
Selamat membaca 4 episode terakhir.. đ Sengaja saya posting langsung barengan biar bisa puas.
*Tsaniya Tabriz
Aku menunggunya sampai bangun keesokan harinya. Tiba-tiba mataku terjaga tepat saat denting jam menunjukkan pukul dua. Dan, tepat di saat aku membuka mata, aku berhadap-hadapan dengannya yang sudah tidur pulas.
"Tidur jam berapa kamu, Mas?" batinku.
Lalu, kulihat pergelangan tanganku. "Dia memberiku gelang?" pikirku. Kuperhatikan gelang simpel dan cantik berliontin huruf T love N itu. Saat aku semakin merasa bersalah atas permintaanku yang dulu, sikapnya justru bertambah manis. Dia memperlihatkan kedewasaannya sebagai pemimpin, pengayom, suami yang menjadi teladanku. Aku merasa telah melukainya dalam diamku. Dalam doa yang kupanjatkan setiap malam tahajudku. Jika ternyata doaku lebih dulu melesat jauh menggetarkan arsy, maka kemungkinannya doakulah yang akan diijabah terlebih dahulu. Tapi, sesungguhnya aku tidak pernah tahu apa yang dia doakan tiap malam. Doanya tak pernah sebentar. Wiridnya selalu panjang, setidaknya lebih lama dariku. Sujudnya pun dua kali lamban.
Sejauh yang aku rasakan sampai saat ini, dia tidak pernah memintaku melakukan banyak hal kecuali, rajin mengaji, mengerjakan tugas kuliah, dan menyuruhku merias diri saat dia menghendaki. Aku baru sadar segalanya tatkala perasaan bersalah itu kian menjadi-jadi. Diamnya seolah-olah meminta, senyumannya seperti menyembulkan luka, sedangkan tatapannya kadang merajuk dan mengiba. Hanya saja sebagai seorang lelaki dia tidak pernah menunjukkan itu. Apalagi, bercerita soal perasaannya. Tapi, mungkin dia paham apa yang aku inginkan meskipun tak sampai mengerti apa yang sebetulnya aku resahkan. Pipiku menghangat.
Mas Nizam menggeliat. Mengubah posisinya menjadi telentang. Aku berbalik membelakanginya. Kuisap isakku lirih. Kuseka dengan ujung jari-jariku.
Ahad pagi ini Mas Nizam mengajakku makan di pinggir jalan. Katanya, supaya mendapatkan sensasi yang berbeda. Tidak di dapur ndalem dengan kepulan asap bumbu-bumbu digoreng, yang membuatnya harus bersin sampai lima kali. Atau, ricuhnya beberapa santri putra yang antre di depan pintu dapur, hanya demi mendapatkan menu spesial buatan mbak ndalem baru, pengganti Mbak Ufi yang namanya Mbak Fatih. Mas Nizam memintaku duduk di trotoar yang sudah diberi alas terpal. Dia memesankan gado-gado dan es cendol dawet empat ribuan.
Letakkan tidak jauh dari pesantren. Sekitar dua kiloan saja. Melewati pasar tradisional rujukan warga desa. Kami berangkat hanya dengan sepeda kuno milik abah yang kebetulan masih bisa digunakan setelah diservice Kang Bimo tiga minggu lalu. Niatnya ingin dijual abang, tapi abah melarang karena kata abah sepeda usang itu memiliki banyak sejarah percintaannya dengan ummik. Karenanyalah, tiba-tiba saja setelah acara ngaos kitab dengan santri putra selesai, dia langsung memintaku berdandan. Dia bersiap lebih dulu, mengeluarkan sepeda abah dari gudang belakang dan memompanya sendiri. Dan, di hadapan santri-santri yang tengah bergumul menikmati menu sarapannya, dia memintaku langsung naik sebelum dia mengayuh.
"Masih nunggu. Laper banget nggak?"
"Mboten, Mas. Tidak keroncongan kok. Makasih, ya, Mas."
"Sama-sama. Cantik...bajumu yang ini. Baru sarungnya? Kok Mas nggak pernah tahu kamu pakai itu?"
"Sarung dari Mbak Ufi, Mas. Dia ngasihnya sebelum boyongan."
Mas Nizam tersenyum. Memperhatikan pergelangan tanganku. Tadinya aku ingin melepaskan beberapa perhiasanku, tapi Mas Nizam melarangnya tanpa alasan. Dia malah berpesan jangan pernah melepaskan perhiasan yang telah diberikannya, apa pun itu alasannya.
Aku menata kalimat. Kuedarkan pandangan agar tak terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Mas, di sini seger, ya?" Justru itu yang keluar.
"Iya. Habis dari toko bu, Mas nyoba jalur pasar ini. Kalau sore yang mangkal di sini bukan gado-gado, tapi sate kelinci. Kesukaanmu. Mas pikir sepertinya enak kalau pagi-pagi bisa jalan bareng sama kamu. Kok kita nggak pernah kepikiran jalan-jalan bareng sepedahan gini, ya, Ning?"
"Aku juga nggak tahu kok, Mas, kalau Abah punya sepeda lawas yang udah rusak. Kalau sepedahan, sih, udah jadi kebiasaanku dulu."
Mas Nizam menoleh. "Suwun, Mbok."
Dia meletakkan gado-gadonya di depanku. Kuubah posisi dudukku menjadi bersila. Melihat Mas Nizam lahap menyantap, aku menahan kalimatku. Dia tak mengajakku bicara sampai piringnya bersih.
"Habis nggak?"
"Habis, Mas." Aku berpura-pura memperlihatkan selera makan yang baik. Kuhabiskan walau sebetulnya aku tak terlalu berselera.
Aku bangkit membawa dua piring kotor ke penjualnya. Lantas kembali duduk menyantap se cendol dawet.
"Mas, aku mau bicara sebentar boleh?"
"Bolehlah. Ngomong aja, Ning."
Kuucap basmalah dalam hati.
"Kemarin aku periksa ke dokter..."
Wajahnya seketika menyala. Melihatnya berbincar, aku merasa seperti salah memulai kalimat.
"Periksa kandungan, Mas."
__ADS_1
"Terus?"
"Katanya aku sehat, Mas."
"Memangnya siapa yang bilang kamu sakit?"
"Bukannya begitu. Sebetulnya tiap bulan aku selalu cek pakai test pack. Hasilnya kan selalu negatif. Aku jadi mikir, sedangkan kita kan sudah sering usaha..."
Aku menjedanya. Berbicara seperti dengan suami kenapa rasanya begitu malu? Aku menelan ludah.
"Alhamdulillah kalau kamu sehat-sehat saja. Berarti ya memang belum waktunya dikasih momongan."
"Mas baik-baik saja, kan? Nggak apa-apa, kan?"
"Iya, Ning."
"Aku sehat kok, Mas. Beneran sehat. Semuanya sudah dicek. Tak ada masalah sedikit pun walaupun siklus haidku kadang mundur. Tapi itu masih normal kata Bu Dokternya. Maaf waktu itu aku nggak bilang ke Mas Nizam. Harusnya pamitan dulu. Mas Nizam sudah ke kampus dulu."
"Iya, Ning, nggak apa-apa."
"Mas, Bu Dokternya juga menyarankan kita periksa sama-sama kalau ada waktu. Aku periksa sekali lagi dan Mas juga."
Dia mendekatkan posisi duduknya. Lutut kami pun bersentuhan. Dia mendekatkan wajahnya. Berbicara setengah berbisik, "Apa kamu memaksakan diri?"
"Memaksakan bagaimana, Mas?"
"Kamu nggak perlu memaksakan apa pun. Walaupun kita sudah usaha, kalau dikasih ya alhamdulillah, belum dikasih ya alhamdulillah, Ning. Nggak usah terlalu khawatir seperti ini. Aku nggak suka kamu overthingking. Mendem semuanya sendirian."
"Tapi kamu, Mas?"
"Oke. Kapan-kapan kita periksa lagi. Berdua. Dokternya ngomong kalau penyebabnya mungkin di aku, kan?"
"Iya. Mas sudah tahu itu dari dulu. Apa pun hasilnya, kita ikhtiari bareng-bareng."
"Mas, kalau seandainya kita nantinya diharuskan promil terus kaya bayi tabung bagaimana?"
"Nggak usah. Kita tunggu sampai hafalanmu khatam saja. Itu yang paling penting."
"Mas, tapi sekarang aku jadi mikirin njenengan."
"Ya sudahlah pokoknya kita jalani aja. Toh, kalau dua tahun ke depan kita belum dikasih putra, itu juga bagian dari rejeki kita, Ning. Malaikat sudah catat harapan-harapan kita sejak kita sebelum menikah."
"Mas?" Bibirku bergetar. Mataku terasa ingin berlinang.
"Ning, kok malah nangis?"
"Pengen mewek, Mas." Aku segera mengusapnya. Kubendung dengan ujung jilbabku.
"Mendingan dihabiskan aja cendolnya. Enak pas masih dingin gini."
"Mas, lagi pengen nangis kok malah suruh habisin cendol. Pripun njenengan i (gimana kamu itu)."
"Kamu tahu nggak lagunya cendol dawet?"
"Yang gimana, Mas?" Aku menyeruputnya.
"Pamer bojo kalau nggak salah. Didi Kempot."
__ADS_1
"Tidak paham aku, Mas."
"Yang gini. Kamu dengerin."
Koyo ngene rasane wong nandang kangen
Rino wengi atiku rasane peteng
Tansah kelingan kepingin nyawang
Sedelo wae uwis emoh tenan
Cidro janji tegane kowe ngapusi
Nganti sprene suwene aku ngenteni
"Mas, udahan dilihatin orang-orang itu lo." Mas Nizam yang menyanyi, tapi aku yang malu. Kulirik beberapa orang yang membeli gado-gado. Mereka tersenyum melihat ke arah kami. Aku mengangguk. Cengengesan.
"Mas, mboten sae (tidak baik) dilihat orang."
Mas Nizam berhenti sebentar. Menengok ke arah orang-orang yang masih memperhatikan kami.
"Mas, bagus, Mas. Lanjut," celetuk salah satu laki-laki muda.
"Siap, Mas."
Mas Nizam melanjutkan seperti yang diminta.
"Kenapa malah ada konser begini, sih, Ya Allah."
Aku tak bisa menyuruhnya berhenti. Kelakuan Mas Nizam rupanya justru menghibur. Ditambah suaranya yang merdu. Satu dua orang mengarahkan smartphone. Aku segera berpaling. Aku menundukkan wajah.
Nangis batinku nggrantes uripku
Teles kabes netes eluh neng dadaku
Cendol dawet, cendol, dawet seger
Cendol cendol dawet dawet
Cendol cendol dawet dawet
Cendol cendol dawet dawet
Cendol, dawet seger, piro
Lima ngatusan, terus ora pakai ketan
Ji, ro, lu, pat, enam, pitu, wolu
Tak tik tak tik tak tung
Tak tik tak tik tak tung
Tak tik tak tik tak tung
Lolo, lolo, yes!
__ADS_1
Sumber: musixmatch