
POV Orang Ketiga
Mobil alphard warna putih itu tengah berpacu dengan kecepatan angin yang sama kencangnya. Pengendaranya ugal-ugalan menyetir demi sampai pada waktu asar di Magetan. Selama perjalanan itu musik arab berjudul Ya Tabtab, Mathasibnish, dan lagu yang dipopulerkan oleh Hala Turk berjudul Happy-Happy terus menggaung-gaung di telinga. Pengendara itu memang amat menyukai lagu itu belakangan ini. Mereka datang jauh-jauh dari Bangkalan Madura hanya demi sowan ke Pesantren Al-Furqan.
Laju kendaraan pun melambat. Dua ratus meter lagi mereka akan tiba di tempat yang dituju. Tepat di depan gerbang, alphard itu berhenti pelan. Satu penumpangnya membuka pintu kiri. Kaki itu nyata jenjangnya begitu turun dari mobil. High-heels Dolce and Galbana Rainbow Belluci yang harganya dikisarkan delapan juta per pasangnya itu berkilau terkena cahaya dari ufuk barat. Celana panjang sampai mata kaki berwarna hitam dan blues putih berenda mulai dari leher memanjang sampai tengah dada, lalu jas putih desain Christian Dior menambah estetika penampilannya sore hari. Juga tas Gucci warna wood brown yang menggelantung mewah di tangan kanan, dibeli dan diambil di airport ketika mereka akan terbang ke Singapura seminggu lalu. Pemiliknya ialah perempuan berusia tiga puluh delapan tahun dengan style modis. Jilbab printing brand lokal artis terkenal di Indonesia itu melekat rapi di wajahnya yang oval dan berpipi tirus. Cekungan pipi itu sekilas mirip Afghan.
Penampilan necis perempuan itu tak beda jauh semua yang dikenakan pria yang baru keluar menutup pintu kanan mobil. Yang tak lain pria itu adalah suami yang telah menikahi perempuan itu sembilan belas tahun silam. Usia lima puluh tahunnya tenggelam dalam balutan busana yang modern. Pria itu lantas melambai tiga santri yang hendak menyapu halaman pesantren.
Perempuan bernama Nyonya Syawa itu menoleh. Membuka kaca mata hitamnya. "Pah, apa cukup tiga orang. Kan barang-barangnya banyak sekali itu?" Lalu, memasukkannya ke dalam tas mahalnya.
Tiga santri mendekat. Berjalan menunduk-nunduk.
"Ei, manis sekali cara berjalan kalian." Dia tersenyum mengekori pemandangan tak biasa di depannya.
Dia kembali menatap depan. Melambai dan menepukkan tangan sekali kepada dua santri yang kebetulan sedang berseloroh sambil memegang sapu. Sapu itu dibawa lari mendekati Nyonya Syawa.
"Itu bantu kawanmu, ya. Minta tolong sebentar saja." Dengan gaya bebicara yang lembur formal, dia memberikan arah-arah supaya mengeluarkan barang-barang dari bagasi dan atas mobil.
Dua santri itu mengangguk. Berjalan, lalu bersimpangan dengan tiga santri sebelumnya yang membawa satu box besar seraya mengeluh keberatan.
"Kalau berat, sekalian panggil temanmu, Boy," ucap pria yang bernama Tuan Kabi.
"Yaps. Masih ada empat box di sana. Agak cepat!" Syawa tak segan-segan untuk memerintah. Dia tak berhenti tersenyum santri-santri itu menunjukkan rasa hormat padanya.
"I like, Pah. For me is very interesting. Kita harus segera menemui pemilik pesantren ini, Pah."
__ADS_1
"Ya. Tapi, tunggu santri-santri selesai mengangkat semua barangnya."
Perempuan itu minggir. Bersandar di tembok pesantren. Dia mengeluarkan loose powder untuk menghilangkan sedikit minyak di wajahnya.
"Aku belum perawatan minggu ini," gumamnya.
Sepuluh menit kemudian.
Nyonya Syawa dan Tuan Kabi digiring menuju ndalem oleh dua santri yang membawa beberapa tas.
"Oh, rumahnya yang kecil itu, ya?" tanya Nyonya Syawa.
"Enggeh, Bu."
"Eh, don't speaking javanese, okey. Biasa dong." Syawa tersenyum.
"Okey. Kita tunggu, ya. Kita tidak buru-buru kok," jawab.
Nyonya Syawa dan Tuan Kabi duduk bersandingan di ruang tamu ndalem yang selalu lesehan. Mereka dipersilakan untuk menikmati makanan yang ada di toples. Santri laki-laki itu menggeser tempat minum, mengeluarkan dua gelas yang langsung diangsurkan ke hadapan mereka berdua. Tak lupa membuka beberapa tutup toples supaya mereka berdua tidak enggan mencicipi.
"Silakan, Bu. Seadanya."
"Okey. Tidak apa-apa. Makasih, ya." Nyonya Syawa lagi-lagi tersenyum. Diam-diam berdecak kagum mendapati sikap santri yang lembut dan sopan.
"Seandainya kita punya anak, Pah." Nada itu terdengar berat diucapkan.
__ADS_1
Mereka berdua memang belum pernah merasakan bagaimana menyenangkannya menimang seorang putra. Dua belas tahun sudah mereka merenda cinta dalam biduk rumah tangga. Suka duka diarungi bersama menggunakan perahu kasih sayang dan kesabaran. Beragam cara sudah mereka lakoni agar Nyonya Syawa bisa melahirkan anak. Sayangnya usaha selalu berujung pada kegagalan. Harapannya di usia yang sudah mendekati empat puluh itu, tahun ini atau tahun depan Nyonya Syawa bisa mengandung. Untuk itulah mereka berdua datang ke sini dengan maksud meminta doa keberkahan. Melalui nama Kiai Bahar yang cukup tersohor hingga Madura, mereka tidak segan datang dari jauh untuk meminta doa khusus. Namun, ada satu hal lain yang membulatkan tekad mereka untuk menemui Kiai Bahar dan Bu Nyai Ridhaa.
"Pah, coba dimakan! Aku ajari, Pah. Tidak usah gengsi." Nyonya Syawa mengambil telur gabus rasa gula aren.
"Enak lo, Pah. Mamah suapi." Dua berusaha memasukkan telur gabus itu ke mulut Tuan Kabi yang masih tertutup rapat.
"Siapa yang kelak meneruskan kepemimpinan pabrik Papah?"
"Kalau memang kita nggak bisa punya anak, kita adopsi anak dari panti. Atau, terserahlah kita minta saran ke Kiai. Yang paling penting kita harus berkata jujur, apa yang telah terjadi selama ini," jelas Tuan Kabi setelah menelan telur gabus.
"Assalamu'alaikum warahmatullah?" Kiai Bahar uluk salam.
"Wa'alaikumsalam." Mereka berdua menjawab bersama.
"Sinten niki?" (Siapa ini?)
"Maaf kita kurang paham bahasanya, Bapak Kiai," ujar Nyonya Syawa.
"Iya iya. Bukan orang jawa ya?"
"Betul, Kiai. Saya sendiri Kabi dan istri saya bernama Syawa. Terimalah kedatangan kami ke sini, Kiai. Kami juga memberikan sedikit hantaran berupa sarung, mukena, alat-alat tulis, makanan untuk Kiai, Bu Nyai, dan santri-santri di sini." Tuan Kabi menunjuk box-box yang ada di teras depan.
"Bapak Kiai, ehmm...yang kami berikan hanya beberapa potong saja. Kalau tidak keliru tadi ada seratus potong sarung dan dua ratus lima puluh mukena yang ada di dua kotak. Kotak lainnya isinya makanan kering, biskuit, oleh-oleh khas Madura karena kami dari Madura, tepatnya Bangkalan, Bapak Kiai. Oh, iya ada juga handuk kecil tiga ratus potong. Semoga hadiah kecil ini diterima." Nyonya Syawa menambahkan kalimat lebih panjang.
"Alhamdulillah. Jazakumullah ahsanal jaza. Terima kasih banyak. Saya pribadi dengan senang hati menerima pemberian ini. Semoga Allah memberikan rida dan kelak menjadi buah yang manis di surga."
__ADS_1
"Aamiin." Mereka berdua tersenyum.