
*Ibban Nizami
Aku menghubungi orang tua Mbak Rubia lagi. Tetapi, panggilanku selalu berakhir tanpa jawaban. Aku curiga ada yang disembunyikan. Aku tidak ingin kecolongan seperti yang Mbak Ala lakukan waktu itu. Terlebih ibuk selalu meneleponku dan menanyakan hasil lamarannya. Aku ingin memastikannya lebih dulu sebelum aku menjelaskan.
Masih dengan lampu kamar yang menyala. Pesan masuk dari Pak Iman.
"Selamat. Saya hanya bisa mendoakan yang terbaik."
Alisku seketika itu mengkerut. Aku meneleponnya.
📞"Assalamu'alaikum? Bukannya kamu yang dipilih?"
📞"Wa'alaikumussalam. Sore tadi Ibunya telepon saya, Mas. Saya tidak tahu gimana jelasnya. Tapi, Ibunya bilang tidak bisa menerima lamaranku. Saya sungkan mau tanya banyak. Jadi, saya langsung mikir mungkin Mas Nizam yang dipilih. Selamat."
📞"Mbak Rubia juga tidak menerima lamaranku."
📞"Kira-kira dia kenapa, Mas? Dia di Singapura, kan, sekarang? Papahnya ada meeting di sana."
📞"Iya bener. Saya nggak terlalu paham juga. Ya mungkin dia punya alasan yang nggak bisa diceritakan."
📞"Iya. Aku paham. Ya sudah, Mas. Sory, ganggu, Mas Bro."
📞"Oke."
Dia memutus panggilan. Dulu aku memang mengatakan aku akan legowo setelah mendengar hasil lamaran. Tapi, setelah mendengarnya langsung tanpa kejelasan, meskipun suaraku dengan mudah menyahut kalimat demi kalimat Mbak Rubia di telepon tadi, aku mencemaskan kondisinya. Aku tidak langsung bisa lapang dada. Tetap ada yang mengganjal walaupun sudah kubiarkan berlalu.
Aku mencoba menelepon lagi. Aku mengusap layar handphoneku. Masih pukul delapan malam.
"Masih sopanlah untuk menelepon orang tuanya," pikirku.
Tut. Tut. Tut. Aku lega karena setelah lima detik suara panggilan itu tersambung, menit panggilan masuk pun berjalan. Suara mamanya mendahului ku sebelum aku mengucap salam. Tapi, aku bisa mendengar dengan jelas suara itu sedang tidak tenang.
"Bagaimana kabarnya Mbak Rubia, Tante?"
Suara tangis kudengar kemudian.
"Maaf, Tante. Tante sekeluarga sedang liburan atau karena ada keperluan lain?"
"Tante tidak bisa menjelaskan sekarang."
"Kenapa Tante menangis? Boleh saya tahu. Ngapunten, Tante. Saya dan Mas Iman ingin tahu alasan kenapa Mbak Rubia menolak semua lamaran kami. Saya pikir dengan Mbak Rubia menolak saya, dia menerima lamaran Mas Iman. Ada apa, Tante?" Aku memberondong dengan banyak kalimat.
Beliau diam sejenak. Aku tetap mendengar tangis lirih. Sambungan telepon akhirnya diputus.
Aku menghela napas. Berdecak. Jika mereka tidak sedang di Singapura, akan kucari mereka.
"Lebih baik aku ke rumahnya lagi."
Jaket tebal jangan sampai lupa. Ketimbang masuk angin. Tidak ada yang bisa ngerok. Motor masih di luar. Aku melenggang pergi ke rumahnya saat pintu rumah tetangga sudah banyak yang tertutup rapat.
"Semoga adiknya pulang atau aku masih bisa bertemu dengan satpam," batinku.
Motor melaju dengan kecepatan lima puluh kilometer per jam.
Dua puluh menit kemudian.
__ADS_1
Depan rumah masih terang. Tetapi, beberapa ruangan di dalam sudah gelap. Pos satpam pun gelap.
"Mungkin saja satpam ada di dalam," pikirku.
"Ting tung. Ting tung."
Aku menunggu beberapa detik. Aku memencet bel itu hingga melenguh berulang kali. Lantas, ada yang berteriak dari dalam, setengah kesal. Begitu mendekat, aku bisa melihat siapa yang menghampiri.
"Siapa, sih, malem-malem begini namu," ocehnya.
"Saya yang datang."
"Loh, Mas Ibban to. Ada apa lagi, Mas?"
Gerbang tidak dibukakan.
"Boleh gerbangnya dibuka dulu, Pak?"
"Ya. Sebentar, Mas."
Satpam mengeluarkan banyak kunci dari saku celananya.
"Jam segini sudah dikunci? Adiknya Mbak Rubia tidak pulang, Pak?"
"Enggak, Mas. Selama Tuan dan Nyonya liburan ke Singapura, Mas Dio nginep di kos-kosan temennya." Satpam itu lantas menggeser gerbang ke arah kanan.
"Jadi, mereka liburan?"
Satpam itu menghela napas. "Ya sebetulnya hanya itu, Mas. Tuan ada anjangsana ke salah satu perusahaan industri di sana. Mbak Rubia dan Nyonya liburan."
"Yaelah, Mas Ibban. Opo saya kelihatan sedang bercanda to. Jadi, yang jaga rumah hanya saya. Mau tanya apa lagi ini?"
"Tapi, Mbak Rubia baik-baik saja, kan?"
"Sepertinya baik-baik saja, Mas. Tapi, kurang tahu juga, ya. Mas Ibban ini sebetulnya siapanya Mbak Rubia? Pacarnya? Atau, sudah calon suaminya?"
"Hmm..."
"Kok Mas Ibban sering ke sini. Atau, karena Mbak Rubia cantik. Iya to, Mas?" Satpam itu malah ngajak bercanda.
"Saya serius, Pak."
"Ya kalo Mas Ibban ini orang dekatnya Mbak Rubia harusnya tahu Mbak Rubia sedang apa. Iya, to?"
"Justru itu, Pak. Setahu saya Mbak Rubia belum pernah ke luar negeri."
"Lhoo, Mbak Rubia itu hobinya itu lo, Mas, anu...yang dolan-dolan."
Aku membenarkan dalam hati. Dulu dia pernah cerita, sebetulnya dia punya hobi traveling. Sama seperti saudaranya yang punya konveksi di Banyuwangi. Berarti kemungkinannya memang dia sengaja memanfaatkan kesempatan itu mumpung papanya ada anjangsana di Singapura. Setidaknya aku menjadi lebih tenang.
"Saya baru ingat itu, Pak. Tapi, kalau boleh saya tahu, apakah Mbak Rubia pernah dilamar atau pernah punya pacar yang datang ke sini, Pak?"
"Pacar?"
Satpam itu tertawa. "Lawong Mbak Rubia itu kalah main sama Adiknya. Kalau Adiknya punya pacar. Setahu saya kalau Mbak Rubia masih jomblo sampai sekarang. Iya bener gitu, Mas Ibban. Telpon Mbak Rubia mboten (tidak) aktif?"
__ADS_1
"Sebentar coba saya telfon lagi. Tadi putus."
Tersambung. Tapi, tidak terjawab. Aku menatap satpam itu sembari menggeleng.
"Pak, coba, saya minta nomor HP Dio."
"Mas Dio? Punya tidak saya? Sebentar sebentar. HP saya di dalem, Mas. Monggo duduk di pos dulu." Satpam itu berjingkat-jingkat.
Aku cek kembali chat Mbak Rubia. Terakhir dilihat masih sama. Postingan dan story media sosialnya juga tidak bertambah. Sedangkan, aku tidak tahu sosial media orang tuanya. Nomor teleponku sepertinya juga belum disimpan sehingga aku tidak bisa melihat story mereka. Tidak ada jejak. Namun, aku akan mencoba menemui Dio karena siapa tahu.
Satpam itu kembali.
"Ini, Mas. Saya punya, tapi belum saya save. Langsung aja Mas Ibban lihat. Ndak bisa ngirim saya."
Aku menatap layar ponsel satpam itu. Dan, bunyi panggilan terhubung pun berbunyi. Dio langsung mengangkatnya.
📞"Halo. Assalamualaikum? Siapa ini?"
📞"Wa'alaikumussalam. Mas Nizam."
📞"Oh, Mas Nizam. Nopo (apa), Mas?"
📞"Kenapa tidak ikut ke Singapura?"
📞"Itu. Aku males aja. Capek. Mending nongkrong sama temen-temen futsal di sini."
📞"Aku ke situ. Jangan pergi."
📞"Ikut nongkrong, Mas?"
📞"Tunggu."
📞"Siap."
Aku melenggang pergi dengan salam.
Setiba di tempat. Lokasinya sudah sesuai dengan yang dishare Dio. Aku turun di satu lokasi yang rata-rata memang dihuni oleh anak-anak kos.
📞"Coba kamu keluar! Aku di luar, Yo."
📞"Oke, Mas."
Ada yang berteriak dadi arah kanan. Dari jarak dua ratus meteran. Dia melambai, lalu berlari ke arahku.
"Tumben?" Dio mengajakku bersalaman.
"Coba kamu hubungi orang tuamu sekarang. Aku minta tolong. Penting."
"Mereka di Singapura, Mas."
"Aku tahu."
"Terus?"
"Apa mereka baik-baik saja?"
__ADS_1