FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 89 "Menolak Cinta"


__ADS_3

*Ranaa Hafizah


Begitu bahagia melihat ibuk tiba-tiba berdiri di depan mataku meski yang di sampingnya ialah Pak Nizam. Dan, walaupun tak mengucapkan terima kasih langsung padanya, kuakui karenanyalah ibuk bisa sampai di sini. Dia menyampaikan amanat dariku.


Aku mengabaikannya. Aku enggan berbicara apa-apa dengannya. Dia tidak duduk karena tidak ada yang mempersilakan. Kuajak ibuk menepi di pojok. Aku ingin membicarakan banyak hal kepada ibuk. Lalu, kulirik Pak Nizam duduk setelah dipersilakan Mbak Ufi. Dia memesan kopi kental karena ditawari.


"Fizah, Ibuk pokoke seneng buanget. Sampeyan sampai di sini atas bantuan Pak Nizam."


"Dia justru membiarkanku berjuang di jalanan bersama Ratna, Bu," batinku.


"Nduk, Pak Nizam baik banget, Ya Allah."


Aku sedikit tak dapat menerima perkataan ibuk yang terakhir. Tapi, ibuk tidak tahu apa-apa. Yang ibuk paham memang aku pamit pergi untuk menemui Pak Nizam. Jadi, aku pun berpikir kenapa Pak Nizam tidak mengatakan yang sejujurnya pada ibuk karena aku tidak perlu menjelaskan sikapnya padaku. Menjelaskan bukanlah tugasku. Tapi, kewajiban yang harus dia penuhi.


"Yang membantuku namanya Yazeed, Buk." Aku masih membungkam diri.


"Sampeyan kok bisa langsung di ndalem kesepuhan Kiai, Nduk? Kiai siapa namanya?"


"Kiai Bahar dan Bu Nyai Ridhaa, Buk. Mereka pengasuh yang sangat gemati. Begitu datang, aku disambut dengan sangat baik. Untuk menerimaku, mereka tidak membutuhkan banyak pertimbangan. Kebetulan mereka juga butuh orang ndalem yang bersedia tidur di ndalem sini. Gus Fakhar, itu putra sulung Kiai, dia juga baik padaku. Tapi, aku masih terlalu sungkan akrab dengan mereka bertiga, Buk."


"Bener, Zah. Adab kudu tetep dijaga, yo. Ojo blayakan (jangan sembarangan). Ini ndalem orang alim. Banyak peraturannya. Ibuk pesen pokoke tata kramane kudu apik, yo. Kalau diutus apa-apa cepet-cepet sendiko dhawuh (siap segera). Sampeyan iki lagi ngabdi neng wong ngalim (kamu ini sedang mengabdi pada orang alim)."


Kudengarkan nasihat ibuk sepenuh hati.


"Ibuk bener kok. Aku berusaha menjaga diri sebaik mungkin di sini. Aku damai di sini, Buk."


"Terus Ratna di mana?"


"Ratna di pondokan Darul Amin. Setengah jam dari sini, Buk. Di sana tempatnya jauh lebih bagus. Seperti hidup di perkampungan."


"Lha nyapo (kenapa) kamu ndak ikut Ratna?"


"Meski begitu, hatiku pengennya di sini, Buk. Lebih cocok aja."


"Ya sudah. Sembarang pokoke bisa nyari ilmu semuanya. Ratna sehat terus, kan, Nduk?"


"Alhamdulillah dia semakin baik."


"Ibuk apa bisa ketemu Ratna, Nduk? Ya mumpung Ibuk ada rencana nginep."


"Ibuk mau nginep?" Nadaku sedikit meninggi.

__ADS_1


"Ibuk sudah bawa baju ganti. Tapi, Nduk, Pak Nizam masih mau mengizinkan. Kalau boleh, ya, alhamdulillah dua hari Ibuk bisa ketemu kamu."


Setelah kupikir-pikir ada baiknya aku meminta tolong kepada Gus Fakhar supaya mengirim pesan kepada Yazeed. Siapa tahu saja Yazeed longgar dan bisa ke sini lagi.


Panjang lebar kami terus membicarakan apa-apa yang telah terlewatkan selama sebulan. Aku lebih banyak membuka topik kegiatan santri-santri di sini dan kegiatanku pribadi dari pagi malam. Termasuk aku yang sering menjadi dukun pijat bu nyai. Ibuk semringah mendengarnya. Saat ibuk bertanya soal hafalanku, aku berkata jujur belum siap setoran kepada Bu Nyai Ridhaa karena aku sendiri masih belum percaya diri. Syukurlah ibuk tidak mempermasalahkan itu. Tidak terasa menit demi menit berubah menjadi jam.


Bu Nyai Ridhaa dan Kiai Bahar masuk ke ndalem. Menyapa Pak Nizam terlebih dahulu. Beliau menanyakan beberapa hal yang umumnya ditanyakan kepada tamu yang tidak sering berkunjung. Lalu, tidak lama setelah kiai duduk, kiai mengatakan sesuatu.


"Terkait sing wingi niku Iza ternyata mboten purun. Abah terang-terangan ae yo iki. Iza mature ya wis ngono kui intine. Abah ndak ngurangi yo ndak nambahi. Ngono to, Za?" Di akhir kalimat kiai menatapku.


Terjemah: (Terkait yang kemarin itu Iza ternyata tidak bersedia. Abah terang-terangan saja ya ini. Iza bilangnya ya seperti itu pada intinya. Abah tidak mengurangi ya tidak menambah. Begitu, ya, Za?) Di akhir kalimat kiai menatapku.


Dan, Pak Nizam dengan suara pelan dan tatapan yang kurang terlihat jelas dari sini, dia menjawab tidak apa-apa. Bagaimanapun perasaannya, entah sebetulnya dia berharap aku menerimanya atau tidak, aku tidak mau memperkeruh pikiranku sendiri setelah aku memantapkan keputusanku. Lalu, kiai justru mengatakan akan dicarikan santri-santri beliau yang lain. Satu beban telah lepas dari pikiran. Napasku bisa lolos tanpa hambatan.


Ketika kiai ditanya soal ibuk akan menginap di sini, kiai langsung menyambut dengan iya. Bahkan, Pak Nizam pun diminta menginap juga. Tak mungkin ibuk diizinkan lantas Pak Nizam malah pulang duluan. Biarpun aku akan sering bertemu dengannya dua hari ini, aku hanya ingin fokus menikmati kebersamaanku dengan ibuk.


Gus Fakhar muncul di tengah pintu. Lantas, aku melipir di belakang Pak Nizam, permisi sebentar ke luar. Aku mendongak dan melirik sedikit Gus Fakhar ketika aku berjalan ndengkul (dengan lutut) sembari menunduk. Gus Fakhar tak jadi masuk.


"Ada apa, Za?"


"Gus, ehm...itu..."


"Iya ngomong aja."


"Apa?"


Sejujur-jujurnya aku sangat sungkan.


"Ngapunten sebelumnya, Gus. Ibuk saya pengen bertemu dengan Ratna. Apa njenengan bisa mengirimkan pesan kepada Gus Yazeed?"


"Bisa. Nanti, ya." Sembari membenarkan posisi peci putihnya.


"Oh, nggeh, Gus. Terima kasih banyak."


"Tapi, mungkin dia balasnya besok. Malam dia sering abai pesan."


"Nggeh tidak apa-apa."


"Ibukmu apa mau nginep di sini?"


"Enggeh, Gus."

__ADS_1


"Oh gitu. Itu yang cowok siapa, Za?"


"Itu, Gus, yang waktu itu."


"Ooooh, dia yang melamar kamu."


Aku mengangguk.


"Jawabannya gimana?"


Aku menggeleng.


"Belum tahu atau kamu tolak?"


"Saya tolak, Gus." Aku melirihkan suara.


"Alhamdulillah," gumam Gus Fakhar. "Eh, sory, sory. Nggak maksud."


"Tidak apa-apa, Gus."


"Fakhar? Le?" panggil kiai dari dalam.


"Nggeh, Bah?" Menggeser langkah sedikit.


"Saya permisi ke dapur, Gus."


Gus Fakhar mempersilakan dengan tangannya.


"Le, jadwale Abah kae badalono."


Terjemah: (Le, jadwal Abah itu kamu ganti)


Mbak Ufi menyerangku dengan pertanyaan. "Gimana jawabanmu, Mbak Za?"


"Aku tolak, Mbak."


"Alhamdulillah. Padahal, dia ganteng juga lo, Mbak Iz. Tadi ketika aku nawarkan kopi, aku sempat bertatapan sambil terus nyebut istigfar. Ternyata dilihat dari dekat makin mempesona saja dia. Oh, Pak Dosen." Dia kegirangan.


"Mbak, sepertinya kamu yang bakalan jadi orang selanjutnya," kataku asal.


"Kiai dhawuh akan menawarkan lamaran ke santri lain. Siapa tahu kamu kloter selanjutnya. Siapkan jawaban, Mbak Iz."

__ADS_1


"Kamu kok gitu, Mbak Iz. Aku jadi seneng ini. Hehehe." Dia mencubit lenganku.


__ADS_2