
*Ibban Nizami
Kupikir Ratna tidak akan mampu kubujuk untuk berbicara. Sebab, dari gelagatnya semula, dia kelihatan amat canggung. Tapi, keterusterangan yang kudengar darinya tadi semakin dapat kuterima dengan akal. Meski juga itu bukan penjelasannya secara detil. Sebagiannya adalah privasi yang tidak mungkin diceritakan. Aku harus menghargai itu. Aku sudah cukup mendapatkan jawaban itu dengan dada lebih lega. Semuanya sudah jelas bagiku. Ratna dan Fizah pernah bekerja di klub malam atas paksaan seseorang. Lebih tepatnya mereka dibohongi. Dua orang yang pernah mengajar waktu itu, mereka ialah orang-orang yang dulu bersangkutan dengan Fizah dan Ratna. Artinya, mereka berdua belum aman sampai di titik ini. Apalagi gembong klub itu justru masih menjadi buronan.
Sudah jelas pula kalau Yazeed bukanlah suami Ratna. Aku tidak akan menganggapnya kawan rival walaupun saat ini dia juga berusaha mendapatkan persetujuan Fizah. Namun, aku yakin keinginan terbesar Fizah saat ini bukanlah menikah. Bayang-bayang masa lalunya pasti masih menjadi momok terbesarnya, di tengah banyaknya cita-cita yang ingin dia raih. Sedangkan Ratna, dia hanyalah perempuan malang yang harus menanggung nasibnya sendirian sebagai calon ibu tunggal. Melihat kenyataan ini, aku hanya bisa mengulang satu kata permintaan maaf. Aku kembali mengutarakannya sebelum aku pamit pulang. Dari tadi, aku melihat gelisah membungkus wajahnya yang sebetulnya sangat ayu.
"Apa kamu nyaman tinggal di sini?" Tiba-tiba kalimat itu terdorong keluar.
Ratna mengangguk. Tapi, aku tidak sepenuhnya yakin.
"Apa kamu benar-benar sehat?"
Dia mengangguk lagi.
Dia mendadak lebih dingin setelah tadi kami bercakap-cakap cukup panjang.
"Mungkin saja dua lelaki yang mengejarmu waktu itu, mereka akan segera ditemukan polisi."
Dia menunjukkan tatapan lebih serius.
"Kamu nggak kenal mereka berdua, Pak. Nggak. Nggak semudah itu. Mereka bisa saja melibatkan dukun. Mereka jahat dan licik. Apa yang membuat mereka bisa bertahan sampai sekarang, itu karena mereka sangat piawai. Kenapa perempuan-perempuan lain justru ngalah dan manut pada mereka? Perempuan-perempuan itu sudah nggak berdaya. Hanya aku dan Fizahlah yang berhasil lolos. Mungkin mereka bingung, kenapa kita bisa lolos dengan mudah. Maka dari itu, mereka terus mencari kita. Aku tahu, mereka sebetulnya sudah tahu keberadaanku dan Fizah di mana. Jika waktunya sudah tepat, mereka pasti akan datang ke sini. Mereka akan datang ke sini, Pak." Ratna terlihat seperti orang yang sangat ketakutan. Dia berbicara sangat serius, tapi dengan air muka gemetaran. Matanya setengah melirik kanan kiri seperti mengintai orang yang merasa diawasi. Kenapa dia tiba-tiba bisa berubah sangat drastis?
"Aku pergi." Dia ngeloyor pergi. Dia berjalan setengah berlari. Menyuruh para penjaga itu menutup kembali gerbangnya.
Dua penjaga menghampiriku.
Aku segera melemparinya pertanyaan. "Ratna kenapa?"
"Kami tidak tahu. Ini privasi seluruh penghuni pondokan ini."
Aku mengurungkan diri. Mereka pasti juga tidak akan mau bicara. Mereka hanya bawahan yang menuruti perintah Yazeed.
"Kapan saya bisa bertemu Yazeed?"
__ADS_1
Mereka saling berbisik.
"Saya boleh menghubunginya langsung kalau kalian enggan memberitahu?"
"Tidak bisa."
"Tolong, ini penting."
"Apa susahnya memberikan nomor telepon," ujar Mas Iman yang sudah di sampingku.
"Maaf. Kami hanya menjalankan amanat."
"Sebenarnya tempat apa ini?"
Dua orang itu mengabaikan pertanyaan Mas Iman.
Aku mengeluarkan sepotong kertas dari dompet. "Oke. Aku akan datang lagi kapan-kapan. Sampaikan pada Yazeed, ada orang yang ingin berbicara penting padanya. Suruh dia menghubungi nomor ini."
Perjalanan kami teruskan. Kami kembali ke Al-Furqan setelah salat zuhur dan makan siang di warung. Barangkali Bu Nyai Ridhaa dan Kiai Bahar sudah kondur (pulang).
Begitu tiba di halaman pesantren, kami justru tidak sengaja bertemu dengan Yazeed yang baru keluar dari ndalem. Pasti dia sedang membahas lamarannya. Dari ekspresinya sebelum dia mengetahui kedatanganku, aku tidak melihat tanda-tanda sedang bergembira. Atau, itu karena pembawaannya yang dingin dan sedikit gahar. Baru kali ini aku mengamati wajahnya dengan serius. Aku seperti melihat diriku sendiri dalam versi lain.
"Kau?" Dia baru menyadari setelah jarak kami sekitar sepuluh langkah saja.
"Barusan aku menemui. Ternyata malah di sini. Apa kabar?" Aku bermaksud menjabat tangannya.
"Baik." Sikapnya tetap dingin. Sembari membalas jabat tanganku. Bergantian dengan jabat tangan Mas Iman.
Pandangannya kembali ke arahku. "Jika kau berniat melamar Fizah, kau harus mengetahui rahasia besar tentang dirinya dulu."
Aku mengernyitkan dahi. "Rahasia?"
"Ya."
__ADS_1
"Saya sudah tahu."
"Tidak mungkin. Fizah saja belum mengetahui. Tidak mungkin kau malah lebih tahu."
"Maksudmu bukan soal masa lalunya?"
"Yang kumaksud memang masa lalunya."
Kupikir apa yang belum kuketahui dari Fizah selain itu? Aku cukup paham kehidupan Fizah dan Bu Mini. Aku paham karakter Fizah melalui kisah-kisah masa kecil Fizah yang sudah seringkali diceritakan padaku. Aku dan Bu Mini cukup dekat, apa yang belum aku ketahui darinya? Masa lalu Fizah yang baru saja kuketahui faktanya, bagiku itu sudah cukup besar. Ada rahasia besar yang belum aku ketahui lagi? Yazeed tidak mungkin berterusterang.
"Lalu kenapa kamu justru tahu rahasia itu?"
"Nggak penting. Aku hanya perlu memberitahumu itu saja. Kaubisa mencaritahu sendiri."
Apakah itu tandanya Yazeed sudah resmi menjadi calon suami Fizah? Tidak mungkin dia bisa mengetahui rahasia besar jika bukan karena ada ikatan yang lebih daripada sebelumnya. Dia mengatakan Fizah belum mengetahui, lalu dari mana dia bisa tahu? Aku mengurungkan niat untuk terus bertanya. Sia-sia saja. Sikap dingin Yazeed sudah membuatku yakin dia tidak akan memberiku petunjuk apa-apa.
"Assalamu'alaikum?"
Aku menjawabnya lirih.
Dia pergi tanpa menoleh lagi. Aku menatapnya sampai dia masuk mobil. Rahasia apa yang Yazeed maksud? Siapa yang telah memberitahu? Apa mungkin Bu Mini? Dia memang bisa saja menemui Bu Mini karena ingin meminta restu. Tapi, kenapa Bu Mini yang katanya mendukungku justru tidak mengatakan apa-apa? Atau, rahasia yang dimaksud sebetulnya persoalan yang sudah kuketahui, tapi Yazeed mengira aku belum paham? Tapi, kenapa dia sangat yakin mengatakan itu? Apa yang belum kuketahui dari kehidupan Fizah? Dia berkata rahasia itu berkaitan dengan lamaran. Aku menyadari sesuatu. Jika dia mengatakan itu padaku, tandanya Yazeed belum mendapatkan jawaban dari Fizah atau Fizah menolaknya juga.
"Serius ingin melamar Fizah?"
"Aku penasaran dengan yang dikatakannya barusan."
"Sepemahamanku, Yazeed kelihatan sudah dekat dengan Fizah. Apa dia juga nglamar, Mas?"
Aku menatap Mas Iman. "Bener."
"Dia pasti ditolak. Jika diterima, nggak mungkin dia seperti memberimu peluang agar maju. Atau, dia menganggapmu kawan rival, Mas." Dia agak terkekeh.
"Ada benarnya juga. Aku sependapat."
__ADS_1