FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 136 "Keris Pelindung"


__ADS_3

POV orang ketiga


Dia adalah sesepuh desa. Orang yang paling dihormati. Apa pun yang dikatakan, tidak banyak orang yang berani melawan. Takut tertimpa sesuatu yang buruk terjadi. Meski dia bukan orang yang penuh dengan kelembutan, justru sebaliknya, warga desa tak pernah melupakan kedudukannya. Dalam berbagai acara dan hajat, warga desa datang sungkem meminta doa restu. Juga sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur desa. Satu-satunya keturunan pembabat desa yang masih hidup. Dia dipanggil dengan sebutan Ki Dalang.


Kabarnya dia juga sakti. Sudah banyak cerita yang tersebar. Beberapa di antaranya diakui kebenarannya dan sebagiannya lagi masih konon katanya. Tapi, yang jelas dia adalah orang yang paling berpengaruh di desa itu. Tapi, sayangnya dia tidak bisa mewariskan keilmuannya kepada anak perempuan satu-satunya karena suatu hal. Yang mengharuskannya mencari pengganti yaitu kepada cucu yang kelak akan dilahirkan dari rahim anak semata wayangnya. Lantas dia hanya meminta putrinya untuk mewarisi segala thethek bengek budaya Banyuwangi dan mewarisi satu pusaka berbentuk patrem.


Ki Dalang jugalah yang memberikan larangan kepada seluruh warga desa supaya tidak sering melewati utara desa. Lebih-lebih kepada seluruh perempuan yang tinggal di sana, pantang bagi mereka untuk melanggar peraturan itu. Bertahun-tahun pantangan itu tetap dipatuhi. Warga desa seperti ketakutan sendiri saat diceritakan apa bahayanya jika sampai melanggar. Tersiar dari mulut ke mulut sanksi yang berbeda. Lebih tepatnya hukum alam itu tidak ada yang sampai menimpa warga karena saking patuhnya mereka pada Ki Dalang. Rasa hormat yang begitu besar itulah yang membawa keyakinan lain, bahwa akan ada hal besar semacam musibah jika ada salah seorang saja yang berani melanggar.


Tapi, kemudian datanglah seorang pria ke kediamannya. Pria itu datang dengan membawa tujuan ingin meminta tolong. Pria itu sebelumnya sudah mencari tahu siapa Ki Dalang yang sesungguhnya. Dan kedudukannya sebagai apa. Waktu itu hampir senja. Ya ketika langit agak semburat oranye di beberapa sisi.


"Ki, saya minta tolong. Ini serius, Ki."


"Apa? Apa yang bisa kubantu."


Pria itu mengatakan telah mendengar beberapa larangan yang ada di desa itu. Termasuk larangan yang menurutnya hanya mitos belaka. Tapi, pria itu tidak mengatakan yang sejujurnya. Dia hanya berterus terang soal apa yang diinginkannya. Apa yang membuatnya sampai memberanikan diri menghadap.


"Ki, saya ingin membuat rumah ki Utara desa."


Ki Dalang membelalakkan mata. Seketika matanya memarahi. Yang dikatakannya kemudian pun membuat pria ifu menelan ludah. "Apa kau mau mati? Hati-hati dengan ucapanmu."


"Mati, Ki? Kenapa begitu?" Pria itu dengan polosnya menanyakan rasa penasaran.


Tentu Ki Dalang tidak akan menjelaskan. Baginya, pertanyaan semacam itu tidaklah penting. Yang dia harapakan hanyalah tidak ada orang lain yang bertindak di luar batas kewajaran aturan yang telah dia buat. Apalagi, pria itu hanyalah orang asing yang kelihatannya ingin mencampuri urusannya dan ingin memanfaatkan sesuatu. Dia menangkap gelagat tidak baik dari sikap pria itu.


"Ki, tolong bantu saya, Ki. Izinkan saya membuat rumah malam di sana."


Ki Dalang terdiam.


"Ki, rumah itu akan menghasilkan banyak uang. Aku berjanji akan memberikan sebagiannya untuk kemakmuran desa ini. Aku janji, Ki." Pria itu berupaya membujuk.


Ki Dalang ingin sekali mengatakan pria itu sudah bertindak kurang ajar. Bisa-bisanya pria itu bernegosiasi dengan cara yang tidak beradab. Tapi, sekali lagi pria itu memperlihatkan kesungguhannya menjanjikan apa yang baru dikatakannya.


"Tapi, kau harus berhati-hati."


"Tentu saya akan berhati-hati, Ki. Saya sudah mendengar semuanya."

__ADS_1


"Tidak hanya itu. Ini ada hubungannya dengan nyawamu. Jika kau sudah mendengarnya, pasti kautahu apa konsekuensi dari keberanianmu?"


"Saya kurang tahu, Ki. Saya hanya mendengar wilayah yang ada di utara desa ialah wilayah yang dikuasai oleh makhluk gaib. Penunggu desa ini."


Ki Dalang mengangguk tipis.


"Aku hanya memberikanmu saran agar kau memikirkannya ulang."


"Saya sudah mantap, Ki. Saya pernah gagal sebelumnya. Saya ingin mencoba peruntungan di sini. Atas izin Ki Dalang, saya yakin usaha saya kali ini tidak akan gagal. Apa konsekuensi saya nanti, Ki? Apakah saya memerlukan pelindung agar saya lepas dari konsekuensi itu?"


"Ya."


"Kalau begitu, mohon saya diberikan pelindungnya, Ki."


Diam-diam Ki Dalang mendapatkan firasat buruk. Tapi, dia tidak mengatakannya kepada pria itu. Melihat kekehnya pria itu, dia merasa tidak perlu membujuk. Toh, tidak akan didengarkan.


"Aku akan memberimu sesuatu."


"Apa, Ki?"


"Lama sekali?" gumamnya.


"Itu terserah. Kau yang memerlukan. Kaubisa datang, juga bisa tidak."


Hari demi hari bergulir seperti biasanya. Pria itu tidak sabar. Kurang sehari lagi dia akan menjemput pelindung yang telah Ki Dalang siapkan untuknya. Tepat di malam empat puluh hari, dia terpaksa mendatangi kediaman Ki Dalang.


"Bapak tidak di rumah." Begitu kata Mustika. Dia mengatakannya dengan raut wajah yang sangat dingin. Meski ayu, lembut, dan molek tubuhnya yang membuat hati pria itu sedikit berdesir, pria itu bisa merasakan sikap ketidaksukaan Mustika padanya.


"Ada perlu apa? Nanti aku sampaikan."


"Di mana Bapakmu?"


"Apa sedang di gunung."


"Maksudmu? Malam-malam begini di gunung?"

__ADS_1


Mustika hanya berdecak kesal. Dia enggan menjelaskan.


"Jika kata Bapak empat puluh hari, datanglah sesuai permintaan." Mustika memperingatkan.


Tibalah keesokan harinya. Pagi-pagi sekali, pria itu mematung di depan rumah. Dia tidak pulang sama sekali.


Ki Dalang sudah berada di belakangnya. Pria itu bingung berpikir entah dari mana munculnya. Pria itu tergagap sejenak. Ki Dalang mengajaknya masuk ke rumah. Di ruang tamu itu, Ki Dalang menyodorkan sebuah keris panjang.


Berbinar-binarlah mata pria itu. Matanya silau melihat keris cantik itu. Dia belum pernah memegang pusaka sebelumnya.


"Namanya Keris Brojomukti."


"Jangan terlalu mengandalkan keris ini."


"Tapi, kenapa, Ki?"


"Karena kelak suatu saat akan ada perempuan yang bisa mengalahkan kemampuan keris ini."


"Apa dia perempuan sakti?"


"Bukan. Dia gadis biasa."


"Kenapa gadis biasa bisa mengalahkan kekuatan keris ini, Ki?"


"Tidak perlu banyak tanya."


Pria itu seketika diam.


"Di mana saya bisa menemukan gadis itu?"


"Dia memiliki tanda lahir hitam di ketiaknya. Kekuatan keris ini tidak seberapa."


"Kalau begitu berikan aku yang kekuatannya bisa mengalahkan kekuatan gadis itu, Ki?"


Ki Dalang mendiamkan.

__ADS_1


Terima kasih sudah menunggu. Hehe. Tidak up 3 hari. Punten juga lagi fokus sama lainnya. Semoga sehat selalu, ya. ❤️😅😅🙏


__ADS_2