FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 167 "Terluka"


__ADS_3

*Tsaniya Tabriz


Pagi ini aku ingin menemani ummik jalan-jalan ke rumah-rumah warga. Ummik mau membeli sayur di jalan depan yang bersebelahan dengan rumah pak RT. Sekaligus bertegur sapa dengan mereka. Ummik jarang bersosialisasi karena ummik sendiri jarang keluar pondok. Tapi, pagi ini ummik mengajakku supaya orang-orang yang belum mengenalku dan belum pernah melihatku dari dekat, mereka bisa segera tahu. Anak kedua bu nyai telah kembali.


Hari jumat free kegiatan sampai malam. Santri-santri juga dijatah boleh keluar pondok asalkan tidak melebihi jatah waktu sampai zuhur. Sambangan hari jumat setiap tiga minggu sekali biasanya sering dimanfaatkan para wali santri untuk mengajak anaknya keluar untuk sekadar makan masih diperbolehkan atau jika ingin pergi membeli sesuatu. Keluar bukan untuk jalan-jalan jauh. Sementara aku dan ummik hanya keluar sekadar mencari udara segar dan membeli sayuran.


"Sudah siap, Nduk?"


Gamis rayon dengan motif batik ecoprint daun jati dan daun walisongo kupadankan dengan jilbab segi empat warna maroon. Senada dengan warna motif daun jatinya.


"Nduk, sampeyan ndak macak-macak ngono to?"


Terjemah: (Nduk, kamu tidak dandan?)


"Harus dandan pripun (gimana), Mik?"


"Gawe celak karo lipen." (Pakai celak dan lipstik)


Aku menggeleng. Karena tidak punya.


"Kae gawenen! Neng mejone Ummik."


Terjemah: (Itu kamu pakai! Di mejanya Ummik)


"Tidak usah, Mik. Niya nyaman seperti ini." Kugamit lengan ummik.


"Bene tambah ayu anake Ummik sing siji iki."


Terjemah: (Biar tambah cantik anak Ummik yang satu ini) Ummik mencubit pipiku.

__ADS_1


Aku akhirnya menurut. Kupakai sekadarnya saja. Aku tidak mau menjadi pusat perhatian. Dengan aku banyak berdandan, menurutku itu seperti mengulang kembali kejadian di kolong sampah itu. Dimana saat malam-malam itu tiba, semua pegawai diperintahkan untuk bersolek diri secantik mungkin. Di manakah Pak Su sekarang? Kenapa polisi belum bisa menangkapnya kalau dia masih di wilayah Magetan saja? Aku mendadak cemas. Apakah dia melibatkan hal-hal gaib untuk menggegas pergerakannya. Ya Allah, lindungi aku dan keluargaku.


Tanpa sengaja, aku menoleh ke arah kiri. Dia yang seperti biasanya selalu duduk di sana. Dia selalu fokus menatap apa yang ada gawainya. Sekarang aku melihatnya manggut-manggut. Terdengar lirih dia menyenandungkan lagu arab cukup keras. Entah apa judulnya. Tapi, lidahnya fasih menirukan itu. Tanpa sepenuhnya melirik layar gawai pun, dia sedikit mendongakkan kepala sambil memejamkan mata pun, dia terus bersenandung. Sayangnya aku tak mengerti itu lagu apa. Tapi, aku bisa menangkap emosional ekspresi dan liriknya. Kudengarkan senandung itu sembari menjauhkan langkah.


"Nduk, Mas Yazeed cepet yo olehe ganti. Gantine kok yo Ufi yo, Nduk."


Terjemah: (Nduk, Mas Yazeed cepat ya dapatnya ganti. Gantinya kok ya Ufi, Nduk) ujar ummik tiba-tiba. Ummik terdengar sedang menyayangkan.


"Niya juga tidak tahu, Mik. Mungkin memang itu yang terbaik. Tapi, kenapa tiba-tiba Ummik begitu?"


"Ummik ngebotne Ufi, Nduk. Ufi kudu ndang enek gantine. Omah ndak enek santrine dadi sepi, Nduk, Nduk."


Terjemah: (Ummik memberatkan Ufi, Nduk. Ufi harus segera ada gantinya. Rumah tidak ada santrinya jadi sepi, Nduk, Nduk)


Yazeed mencari pengganti karena aku yang menyuruhnya. Jika aku memiliki pasangan, maka dia pun harus demikian. Aku tak ingin salah satu di antara kami masih diam-diam meratapi. Harapanku sangat besar. Yazeed telah mempertimbangkannya dengan baik saat memilih Mbak Ufi. Meski aku sendiri sempat berpikir, kenapa harus sahabatku sendiri, tapi aku juga tidak ingin melihat Mbak Ufi hanya dijadikan sebagai pelampiasan. Kami punya jalan masing-masing. Arah kami berbeda. Ada penghalang restu orang tua yang tak mungkin kurobohkan dengan seribu kekuatan apa pun. Jika aku bahagia, Yazeed pun harus bahagia.


Kami berjalan menyisiri jalan sebelah kiri. Derdempetan dengan pagar daun beluntas milik rumah warga yang bersebelahan dengan pesantren. Aku tetap memegangi lengan kiri ummik. Lalu aku berpindah ke sisi kanannya.


Terjemah: (Ummik tidak menyangka akhirnya bisa jalan-jalan seperti ini dengan kamu. Tapi, sayangnya Ummik melewatkan masa-masa tumbuh kembangmi, Nduk, Nduk)


"Enggeh, Mik."


"Nduk, terus sampeyan pingine nikah kapan iki?"


Terjemah: (Nduk, terus kamu inginnya menikah kapan ini?) Ummik mengangguk setelah itu. Ada yang berjalan sambil menundukkan kepala. Menyapa.


Daun-daun kering beterbangan terseret arus embusan angin yang bertiup ke arah selatan. Jalan setapak yang seringnya berdebu masih basah. Hewan-hewan laron menyembul dari salah satu lubang di tanah. Laron bersayap pun terbang hinggap di pipiku. Kuambil, lalu kubiarkan dia terbang. Tangan ummik kutarik. Setengah meter di depan kami ada kubangan air. Maka, tepat setelah aku menyerong ke kanan, aku mengaduh. Aku meringis keperihan. Tumbuhku hampir lembing.


"Kenapa?" Ummik terkejut.

__ADS_1


Lengan yang langsung kudekap tadi, kulihat. Darah mengalir. Telapak tanganku merah semua. Jari-jariku bergetar.


"Laki-laki itu?" gumamku.


"Piye, Nduk? Kok iso sampek ngene iki. Wong lanang sing liwat sopo, Nduk? Ya Allaaaaah. Wangsul ae."


Terjemah: (Bagaimana, Nduk? Kok bisa sampai seperti ini. Laki-laki yang lewat tadi siapa, Nduk? Ya Allaaaaah. Pulang saja)


Pria itu tak menoleh. Tadi, dia memang sengaja berjalan setengah berlari sembari memepetku. Entah apa yang dibawanya sampai lenganku berdarah seperti ini. Dan, ini sangat perih. Aku menduga lukanya cukup lebar. Kenapa dia sengaja melukaiku? Sebelum aku bergerak melangkah, kuperhatikan lamat-lamat postur tubuh pria berjaket itu. Dia memakai celana jeans cokelat. Tanganku bergetar. Ludah kutelan. Aku tidak bisa mengenali dengan baik. Tapi, kemungkinannya dia bisa jadi salah satu suruhan Pak Su. Karena Pak Su tidak setinggi itu.


Ummik menarikku. Lamunanku buyar. Aku menggigit bibir.


"Sopo, Nduk?"


"Niya nggak tahu, Mik. Mungkin dia tadi membawa benda tajam," kataku setengah meringik.


Rasanya semakin perih. Tanganku tak cukup mampu menahan darahnya agar tidak keluar. Ummik semakin gupuh. Di tengah gerbang, ummik berteriak. Kebetulan Pak Nizam yang masih di saung berjingkat-jingkat langsung. Dia terkejut sebelum bertanya. Menyadari aku sedang membutuhkan pertolongan. Dia ke pondok putra.


Ummik mengajakku di ndalem. Duduk di ruang tamu. Ummik berteriak memanggil Mbak Ufi yang tidak langsung menyahut. Sanyo kamar mandi belakang berbunyi. Dia pasti tidak mendengar karena mungkin sedang mencuci. Ummik tidak sabaran. Ummik menggeledah lemari kecil yang biasanya digunakan untuk menyimpan obat-obatan untuk anggota ndalem. Sebelum ummik membawakanku obat, Pak Nizam muncul di samping kananku. Aku menggeser pantat. Dia bercongkang sembari meletakkan kotak obat milik pengurus putra.


"Kok darahnya bisa banyak begini?"


"Nggak tahu, Pak. Mungkin lukanya lebar banget."


Darah terus mengucur.


"Kalau begini ya harus dibaca ke rumah sakit. Takutnya ada pembuluh darah yang terpotong."


Ummik kembali. Tergopoh-gopoh.

__ADS_1


"Mik, ada kain? Biar tidak terus berdarah. Setelah itu kita bawa Fizah ke rumah sakit, Mik."


__ADS_2