
*Ratna
Sama seperti Fizah. Aku pun terkaget-kaget melihat Yazeed sudah ada di tempat yang mungkin ini dinamakan pesantren atau hanya asrama. Dia membicarakan sesuatu dengan pria bertubuh tinggi dan tak begitu berisi. Tapi, juga tidak kurus. Dia memakai sarung. Sekali lagi aku membandingkan pakaian Yazeed dan pria bersarung itu. Bagai langit dan bumi. Tapi, Yazeed telah mengenakan kaus ketat warna hijau army dengan tetap celana yang sama seperti yang kujumpai tadi.
Aku mengedarkan pandangan. Di luar pagar tempat ini, ada mobil jeep lawas terparkir. Lalu, ada seorang laki-laki lumayan tua, bersarung dengan atasan kemeja lengan batik yang warnanya sudah lumayan pudar sedang menyandarkan tubuhnya di badan mobil. Asik menyalakan ujung rokok. Lalu, memainkan asapnya. Ketika Yazeed dan pria tinggi bersarung mendekatiku dan Fizah, dia memanggil pria di mobil dengan panggilan kang. Lantas, pria itu tergesa-gesa mendekati kami.
"Apa, Gus?"
"Kenapa Yazeed dipanggil gus? Memang itu sebutan apa? Panggilannya sama dengan pria tinggi bersarung? Mereka bersaudara ataukah dari kasta yang sama? Atau, pria bersarung itu bernama Agus?" batinku.
Aku menyisih di belakang Fizah. Tempat ini sangatlah ramai. Sedikit kuputarkan kepalaku, menyapu pemandangan di belakang, banyak sekali pria yang memakai sarung. Bahkan, tidak ada yang bercelana. Tapi, aku tidak menemukan wanita. Hanya dua orang yang kulihat keluar dari rumah sederhana.
"Gus, aku bawa mereka berdua sebentar. Nanti aku kembalikan mereka," kata Yazeed.
"Oke. Jaga mereka."
Aku dan Fizah menahan langkah. Keraguan kami dijawab oleh Yazeed sendiri.
"Ingat percakapan kita di warung tadi? Aku akan menunjukkan sesuatu."
Aku penasaran pondokan seperti apa yang Yazeed maksudkan. Aku sedikit mendorong Fizah supaya menggerakkan kaki.
"Bawakan tasnya!" perintah Yazeed kepada pria yang dipanggil kang.
Fizah masih enggan.
"Kalian ngobrol aja dulu di gazebo," ucap pria tinggi bersarung. Dia pun menyisih dari kami.
Aku dan Fizah mengekori langkah Yazeed menuju gazebo. Dia menyuruh kami duduk.
"Kaget aku ada di sini?"
Fizah menanggapi, "Kamu mengikuti kami?"
__ADS_1
"Ya. Aku khawatir kalian akan dirusuhi Pak Su dan Hakim."
Yazeed menceritakan kejadian yang tidak kami ketahuan. Dimana sebetulnya saat dia keluar dari warung, dia menemui Pak Su dan Hakim. Dia mengancam supaya tidak mengganggu kami atau mereka akan kembali berurusan dengan Yazeed dan orang-orangnya. Mereka berdua pagi. Maka, wajar jika saat kami keluar dari dari warung, kami tidak melihat mereka.
Yazeed juga sempat berkelahi dengan Pak Su dan Hakim. Satu lawan dua setelah dia memergoki mereka berdua membuntuti kami setelah kami naik mobil pick up. Dia berhasil mengalahkan mereka berdua. Dan, setelah kuperhatikan wajahnya, aku memang menemukan lebam di tulang pipi sebelah kiri. Dia berkata langsung membuntuti mobil pick up dari kejauhan tanpa khawatir, sebab dia tahu bahwa kami telah menumpangi mobil milik pesantren Gus Fakhar, pria tinggi bersarung tadi. Ada stiker nama pesantren di mobil itu, yang tidak kami sadari. Mobil itu membawa muatan kitab-kitab yang baru dibeli dari Lirboyo Kediri, kitab stok di toko kitab pesantren. Dia tahu karena sempat memastikannya dengan menelepon Gus Fakhar. Jadi, intinya Gus Fakhar dan Yazeed sudah saling mengenal. Tapi, Yazeed tak menjelaskan hubungan mereka berdua.
Aku dan Fizah mengangguk paham. Untuk pertama kalinya aku menaruh lagi kepercayaan pada seorang pria meski sebatas pembenaran dia pria yang sedang bersungguh-sungguh ingin menolong kami.
"Baiklah. Kita akan ikut." Fizah mewakili.
"Oke. Lagipula kenapa kalian takut padaku jika kaubilang yang menjamin keselamatanmu adalah Tuhan. Kita berangkat!" Dia beranjak.
Kenapa kalimatnya selalu membuatku sulit berkata-kata?
Barang kami sudah masuk ke dalam mobil jeep Yazeed. Kang itu membukakan pintunya. Masih ada pria yang memperlakukan kami baik. Aku memperhatikan Yazeed sebelum dia membuka pintu mobil.
"Monggo, Mbak!" pinta kang itu.
Fizah di belakangku menyentuh punggungku. Memintaku segera masuk.
"Musik," kata Yazeed.
"Seperti biasa, Gus?"
"Ya."
Mengalun lirih lagu lawas karya Bimbo, judul "Sajadah Panjang".
Tak ada suara selain hanya lagu itu yang kembali di putar lagi dan lagi. Yazeed diam sejak tadi. Dari diamnya itu, mungkin dia sedang tidur. Lagu lain menyusul ciptaan Sujiwo Tejo yang berjudul Pada Suatu Ketika. Apa-apa yang disukai seseorang bisa menjadi salah satu karakter yang tidak diungkapkan. Lagu yang diputar selama perjalanan terus berlangsung, semuanya adalah lagu-lagu lawas.
Di tengah keasyikanku menikmati lagu, perutku nyeri. Aku mengaduh lirih. Nyengir. Sedikit menggeliat memosisikan diri lebih nyaman. Aku menggeser tubuh. Mencari sandaran di kaca sebelah kiri.
"Sakit perut atau pengen buang air, Mbak?" tanya kang sopir.
__ADS_1
"Saya tidak apa-apa." Aku menahan perutku yang terasa kencang.
Aku menyentuhnya. Walaupun aku sudah tak sudi lagi mengingati kejadian malam itu, tapi aku selalu kembali dibayang-bayangin kelakuan edan Pak Su. Dan, setiap kali aku sadar kehamilanku ini suatu saat akan terus membesar, ulu hatiku terasa sangat perih. Duniaku telah dijungkirbalikkan. Di usia semuda ini, dua puluh tahun, bagiku menjadi seorang ibu bukanlah waktu yang tepat. Aku rindu memainkan piano dan menyanyi. Maka, tanpa sadar bibirku melantun pelan irama when we where young.
"Kaubisa nyanyi juga ternyata." Yazeed songak merespons.
Aku kaget. Kuhentikan gumamku.
"No problem. Lanjutkan!"
Aku meratapi nasib diriku sendiri. Sampai kini aku belum ingat bagaimana kehidupanku yang sebelumnya. Namun, aku ingat betul bagaimana keseharianku dulu menghabiskan waktu dengan menggeluti dunia musik. Naasnya, wajah ayah dan ibuku juga belum bisa kuingat. Pasti dulu aku sangat bahagia. Jika aku kembali ke rumahku yang dulu, aku tidak siap menghadapi respons orang-orang. Aku hanya mampu menahan.
"Sebentar lagi sampai," ucap Yazeed.
Kusentuh lengan Fizah. Dia membuka matanya.
"Kau tidur?" tanyaku lirih.
Dia menggeleng.
Tidak ada tanda-tanda mobil ini masuk ke wilayah pesantren. Jeep ini melewati jalan berdebu sepanjang setengah kilo meter. Membentang di antara sawah-sawah. Tapi, saat gerbang tinggi di depan dibuka, aku dapat melihat sebuah tempat yang mirip seperti perkampungan warga. Gerbang kembali di tutup.
Aku turun dari mobil lebih dulu, lalu Fizah turun sembari menutup pintu. Seketika aku melemparkan pandangan ke semua sisi. Di sini sangatlah ramai.
"Inikah yang dia maksud?" gumam Fizah.
"Mungkin."
Aku tidak tahu seberapa luasnya pondokan ini. Yazeed mengajak kami berjalan terus. Mungkin maksudnya supaya kami tahu tempat apa ini. Seberapa amannya tempat ini bila aku dan Fizah ingin tinggal di sini untuk sementara waktu.
"Pondokan ini menghadap ke timur. Kautahu tempat itu?" Yazeed menunjuk rumah satu lantai dengan dataran yang lebih tinggi.
Aku dan Fizah langsung mengikuti arah telunjuknya.
__ADS_1
"Matahari sangat bagus dilihat dari sana." Lalu, menatap kami bergantian.
Aku memandang ke arah kiriku.