
*Ranaa Hafizah
Aku di kamar. Masih di atas sajadah. Tadi aku tidak sempat ikut salat jamaah isya karena harus membuatkan teh jahe untuk Gus Fakhar yang sedang meriang katanya. Sejak pagi mengeluh pusing sampai beliau harus absen ngaji kitab Hikam dengan santri putri. Seharusnya yang membuatkan tehnya bukan aku, tapi Ning Ulya. Yang tidak lain adalah calon menantu bu nyai. Tapi, Ning Ulya masih deresan sepuluh juz dengan muraqibah. Tidak bisa diganggu sejak ba'da asar tadi.
"Iza? Sampeyan deresan mboten, Nduk?"
Terjemah: (Iza? Kamu murajaah tidak, Nduk?)
Bu nyai mengetuk kamarku.
"Ufi nengndi, Nduk?"
Terjemah: (Ufi di mana, Nduk?)
"Ke pondok putri, Bu Nyai."
"Woalah. Sampeyan repot mboten?"
Terjemah: (Oh. Kamu repot tidak?)
Bu nyai melihat Alquran di tanganku.
"Deresan, Nduk?" (Murajaah, Nduk?)
"Sudah selesai, Bu Nyai."
"Nyuwun tulung pijetono Ummik, Nduk! Boyoke Ummik pegel kabeh."
Terjemah: (Minta tolong pijati Ummik, Nduk! Pinggang Ummik pegal semua)
Aku mengangguk. Melepas mukena segera. Pintu kututup rapat.
Bu nyai sudah mapan di tempat tidur dengan posisi telentang. Aku permisi duduk di bibir tempat tidur.
"Sikile Ummik disek, Nduk!"
Terjemah: (Kakinya Ummik dulu, Nduk!)
Sembari memijati beliau, aku bersiap mendengarkan cerita yang akan disampaikan bu nyai. Dan, tak lama setelah itu beliau menceritakan kembali kisah di tahun 2004 itu. Sudah ketiga kalinya aku mendengarkan cerita yang diulang sama persis bahwa di tahun 2004 bulan Agustus, putri yang dicintai beliau dicuri oleh sekelompok perusuh.
"Sampeyan kelahiran tahun piro, Nduk?"
Terjemah: (Kamu lahir tahun berapa, Nduk?)
"Tahun 2004, Bu Nyai."
"Bulane?"
"Saya Juni."
"Tsaniya Juli, Nduk. Dadi pas umure iseh sesasi."
Terjemah: (Tsaniya Juli, Nduk. Jadi ketika umurnya masih sebulan)
Aku menanggapi biasa. Mengangguk-angguk saja. Karena aku pun masih sungkan ingin bertanya-tanya.
"Nduk, cobo sampeyan pundutne foto neng njero buku neng slorokan kae, Nduk!"
__ADS_1
Terjemah: (Nduk, coba kamu ambilkan foto di dalam buku di laci itu, Nduk)
Kubuka laci yang dimaksud. Aku memperlihatkan bukunya. Bu nyai mengangguk. Kuhadapkan buku itu kepada beliau.
Bu nyai menghela napas. Beliau membuka lembaran-lembaran buku itu. Tersemat satu foto seorang bayi yang langsung ditunjukkan padaku.
"Iki bayine Tsaniya naliko iseh umur rong minggu."
Terjemah: (Ini bayinya Tsaniya ketika masih usia dua minggu, Nduk?)
Aku melihat tanda lahir besar hitam di dekat ketiak sebelah kanan.
"Itu tanda lahir, nggeh?"
"Nggeh, Nduk." (Iya, Nduk)
Berarti sama sepertiku. Aku pun juga punya tanda lahir yang sama persis. Tapi, warnanya cokelat. Kata ibuk, itu tanda lahirku sejak kecil.
"Nduk, sampeyan ki sakjane anake sopo?"
Terjemah: (Nduk, kamu itu sebetulnya anak siapa?)
"Ibu saya bernama Bu Mini. Bapak sudah meninggal. Saudara saya tiga. Saya anak kedua. Rumah saya nggunung, Bu Nyai."
"Nduk, sampeyan lek nyeluk, Ummik wae. Ben penak."
Terjemah: (Nduk, kamu kalau memanggil, Ummik saja. Biar enak)
"Nggeh, Mik."
Bu nyai langsung menciptakan senyum.
Terjemah: (Kapan-kapan minta tolong jika Ibu kamu sambang ke sini, kamu bilang Ummik, ya)
"Insyaallah, Mik."
"Terus piye, Nduk? Kiro-kiro sampeyan piye, sing ditawarne Abah?"
Terjemah: (Terus bagaimana, Nduk? Kira-kira kamu bagaimana, yang ditawarkan Abah?)
"Menurut panjenengan, Mik?"
"Nduk, sampeyan ojo gelo, yo. Sakjujure memang Ummik iku wis seneng, cocok karo Mas Nizam."
Terjemah: (Nduk, kamu jangan marah, ya. Sejujurnya Ummik itu sudah senang, cocok dengan Mas Nizam)
"Nggeh?"
"Tapi, bener dhawuhe Abah. Tsaniya durung mesti iseh urip, Nduk. Ummik mung yakin Tsaniya sok bakale mesti bali. Dadi, Ummik ndak pareng ngalang-ngalangi keputusane sampeyan. Sampeyan piye?"
Terjemah: (Tapi, benar katanya Abah. Tsaniya belum tentu masih hidup, Nduk. Ummik hanya yakin Tsaniya suatu saat pasti pulang. Jadi, Ummik tidak boleh menghalang-halangi keputusanmu. Kamu bagaimana?)
"Saya manut penjenengan mawon (saja), Mik."
Melihat wajah Bu Nyai Ridhaa, aku tahu sebetulnya beliau sedikit menyesalkan keputusan kiai menawarkan lamaran Pak Nizam padaku. Mungkin pertanyaannya adalah kenapa harus jatuh padaku. Sementara, menyatakan tidak di depan beliau pun kendengarannya kurang pantas. Sementara ini, aku menunda untuk mengatakan yang sejujur-jujurnya sampai aku tak merasa malu menyebut satu nama yang lain pada diriku sendiri. Nama itu ialah Yazeed.
Aku tidak menyangkal bahwa dulu aku memang sempat penasaran dengan pengirim pesan dari surga itu. Yang ternyata pengirimnya ialah seorang dosen. Tetapi, setelah aku memikirkan itu lebih dalam, aku memahami perasaanku sendiri, perasaanku itu tak lebih dari sekadar penasaran dan senang saat aku berada dalam posisi terpuruk. Intinya perasaan itu belum begitu dalam. Tapi, aku perasaanku lain terhadap Yazeed.
__ADS_1
Yazeed pria yang berbeda meski aku tidak berani mengatakan dia lebih baik siapa. Tapi, sudah jelas apa yang kulihat waktu itu. Kebaikannya begitu nyata. Aku kagum padanya setelah aku tahu beberapa hal yang dia tunjukkan soal pondokannya sebulan lalu. Dan benar, nilai baik buruknya seseorang tidak dapat ditentukan dari penampakannya. Yang berkilau belum tentu emas, sedangkan batu bisa jadi lebih indah dari permata.
"Tapi, sampeyan rakyo durung duwe to, Nduk?"
Terjemah: (Tapi, kamu belum punya kan, Nduk?)
"Belum, Mik."
"Kang kene akeh lo, Nduk, sing iseh durung duweni calon."
Terjemah: (Kang sini banyak lo, Nduk, yang belum punya calon)
Bu nyai diam sebentar, lalu membetulkan kalimatnya sendiri, "Woh, iyo, Nduk. Sampeyan sek duweni tanggungan maringi kepastian. Istikharah ae. Ummik mung iso dongakne." Beliau tersenyum tipis.
Terjemah: (Oh, iya, Nduk. Kamu masih punya tanggungan memberikan kepastian. Istikharah saja. Ummik hanya bisa mendoakan) Beliau tersenyum tipis.
Tidak perlu istikharah sebab aku sebetulnya tidak bingung memutuskannya. Hanya belum tahu cara mengungkapkannya.
"Lek iso nggak usah suwe-suwe. Yen mamang langsung wae ditinggalne."
Terjemah: (Kalau bisa tidak usah lama-lama. Jika ragu, langsung saja ditinggalkan)
Aku mengangguk.
"Munggah neng pupu, Nduk."
Terjemah: (Naik ke paha, Nduk)
Kugerakkan pijatanku ke paha bu nyai.
Bu nyai memejamkan mata. Senyap ruangan ini memperjelas suara zikir Kiai Bahar di ruang salat. Tapi, setelah kudengarkan lagi itu kedengaran suaranya Gus Fakhar.
Bu nyai membuka mata.
"Nduk, lek disawang-sawang sampeyan kok ayu timen."
Terjemah: (Nduk, kalau dilihat-lihat kamu kok cantik sekali)
Spontan aku menjadi kaku. Bu nyai terus memperhatikanku seperti orang mencari pembenaran. Aku menunjukkan wajah.
"Nyuwun dongane, Nduk, mugo-mugo Tsaniya cepet bali. Ummik kangen banget."
Terjemah: (Minta doanya, Nduk, semoga Tsaniya cepat kembali. Ummik kangen banget)
"Insyaallah saya doakan, Mik."
"Alhamdulillah. Suwun, yo." (Alhamdulillah. Terima kasih, ya)
"Nduk, sampeyan ndak pengen apalan to? Ummik rungokne ngajine sampeyan wis penak lo."
Terjemah: (Nduk, kamu tidak ingin hafalan, ya? Ummik dengarkan ngajimu sudah bagus lo)
"Pangestune, Mik. Insyallah purun (mau). Tapi, tidak sekarang."
Bu nyai menguap. Wajahnya sudah tampak lelah.
"Wis, Nduk." (Sudah, Nduk)
__ADS_1
Bu nyai menyuruhku berhenti. Pijat malam ini selesai. Tapi, beliau mengutusku ke kamar Gus Fakhar. Hanya memastikan sudah tidur atau belum.
Aku sungkem sebelum pergi.