FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 21 “Delusi Subuh Hari”


__ADS_3

*Wardah Mustika Rahayu


Setelah subuh aku langsung ngeloyor. Sengaja tidak pamit karena jika aku pamit aku tidak akan diperbolehkan pergi. Nanti pas pulang aku akan membeli sayuran sekalian. Kuketuk pintu depan yang sudah dibuka.


“Kak Wardah sudah datang loooo. Nurin masih ngantuk, Kak.” Dia menguap.


“Sudah subuhan, Rin?”


Dia menggeleng.


Kudengar Mas Nizam masih bertilawah di dalam. Suaranya nyaring dan bagus sekali. Dia satu-satunya pria di desa ini dengan kemampuan keagamaan yang bagus. Masih muda dan berbakat dalam banyak hal. Sayangnya, itu tak mengindahkan banyak orang di desa ini kecuali mereka yang betul-betul sadar bahwa orang seperti Mas Nizam harus ditahan dari desa. Kenyatannya dia pun harus pindah dalam waktu dekat.


Aku duduk di depan melihat ikan-ikan di kolam. Sejurus kudengarkan tilawah itu ditutup dengan nada yang mendarat lembut. Nyala motor kemudian. Lalu, ibuknya Mas Nizam menyuruh Nurin cepat-cepat keluar dari kamar. Pintu garasi mobil dibuka. Ibuknya Mas Nizam keluar pamitan padaku ingin membeli sayuran. Lalu, Mas Nizam pun keluar menuntun motornya.


“Sudah mau berangkat, Mas?”


“Sebentar lagi. Nurin masih ganti baju itu.”


“Begini saja. Kita sama-sama sepedahan saja bertiga.”


“Tidak apa-apa, Mas?”


“Lumayanlah buat olahraga sekalian.”


Dia kembali memasukkan motornya. Membawa sepeda gunungnya dan sepedanya Nurin keluar.


Kubayangkan dia yang kerap kulihat dengan penampilan sarung dan kopiah, bagaimana saat dia sudah menaiki sepeda itu? Bukankah akan tampak unik?


Nurin berdiri di ambang pintu. Wajahnya masih bermalas-malasan.


“Biasa Nurin tidur lagi, Kak. Ini lha ini malah diajak sepedahan sama Paklek. Gimana, sih, Paklek ni.”


Aku bangkit.


Perjalanan ke sana. Tiga sepeda dikayuh pada jalur yang sama. Aku di belakang, Nurin di tengah, dan tentu Mas Nizam di depan sendiri.


Suasanya sudah seperti sebuah keluarga kecil bahagia. Tiba-tiba pria di depan itu menjelma seorang imam di keluarga, lalu Nurin bak bidadari kecil di tengah kami. Kukayuh sepedaku tanpa lelah. Senangnya bisa bahagia hanya karena lamunan kecil di subuh hari. Kadang diselanya, aku menertawakan Mas Nizam yang tampak lucu memakai sarung, tetapi saat ini dia sedang mengayuh sepeda.

__ADS_1


“Monggo.” Begitu balasnya ketika disapa lalu lalang orang akan berangkat mencari pakan, ke kebun, atau ke sawah dini hari bekerja sebagai buruh.


Sepuluh menit kemudian.


Mas Nizam berhenti di pinggir jalan. Aku dan Nurin pun demikian.


“Ini tinggal belok. Kamu duluan saja. Aku mau angkat telepon dulu.”


Aku dan Nurin menurut.


Pagar depan pesantren sudah dibuka. Dengan pedenya, aku masuk pelan-pelan. Kupikir dengan sudah dibukanya pagar utama, siapa pun boleh masuk. Di dalam masjid, telah bersiap semua santri-santrinya. Sejuk melihat pemandangan ini.


“Kak, kita ngapain ke sini?”


“Mau ngaji, Rin. Kak Tika bawa Alquran. Nanti kamu dengan Kakak, ya.”


Aku urung menggerakkan posisi setelah turun dari sepeda.


Satu santri putri keluar mendekati kami.


“Mau mencari siapa, nggeh?”


“Inggeh, Mbak.”


“Ayo silakan masuk, Mbak! Gabung sama Mbak yang lainnya.” Dia melonggarkan jalan.


“Ayo, Rin.” Kutarik tangan Nurin.


“Paklek kok lama, Kak? Ke mana?” Dia menoleh ke belakang.


“Masih teleponan tadi katanya.”


“Nyuwun sewu, Mbak.” Aku berjalan membungkuk di depan mereka.


Kudorong Nurin supaya masuk lebih dulu, duduk di depanku.


Nurin malu. Dia merajuk. Kami menjadi pusat perhatian semua santri. Pandangan mereka menanyakan kami siapa. Baru masuk, tapi sudah membuat suasana berisik.

__ADS_1


Santri-santri yang berjubel di pintu otomatis bergegas melonggarkan jalan. Mereka menyisih sampai ada ruang setengah meter supaya Mas Nizam bisa lewat.


“Paklek?” celetuk Nurin. Suara cukup lantang.


Mas Nizam menatap Nurin. Memberi senyum. Lalu, duduk bersila di atas sajadah dan meja yang sudah disuguhi segelas kopi dan air mineral. Dia dihargai di sini meskipun di desa bapaklah yang tetap berkuasa. Wibawanya memancar seketika.


Mula-mula di uluk salam, menyanyikan lagu berbahasa arab yang sama sekali tidak bisa kuikuti. Aku menyimak saja. Nurin kupangku. Karena masih pagi, beberapa santri ada yang terlihat malas sekali mengikuti kegiatannya. Sejak awal sudah menguap terus. Akhirnya kepalanya disandarkan di punggung teman di depannya. Yang lainnya tetap menirukan sembari menahan kantuk.


Satu perempuan duduk paling depan, dia sangat bersemangat mengikuti iramanya. Lalu, Mas Nizam menunjuknya untuk memberikan contoh sebelum diikuti santri lainnya. Terdengar sekilas ada suara yang paling menonjol, bening dan lantang. Rupanya suara indah itu milik santri yang ditunjuk itu. Pelafalan dan iramanya bisa sangat persis dengan Mas Nizam.


Dan, lucunya aku juga ditunjuk. Baru dua kali aku mendengarnya. Aku malu selain karena aku tidak terbiasa dengan nada-nada tilawah. Aku menolak, tetapi Mas Nizam menyuruhku tetap berani unjuk gigi.


“Ayo, Kak Tik!” Nurin mendesak.


Lebih baik aku disuruh nyinden dan menari daripada bertilawah. Apalagi, didengarkan oleh santri-santri yang bacaan Alqurannya sudah bagus-bagus. Aku tetap mencobanya meski aku yakin seratus persen bacaanku tidak akan bisa sebagus yang dicontohkan.


Suara mendadak hening. Suarakulah yang kedengaran paling membahana setelahnya. Di tengah-tengah ayat, aku memutusnya karena bingung variasi. Kontan Mas Nizam memberikan contoh lagi lebih pelan. Lebih diperjelas pembelokan nadanya dari nada sedangnya yang hanya perlu diayunkan dan diperlembut ke nada sedang lainnya yang bercengkok. Aku dapat merasakan lembutnya nada ini.


“Dicoba lagi,” pinta Mas Nizam.


Setelah aku mencobanya hingga habis akhir ayat, dia mengomentariku, “Walaupun dengan tempo yang sangat lambat, tetapi yang namanya mad thabi’i itu jangan sampai lebih dari dua. Jangan mengaret-ngaret. Tadi, variasi di mad jaiznya kurang main. Jika bertemu dengan dua mad yaitu jaiz dan wajib gunakan untuk memainkan banyak variasi. Terutama pada bagian mad ‘aridis sukun. Orang yang mendengarkan akan cenderung memberikan apreasi jika mad tersebut terbaca utuh dan dengan variasi yang mendarat sempurna. Memainkan variasi di ujung ayat seperti ini termasuk tantangan bagi yang bernapas pendek. Tapi, Mbak Tika napasnya mumpuni.”


Lega mendengarnya berkomentar dengan sangat bijak. Semakin tidak ada celah bagiku untuk tidak mengaguminya. Seberapa besar pujian bapak pada Kang Darya untuk membujukku supaya segera menerima lamarannya, tetapi justru diselanya bersemayam benih cinta yang telah tumbuh mekar tersiram doa.


“Tapi, Mas, aku malu mengakui bahwa sebetulnya rasa kagumku telah mengubah itu menjadi rasa yang tak terkira,” batinku.


Di akhir kegiatan, aku ditahan perempuan bersuara indah tadi. Dialah yang menyapaku dulu, menanyakan apakah aku seorang penyanyi atau pernah belajar vocal. Dia memberiku apreasiasi saat kujawab aku sudah menggeluti dunia sinden sejak usia sekolah dasar. Pertanyaannya pun melebar sampai aku ditinggalkan Nurin dan Mas Nizam pulang. Aku tidak bisa menolak diwawancarai. Beberapa santri tampak antusias padahal aku ini tidak seberapa timbang mereka. Tetapi, bertubi-tubinya pertanyaan perempuan tadi menggugah selera yang lainnya.


“Bangga punya jiwa muda berprestasi seperti njenengan, Mbak. Mbak Tika, kan, namanya?”


“Inggeh, Mbak.”


“Coba njenengan contohkan satu lagu saja. Saya pengen dengar lo. Oh, nggeh, nama saya Ala.”


“Walah, Mbak Ala, ini masjid kok dibuat nyinden. Nanti didengar banyak orang.”


“Tidak apa-apa, Mbak. Sedikit saja. Kami ingin mendengar. Tidak satu pun dari kami yang pernah belajar.”

__ADS_1


Aku melantungkan separuh bait lagu yang berjudul Jagad Anyar Kang Dumadi.


__ADS_2