FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 104 "Dua Surat"


__ADS_3

"Setuju." Buru-buru disahut. "Se-tu-ju banget. Tapi, agak keteteran kalau jadi abdi ndalem. Tapi, aku alhamdulillah bersyukur sih sudah dapat enam belas juz. Ya Allah, tapi belum ada yang mutqin eeek." Bibirnya cemberut.


"Mbak Ufi ngajimu sudah bagus timbang aku."


"Karena kamu belum setoran ke Ummik. Coba kalau kamu setoran, Mbak."


"Belum mantep. Mau deresan yang lain dulu."


"Deresan kalau disetorkan tambah gereget. Cobaen to."


"Mosok gitu?"


"Sumpil, dah. Insyaallah begitu sesuai yang aku rasakan, Mbak. Ayo lo! Biar aku ada temene. Makin semangat kalau ada yang mau diajak balapan. Fastabiqul khairat, Mbak Iz. Berlomba-lomba dalam kebaikan."


"Mantepin hati dulu, Mbak. Makasih sudah memberikan aku semangat."


"Iya sama-sama." Dia tersenyum. "Soal Gus Yazeed saranku gitu tadi. Sebelum kamu ngabdi sama suami, perjuangkan dulu dirimu sendiri, Mbak. Susah juga lo merangkai mimpi. Seenggaknya kita ngasih kesempatan diri kita sendiri untuk meraih. Kalau dikasih keberhasilan, itu artinya kan usaha kita dan takdir Allah sejalan. Aku doakan kamu segera menemukan kemantapan hati, ya. Kamu doain aku ada yang melamar. Pengen tahu rasanya aku."


"Kalau langsung cocok gimana, Mbak? Kan hafalanmu masih separuh."


"Sebetulnya lebih, Mbak. Tapi, jangan ditanya berapanya. Sisanya hancur banget."


"Waaah."


"Kok wah? Jangan diwah. Nggak patut dikagumi. Aku mau nanyain sesuatu kok lupa. Itu yang ditas itu gamis dari siapa, Mbak Iz?"


"Hmmmm..." Aku meringis.


"Gus Fakhar pasti. Bener?"


Aku menggigit bibir.


"Ya Allah, itu piye kalo Ummik ngerti. Gus Fakhar ini kayaknya ada apa-apa lo sama kamu. Gusnya bilang gimana pas ngasih ke kamu?"


"Hadiah aku mijitin Ummik."


"Gombal itu, mah."


"Lha gimana, Mbak. Aku juga bingung mau nolak. Secara Gusnya juga baik sama aku. Serius kalau aku bisa menolak, aku tolak. Awalnya aku pengen minta biar beliau memberikan ke Ning Ulya. Tapi, beliau malah sudah bilang Ning Ulya di belikan tiga sarung."


"Ya Allah, ada drama apa di sini? Mbak, aku gemes sama kamu. Gemes. Mosok Gusnya juga suka sama kamu. Walah. Haduh haduh." Mbak Ufi mendadak heboh sendiri. Jujur aku malu bukan main. Padahal, aku tidak pernah menghendaki ini.


"Mbak Ufi, sudah tidak usah bahas itu, ya. Sungkan aku. Jangan sampai Bu Nyai tahu kalau aku dikasih gamis, ya, Mbak. Minta tolong. Aku nggak pengen Bu Nyai duko (marah) atau merasa gimana-gimana. Apalagi, Ning Ulya pasti cemburu."


"Bu Nyai kalau marah tuh diem. Asli gitu. Aku pernah kok didukani (dimarahi)."


"Karena?"


"Waktu itu soale aku pas nyetrika baju, bajunya bolong. Pertama bajunya Bu Nyai. Terus karena aku takut, aku nggak langsung bilang. Bu Nyai tahu dulu. Abis dimarahi, aku mengulangi lagi. Ya Allah, lha gimana yang bolong itu bajunya Kiai yang dibeli pas umrah. Jadi, sekarang kalau baju-baju spesial gitu Bu Nyai otomatis tidak pernah nyuruh nyetrika atau nyucikan. Didiemin sehari sama Bu Nyai, rasanya duniaku dah terbalik. Pengen langsung pulang kampung eee."

__ADS_1


"Haduh, terus gimana, Mbak?"


"Ya Ummik jangan sampai tahu. Bajunya jangan kamu pakai di sini. Tapi, kira-kira Ummik apa belum tahu, ya?"


"Belumlah. Kalo beliau tahu, kamu didudukkan, Mbak Iz."


"Aku nggak tega nolak pemberian Gus Fakhar. Tulus gitu, ya, beliaunya."


"Hu.uh. Beliau sayang banget sama Ummiknya. Tapi, sayangnya ke Mbak Ulya, Gusnya masih cuek gitu. Katanya tadi endak usah dibahas lagi."


"Oh, iya wis (dah)."


Bu nyai ketuk pintu. Aku berjingkat-jingkat membukanya.


"Nggeh?"


"Surat, Nduk."


"Surat apa, Bu Nyai?"


"Duko to. Sampeyan bukak dewe. Lha sampeyan opo pun kirim surat nggene Ibu?"


Terjemah: (Tidak tahu. Kamu buka sendiri. Lha kamu apa sudah kirim surat ke Ibu?)


"Sudah, Bu Nyai. Suratnya baru sampai."


"Nduk, tas kae kok teng kamare sampeyan?"


Terjemah: (Nduk, tas itu kok di kamarmu?)


"Haduh," batinku.


"Enggeh, Bu Nyai."


Bu nyai diam sebentar. Kembali menatap tas yang isinya gamis itu. Kelihatannya memikirkan sesuatu. Ekspresi bu nyai memacu jantungku.


"Ya sudah, Nduk."


Di situ aku berpikir. Diamnya bu nyai mempunyai maksud apa.


"Ada apa?"


"Ada surat lagi."


"Terus?"


"Bu Nyai nanyain tas itu, Mbak. Tapi, Bu Nyai diem aja. Aku harus bagaimana ini?"


"Udah. Kita tunggu aja hari ini. Bagaimana sikap Ummik ke kamu. Beda atau nggak. Terus itu surat dari siapa?"

__ADS_1


Aku menggeleng.


"Buka aja suratnya!"


Pintu kututup.


Aku terkejut karena yang mengirimi surat adalah Pak Nizam. Untuk apa? Kubaca kalimat pembuka yang khas, salam dengan tulisan arabnya yang bagus. Isinya lumayan panjang.


السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


Fizah, makin ke sini aku berpikir. Terlepas dari semua latar belakangmu yang belum aku tahu, aku minta maaf. Benar-benar minta maaf. Aku juga ingin bertanya apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kamu bisa muncul dari sana waktu itu? Semua orang di desaku tahu, di sana tempat terlarang bagi perempuan. Apakah aku salah sangka? Apa yang terjadi? Aku mengaku salah. Aku mengirim surat. Kupikir ini persoalan yang sangat kamu privasikan. Tapi, kepadaku? Aku minta penjelasan. Kalau pun tidak semuanya, jelaskan kronologis singkatnya, Zah. Aku tabayyun setiap malam. Ini tidak ada kaitannya aku memintamu berpikir ulang soal lamaranku. Jika memang ada pria yang bagimu lebih pantas untuk mengantarkanmu pada cita-cita dan membahagiakan, serta tak mengecewakanku, aku nggak apa-apa. Aku hanya ingin tahu. Kulihat kamu dekat dengan Gus Fakhar. Kalau dilihat sekilas, kalian ada chemistry. Aku melihatnya sendiri saat kalian memasak bersama. Balas suratnya, ya. Aku tunggu segera.


و السلام عليكم ورحمة الله وبركاته


"Ini kok mukane makin serius aja? Lebih serius daripada tadi? Dari siapa, sih?"


"Pak Nizam," jawabku jujur.


"Wah, wah. Pak Dosen nanyain aku ndak, Mbak?"


Aku menggeleng.


"Kamu kok jadi sedih? Kenapa lo?"


"Enggak, Mbak. Mending ke dapur aja."


Aku menyingkirkan tas tadi. Kusimpan di bawah tempat tidur. Lalu, kusimpan suratnya di dompetku.


Mbak Ufi memandangku penuh tanya dan selidik.


"Pak Dosen nanyain lamaran lagikah?"


"Bukan kok. Sama sekali ndak ngomongin itu."


"Mbak, ada kemungkinan ndak yang kamu bilang kemarin kejadian?"


"Yang mana?"


"Aku jadi kloter kedua." Dia menunjukkan gigi.


"Enggak tahu juga. Kamu doa aja, ya, Mbak Fi."


"Tapi, aku ndak ngayal, kan, Mbak? Menurutmu gimana?"


"Semua orang punya hak bermimpi. Apa pun itu."


"Aku suka quotesnya." Dia tertawa renyah.


Apa kabar njenengan? Sehat? Dua hari tidak up. Maafken nggeh.. 😁🙏 Karena kemarin itu nulisnya ndak dapat banyak jadi up penting dulu. Hehehe. Terima kasih selalu untuk komentar positif dan prasangka baiknya. Semoga berbalas kebaikan. Gantinya saya up 3 eps. Bantuin Fizah keluar dari kegalauannya dong, Mak2 tercintrong.. 🤭 Mak2 kalau berqola-qola, kan ampuh itu. 💋💋💋🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2