FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)

FIZAH (Perempuan Kolong Sampah)
PART 99 "Kecelakaan Kecil"


__ADS_3

*Ranaa Hafizah


Dugaan Mbak Ufi seringkali benar. Dia punya intuisi yang bagus. Dia juga cepat memahami sikap seseorang. Benar katanya. Aku antusias menyambut kedatangan Yazeed malam ini walaupun sejujurnya di hadapan Kiai Bahar dan Gus Fakhar aku merasa sungkan. Tapi, aku masih bingung bagaimana caranya aku menyampaikan ini pada ibuk. Sedangkan, ponsel saja kami tidak punya. Meminta bantuan kepada Pak Nizam justru tidak mungkin. Aku juga tidak ingin berurusan lagi dengannya sampai dia mau berterus terang kepada ibuku.


Mbak Ufi sudah tidur dulu. Tapi, aku belum bisa memejamkan mata sejak tadi. Sudah habis binnazar dua juz dan murajaah setengah juz yang masih berantakan tidak keruan. Tak berselang lama, ada yang mengetuk pintu. Tidak bersuara. Aku bergegas menyerobot kerudung.


Pintu kubuka.


"Bu Nyai?"


"Nduk, pijetono sikile Ummik."


Terjemah: (Nduk, pijat kakinya Ummik)


"Inggeh." Aku menutup pintunya.


Seperti biasa Bu Nyai Ridhaa akan mapan di tempat tidur yang sudah rapi.


"Mumpung Abah sek durung kundur, Nduk. Sedino ndak sampeyan pijet, Ummik kangen."


Terjemah: (Mumpung Abah belum pulang, Nduk. Sehari tidak kamu pijat, Ummik kangen)


Sejujurnya tanganku hari ini masih sakit jika dipakai untuk menekan sesuatu. Tiba-tiba saja linu seperti baru keseleo.


"Nduk, Ummik opo pareng nyuwun tulung liyane?"


Terjemah: (Nduk, Ummik apa boleh minta tolong lainnya?)


"Boleh, Bu Nyai."


"Ummik pengen ngerti tanda lahirmu. Tapi, lek sampeyan ndak kerso yo ndak usah."


Terjemah: (Ummik ingin tahu tanda lahirmu. Tapi, kalau kamu tidak bersedia ya tidak perlu)


Aku bingung mau menjawab apa. Aku malu. Pasalnya jika aku membuka sebagian pundakku, Bu Nyai Ridhaa pasti akan menanyakan bekas luka yang ada di sana. Luka yang pernah kuterima dari pria yang memaksaku menuruti kehendaknya.


"Ya uwis lek sampeyan ndak kerso."


Terjemah: (Ya sudah kalau kamu tidak bersedia)


"Ngapunten, Bu Nyai."


Bu nyai tersenyum.


"Nduk, Ummik pengen ngrangkul sampeyan pisan ae, Nduk. Cobo. Ummik kangen karo Tsaniya, Nduk!"


Terjemah: (Nduk, Ummik ingin merangkul kamu sekali saja, Nduk. Ummik merindukan Tsaniya, Nduk!)


Bu nyai menyandarkan punggungnya ke tembok. Aku mendekat. Dan, beliau seketika itu meraih pundakku seperti benar-benar memeluk putrinya. Hatiku gamang menilai perasaanku sendiri. Mataku terpejam merasakan pelukan itu. Pelukan yang sangat tulus.


"Bobote sampeyan piro lo, Nduk?" Sembari melepaskan.


Terjemah: (Berat badanmu berapa lo, Nduk?) Sembari melepaskan.

__ADS_1


"Empat pulih empat, Mik."


"Ya Allah, Nduk, sampeyan kok cilik. Maem sing akeh. Sampeyan iki mau wis maem opo durung?"


Terjemah: (Ya Allah, Nduk, kamu kok kecil. Makan yang banyak. Kamu sudah makan apa belum?)


"Belum."


"Makan, Nduk. Biar gemuk."


"Enggeh."


"Mbak Ulya iku, Nduk, mbiyen yo cilik koyo sampeyan. Semenjak perawakane luweh lemu, dadi luweh ayu."


Terjemah: (Mbak Ulya itu, Nduk, dulu juga kecil seperti kamu. Sejak badannya lebih gemuk, jadi lebih cantik)


"Nggeh. Ning Ulya memang cantik."


"Sampeyan lek maem kudu ping empat, yo."


Terjemah: (Kamu kalau makan harus empat kali, ya)


Aku hanya bisa tersenyum melihat antusias bu nyai. Peduli pada santri.


"Mik?" Gus Fakhar membuka pintu.


"Opo?" (Apa?)


"Iza mau kusuruh masak, Mik."


Terjemah: (Le, sudah malam. Sana makan apa yang ada di kulkas)


"Pengen nasi gorengnya Iza."


"Ummik sekalian yen ngono. Le, nyuwuno resepe Iza bene ndak njaluk tulung Iza terus."


Terjemah: (Ummik sekalian kalau begitu. Le, kamu minta resepnya Iza supaya tidak meminta tolong Iza terus)


"Sekedap, nggeh." (Sebentar, ya)


Gus Fakhar ke dapur lebih dulu. Menyiapkan wajan dan minyaknya. Mengeluarkan apa saja yang harus aku campurkan ke nasi gorengnya.


"Iz, dulu aku sering masak jam dua belas malam." Gus Fakhar meletakkan bumbu yang telah dikupasi ke samping tanganku.


"Kapan itu, Gus?"


"Di pondok. Suka lapar kalau malam-malam begini. Makannya barengan. Tidak kaya di sini satu-satu di piring. Kalau makan bareng, nggak dapat makanan yang risiko kelaparan. Ujung-ujungnya malem masak."


"Njenengan mondok di mana, Gus?"


"Di Lirboyo. Makanya itu sampai sekarang toko kitab Al-Furqan selalu nyetok dari sana. Mobil yang kamu tumpangi waktu itu, itu baru beli kitab dari Kediri. Iz, Mas Yazeed dulu bilang padaku, kalian tidak punya ongkos ke pesantren sampai harus numpang di mobil orang tanpa izin. Kasihan kamu, Iz." Gus Fakhar meledek.


Aku baru mengerti kalau rupanya Yazeed tidak mengatakan yang sesungguhnya. Itulah sebabnya keluarga ndalem tidak ada yang bermasalah denganku.

__ADS_1


"Bila suatu saat nanti mereka tahu, apa mereka juga akan seperti Pak Nizam?" Aku mulai tidak tenang.


Semua ini karena Yazeed telanjur baik hati padaku. Dia pria yang baik walaupun orang meragukannya dari penampilan, sama sepertiku waktu itu, tapi semakin lama aku bisa mengubah pandangan itu.


"Aaaah." Tanganku kebeler (teriris) pisau.


Darahnya menetes.


"Ya Allah.. Sebentar sebentar." Gus Fakhar berlari cepat.


Aku membersihkan jariku dengan air mengalir. Tapi, darah itu terus keluar. Aku memejamkan mata. Ngeri melihat darah yang mengalir banyak.


"Mana yang luka tadi?" Gus Fakhar meletakkan kotak obat.


Bu nyai bersuara. Mengecek ada apa.


"Nyapo kui, Le?" (Kenapa itu, Le?)


"Kena pisau, Mi."


"Saya bisa sendiri, Gus."


"Biar Ummik saja," pinta Bu Nyai Ridhaa.


Sampai lima menit kemudian, aku melihat jariku sudah terbungkus oleh kapas.


"Ndak usah masak ae. Wis saiki sampeyan tugase istirahat. Fakhar lek pengen maem, masak dewe," tegas bu nyai.


Terjemah: (Tidak usah masak saja. Sudah sekarang kamu tugasnya istirahat. Fakhar kalau ingin makan, masak sendiri)


"Ini masih bisa masak, Bu Nyai."


Bu nyai melarangku dengan tatapan mata.


"Sory, Iz."


"Nggeh, Gus, tidak apa-apa."


"Le, sesok silaturahmi neng Trenggalek. Ojo lali pesene Ummik. Terus sakdurunge rono, sampeyan tumbasne oleh-oleh. Sembarang opo. Lek ndak iso, njaluk tulung Kang Bimo."


Terjemah: (Le, besok silaturahmi ke Trenggalek. Jangan lupa pesannya Ummik. Terus sebelum ke sana, kamu belikan oleh-oleh. Terserah apa. Kalau tidak bisa, minta tolong Kang Bimo) Beliau kembali ke kamar.


Gus Fakhar mengiyakan. Lalu, meringkasi darah yang ada di kapas.


"Biar saya yang bersihkan, Gus."


"Nggak. Kamu tidur saja."


"Ngapunten, Gus, njenengan jadi repot."


"Za, soal lamaran tadi, cobalah kamu pikirkan cita-citamu. Kamu masih dini. Aku sak sebetulnya masih pengen kuliah. Kita kuliah bareng-bareng, Iz."


"Kuliah bareng, Gus?"

__ADS_1


"Maksudku kita sama-sama meraih mimpi. Kamu itu perempuan, Iz. Kejarlah cita-citamu dulu, baru setelah itu menikah. Cita-citamu tinggi."


Aku lupa bagaimana caranya mengejar mimpi setelah semua yang telah terjadi. Kejadian itu membungkam mulutku. Memaksaku meredam keinginan meraih cita-cita. Bahkan, menghafalkan Alquran dan setoran kepada Bu Nyai Ridhaa pun aku belum berani.


__ADS_2