
*Ratna
Debum jantungku bertalu-talu. Menghasilkan irama resah dan gelisah. Sementara, angin bertingkah bahagia. Dan, langit justru membuatku cemburu. Seharusnya dia ikut menangis bersamaku. Tapi, malam ini purnama justru membuatnya kegirangan. Sejak senja mengungsi dari sisinya, rembulan mengambil alih singgasana timur, tepat di hadapanku kini. Purnama menggantung seperti lampu. Lantas, bintang-bintang pun bergerak merapat menemaninya. Kupeluk malam ini sendirian. Kutatap perutku yang semakin mengembang. Di sana, ada kehidupan manusia yang tidak kuinginkan. Sejarah akan mencatatnya sebagai anak yang tak punya nasab bapaknya. Normalnya takdir manusia, seharusnya ada pria yang kini duduk di sampingku sebagai suami sah, menjadi bapak dari anakku. Lantas, nama Pak Su mendesak pikirku. Susah payah aku menghentikan genangan yang terus meluber, tumpah ke pipiku.
Ketika aku mendengar kabar Yazeed pulang dari Banyuwangi, hatiku selalu tertekan. Dia selalu memberitahuku jika keperluannya ke sana ialah membereskan masalahku dan Fizah dengan Pak Su. Berkali-kali aku menyuruh kenangan agar pulang ke tempat yang lebih tenang, tapi ia selalu bergentayangan menghantuiku setiap malam. Sudah berapa kali memarahinya agar tidak membuntutiku, sebab aku risih. Aku enggan menyapanya meski bujuk rayunya berbisik jadikan aku sebagai pengalaman hidupmu. Aku mengelak. Kututup telingaku agar tak mendengarkan kasak-kusuk itu mengganggu telingaku.
"Terimalah nasibmu!" ujar Aynur.
Aku meringkuk. Kusandarkan sisi kepalaku yang kiri ke bingkai pintu.
"Ini susumu. Yazeed mengingatkanku agar kau tidak lupa meminumnya. Jangan sungkan bilang kalau sudah habis."
"Kenapa aku harus memberinya gizi kalau aku sendiri tak pernah ingin dia ada di dunia ini?"
Aynur duduk di sampingku.
"Jangan duduk di situ!"
"Kenapa?" Dia urung menjatuhkan pantatnya. Berdiri lagi.
"Yang duduk di situ bukan kamu."
"Siapa? Laki-laki yang membuatmu susah payah berjuang sendirian sekarang? Bodoh kau."
Sontak aku menoleh. Pandangan kami sama seriusnya.
"Dia lagi dia lagi. Kau tahu tak? Aku risih mendengarnya." Aku menaikkan nada bicaraku.
Aynur mencengkram daguku. Membulatkan matanya seperti akan menelanku hidup-hidup.
__ADS_1
"Jangan jadi wanita bodoh. Kalau aku juga berpikiran seperti dirimu, mungkin sekarang aku sudah mati. Dunia ini terlalu indah jika dilewatkan begitu saja. Lihat orang yang ada di sekelilingmu! Mereka bertahan demi apa yang mereka harapkan. Apa kau tidak punya harapan apa-apa?"
Deru napas kami bersahut-sahutan.
"Kuminta kamu jangan ganggu aku dulu, Nur. Kita berbeda. Jangan samakan aku denganmu. Aku memang menyadari ketidakberuntunganmu dalam hidup, tapi kita punya kekuatan yang berbeda. Biarkan aku seperti ini dulu, Nur." Kupalingkan wajahku darinya. Dadaku panas mendengarnya menasihatiku. Seakan-akan dia merasa hidupnya jauh lebih puruk. Dia mungkin perempuan yang jauh lebih kuat sehingga dia bisa melaluinya.
Aynur menyisih tanpa meninggalkan kata.
"Ya Tuhan, aku sudah mulai rajin beribadah, tapi kenapa ketenangan itu belum ada?"
Ya, saat aku sadar hidup orang lain jauh lebih hancur dariku, aku pun sadar seharusnya aku bersyukur. Tapi, jika kuingat lagi masa laluku, yang ada hanya rasa sesak dipenuhi kebencian itu. Sumpah serapah kukatakan berulang kali dalam batinku, semoga hidupnya tak akan pernah tenang seumur hidup. Aku mendengus, bagus juga kalau dia mati. Nasihat Yazeed seketika menindihku, jangan biarkan hatimu kotor karena benci dan bersalawatlah kepada Nabi. Mataku kembali menggenang. Kupejamkan agar bisa luruh sepenuhnya. Perang kebenaran dan kebatilan itu kembali terjadi di pikiran dan dadaku.
Aku mendongak. "Ya Tuhaaaaaaaaaaan?" Aku tergugu. Menangis kejer. Ingin kutandaskan semua luka dan kemarahan ini, tapi kepada siapa? Kuhantamkan genggaman tanganku ke lantai. Bahkan rasa sakitnya masih belum bisa menggantikan sayatan di dadaku yang kembali menganga. Aku menggeram. Kurasakan panas di sekujur tubuhku. Seperti sedang terbakar.
"Kau sudah minum susunya? Sudah makan buah dan ikan?"
Aku menoleh. Seperti Yazeed yang bertanya. Siluet tubuhnya terbenam di antara cahaya lampu halaman. Dia baru kembali dari Banyuwangi. Di belakangnya langkah kaki sedang membuntut. Debar-debar kecemasan menyergapku. Siapa laki-laki di belakangnya? Tapi, ketika langkah itu mulai mensejajari ke arah kiri Yazeed, napasku terlepas saat itu juga.
Dokter itu tersenyum dan melambaikan tangan. Begitu juga Yazeed. Dia kembali mengulangi pertanyaannya. Lalu, aku menggeleng.
"Yazeed, apa Pak Su sudah mati? Dia sudah kamu lumpuhkan?"
"Tidak. Tapi, tautenang saja, Na."
"Gimana aku bisa tenang, Yaz? Coba kamu lihat perutku? Nanti dia akan lahir tanpa seorang bapak." Aku terus menaikkan nada di depannya. Aku tidak peduli. Harapanku sekarang adalah Pak Su segera lenyap dari muka bumi ini.
"Pertemuanmu dengan Dokter Maher sudah beberapa kali terlewatkan. Bicaralah dengan dia. Saya tinggal dulu, Dok."
"Kamu bisa di sini aja, Gus." Dokter Maher yang santun. Suaranya seperti angin. Dia pun duduk.
__ADS_1
"Tarik napas dalam-dalam, jangan dikeluarkan."
"Loh, Dokter gimana sih?" tanyaku spontan. Refleks tertawa.
"Nah itu bisa tertawa, kan? Bahwa berusaha menyenangkan diri itu lebih baik untuk kesehatan jiwa dan raga ketimbang memberatkan diri dengan berpikir yang susah-susah." Dokter Maher mulai menasihatiku seperti biasa.
"Hubbun nafs. Mencintai diri sendiri," sambung Yazeed.
"Itu bener. Dengan kita tahu batasan diri kita sendiri, mana yang sekiranya baik dan sekiranya derdampak negatif untuk hati dan pikiran, itu jadi salah satu upaya mencintai diri sendiri. Yang bisa menghargai diri sendiri lebih dari apa pun, tidak lain adalah diri kita sendiri."
"Tuhan memberikanmu kekuatan yang tidak orang lain miliki. Saat ini kamu hanya sedang tidak menyadari," tambah Yazeed.
"Dua pria ini?" batinku. Kupandangi mereka satu per satu.
"Kamu bukan perempuan sepertiku, Yaz. Dokter juga hanya bisa melihat kondisiku, tidak dengan hatiku." Ketika perasaanku berada di titik nol, nasihat-nasihat itu terdengar seperti raungan ejekan. Seperti kalimat yang mendesak sedih dan amarahku agar semakin memuncak. Tak serupa kalimat biasa yang seharusnya menjadi motivasi.
"Ratna?" Yazeed bercangkung di depanku. Dia menusuk tatapanku dengan maksud yang tak bisa kupahami. Tapi, pandangan itu menawarkan sugesti agar aku merendahkan bicaraku dan mengurangi amarahku. Ya aku tiba-tiba lebih sadar setelah dia memandangiku seperti ini, entah sudah menjadi pandangan yang ke berapa.
"Yaz, tolong aku, Yaz." Aku meraih bajunya. Aku menubrukkan kepalaku di dadanya.
"Oke oke." Dia berusaha melepaskanku segera.
"Ayok kita lakukan segala cara hubbun nafs itu. Terserah dengan cara apa. Kaubebas berekspresi." Dia memegang kedua bahuku sebentar, lalu cepat-cepat melepaskannya.
Kini dua pria di depanku berusaha membujuk rayuku. Tapi, letupan amarah di dadaku masih menyisakan panas.
"Apa yang paling ingin kamu lakukan sekarang?" tanya Dokter Maher.
Aku menatapnya.
__ADS_1
"Aku ingin kembali bermain piano dan menari."