
*Ranaa Hafizah
Semuanya terasa sulit. Aku terhimpit oleh pertanyaan yang berbalik arah padaku. Aku yang seharusnya mendapatkan jawaban justru harus memberikan jawaban. Sebelumnya aku tidak sampai berpikir sejauh itu Yazeed akan memberikan opsi yang terasa sedang menengahi, tapi justru meningkahi. Askutu tadullu 'ala na'am, maka jika aku tetap berdiam diri, sikapku akan dinyatakan sebagai persetujuan. Tetapi, aku terdesak oleh situasi yang membingungkan. Aku urung menanggapi.
Aku menimbang-nimbang dalam hati. Mengingat apa yang menjadi keinginan ibuku, tapi bukan soal kesukaan ibuku pada Pak Nizam. Maka, aku memutuskan untuk mengeluarkan jawaban.
"Itu artinya Gus Yazeed tidak bisa memenuhi permintaan saya?"
"Bukan tidak bisa. Yes no problem if that you want. Tapi, kalau kaubisa mengiyakan pertanyaanku tadi, lalu kenapa tidak? Artinya kau pun keberatan?"
"Saya masih tujuh belas tahun. Pesan Ibuku."
"Apa aku bisa bertemu Ibumu lagi? Aku akan datangi Ibumu untuk minta restu langsung. Berikan alamatmu padaku!"
"Tidak perlu, Gus."
"Ibumu belum pernah bicara padaku sekali pun kita sudah pernah ketemu. Ibumu pasti berat merestui putrinya jika belum mengenal siapa pria yang melamarnya. Aku tidak pernah main-main, Zah."
"Kalau Ibuku tetap memutuskan sama gimana?"
"Oke. Aku akan mencoba memenuhi permintaanmu. Tapi, aku harus bicara empat mata dulu dengan Ibumu."
Getar-getir. Antara iya dan tidak. Aku memang menyukainya, tapi hasratku tak menggebu-gebu untuk segera membina rumah tangga bersamanya. Nasihat ibuku, Gus Fakhar, dan Mbak Ufi yang berulang kali mengingatkan usiaku adalah pertimbangan terbesarku. Aku bukan Sayyidah Ummul Mukminin Aisyah radiyallahu anha yang berkenan dinikahi oleh Baginda Nabi saat berusia sembilan tahun.
Akhirnya aku memberitahukan di mana alamat rumahku. Kuberikan kesempatan itu padanya. Toh, aku yakin ibuku tidak akan berubah pikirkan atau minimal ibuku akan selalu memberikan pernyataan bahwa ibuku akan menyerahkan keputusannya padaku.
"Aku akan ke sini lagi jika sudah bicara dengan Ibumu."
Aku akan senang jika Yazeed bersedia menunggu ku selama itu. Apa salahnya jika betul-betul cinta. Aku cukup percaya diri karena yang kuhadapi ialah pria yang sudah tahu masa laluku. Tidak dengan Pak Nizam sebab aku akan dihantui perasaan tidak tenang.
Yazeed pamit pulang. Beralasan punya tugas penting.
__ADS_1
Gus Fakhar dan Mbak Ufi bersiap menodongku.
"Kamu siap nerima dia?"
"Insyaallah, Gus."
"Ya semoga saja kamu mendapatkan yang terbaik."
"Semoga njenengan juga bahagia, Gus," ujar Mbak Ufi. Bermaksud mengingatkan bahwa ada Ning Ulya yang telah siap lahir batin menemani masa perjuangannya sehidup semati.
"Aamiin. Kamu bener tidak bersedia aku minta tolong tes DNA? Ummik setuju itu. Abah juga menyarankan. Bukan apa-apa, Iz."
"Gus, ngapunten banget. Memang njenengan merasa ada sesuatu yang janggal begitukah?" tanya Mbak Ufi.
"Enggak."
"Apa yang janggal?"
"Tidak, Gus. Njenengan tidak usah pedulikan perkataannya Mbak Ufi. Dia suka ngawur."
"Maaf, Gus. Apakah tidak terlalu berlebihan jika saya andil dalam tes itu? Saya bukan Adik njenengan. Bukan."
"Iya, iya. Aku paham. Kamu bukan Adikku. Tapi, apa salahnya kalau dibuktikan. Kamu niatkan saja maremne (menyenangkan) Ummik dan Abah."
"Saya tidak pantas, Gus. Saya tidak mungkin bisa ikut tes itu." Aku berani mengutarakan kata segamblang itu. Pun dengan spontan.
"Apa salahnya?" Gus Fakhar mendesak.
"Gus, nanti tak potongkan rambutnya Mbak Iza, Gus. Pas tengah malam. Pas Mbak Iza lagi tidur."
Aku buru-buru menebas lengannya cukup keras.
__ADS_1
"Tidak ada, Gus."
"Bagi siapa pun yang mempunyai tanda lahir mirip dengan Tsaniya, dia berhak mendapatkan kesempatan."
Fakharuddin Akhyar Al-Ameen
Mana mungkin Iza itu adalah Tsaniya. Aku tidak melihat tanda-tanda apa pun. Kalau pun aku merasa ada sesuatu yang tidak bisa kujelaskan ketika bersama dengan Iza, kuyakin itu tidak berhubungan dengan itu. Justru aku berharap memang bukan Iza, Tsaniya yang sebenarnya.
"Tapi, ya okelah kalau kamu nggak mau. Nggak berkah kalau kamu tidak ikhlas."
"Maaf, Gus."
"Nggak apa-apa. Yang penting aku sudah berusaha bujuk kamu."
"Yaaaah." Mbak Ufi melenguh kecewa.
Aku menatap mata Iza. Dia kontan membuang mukanya.
"Iz aku akan selalu bersedia jika kamu buruh pertolongan apa pun."
Itulah caraku untuk menebus perasaan yang tidak akan mungkin sampai ke peraduannya. Sekali pun dia nantinya akan berjodoh dengan Mas Yazeed yang menurutku kurang begitu cocok dengannya, sebisa mungkin aku akan membantunya. Aku akan sangat gembira jika suatu hari nanti dia bisa merampungkan hafalannya dan berkesempatan kuliah. Barangkali nanti aku dan Iza ditakdirkan bisa menempuh masa perkuliahan bersama-sama. Ranaa Hafizah, kamu cinta pertamaku.
Dia menggemingkan kalimatku. Aku menangkap denyar kegamangan di matanya. Aku tidak bisa merusak perasaan yang Allah amanahkan padaku dengan aku memaksanya menerima apa yang ingin kuberi. Sejenak aku lupa bahwa segala apa yang disandarkan atas nama cinta, ia tak akan meninggalkan kecewa. Semakin dia mengerti hakikat cinta itu sendiri, tidak akan pernah ada sakit. Malah cinta itulah yang mengobati. Dari cinta untuk cinta menjadi cinta.
"Tak apa. Pergilah!"
Iza dan Mbak Ufi beringsut undur diri tanpa sepatah kata apa pun.
Saat ini, aku masih tengah berusaha memupuk cinta yang lain. Ibaratnya hatiku ini tak subur untuk menumbuhkan benih cinta yang telah ditabur. Butuh proses yang cukup lama. Maka, sang petani harus sabar jika ingin menuainya. Usah bersegera atau bibit itu justru tidak akan tumbuh sempurna. Aku sudah mengutarakan itu pada Mbak Ulya sejak awal.
Dengan aku waktu itu memintanya untuk membatalkan perjodohan, sedangkan setelah itu perjodohan tetap dilangsungkan, aku sudah merasa cukup membuatnya mengerti. Pernikahanku resmi ditunda sampai Tsaniya benar-benar ditemukan. Maka dari itulah, abah kini ikut mengusulkan supaya Iza bersedia andil dalam tes itu. Tapi, sayang dia terlalu sungkan untuk menerimanya. Aku tidak bisa memaksa dan juga tidak masalah. Sebab, keinginan terpendamku diam-diam membisikkan kata semoga Iza bukanlah Tsaniya. Hanya aku dan Tuhanlah yang tahu.
__ADS_1
Selamat membaca. ❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Maaf, nggeh, cuman satu eps ajaaaah. ✌️😁