
*Ranaa Hafizah
"Mbak, mana minyak kayu putih?"
"Oh..." Mbak Ufi bergegas mencarinya di kotak miliknya.
"Ini, Gus!"
"Sory, saya lebih baik tunggu di ruang tamu, ya."
Aku kembali saat perempuan itu keluar dari pintu. Dia menoleh setelah memalingkan wajahnya padaku. Memanggilku.
"Namamu Iza?"
"Ranaa Hafizah, Bu."
"Oke, saya mau ngobrol sebentar bisa? Tapi, kamu letakkan dulu gelasmu, ya."
"Gus, saya diajak ngobrol sebantar di luar. Saya permisi," kataku.
Mbak Ufi menggerakkan mulutnya, bertanya tanpa bersuara. Aku menggerakkan tangan dengan menunjuk arah dapur.
"Mari, Bu!"
"Di mana?"
"Di depan dapur saja, nggeh."
Dia mengekoriku.
Tidak ada kursi. Kami berdiri dengan saling menukarkan pandangan serius. Tapi, aku tidak paham kenapa cara menatapnya seolah-olah telah mengenalku.
"Jika kamu benar bayi yang pernah aku beli dulu, aku pernah memberimu nama Shanna Zazlyn. Setelah kamu dewasa, aku tidak apakah kamu bayi itu, Sayang. Tapi, tanda lahir yang kamu miliki memang sama persis. Aku Syawa dan yang di ruang tamu tadi adalah Kabi. Kami pernah jadi orang tuamu."
"Maaf, Bu. Tapi, saya bukan bayi itu. Tanda lahir itu hanya kebetulan sama. Orang tuaku bersama Mini dan Bibit."
"Rumahmu Tulungagung?"
Aku mengangguk.
"Sayang sekali aku waktu itu tidak sempat bertanya siapa nama orang yang menemukanmu. Tapi, Sayang, mereka hanya orang rantau yang rumahnya asli di Tulungagung. Apa orang tuamu pernah merantau ke Ketapang Madura?"
Aku mengangguk. Karena seingatku ibuku memang pernah bercerita pernah merantau ke sana.
"Boleh aku memelukmu?"
Ibu Syawa merentangkan kedua tangannya. Meraih tubuhku. Segalanya yang disampaikan dari hati pasti akan jatuh ke hati. Walaupun aku tidak meyakini dia adalah wanita yang pernah menjadi ibuku, tapi dalam dekapan itu aku merasakan ketulusan. Hanya beberapa menit, lalu dia melepaskanku.
__ADS_1
"Kenapa kamu begitu yakin, kamu bukan anak yang dicari keluarga ini?"
"Ibuku sangat menyayangiku. Mencintaiku. Bekerja keras demi anak-anaknya. Kakakku Sulung dan Adikku juga bisa tumbuh besar setelah Bapak meninggal. Itu semua berkat kerja keras Ibuku."
"Kamu nggak ingin menanyakan ini pada Ibumu?"
"Apa yang harus saya pastikan, Bu?"
"Kebenaran dirimu, Sayang. Bagaimana jika ternyata kamu beneran bagian dari keluarga ini, yang mencarimu selama tujuh belas tahun? Kemungkinan itu jelas ada loh, Baby. Zazlyn, apa pun yang terjadi nanti, orang tua kandungmu pasti sangat mengharapkanmu. Mereka terpisah denganmu karena sebab yang nggak pernah mereka inginkan. Apa tidak ada perasaan sedikit pun ketika kamu sudah lama berada di sini? Kedekatan mungkin."
"Mereka orang terhormat. Mana mungkin saya berani berpikiran seperti itu, Bu? Kedekatan mami sebatas guru dan murid."
"Aku nggak masalah kamu memanggilku Mamah. Sampai saat ini aku belum dikaruniai putra, Sayang." Bu Syawa melengkungkan bibirnya, tapi sendu di matanya.
"Untuk memastikan semuanya, Mamah ingin mengajakmu menemui Ibuku. Kita cari penjelasan. Sebagai orang yang sangat menyayangimu, Ibumu pasti sulit berkata jujur. Dengan membuka semua kebenarannya, tandanya Ibuku harus siap melepaskan apa yang paling dia cintai yaitu kamu. Itu akan menjadi risiko besar. Maka wajar kamu tidak pernah mendengar persoalan ini. Kamu berpikir sejauh itu, Zaz?"
Aku menggeleng.
"Makanya itu kita pastikan, ya. Mamah jauh-jauh ke sini juga ingin memastikan itu. Jika kebenaran ini mengarah padamu, kamu akan mempunyai tiga orang tua. Mereka semua menyayangimu. Walau ini berat, tapi orang tua kandungmu butuh kepastian. Tujuh belas tahun itu waktu yang tidak sebentar, Zaz. Too long. Kasihan mereka. Keluarga ini keluarga baik-baik, mereka tidak melepaskanmu dari Ibumu. Believe me!"
"Mbak Iza, dicari Bu Nyai itu."
Aku dan Bu Syawa menoleh bersamaan.
"Iya, Mbak Fi."
"Mamah ke ruang tamu, ya, Zaz." Bu Syawa menyentuh pundakku. "Sayang, jujurlah pada Ibu Nyai. Apa pun yang dia tanyakan, jawablah jujur."
Jiwaku limbung. Langkahku pun ikut menggontai. Dengan semua masa lalu yang pernah terjadi, apa jadinya jika keyakinan Bu Syawa benar adanya? Kehadiranku akan menambah masalah baru. Bagaimana santri-santri akan menerimaku sebagai keluarga gurunya, sedangkan aku hanyalah pecundang yang takut menghadapi apa yang akan terjadi. Aku khawatir tidak akan diterima. Kenapa jujur itu sulit sekali?
"Iza? Reneo (ke sini), Nduk!"
Aku gemetaran. Apabila luka di punggungku saja membuat mereka bertanya, bagaimana dengan lainnya? Aku duduk di tepi ranjang setelah Gus Fakhar berdiri.
"Wong tuwane sampeyan mbiyen opo pernah lungo neng Madura?"
Terjemah: (Orang tuamu dulu apa pernah merantau ke Madura?)
Aku mengangguk.
"Wong tuamu asli Tulungagung?"
Aku mengangguk lagi.
Bu nyai mencoba menyadarkan punggung ke dinding kamar. Aku membantunya.
"Opo sampeyan purun dites DNA, Iz?"
__ADS_1
Terjemah: (Apa kamu bersedia dites DNA, Iz?)
Aku menundukkan kepala.
"Ummik nyuwun ikhlase sampeyan, Nduk."
Terjemah: (Ummik minta keikhlasanmu, Nduk)
Entah kenapa mulutku seperti membeku. Mulutku hanya bisa membuka sedikit tanpa ada sepatah kata hang dapat kukeluarkan.
"Wis ngene ae, Fakhar, Mbak Syawa, Mas Kabi, sampeyan karo Ummik dino iki mengko neng Tulungagung nepangi wong tuwane sampeyan. Ummik pengen nyuwun pirso."
Terjemah: (Sudah begini saja, Fakhar, Mbak Syawa, Mas Kabi, kamu dan Ummik hari ini nanti ke Tulungagung menemui orang tuamu. Ummik ingin tahu menanyakan sesuatu)
"Enggeh, Bu Nyai."
*Fakharuddin Akhyar Al-Ameen
"Iz, apa mungkin kamu Tsaniya yang telah tumbuh dewasa? Tapi, kenapa aku sebagai kandungnya tidak merasakan apa-apa? Jika itu benar, apa itu artinya aku tertipu perasaanku sendiri? Apa semua rasa perhatian yang kuberikan kepadamu adalah perasaan kakak dan adik yang tidak kusadari? Perasaan ini lain. Aku tidak sanggup menafikan perhatianku padanya. Tapi, kenapa perasaan itu bisa mengalihkan perhatianku pada Mbak Ulya? Kenapa aku pernah ingin memilikinya walaupun akhirnya aku mengakui tidak akan pernah bisa melakukannya? Sungguh tidak lucu bila aku sampai teperdaya oleh perasaanku sendiri." Aku membatin. Kutatap dia yang tengah gundah.
"Fakhar, Iza, cobo sawangen Ummik!" (Fakhar, Iza, coba lihat Ummik!)
Aku pun memandang ummik.
"Kalian berdua iku mirip."
Aku berganti menatap Iza. Dia juga menatapku. "Ya Allah, sesungguhnya apa yang paling dekat dengan manusia pun tidak akan pernah terlihat oleh mata sampai hidayah itu datang." Entah apa yang kini dia pikirkan.
"Mbak Ufi, nyuwun tulung sampeyan siapno barang-barang Ummik."
Terjemah: (Mbak Ufi, minta tolong kamu siapkan barang-barang Ummik)
Ngapunten kemarin malam tidak jadi up. Saya ketiduran, Ya Allah.. 🙈🙈🙈🙈✌️ Tahu-tahu sudah waktunya bangun. Malam ini 2 eps dulu, nggeh. Nantikan terus episode-episode selanjutnya sampai terbukanya identitas Fizah, penantian Gus Yazeed dan Pak Nizam, kerelaan Bu Mini yang harus melepaskan Fizah.
1. Aapakah kemiripan Gus Yazeed dan Pak Nizam juga mengarah pada misteri yang lain.
2. Apakah Fizah bisa keluar negeri?
3. Kapan Fizah akan menikah dan dengan siapa dia berjodoh?
4. Kepada siapakah hati Ratna akan berlabuh dan apakah bayi yang akan dilahirkannya nanti selamat?
5. Apakah Pak Sulaiman yang pernah mencintai Mbak Rubia akan hadir di masa depan?
6. Bagaimana nasib kolong sampah itu di kemudian hari?
7. Bagaimana nasib Pak Su dan Hakim selanjutnya?
__ADS_1
8. Siapa jodoh Mbak Ufi?
Masih ada apakah2 lagi....... Makasih semuanya.. ❤️❤️❤️❤️🙈✌️🤭 Mari menghalu riaaaaa.