FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 6 “Oase Berbau Busuk”


__ADS_3

⚠️ PART INI MENGANDUNG BANYAK KIASAN.


*Ranaa Hafizah


Tidak sengaja kakiku menginjak ranting. Orang yang mengejarku spontan menoleh ke belakang. Dia mengejarku sampai aku tidak dapat berbuat apa-apa di dalam cengkraman tangannya. Aku diseret ke hadapan Pak Su. Mas Hakim sebagai penanggung jawab para pegawai berdiri khawatir.


“Duduk!” Menyuruh orang itu mendudukkanku.


“Percuma kamu kabur. Bila kamu nekat, statusmu sebagai pegawai akan terungkap sampai ke telinga warga desamu. Kaupilih keluar baik-baik dari sini atau terpaksa hengkang, tapi merelakan harga dirimu tercoreng? Silakan pilih!”


Mana ada pilihan seperti itu. Sama sekali tidak menguntungkanku. Atas dasar apa dia melepaskan kami, sedangkan susah payah mereka membohongi kami agar kami mau diperdaya. Tapi, bukankah jika namaku tercoreng, keberadaannya juga akan cepat diendus? Tapi, sekali lagi benar katanya. Aku terlalu takut untuk mengambil risiko. Aku ingat ibu dan almarhum bapak. Kesederhanaan mereka jangan sampai rusak karena riwayat anak. Tak dapat kubayangkan seberapa mengerikannya para warga akan membicarakanku sebagai kupu-kupu malam. Aku saja jijik mendengarkannya, apalagi telinga orang lain. Innalillahi. Ini musibah. Musibah.


Akhirnya, aku memutuskan bertahan lagi.


Waktu bergeser seminggu. Masa adaptasiku telah berakhir.


Aku mendengar derap langkah tergesa-gesa Pak Su dan Mas Hakim. Rakaat terakhir pun menjadi tidak khusyuk hingga mengulang syahadat dua kali. Setelah salam tanpa berdoa. Kulipat mukena dan sajadah sekenanya. Lantas kukantongi dalam kresek hitam besar. Lewat pintu belakang, aku menyusup diam-diam dengan agak menunduk. Para pegawai berjejeran rapi di ruang tengah.


“Siapa itu? Fizah mana?” tanya Pak Su.


Aku terperanjat. Aku masih berusaha menyusupkan kantong kresekku.


“Mana aku tahu,” jawab salah satu di antara mereka. Cuek.


Mas Hakim mendekatkan langkah. Menyentuh dagu wanita berambut keseluruhan. “Mana Fizah?” Suaranya lirih.


“Sudah kubilang nggak tahu.” Yang ditanya melotot.


“Aku di sini,” kataku biasa. Pelan-pelan aku menggeser langkah ke depan. Menyamping perempuan yang ditanya Mas Hakim.


Mas Hakim menatapku buas. Aku was was. Aku harus lebih hati-hati. Jangan sampai ketahuan membawa mukena dan sajadah.


“Baru dari mana?” Suaranya jarang meninggi. Selalu datar. Mantap, tapi dipenuhi penekanan.


“Belakang.”


“Ngapain?”

__ADS_1


Dia memastikan kejujuranku. Dari kedua alisnya yang mendadak berkerut. Aku sendiri berusaha untuk tidak membuang pandangan. Atau, dia justru akan malah curiga. Tapi, dia mungkin mengira aku dari dapur.


“Sudah, Bos,” bisik Mas Hakim.


“Siapa yang kemarin jadwal bertugas?”


Suara Pak Su. Irama mistis yang paling ditakuti para pegawai. Seperti gelegar petir jika tengah dilantangkan. Suara itu mampu menyadap kekuatan. Saliva tumpah sebanyak-banyaknya. Bahkan, untuk sekadar menelannya pun khawatir akan terdengar suaranya.


Selain suara, cara Pak Su menyeledik itu sangat menyeramkan, tapi menyebalkan bagiku. Selama mereka berdua yang paling berkuasa tidak ikut-ikutan menjelajah, setidaknya masih ada pertahananku untuk tetap berani sembari berpikir bagaimana caranya melarikan diri dari sini. Aku ingin mendapatkan kepastian seberapa kuatnya ancaman mereka berdua.


Aku mengacungkan jari.


Mas Hakim berbisik.


“Yang bertugas menggantikan Fizah siapa?”


Tangan kuturunkan. Berarti sasaran malam ini bukan aku.


“Ratna, Pak Bos,” celetuk perempuan di sampingku.


Ratna berdiam diri. Dia meremas jari-jarinya. Aku bisa melihat tubuhnya menahan getar.


“Jawab!” Melantang sangat keras. Bersamaan dengan itu, lampu lima watt di teras mati.


Ratna mengkerut.


Aku iba melihatnya. Baru sekali ini aku melihatnya ketakutan. Sudah kurus tubuhnya, batinnya juga pasti tersiksa. Mendapatkan tekanan dan paksaan setiap hari. Entah sudah yang ke berapa kalinya dia bermutasi menjadi makhluk padang pasir. Yang menemani perjalanan melawan terik panasnya sebuah gurun. Kuharap dia masih sama sepertiku. Teguh mempertahankan hak. Tidak bersedia dimonopoli.


Sekonyong-konyong Ratna mengambil langkah maju. Melibas pipi Pak Su dengan cepat. Pak Su meludah. Berdiri. Meremas dagunya Ratna hingga dapat kulihat dengan jelas gurat kebencian di wajah itu. Beradu tatap. Sama buasnya. Bertempur dalam pandang. Kedua mata itu ingin saling menghujam. Mematikan.


“Haaaaaa!” Seluruh pegawai kompak menjerit. Lalu, mataku melotot hampir keluar bola matanya.


Ratna menghujam perut Pak Su. Sebilah benda runcing mengkilap entah dari mana, tertinggal di perut sisi yang kiri. Dan, tanpa ada wajah berdosa sedikit pun, tawa Ratna justru membahana. Dia sukses melawan ketakutan dirinya sendiri.


Semua langkah bergerak mundur. Tidak ada yang berani menolong Pak Su. Mungkin kami berpikiran sama. Takut ditusuk karena ketidakwarasan Ratna saat ini. Atau, Ratna sungguh sedang dirasuki demit yang bersemayam gudang belakang.


Ratna menatap kami. Suasananya berubah mencekik. Tubuhku yang semula berdiam, kini refleks gemetaran. Tak kunyana Ratna sebrutal itu.

__ADS_1


“Kamu jangan pernah berani bernegosiasi denganku.” Suara Pak Su kemudian menggagalkan lamunanku.


Nyatanya Ratna masih membeku di sana.


“Keluarkan kami dari sini!” Ratna menggeram. Suaranya tertahan.


“Kauberkata kami?”


Lantas tatapan itu beralih pandang. “Siapa lagi yang sudah seperti Ratna?”


Mungkin benar kata Ratna. Sebagai sesama perempuan, sebetulnya tidak ada perempuan yang benar-benar rela berpanas-panasan di gurun sahara dengan bermeter-meter gundukan sampah. Malam demi malam kami terjebak di lautan oase yang luasnya 9.200.000 km persegi. Masih sulit bagi kami untuk menemukan jalan keluar.


Dan, bayangkan saja! Suhu gurun pasir bisa mencapai 38 derajat celsius dan bisa berubah dratis menjadi minus 4 derajat celcius pada malam hari. Dinginnya malam membuat para pegawai harus bertempur dalam bilik-bilik bersuhu melampaui 40 derajat celcius. Betapa panasnya? Betapa kami ingin mencari kehidupan yang lebih segar dan tidak lagi menghirup aroma busuk oase ini?


Lalu, apa yang akan terjadi bila suhu panasnya oase bertemu dinginnya malam di kolong sampah? Terjadilah angin. Para pegawai akan ada di dalam pusaran yang mengguncang. Sakit jiwa raga kami. Letih. Payah sekali selama perjalanan. Kadang malah beberapa di antara kami ada yang pergi ke gurun dua kali dalam semalam.


Busuk sekali tempat ini. Memperdaya kaum-kaum yang didoktrin lemah oleh penguasanya, Pak Su. Kemarahan ini belum tuntas. Karena, sesungguhnya kami tidak pernah mau memilih jalan gelap ini.


“Siapa?” Pak Su menekankan suaranya.


Aku sendiri tidak tahu siapa persisnya kami yang dimaksud Ratna. Karena itulah, semua mulut dibungkam rapat-rapat. Senyap.


Pak Su menatap ruang gelap sebelah kirinya. Dia pergi menarik paksa lengan Ratna ke sana.


Gemuruh dadaku menggoncang seisinya. “Apa yang akan terjadi pada Ratna? Please, Ratna kamu harus selamat.”


Kakiku selangkah bergerak maju. Pegawai lainnya menahanku. “Kamu mau digodok juga? Bilik itu ruangan paling panas. Kita tidak akan kuat berlama-lama di sana. Setahuku, hanya orang membangkang Pak Su yang akan dibawa ke sana.”


“Lalu, gimana nasib Ratna?”


“Tidak ada saling mengasihi di sini.” Dia mencicit. Menekankan.


Aku melihat tangannya di lenganku. “Lalu, ini?”


“Bukan aku peduli. Tapi, kamu harus tahu diri. Kita pegawai dan dia bos.” Jawaban itu menunjukkan antara kebodohan atau ketidakberdayaan.


Ratna berteriak, meminta jangan lakukan, jangan lakukan. Aku sebagai pendengarnya sudah berpikir terlalu jauh. Ratna pasti akan menjelajah gurun bersama Pak Su di bilik itu. Suara yang semula melantang akhirnya hanya terdengar seperti mulut terbungkam. Apa Ratna kembali disumpal? Apakah? Apakah? Aku memejamkan mata. Innalillahi Ratna. Bagaimana nasib hakmu? Yang kudengar selanjutnya hanya suara lirih Ratna terus memberontak. Pada akhirnya, senyap ruangan itu. Lima belas menit berlalu.

__ADS_1


__ADS_2