-tiba. Suara-suara batin menyeruak. Ingin aku kembali pada masa laluku, saat dimana si kecil Fizah hanya suka bermain-main di pasar. Menjajakan buah yang ibuk jual. Fizah yang sering dimarahi oleh Mbak Sulung, tapi tak pernah sakit hati. Semuanya berubah ketika roda kehidupan mulai berputar pada tahun-tahun kedewasan. Aku yang tak pernah menemui masa manisnya usia tujuh belas tahun. Apa yang sedang dia incar dariku? Lalu, soal keris Nyai Arum itu?


Tak sengaja aku melihat sesuatu yang menggelinding di depanku. Aku bergidik ngeri. Aku berjingkat-jingkat berdiri. Kucari dari mana asalnya. Kenapa ada barang yang bisa menggelinding jauh sampai sejauh ini, kecuali jika dilempar dari dekat? Tidak ada lalu lalang santri. Mereka bergerumun dari depan kamar mereka masing-masing sembari mengoceh. Aku mendekati batang itu. Aku menduga itu sama seperti yang terjadi padaku sebelumnya. Tapi, aku tak begitu yakin. Aku bersalawat seraya terus mendekati. Aku menunduk pelan-pelan untuk mengambilnya. Setelah kusentuh, teksturnya keras. Aku mengambilnya.


Dan...


Ternyata dugaanku benar. Hanya batu yang dibuntal kresek hitam. Pun ada pesan yang disematkan di sana.


Temui aku di Telaga Sarangan jam sepuluh pagi. Aku tunggu besok di depan pintu masuk. Kalau ingin datang dengan seseorang, jangan sampai dia tahu pertemuan besok.


Siapa? Siapa dia?


Selamat membaca.. Terima kasih sudah menunggu. 😊🙏🙏 Semoga semuanya tetap sehat lahir batin. Lancar mencari nafkah setiap hari. Yg paling penting selalu dalam ketetapan iman dan islam.❤️❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2