FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 189 "Pencarian 1"


__ADS_3

*Fakharuddin Akhyar Al-Ameen


"Tumben?"


Di kamarnya tidak ada. Di kamar ummik pun tidak. Di kamar Mbak Ufi kosong. Di kamar mandi belakang juga alfa. Di masjid yang masih dipenuhi santri-santri, jelas dia tidak ada di sana. Kutanya Mbak Ufi, dia juga tidak tahu. Justru balik bertanya sejak kapan Niya tidak ada di ndalem. Mbak Ufi kaget, lalu mencoba ke pondok putri, mencarinya di sana. Barangkali ada.


Ulya baru dari depan menyirami bunga-bunga yang ada dekat pagar pesantren.


"Adek mana?"


"Nggak tahu, Mas. Kayaknya tadi masih ada."


"Jam berapa?"


"Habis subuh masih kok."


"Lha tadi kamu di mana kok sekarang nggak tahu?"


"Tadi aku masak sama Mbak Ufi. Aku deresan sebentar, habis itu teng dapur, Mas. Tapi, memang tadi Dek Niya nggak muncul sama sekali. Ya paling di pondok putri."


"Ya itu masih ditanyain sama Mbak Ufi."


"Aku sudah masak enak lo, Mas. Mau nggak aku suapin?" Dia mencipta senyum. Dia tidak menyadari bahwa tidak biasanya Niya tidak ada di ndalem sampai jam sembilan pagi seperti ini.


"Apa mungkin ke Darul Amin lagi?" pikirku.


Kukeluarkan hape. Tidak jadi. Kalau dia tidak ada di sana, nanti malah menjadi pertanyaan Mas Yazeed.


"Mas, kok bengong? Purun mboten (mau tidak)?"


"Niya biasanya jam segini di rumah. Ini sekarang dia ndak ada."


"Ummik dan Abah ziaroh. Apa mungkin ikut mereka?"


"Nggaklah. Ummik nggak bilang apa-apa."


"Eh, tapi kenapa nggeh, Mas, Ummik dari kemarin kok diem mulu. Gelisah ngoten (gitu)."


"Aku juga nggak tahu. Lha iya makanya itu. Niya sekarang di mana? Mbak Ufi mana ini lagi."


"Sudah tenang aja, Mas. Adek nggak ke mana-mana. Nah, mungkin keluar sama Kang Bimo. Kali aja dia tahu. Bentar nggeh tak panggilkan orange."


"Kang Bimo kan nganter Abah sama Ummik, Dek."


"Oh iya. Nggeh lupa lupa. Maaf."


Mbak Ufi datang. Setengah berlari.


"Mbak, gimana?"


"Tidak ada lo, Gus. Terus di mana ini Ning Tabriz sekarang?" Dia juga mendadak khawatir.


"Njenengan yakin di ndalem nggak ada?"


"Coba kamu cari."


Ulya melenggang. Dia tidak percaya aku sudah mencarinya ke seluruh ruangan.


"Gus, saya tanyakan ke arek-arek putra, ya. Siapa tahu ada yang tahu Ning Tabriz keluar ke mana gitu."


"Ya ya. Tanyain sana."


Dia berjingkat-jingkat ke masjid.

__ADS_1


"Ke mana kamu?" batinku.


"Kira-kira hape yang kubelikan waktu itu dipakai nggak?" batinku lagi. Kalau misalnya dia keluar ke suatu tempat, dia pasti memesan ojek online.


Aku ke kamarnya. Tak sengaja aku hampir menubruk Ulya yang hendak keluar dari sana.


"Mau nyari apa, Mas?"


"Hape."


"Hape apa?"


Kubuka semua laci. Juga lemari yang tidak dikunci. Aku hanya menemukan box hape itu. Artinya sekarang dia memakai perdana yang juga aku belikan waktu itu. Syukurlah aku sudah menyimpannya. Hanya memanggil. Data selulernya tidak aktif.


"Ke mana kamu?"


"Coba Mas telpon Kang Bimo. Kang Bimo mungkin tahu tempat yang misalnya beberapa kali Dek Niya kunjungi."


Dia benar. Tapi, Kang Bimo tidak mengangkat.


Aku menoleh. Ulya bicara lagi. "Mas, tapi ampun ngantos (jangan sampai) Abah dan Ummik tahu lo, nggeh."


"Kenapa?"


Sambungan mati. Tak terjawab.


"Nanti Ummik khawatir. Ummik kan gampang khawatir. Nggeh kan?"


"Iya. Bener kamu."


"Bentar. Tak nyiapin makanan."


Baru yang kelima kalinyalah Kang Bimo mengangkat.


📞"Assalamu'alaikum? Kang, kira-kira Niya ke mana? Dia nggak ada di rumah. Tempat yang biasanya dia kunjungi."


📞"Nggak tahu. Yawis nanti aku tanya. Terus selain di sana apa mungkin ke salon manten, ya, Kang?"


📞"Mungkin saja, Gus."


📞"Tapi, nggak ada di rumah dari tadi."


📞"Gus, Gus, ngapunten banget. Ummik dan Abah sudah medal (keluar). Saya tutup, Gus."


📞"Sebentar. Bentar. Jangan kasih tahu mereka."


📞"O nggeh siap. Sudah, Gus. Assalamualaikum?"


📞"Wa'alaikumussalam."


Mau tidak mau aku harus menelepon Mas Yazeed.


Dua kali sambungan terjawab.


📞"Niya di sana?"


📞"Nggak. Aku nggak lihat dia di sini. Kenapa?"


📞"Bener nggak di sana?"


📞"Ya. Kenapa? Dia nggak ada?"


📞"Ya sudah makasih. Assalamualaikum?"

__ADS_1


Aku menutupnya.


Pesan masuk dari Mas Yazeed.


"Aku cari dulu. Nanti aku kabari lagi."


^^^"Oke."^^^


"Mas, makan dulu ayok!" ajak Ulya.


"Niya nggak ada di Darul Amin. Kita cari di Telaga sekarang, yok, Dek."


"Mas, makan dulu. Makan dulu. Aku nggak mau njenengan kelaparan. Aku masak spesial. Monggo! Ampun ngalem kados arek cilik (jangan manja kaya anak kecil)." Ulya menarik tanganku.


Dia mendudukkanku ke kursi.


"Sudah aku siapkan nasinya. Tinggal ambil sendiri lauk sama sayur. Agih!"


Kutarik piring itu. Aku tidak bisa mengira-ngira di mana Niya sekarang. Kemungkinan dia tidak akan mungkin pergi jauh. Lagipula dia akan berani pergi sendirian terlalu lama. Lengannya saja juga belum sembuh betul.


"Mas, kalau ngambil sayur yang sedikit to, Ya Allah. Malah disambi melamun." Ulya menertawakanku.


Aku tidak sadar aku terlalu banyak mengambil sayurnya hingga kuahnya hampir tumpah.


"Habis ini kita cari ke Telaga. Tapi, Mas, kan di sana rame. Apa ya ketemu?"


"Dicari aja dulu."


"Ya sudah. Ngomong-ngomong undangan Dek Nuya sudah disebarkan semua?"


"Yang VIP sudah tiga minggu yang lalu. Sisanya belum."


"Ibuknya yang di Tulungagung sudah diundang, kan? Jangan sampai kelewatan lo, Mas."


"Sudah kayaknya. Sudah insyaallah. Tapi, nggak tahu juga. Coba aku telepon sebentar."


"Ya Allah, makan kok disambi ini itu, Mas, Mas."


📞"Assalamu'alaikum?"


📞"Enggeh wa'alaikumussalam. Pripun, Gus?"


📞"Njenengan kemarin sudah dapat undangan, kan?"


📞"Oh ya sudah, Gus, sudah. Sembah nuwun kagem parsel lan uwose."


Terjemah: (Oh ya sudah, Gus, sudah. Terima kasih parsel dan berasnya)


Sebetulnya aku tak tahu. Mungkin saja ummik yang berinisiatif mengirimkan undangan beserta berasnya.


📞"Ya sudah. Terima kasih, Bu."


📞"Sama-sama, Gus."


Kuselesaikan sarapanku cepat-cepat. Sesendok terakhir lalu aku melepaskan sendawa. Ulya menyodoriku air putih di gelas berukuran sedang.


"Kita ke salonnya dulu."


Kami bergegas. Lima belas aku menunggu Ulya bersiap-siap.


Meluncur kemudian.


Tiba di sana aku langsung bertanya kepada owner organizernya. Kebetulan sedang ada di tempat. Tapi, mereka berkata tidak ada. Niya belum ke salon lagi sejak datang terakhir untuk fitting gaun. Aku memastikan lagi dengan bertanya pada timnya. Jawaban mereka sama. Aku pamit pergi. Kukatakan pada mereka jika sekiranya Niya datang ke salon, kuminta mereka menghubungiku.

__ADS_1


"Apa mungkin ya di Telaga, Mas?"


"Ya sudah kita ke sana saja."


__ADS_2